Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu, luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Niwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirno ....
Ya, itu!
Lingsir Wengi, Rumeksa ing Wengi. Tembang yang selalu disenandungkan simbah putri setiap menidurkanku. Ketika simbah Putri meninggalkanku di kamar sendirian, lamat-lamat kulihat sesosok wanita ayu yang duduk dan tersenyum. Aroma bunga Mawar, menyeruak memenuhi ruangan kamar tidurku.
Aroma itu akan selalu muncul ketika simbah putri mulai bersenandung. Tapi malam ini, siapa? Siapa yang bersenandung? Aku juga belum sempat bertanya kepada simbah putri, tentang siapa sebenarnya sosok wanita berkebaya dan berkerudung itu ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Setelah rangkaian kejadian itu. Aku belum bisa memejamkan mataku kembali, berusaha mencerna dan menelaah tentang apa yang terjadi. Mimpiku ... kehadiran wanita berkebaya putih itu dan sikap simbok tadi. Hingga tanpa sadar, adzan subuh berkumandang. Entah hanya perasaanku saja atau apa, suara adzan kali ini lebih sayup-sayup terdengar memecah kesunyian.
Aku berpapasan dengan simbok di depan kamar mandi, terlihat air menetes-netes dari wajahnya yang kusadari masih terlihat sembab, tapi simbok masih berusaha tersenyum.
"Simbok duluan ya, Nduk."
Aku mengangguk ketika simbok berjalan melewatiku.
Setelah selesai urusanku di kamar mandi. Aku kembali kamar dan memasrahkan diriku pada Tuhan Yang Maha Esa, aku berdoa memohon petunjuk.
*******
Aku melihat simbok seperti biasa, sibuk dengan rutinitas di pagi hari, sibuk di dapur memasak untuk sarapan kami dan membuat beberapa makanan ringan untuk buruh tani yang berkerja di sawah ataupun di kebun peninggalan simbah putri. Aku membantu seperlunya sebelum aku keluar untuk jalan-jalan pagi. Setelah selesai pekerjaan di dapur, aku berpamitan kepada simbok untuk keluar berjalan-jalan.
"Ati-ati ya nduk, jangan terlalu capek."
Aku mengangguk patuh.
Baru saja menjejakkan kaki di jalan depan rumah, dari arah berlawanan, kulihat motor yang kukenal, Aripin! Di belakangnya duduk seorang wanita paruh baya , diantara keranjang yang tersampir di kanan kiri motornya, orang sini menyebut keranjang itu, bronjong. Aripin mengklakson, cengengesan, dan memelankan laju motornya.
"Jalan jalan ya, Mbak?"
Aku tersenyum mengangguk, aku melihat banyak sayuran dan berbagai macam barang di bronjong. Ah, pasti itu ... Aripin baru saja mengantar ibunya pulang dari Pasar.
"Monggo ... monggo, Mbak!" sapa wanita paruh baya itu, saat motor mereka melewatiku.
"Monggooooo ...." jawabku membalasnya sopan. Setelah mereka berlalu, aku melanjutkan perjalananku.
Aaaah ... udara benar-benar segar! Karena hari ini hari yang tak biasa, aku jadi lebih awal berjalan-jalan, bahkan jalanan masih lengang, belum terlihat banyak orang melewati jalan ini. Aku memandang sekitar, hamparan sawah, dan kebun, benar-benar pemandangan yang memanjakan mata. Kunikmati keindahan alam ini yang tidak bisa kudapatkan di ibukota, meskipun ya ... kadang aku merasa kesepian di sini.
"Ting ting!"
Bunyi bel sepeda dari arah belakang mengagetkanku. Setelah kutengokkan kepala ke arah suara, aku mendapati wajah tersenyum yang kukenali, Mas Lingga! ada apa hari ini, tadi bertemu Aripin, sekarang , kebetulan juga bertemu dengan Mas Lingga. Ya, dia lebih tua dariku, bukankah aku juga harus memanggilnya "Mas" seperti orang lain? Setidaknya aku pantas memberinya rasa hormat karena jasa-jasanya memajukan desa ini. Bahkan Aripin berkata di malam itu, kalo laki-laki ini juga penasihat Karang Taruna.
"Hei! Pagi-pagi udah ngalamun, ora ilok!" katanya dengan tertawa kecil. Aku melongo dan ternyata dia sudah berdiri di dekatku menuntun sepedanya. Aaaargh! Pasti mukaku saat ini terlihat konyol. Kulihat dia masih senyum-senyum. Aku memalingkan pipiku yang menghangat.
"Gak kok, siapa yang ngelamun?" sanggahku. Dia tersenyum lagi. Jantungku seperti jungkir balik. Apa apaan?? Bahkan Reno yang mengejatku dengan cara romantisnya, belum bisa membuat aku seperti ini.
"Boleh aku menemani jalan?"
"Kenapa gak boleh, Mas? Yang penting jalan sendiri, jangan minta gendong," kataku berusaha mencairkan suasana.
Dia tersenyum lagi, ah memang manis!!
"Kamu ni bisa aja! Oh iya, aku mau tanya sesuatu boleh?
Kami mulai berjalan beriringan, tangannya menuntun sepeda.
"Boleh Mas."
"Kamu kuliah dimana? Apa di Universitas A ?"
"Iya mas, kok tau?"
"Aku dulu juga kuliah di sana,"
"Ooh ... Mas Lingga angkatan berapa?"
"Angkatan xx ...."
"Wah, berarti dua tahun di atasku ya mas. Jangan-jangan kita sempat bertemu?"
"Bisa jadi ... seingatku, aku juga pernah melihatmu."
"Hah? Di mana?"
"Ingat gak, dulu di tahun xxxx ada forum kajian di kampus yang mengundang narasumber seorang budayawan sekaligus agamawan itu?"
"Ah ... iya, aku mahasiswa baru waktu itu, Mas."
"Nah, aku yang 9membacakan sambutan atas nama panitia."
"Ah, pantas saja, aku seperti pernah melihat mas Lingga, ternyata di acara itu."
Pada kenyataannya, waktu itu aku masih fokus dengan tugas di organisasi, sehingga aku tidak memperdulikan siapa yang ditugaskan untuk membaca sambutan atas nama panitia.
Tak terasa, karena keasikan mengobrol, kami sudah berjalan jauh. Jalanan juga sudah mulai ramai, orang-orang berlalu lalang dan sebagian sudah beraktivitas di sawah. Beberapa orang yang berpapasan dengan kami, mengangguk sopan atau menyapa.
"Walah walah ... mas Lingga sama mbak Dyah kalo jalan bareng kayak gini, cocok! Kayak mimi lan mintuna (simbol kelanggenan kasih sayang dalam budaya jawa - pen ), serasi kayak Kamajaya dan Kamaratih."
Pipiku terasa menghangat.
"Halah halah! Yu saimah bisa saja! saya malah gak PeDe lho berdiri di samping gadis cantik ini, lha kok malah diibaratke Kamajaya, terlalu jauh Yuuu." Kudengar suara mas Lingga membalas yu Saimah, tetapi kata-katanya malah makin membuatku merona. Kulihat mereka berdua malah tertawa ringan. Aku cuma berharap, mas Lingga tidak melihat wajahku yang mulai merah padam.
Setelah yu Saimah berlalu, Mas Lingga kembali berbicara padaku.
"Orang sini memang gitu Dek, suka bercanda. Biar lebih akrab, jangan dipikirke ya?"
"Eh oh, iy—ya, Mas," jawabku tergagap masih menahan malu.
"Oh iya, nanti malam Karang Taruna mengadakan pertemuan lagi, undangan lewat Jarkom. Bisa datang, kan?"
"Iya Mas. Oh iya, sudah mulai siang Mas, aku harus pulang, simbok pasti sudah menungguku di rumah."
"Oh ... perlu kuantar?"
"Gak usah mas, aku pulang jalan aja Mas." Aku mulai berbalik dan berjalan pulang sementara mas Lingga masih berdiri di sana.
Aku merasa seperti ada yang memperhatikanku dari kejauhan. Eh, tak berapa lama, aku menangkap sosok Murni, wajahnya terlihat seperti tak suka.
Bersambung ....