Menikah sekali seumur hidup, itulah impian setiap orang. Tidak ada yang menginginkan perceraian. Namun manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhan lah yang menentukan jodoh serta kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L-viie Ann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SETELAH AKU BERCERAI 15
Aku Olivia , Enam tahun sudah berlalu. Tak terasa banget yah, seperti nya baru kemarin aku berjuang melahirkan putri ku tercinta dengan ditemani oleh Ibu dan Mas Yogi beserta istrinya Mbak Stella.
Dan sekarang, dia sudah menjelma menjadi seorang gadis kecil yang cantik jelita. Keningnya mirip aku, bulu alis, mata dan bibir nya sangat jelas terlihat mirip dengan Mas Al.
Kadang aku merasa ini tidak adil, seharusnya wajah Mas Al tidak punya hak menjadi bagian dari kecantikan putri ku. Tapi... Mau gimana lagi ?
" Mamaa" teriakan Tasyi membuat ku tersenyum, ia melambaikan tangan kemudian berlari ke arah ku.
Setelah mencium tangan serta kedua belah pipi ku, ia berjalan masuk ke dalam mobil kami.
" Gimana sekolah nya sayang ?" Tanyaku sambil mengemudi.
Senyuman Tasyi perlahan memudar, wajahnya tertunduk sambil memintal jari jemari.
Aku rasa , pertanyaan ku tidak ada yang salah. Dan setiap hari aku selalu menanyakan hal itu dan jawabannya dia pasti akan bercerita panjang lebar mengenai pengalaman hari ini di sekolah.
Tapi kenapa sekarang malah membuatnya murung?
" Sayang... kamu oke?"
Reaksinya sungguh mengejutkan, ia menutup wajahnya kemudian sesenggukan menangis.
Terpaksa aku menepikan mobilku di bahu jalan. Lalu ku raih Tasyi untuk duduk di pangkuanku.
" Sayang.. Ada apa ? Kenapa kamu menangis ? Coba cerita sama Mama"
Tasyi menyingkirkan kedua tangannya kemudian memeluk leher ku.
" Mama... besok adalah hari Ayah "
DEGH!!
Jantung ku seakan berhenti berdegup, hal yang selama ini sempat mengkhawatirkan terjadi juga.
Tasyi melerai pelukannya, dua mata sembab yang indah menatap ku lekat.
" Tasyi kan nggak punya Ayah, gimana dong ?"
Otakku ngeblank tidak menemukan jawaban. Yah, selama ini Tasyi hanya tahu Ayahnya sudah meninggal di laut. Aku tidak rela jika aku mengatakan yang sebenarnya, lalu dia meminta untuk bertemu Ayahnya.
Percuma jika aku menghilang kemudian harus bertemu dengan nya lagi. Aku menyembunyikan diri supaya tidak pernah melihat nya, bukan tidak bisa move on. Tapi rasa sakit itu masih ada.
" Ma... " Tasyi merengek manja, ku ulas senyum semanis mungkin.
" Emmm gimana kalau besok Tasyi ikut Mama aja?"
" Kemana ?"
" Play ground ?"
Bibirnya tersenyum lebar.
" Mau"
Akhirnya aku bisa mengalihkan pikirannya dari masalah hari Ayah sedunia. Entah kenapa harus ada hari Ayah? Perasaan dulu di sekolah ku tidak ada namanya hari Ayah.
Dan masalah ini baru pertama kali aku hadapi, karena ini tahun pertamanya Tasyi sekolah TK.
Ponsel ku berdering tiba-tiba, membuat Tasyi bangkit dari pangkuan ku dan kembali ke tempat duduknya.
" Ya Yu... " Aku menjawab telfon dari Ayu.
" Mbak, pemimpin Media TBK INDUSTRI ingin bertemu. Untuk membahas penarikan pasokan beras yang Mbak rekord kan"
" Oh.. Kapan?"
" Hari ini "
" Kok dadakan "
" Seperti yang dikatakan oleh Siful Mbak, pasti mereka kelabakan dengan keputusan Mbak"
Aku tersenyum tipis,
" Baiklah, tunggu aku di rumah ya Yu.. Sebentar lagi aku nyampe "
" Baik"
Talian terputus.
" Ayo sayang kita pulang "
Tasyi mengiyakan ajakan ku.
***
Aku berusaha datang secepat mungkin memenuhi panggilan dari MEDIA TBK INDUSTRI. Semua itu karena aku menarik diri menjadi pemasok terbesar beras di daerah ku. Karena mereka enggan menaikkan harga yang ku ajukan.
Padahal aku tahu, barang jadi yang mereka pasarkan sudah naik harga. Tapi mereka tidak mau menaikkan harga kepada pemasok. Ini sangat tidak adil.
Ayu berusaha mensejajari langkahku yang cepat menuju gedung megah di depan ku.
Aku sudah beberapa kali datang, jadi tahu dimana mereka akan melakukan pertemuan dengan ku.
Seorang perempuan yang ku kenal bernama Vina, menyambut kedatangan ku. Ia mempersilahkan aku masuk setelah dia mengetuk pintu.
Aku pun masuk, membungkuk sebagai salam penghormatan kemudian melangkah ke kursi kosong yang di tunjuk untuk ku.
" Terimakasih " Ucapku kepada pengawal yang mempersilahkan aku untuk duduk.
Di sana rupanya sudah hadir semua staf pengurus untuk melanjutkan rapat ini.
" Ini Ibu Olivia , salah satu pemasok terbesar di daerah ini Pak " Seseorang berdiri memperkenalkan aku, aneh... Bukankah aku dan pemimpin industri sudah cukup saling kenal. Kenapa diperkenalkan lagi?
Aku melirik ke arah tempat duduk yang sering ditempati oleh Pak Salamet, pemimpin industri.
Tapi???
Tubuh ini membeku, dia bukan Pak Salamet. Melainkan...
" Hay... Lama tidak bertemu "
Mas Al tersenyum sembari mengulurkan tangannya.
Aku diam tak bergeming, tangan nya yang terulur ku tatap kosong.
" Pak Al Segaf kenal sama Ibu Olivia ?"
" Iya, dia teman lamaku.. Kalau tahu dia yang akan kita temui. Rasanya tidak perlu lah melakukan pertemuan seperti ini. Akan aku selesaikan masalah ini dengan nya "
Semua orang saling berpandangan satu sama lain.
" Apa maksud mu ? Ini masalah pabrik, kenapa harus ada pertemuan face to face ? Terbuka aja" Bantahku.
Ayu menyentuh bahuku, mungkin dia berusaha agar aku lebih tenang. Tapi yang tidak Ayu ketahui adalah, saat ini aku sedang berhadapan dengan Bapak dari Tasyi.
" Baiklah kalau masalah pabrik, saya akan setujui kesepakatan harga dari Ibu Olivia "
Sebenarnya itu yang aku harapkan sejak kemarin, tapi kenapa aku tidak suka setelah mendengar nya.
" Alhamdulillah " Ayu mengucapkan rasa syukur nya.
" Pak, bukankah masih akan di diskusikan dengan para pihak yang lain " ujar salah seorang manajemen.
" Aku rasa harga yang diajukan oleh Ibu Olivia itu tidak terlalu mahal, dibandingkan dengan harga pengeluaran kita atas produk yang sudah jadi. Kita harus mikir , dia butuh pupuk untuk menyuburkan tanaman , untuk mendapatkan hasil yang bagus. Jadi kita harus mikir juga, bukankah harga barang yang sudah diproduksi sekarang juga naik? Tidak salah kan kalau Ibu Olivia meminta harga lebih. Bayangkan saja anda ada di posisi ibu Olivia, pasti juga akan melakukan hal yang sama bukan"
Semua orang tercengang tanpa ada yang membantah argumen Mas Al.
Ayu senyam-senyum mendengar pembelaan ini, ia cukup terharu tapi tidak dengan ku.
" Kalau begitu, saya rasa rapat hari ini sudah cukup "
Sepertinya semua orang masih ada yang keberatan dengan keputusan Mas Al. Tapi mereka tidak bisa mengatakan nya. Sehingga dengan kondisi yang kurang semangat mereka mohon diri satu persatu.
" Tolong jangan pergi dulu Ibu Olivia " Tiba-tiba suara Mas Al menahan pergerakan ku yang akan meninggalkan kursi.
Semua mata tertuju pada ku, termasuk Ayu.
" Kita perlu bicara " Sambung nya. Benar-benar tidak tahu malu.
" Bukankah keputusan nya sudah final Pak" Jawab ku.
" Belum , perlu ada yang harus dibahas. Dan itu hanya antara aku dengan mu " Bahasa yang diucapkan sangat tidak formal, membuat ku bergidik ngeri.
Apa yang akan dilakukan oleh Mas Al? Apa dia masih dendam padaku? Lalu apa yang membuat dia dendam ? Toh aku tidak pernah mengganggu kehidupan rumah tangganya. Dan malah aku tidak tahu menahu tentang kehidupannya setelah kami bercerai.
😂😂