Cover by me
Aidan Putra Bimantara—polisi muda berpangkat Ipda, hidupnya lurus dan rapi kayak barisan upacara. Sementara Yura Khalisa, tetangganya sekaligus mahasiswi tingkat akhir, yang sudah akrab dengan kalimat "Proposal kamu direvisi ya, Dek" dari dosen pembimbing yang sepertinya kurang kerjaan.
Mereka ini sebenarnya sudah seperti keluarga. Aidan menganggap Yura itu adik, dan Yura juga menganggap Aidan itu kakak. Pokoknya zona nyamanlah.
Tapi entah karena semesta lagi iseng atau mereka lagi sial, sebuah insiden tolol membuat mereka harus menikah dan tinggal serumah. Iya, satu atap. Satu kamar. Satu kasur, eh?.
Yang bikin tambah absurd, Aidan sampai harus melangkahi dua kakak laki-lakinya yang masih betah menjomblo. Bayangkan, bukan cuma melangkahi... ini mah loncat jauh ke babak yang belum waktunya!
Dan begitulah, dimulailah kisah rumah tangga Aidan dan Yura, dua orang yang niatnya cuma bertetangga, eh malah jadi teman hidup.
Mau tau kelanjutan ceritanya klik di bawah ini👇🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iman pas-pasan
Aidan menggeliat pelan di balik selimut, dengan mata yang sayup-sayup perlahan terbuka. Padahal hari masih gelap, bahkan matahari belum memancarkan sinarnya, tapi Aidan sudah bangun saja, ia bangun tepat jam 4 pagi. Bukan bagaimana ia sudah terbiasa akan bangun subuh, untuk mandi dan ibadah dimasjid seperti yang sering diajarkan papanya.
Matanya masih mulai Mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk, sembari garuk-garuk pantat dan sesekali menguap lebar. Tapi kok kebetulan sekali suara sang papa yang setiap subuh tidak pernah absen mengetuk pintu kamarnya hari ini tidak terdengar.
Eh, tunggu sebentar. Suara sang papa yang mengetuk pintu? Sepertinya Aidan melewatkan sesuatu dalam memori ingatannya. Seingatnya kemarin pagi ia masih di bangunkan sang papa, masih pergi ke masjid untuk sholat subuh bersama dan bersiap-siap untuk acara ijab kabulnya bersama Yura. Seketika perlahan tapi pasti ingatannya mulai sepenuhnya kembali. Matanya bahkan langsung membulat sempurna kala penggalan demi penggalan ingatan yang ada di kepalanya kian jelas mengingatkannya tentang ijab Kabul yang ia lakukan kemarin untuk memperistri Yura, teman masa kecil yang sudah seperti adik sendiri dan malah sekarang telah resmi menjadi istrinya.
Dan dimana gadis itu sekarang? Aidan langsung saja melengos kesebelah kirinya, mendapati Yura yang memejamkan mata tepat di sebelahnya.
"Akkkkkhh!" bukan, teriakan itu bukan dari Yura yang kaget saat bangun mendapati Aidan. Bahkan gadis itu masih terpejam beberapa detik lalu. Itu teriakan Aidan, pria itu memekik begitu keras kala mendapati Yura terbaring di sebelahnya. Dan tentunya pekikan tak terkira dari Aidan membuat Yura terperanjat dan bangun.
"Akkkhhh!" sekarang malah gantian Yura yang berteriak, seperti baru saja melihat setan. Keduanya melompat berdiri berlawanan di sisi ranjang.
"Lo ngapain teriak boncel?!" pekik Aidan di ujung ranjang.
"Lo yang ngapain di kamar gue indomilk?!" ucap Yura tak mau kalah. Ingatannya masih belum pulih. Ia memegang erat-erat selimut yang masih ia pegang.
Dengan sekali lempar mendarat sudah bantal di wajah Yura dan pelakunya adalah Aidan "Sadar woy! Kita udah nikah bego!"
Seketika Yura terdiam, masih mengumpulkan dan menyusun penggalan ingatannya yang ada di kepala. Setelah dirasa semua ingatannya terkumpul dan tersusun kembali. Matanya pun membola kedua tangannya menutup mulut yang tiba-tiba terbuka lebar.
"Jadi kita udah nikah?" tanyanya masih terlihat kaget.
Aidan mengangguk mantap.
Yura malah kembali melemparkan bantal yang sempat Aidan lempar padanya "jadi kenapa Lo tadi teriak bego!" pekiknya keras terlihat geram. "Gara-gara Lo kacau sudah dunia permimpian gue!" lanjutnya tak terima karena pekikan Aidan tadi berhasil memporak-porandakan mimpinya yang sedang ngedate dengan Jaehyun.
"Namanya juga gue kaget!" ucap Aidan setengah berteriak.
Astaga ini masih subuh tapi 2 makhluk ini sudah mulai adu bacot.
Yura nampak mendengus, namun setelahnya dia naik keatas tempat tidur, menarik kembali selimut.
"Heh Lo mau ngapain?" tanya Aidan melihat pergerakan Yura, matanya juga membola melihat pergerakan gadis itu.
"Ya, mau tidurlah, mau ngapain lagi?" kini Yura memiringkan tubuhnya mencari tempat ternyaman.
"Astagfirullah boncel! Noh bentar lagi azan subuh, bersih-bersih diri, ibadah, jangan lupa beban hidup makin bertambah" tunjuk Aidan dengan dagu kearah jendela.
Mata Yura mengikuti arah tunjuk Aidan, ia bangkit dari tempat tidur, menatap horor Aidan yang malah ceramah. "Gak usah khotbah juga. Dan yang nambahin beban hidup gue itu Lo bang, inget Lo!" final Yura ia masuk ke kamar mandi dan menutup pintu dengan cara di banting.
"Hih, punya istri jelmaan setan begini amat" gumamnya melangkah keluar kamar, ia memilih mandi di kamar mandi dapur saja. Ketimbang menunggu Yura, bisa-bisa ketinggalan sholat berjamaah di masjid.
Tidak membutuhkan waktu lama Aidan sudah selesai mandi, ia hanya mengenakan handuk saja yang melilit di pinggang dan berjalan dengan santai tanpa beban menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar. Sementara Yura yang juga baru selesai mandi dan hanya mengenakan celana pendek sebatas paha serta kaos over size berwarna putih. Jantungnya nyaris berpindah ke lambung ketika mendapati punggung setegak gapura kabupaten yang hanya mengenakan handuk saja tengah memunggunginya menghadap lemari.
"Astagfirullah Indomilk! kebiasaan banget sih bang!" pekik Yura setelah mengamankan jantungnya.
Aidan lantas terperanjat di tempat dan langsung memutar tubuhnya kearah Yura berdiri dan itu tentu saja hampir membuat Yura pingsan di tempat.
Namun detik berikutnya mata mereka bertemu dan saling terpaku, Yura dengan celana sependek harapan pernikahannya, semantara Aidan dengan penampilan bertelanjang dada. Awkward, itulah yang terjadi.
Aidan memutusnya lebih dulu, dengan berlalu dari depan lemari, sembari membawa baju Koko dan juga sarung masuk kedalam kamar mandi tanpa sepatah katapun.
Bukan Aidan sekali.
Sementara Yura, gadis itu masih mematung, ia tak sanggup beranjak dari tempatnya ataupun sekedar menarik nafas.
Karena apa, karena kali ini Yura dengan jelas melihat enam balok roti sobek di perut Aidan. Bayangkan, Aidan si bapak polisi doyan susu bocah itu memiliki sixpack! Astaga kemarin Yura kemana saja saat kejadian tolol itu terjadi sampai tidak memperhatikan roti sobek yang tentu saja menggoda imannya yang terbilang pas-pasan.
"Mau mendadak jadi patokan blok Lo hah?" suara Aidan membuat Yura tersadar.
Yura langsung beralih menatap Aidan yang kini sudah berpakaian rapih, dan penampilannya ini membuatnya vibes-nya berubah dari pria hot menjadi Gus alim. "Mana ada!" sahutnya senormal mungkin. Wajahnya di atur supaya tak terlalu tegang. Batin Yura menjerit, baru satu malam ia hidup satu atap dengan Aidan saja, jantungnya sudah tidak aman, apa lagi sampai bertahun-tahun, bisa di pastikan Aidan menduda karena kematian mendadak Yura yang terkena serangan jantung akibat terlalu terpesona.
Gak lucu banget sumpah konsep kematiannya.
Selama ini Yura berpikir bahwa dirinya kebal dengan cowok ganteng, bahkan cowok modelan Revan saja yang gantengnya spek Mahadewa plus Maharaja karena di idolai para gadis di kampus saja burem di mata Yura. Lah ini Aidan kenapa mampu memporak-porandakan imannya yang sayangnya hanya pas-pasan cuma dengan perut sixpack-nya. Fiks, Yura hanya kebal cogan spek mahadewa tapi rentan akan body oke plus punya sixpack.
Dan lagi, ketika Aidan melintas di sampingnya, melewatinya seketika Yura menahan nafas tidak berani meraup oksigen terlalu banyak, karena apa? Karena aroma sehabis mandi Aidan mampu menjungkir balikkan akal sehatnya. "Ya Allah, aku tau dia ganteng, tapi kenapa sekarang kegantengannya membuat otakku jadi gak normal ya Allah, baru sehari loh ini jadi bininya aku udah ambyar begini. Padahal sabun kita semerek, tapi kenapa dia yang pakai baunya beda? Fiks, si indomilk bukan manusia. Bunda tolong jemput Yura pulang. Yura gak kuat sama pesona si indomilk kadaluarsa ini?" batin Yura meronta-ronta.
"Astaga boncel!! Mulut gue udah berbusa ini ngomong sama Lo, tapi Lo gak dengerin gue" ucap Aidan yang sudah kelewat geram kembali menyadarkan Yura. Yura menatap Aidan yang kini sudah berada di ambang pintu kamar. "Lo kenapa sih? Kesambet apa gimana?" tanya Aidan masih menatap wajah bodoh Yura yang asik plonga-plongo.
Iya dia kesambet, kesambet pesona roti sobekmu Aidan.
"Hah? Apa? Tadi Lo bilang apa?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut Yura setelah sepenuhnya mampu menguasai diri.
Aidan berdecak "Siapin baju kerja gue, baju kemeja putih, celana item, sama dasi merah. Inget itu. Pulang dari masjid harus udah tersedia di tempat tidur."
Seketika rasa terpesona Yura menguap begitu saja di gantikan dengan rasa jengkel "wah, Lo malah merintah gue bang, gue bukan babu ya" geramnya sambil berkacak pinggang.
Aidan berjalan mendekat, berhenti tepat di hadapan Yura dan mendekatkan wajahnya.mensejajarkan matanya dengan Yura. Mata hitamnya terlihat pekat kala jarak kian menipis dan tersisa beberapa Senti. Seketika Yura menelan salivanya ia tau tatapan itu, tatapan sedingin dan sebeku es yang tak bersahabat dari Aidan, bahkan tangannya yang berkacak pinggang tadi turun karena lemas ditatap setajam itu oleh si indomilk kadaluarsa satu ini.
"Emang lo bukan babu, tapi Lo sekarang istri gue dan Lo harus ingat boncel, sekarang kewajiban Lo itu melayani suami!" ucap Aidan penuh penekanan di setiap katanya. Jujur saja itu membuat nyali Yura menciut. Ia bahkan tidak mampu menimpali perkataan Aidan seperti biasa, aura Aidan mencekam berubah ketika ia sedang marah.
Setelahnya menjauhkan diri, ia mengulurkan tangan untuk di Salim Yura, seakan terhipnotis Yura mengambil tangan Aidan untuk di ciumnya.
Barulah saat Aidan pergi dari hadapannya Yura mampu bernafas kembali, ia memegangi dadanya seakan-akan jantungnya akan lepas dari tempatnya. "Gilak! Bisa ya tu indomilk vibes-nya berubah-ubah, semenit bisa jadi cowok koplak, semenit bisa jadi cowok yang berhasil mengobrak-abrik iman gue, semenit bisa jadi anak alim berasa pingin di imami, eh semenit lagi bisa jadi sedingin benua Antartika. Ya Allah kenapa gue dapat laki modelan kayak bang Aidan sih?" gumamnya sembari meraup wajah.
suka bgt sm Aidan dan yura