Namaku Indira.
Karena kesalahan satu malam yang tidak aku sadari, aku harus melahirkan bayi kembar di usia yang masih sangat muda. Akan tetapi, aku lagi-lagi harus menelan pil pahit saat mengetahui bahwa satu diantara kedua anakku meninggal dunia beberapa detik setelah dilahirkan.
Dukung novel baru aku ya kak.
Bismillah, semoga kalian semua suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.
Pagi hari seperti biasa Indira sudah bergelut dengan kegiatan rutinnya. Dia sudah selesai membuat sarapan dan menghidangkannya di meja makan, kemudian lanjut memandikan Isa dan membantunya mengenakan pakaian sekolah.
Beruntung pagi ini Isa tidak membahas apapun mengenai pertanyaannya semalam, jika tidak Indira mungkin akan pusing menghadapinya.
Usai sarapan bersama, Indira menyiapkan bekal dan memasukkannya ke dalam tas Isa. Kebetulan pagi ini Isa akan ke sekolah bersama sang nenek, Indira tidak bisa mengantarnya karena harus ke rumah sakit lebih awal.
Di mobil, Isa terdiam mematut jalanan yang dia lalui. Sesekali dia menoleh ke arah Ulfa yang tengah menyetir seraya menyipitkan matanya. Isa ingin bertanya pada sang nenek mengenai ayahnya, namun bocah itu nampak sedikit ragu.
"Ada apa, sayang? Kenapa melihat nenek seperti itu?" tanya Ulfa yang tidak sengaja memperhatikan mi*mik wajah Isa yang sulit dimengerti.
"Tidak apa-apa, Nek." sahut Isa sembari membuang pandangannya ke arah lain. Mungkin benar yang dikatakan Indira semalam, dia belum cukup umur untuk tau tentang semuanya.
Sesampainya di gerbang sekolah, Isa turun dari mobil dan disusul oleh Ulfa. Bocah itu menyalami tangan sang nenek kemudian melambaikannya dan masuk ke pekarangan sekolah dengan wajah sedikit lesu.
Sebenarnya Isa masih belum puas mendengar jawaban Indira semalam, dia meyakini bahwa ayahnya masih hidup. Tapi kenapa pria itu tidak pernah datang mencarinya? Apa pria itu tidak menginginkan dirinya? Atau ada sesuatu yang tidak dia ketahui.
Tidak ingin berlarut-larut dalam pemikirannya, Isa mencoba menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Mungkin akan lebih baik jika Isa tidak memikirkan itu terlebih dahulu, dia harus sekolah dan belajar dengan rajin. Suatu hari nanti dia sendiri yang akan mengungkap kebenaran itu.
Di waktu bersamaan, Indira tiba di rumah sakit dan berjalan menghampiri ruang inap Nasya. Dia sengaja tidak mengetuk pintu dan langsung mendorongnya perlahan.
"Pa, kita pulang saja yuk! Nasya tidak ingin dirawat di rumah sakit ini." ucap Nasya yang tengah sarapan disuapi sang papa.
"Loh, kok ngomongnya gitu. Nasya belum sembuh, sayang." selang Nala.
"Nasya tau, Pa. Kalau begitu pindahin Nasya ke rumah sakit lain saja, Nasya tidak ingin..." ucapan bocah itu langsung terhenti saat menangkap keberadaan Indira yang tengah berdiri di ambang pintu.
Nasya tidak ingin melihat Indira dan memilih membuang pandangannya ke arah lain.
Menyadari itu, Nala pun memutar lehernya ke arah pintu. Seketika dia terkejut mendapati Indira yang menatap ke arah Nasya dengan tatapan sendu.
"Do-dokter..." Nala segera bangkit dari duduknya dan menaruh nampan yang ada di tangannya di atas nakas.
Indira mengukir senyum simpul kemudian mengayunkan langkahnya ke arah brankar. Tidak peduli apapun yang dikatakan Nasya tadi, sebagai seorang dokter sudah menjadi tanggung jawabnya memeriksa keadaan pasiennya.
Nala sedikit beringsut memberi ruang untuk Indira, dia merasa tidak enak hati karena ucapan ngelantur Nasya tadi.
"Pagi, Nasya. Bagaimana keadaannya? Apa..."
"Pa, Nasya tidak mau diperiksa. Panggil dokter lain saja!" pinta bocah itu memotong perkataan Indira.
Indira mengerutkan keningnya, dia sedikit terkejut namun mencoba cuek karena memahami tingkah laku bocah sekecil itu.
"Kenapa harus dokter lain? Bukankah di sini sudah ada..."
"Nasya tidak mau sama dokter, dokter jahat." Nasya hendak melompat turun dari brankar, beruntung Indira dengan cepat menahan tubuhnya. Begitu juga dengan Nala yang segera menghentikan pergerakan sang putri.
"Nasya, tolong jangan begini lagi! Mengertilah, Nak! Papa mohon!" lirih Nala dengan pandangan berkabut.
Indira mendongakkan kepala dan mengernyit menyaksikan manik mata Nala yang sudah berkaca-kaca, sedetik kemudian membuang pandangannya ke arah Nasya.
"Memangnya apa yang Nasya inginkan? Boleh dokter tau?" tanya Indira dengan lembut seraya mengusap pucuk kepala bocah itu dengan sayang. Entah mengapa hati Indira terasa ngilu melihat keadaan bocah perempuan itu.
"Tidak ada, Nasya hanya ingin pulang." potong Nala, dia tidak ingin Nasya mengatakan keinginannya di hadapan Indira. Nala tidak mau memaksakan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan dokter itu.
"Ya sudah, setelah ini kita pulang ya. Nasya tenang dulu, siang ini juga kita..."
"Tidak, Nasya belum boleh pulang. Nasya masih harus..."
"Tidak masalah, Nasya biar dirawat jalan saja. Aku akan mencari dokter pribadi untuknya, kamu tidak perlu khawatir." terang Nala dengan raut memelas. Untuk saat ini dia hanya ingin mengutamakan kepentingan Nasya, tidak ada yang lain. Mungkin dengan menjauh dari Indira, pelan-pelan Nasya akan mengerti dan belajar melupakannya.
Sesuai ucapannya, Nala pun memanggil Sumi dan memintanya mengemasi barang-barang. Sementara Nala sendiri memilih meninggalkan ruangan dan menemui dokter Hendri. Nala ingin dokter itu mengirim salah satu dokter terbaik untuk merawat Nasya di rumah, tidak lupa pula meminta seorang suster yang akan merawat Nasya dua puluh empat jam. Berapapun biayanya, Nala tidak masalah akan hal itu, yang penting Nasya nyaman dan segera sembuh seperti semula.
Di ruangan, Indira masih enggan meninggalkan Nasya yang terus saja membuang muka darinya. Hati Indira sangat hancur, dia merasa sedih melihat Nasya seperti ini.
"Nasya sayang..."
"Kenapa dokter masih di sini? Pergilah, Nasya tidak suka sama dokter." suara Nasya yang menggelegar membuat jantung Indira bergemuruh kencang, dia seperti kehilangan sesuatu yang membuatnya tenang beberapa hari ini.
Ya, Indira tidak dapat membohongi perasaannya. Dia juga sangat menyayangi bocah itu, berada di dekat Nasya tidak ada ubahnya seperti berada di samping Isa. Kedua bocah itu terlihat seperti anak kembar, namun memiliki watak sedikit berbeda.
Sesusah-susahnya Indira menghadapi Isa, lebih sulit lagi saat berhadapan dengan Nasya. Meskipun begitu, Indira sama sekali tidak keberatan. Dia merasa ada sesuatu yang mengikatnya dengan bocah perempuan itu. Dia juga tidak rela melepaskan Nasya secepat ini.
"Sayang, lihat mama Nak!" bujuk Indira dengan suara serak dan tercekat di tenggorokan.
Seketika hati Nasya yang keras tiba-tiba meleleh seperti es batu yang dijemur di bawah terik sang mentari. Dia memutar leher ke arah Indira dan menitikkan air mata saat itu juga.
Nasya mencebik bibir dan menangis tersedu-sedu. "Dokter bukan mama Nasya, Nasya bukan anak dokter. Nasya hanya anak pungut yang dibuang oleh orang tua Nasya. Hanya papa yang sayang sama Nasya, Nasya tidak punya siapa-siapa lagi selain papa."
Deg...
Indira benar-benar terkejut mendengar itu, dia tidak menyangka bahwa Nasya ternyata mengetahui semuanya.
"Nasya..."
"Semua itu benar, tidak ada yang sayang sama Nasya selain papa. Dokter bahkan..."
"Bukan begitu sayang, dokter hanya..."
"Nasya ingin istirahat, dokter pergi saja!" kembali Nasya membuang muka dan menutup sebagian wajahnya dengan bantal. Sedangkan Indira yang melihat itu hanya bisa terdiam sembari meremas dadanya yang terasa sangat perih tersayat sembilu.
lanjut Thor 💪💪💪🥰
makin seruu
tapi Alhamdulillah semua sudah jelas
buat indira semoga selalu bahagia setelah ini
untuk othornya sukses selalu sama karya-karya nya selalu ditunggu
terimakasih sudah menghibur 🙏🫰😘😘😘