Seorang gadis desa yang di jerumuskan oleh ayah tirinya sampai harus bekerja di rumah bordill. Camelia, 16 tahun benar-benar merasa muak bekerja di rumah bordill itu, dia merasa dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan pada gadis muda yang bekerja di sana karena paksaan seperti dirinya. Camelia ingin merubah aturan kehidupan di desa Muara itu. Dia tidak ingin lagi melihat ada wanita yang nasibnya sama dengannya. Dia ingin menutup semua rumah bordill di desa itu, bahkan di desa-desa yang lain. Meski tidak mudah, tapi Camelia tidak akan pernah menyerah sampai nafas terakhirnya untuk mengangkat derajat kaum wanita di desanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Hari demi hari Jelita kian akrab dengan Hani dan Laila, tapi sangat sulit baginya bisa mendekati Camelia. Gadis itu mulai membuat Laila berselisih dengan Camelia dengan mulutnya yang pandai bicara.
Suatu pagi Jelita tanpa ijin masuk ke dalam kamar Camelia, saat Camelia sedang mandi dan itu adalah jam 5 pagi, setelah para tamu meninggalkan Lentera Malam.
Saat itu semua yang pemberian para tamu masih berada di kotak yang memang akan di ambil oleh Erma dan Tari.
Jelita begitu terkejut melihat isi kotak Camelia, kotak itu penuh dengan uang. Jelita bahkan hanya mendapatkan kurang dari setengah kotak saja malam ini.
Jelita yang memang sedang ingin membuat perpecahan antara Laila dan Camelia, agar dia bisa menjadi kembang yang paling terkenal di sana, mengambil uang itu dan segera meninggalkan kamar Camelia dengan mengendap-endap.
Jelita langsung meletakkan uang itu di kamar Laila yang juga sedang mandi. Setelah lama dekat dengan keduanya, Jelita bisa mengetahui kapan mereka akan mandi. Jadi dia menggunakan waktu itu untuk mengambil uang Camelia dan meletakkannya di kotak uang Laila.
Erma dan Tari masuk ke dalam masing-masing kamar dan menghitung, mencatat dan mengumumkan pendapatan mereka. Saat itu Camelia sudah yakin, seperti malam-malam sebelumnya, kalau pendapatnya yang lebih banyak, yang paling banyak.
Tapi ternyata Erma memberitahu kalau penghasilan Laila yang paling banyak, padahal dia hanya melayani seorang mandor pabrik gula.
Laila sendiri terkejut, Jelita langsung memeluk Laila dan mengucapakan selamat. Sementara Camelia melihat tingkah keduanya dari jauh. Laila yang merasa tidak menghitung uang itu tentu saja percaya kalau memang mandor itu memberikan uang sebanyak perhitungan Erma itu padanya.
"Selamat Laila, malam ini kamu yang akan memilih tamu untuk para kembang" kata Erma.
Erma dan Tari pun pergi untuk menyimpan uang. Camelia juga langsung pergi ke kamarnya, dia sendiri semalam yang menghitung uang yang dia masukkan ke dalam kotak. Dan yang dia ambil dari dompet Jeky adalah 75 ribu, bukan 35 ribu.
Jeky memang seperti itu, dia membiarkan Camelia sendiri yang mengambil uang di dompetnya. Tapi mengetahui kalau ada yang mencurangi dirinya, Camelia tidak panik. Dia semakin yakin, kalau ada yang ingin memecah belah kongsinya dengan Laila dan Hani.
Sedangkan di kamar Laila, Jelita tidak henti-hentinya cari muka, dan memuji Laila.
"Kak Laila, kamu beruntung sekali, wanita baik sepertimu memang layak mendapatkan keberuntungan ini" kata Jelita terus memuji Laila.
"Kak Laila, aku pikir kamu harus berterima kasih pada Camelia. Bukankan dia yang memilih mandor itu untukmu" kata Hani.
Laila juga berpikir hal yang sama dengan yang di pikirkan Hani. Meskipun dirinya dan Camelia beberapa waktu ini banyak berdebat. Tapi yang di katakan Hani benar, Camelia selalu memilih tamu yang baik, dan tidak kasar juga yang selalu memberi yang yang pantas untuknya.
Tapi Jelita terlihat tidak setuju dengan semua yang di katakan Hani.
"Kak Hani, kenapa kak Laila harus berterima kasih pada kak Camelia. Memangnya yang kerja kak Camelia? dia cuma pilih tamu saja, kalau kak Laila tidak bisa memuaskan tamu, apa mungkin akan dapat uang sebanyak itu. Semua ini adalah hasil kerja keras kak Laila" kata Jelita membuat Hani mengernyitkan keningnya.
"Kenapa kamu mengatakan seperti itu? apa salahnya mengucapkan terimakasih" kata Hani yang mulai kesal dengan Jelita.
"Kenapa harus berterima kasih, kita berteman kan? kenapa harus berterima kasih. Apa kak Camelia memang gila hormat? gila ucapan terima kasih?" tanya Jelita.
"Kamu kenapa bicara kasar begitu tentang Camelia?" tanya Hani kesal.
"Habisnya kak Hani seperti lebih memihak dan membela kak Camelia, memang apa bedanya kak Camelia dengan kak Laila. Kak Laila sangat baik, bahkan aku pikir lebih baik dari kak Camelia, sampai sekarang kak Camelia tidak mau mengajari aku menari dan bagaimana memuaskan tamu, dia tidak ingin ada yang lebih baik darinya. Kak Laila berbeda, dia sudah menjadi kembang utama malam ini, dia bahkan tidak pelit ilmu, dia mengajari aku meracik minuman, dan mengajari aku cara memakai pakaian yang menggoda. Kak Laila jauh lebih baik dari kak Camelia, kak Laila juga senior kan? kenapa kak Hani terus ingin kak Laila berterima kasih pada kak Camelia?" tanya Jelita yang membuat Hani sangat kesal.
Hani masih diam, dia hanya menatap Jelita dengan kesal.
"Atau kak Hani ingin menggantikan tempat kak Laila sebagai sahabat kak Camelia?" tanya Jelita membuat Hani terkejut.
"Pikiran macam apa itu?" tanya Hani kesal.
"Sudah... sudah... kenapa marah-marah Hani. Kembalilah ke kamarmu dan istirahat. Kamu juga Jelita. Hani, Jelita masih sangat muda, maklumi saja. Sudah sana, kalian keluar" kata Laila yang letih.
Di tambah nanti malam dia harus mengatur para tamu, dia pasti sangat lelah. Jadi dia memutuskan untuk tidak mempermasalahkan apa yang di katakan Hani dan Jelita dan memilih beristirahat.
Hani yang kesal tidak masuk ke kamarnya. Tapi malah masuk ke kamar Camelia. Saat Hani masuk ke dalam kamarnya, Camelia sedang merapikan pakaiannya.
"Huh, anak itu. Dia menyebalkan sekali" keluh Hani langsung duduk di tepi tempat tidur Camelia.
"Ada apa?" tanya Camelia.
"Jelita, dia benar-benar menyebalkan. Aku hanya katakan pada kak Laila supaya berterima kasih padamu, lalu anak itu bilang. Kenapa harus berterima kasih, apa kak Camelia gila hormat? apa kak Hani iri, karena kak Laila jadi kembang utama, atau mau cari muka, biar posisi sahabat kak Camelia berubah dari kak Laila menjadi kak Hani?" kata Hani menirukan gaya bicara Jelita.
Camelia hanya tersenyum.
"Untuk apa meladeninya. Aku pikir aku tahu sebenarnya apa tujuannya mendekati kak Laila dengan menarik simpati kak Laila. Aku yakin nanti malam Jeky pun harus membayar mahal agar tetap bisa bermalam denganku, Jelita pasti membujuk kak Laila untuk mendapatkan malam dengan Jeky" kata Camelia yang sudah bisa membaca rencana Jelita.
Wajah Hani begitu terkejut.
"Berani sekali dia" kata Hani makin kesal.
"Biarkan saja, kalau itu terjadi. Maka aku pikir kak Laila pasti akan percaya pada kita. Dan malam ini, adalah malam terakhir Jelita berada di lentera malam. Lalat seperti dia, memang harus segera di singkirkan, atau akan membuat kita sakit nantinya" kata Camelia dengan santai.
Dan benar saja, malam harinya. Jelita mendatangi kamar Laila untuk meminta Laila mengatur Jeky bermalam dengannya.
"Akan percuma saja Jelita, Jeky itu sangat menyukai Camelia. Dia akan membayar lebih untuk mendapatkan Camelia" kata Laila.
"Tolonglah kak, aku akan melayani tuan Jeky dengan baik. Aku juga ingin punya uang banyak, membeli makanan enak, dan pakaian yang bagus. Tolong aku ya kak" kaya Jelita membujuk Laila.
***
Bersambung...
semangaaat camelia aq yakin kamu pasti pemenangnya💪💪💪👍👍👍