~NOVEL KE 11~
Novel ini merupakan kumpulan cerita kehidupan dari seorang remaja sebelas tahun bernama Hani.
Dia adalah putri tunggal dari pasangan Lea dan Erik yang sibuk bekerja sepanjang waktu.
Sehingga sehari-hari nya, Hani bermain sendiri bersama pensil dan buku sketsa nya.
Semuanya berjalan biasa sampai ketika Hani menerima sebuah pensil ajaib dari seorang Pak Tua.
Mulai saat itu lah kehidupan monoton gadis kecil itu berubah jadi istimewa!
Yuk ikuti kisah-kisah nya!
catatan: Novel ini Mel dedikasikan khusus untuk dua bocil Mel (Ram dan Riy) dan umum nya untuk semua anak-anak hebat Indonesia.
Love you all, Kiddo..🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penculikan
Sesampainya di mall, Lea langsung mengajak Hani dan Nuri untuk hunting/berburu baju.
"Ma, Hani suka baju yang ini. Tapi gak tahu ini ukurannya kekecilan gak ya?" Tanya Hani pada sang Mama.
"Coba aja dulu di kamar ganti, Han! Itu ada kamar ganti di sana. Kamu ke sana aja. Mama tunggu di sini. Oke?" Sahut Lea seraya menunjuk ke tempat kamar ganti berada.
Setelahnya, Hani mengajak serta Nuri untuk pergi ke kamar ganti bersamanya.
"Ayo, Nur! Kita ke sana bareng! Kamu sekalian cobain baju yang kamu suka juga!" Ajak Hani pada sahabat nya itu.
"Aku bingung mau pilih yang mana, Han.."
"Bingung gimana sih? Ini kayaknya bagus.. kamu biasanya suka yang model kaos begini kan, Nur?" Ujar Hani seraya mengambil salah satu baju yang tergantung di pajangan.
"Mm.. iya sih. Dari tadi aku juga udah suka sama baju yang itu. Tapi.." Nuri terlihat ragu berkata-kata.
"Tapi kenapa, Nur?"
"Itu.. harganya itu lho! Ya ampun.. mahal banget!" Nuri berbisik ke dekat telinga Hani.
"Ehh? Mahal gimana sih, Nur?"
Hani lalu melihat kertas harga yang tertera di baju. Di sana tertulis kalau harga baju kaos tersebut berkisar dua ratus ribuan.
"Tuh. Mahal kan, Han?" Lanjut Nuri berbisik.
"Ini sih biasanya juga memang harganya segini, Nur. Masih lebih murah baju yang ini daripada baju pilihan ku. Tuh, coba lihat. Baju ku aja harganya tiga ratus ribuan. Tapi ya aku ambil aja karena aku suka modelnya!" Ujar Hani seraya menunjukkan kertas harga dari baju yang akan ia coba pakai.
"Ya ampun, Han! Baju begini aja harga nya mahal banget! Biasanya aku beli di pasar, kaos kayak gini tuh paling harganya tiga puluh ribuan! Di sini harga baju nya mahal-mahal semua. Aku gak jadi deh belinya. Gak enak sama Mama kamu!" Sahut Nuri memutuskan pada akhirnya.
Hani terperangah selama beberapa saat.
"Hani? Kamu udah coba baju nya? Gimana? Kekecilan gak?" Tanya Lea yang tiba-tiba saja muncul di belakang keduanya.
"Eh Mama! Ngagetin aja! Belum, Ma. Hani belum coba. Ini nih, Nuri, Ma! Dia katanya gak jadi pilih-pilih baju!" Lapor Hani pada Mama nya.
Dan kalimatnya itu berhasil membuatnya menerima sikutan samping dari tangan Nuri.
"Lho? Kenapa gak jadi milih baju, Nuri? Memangnya gak ada model yang kamu suka ya?" Tanya Lea begitu perhatian.
"Ee.. enggak, Tante. Nuri.. masih banyak baju di rumah. Nuri udah senang kok diajak jalan-jalan aja sama Tante," kilah Nuri beralasan. Kedua matanya tertunduk menatap sendal jepit yang ia kenakan.
"Ih, Nuri. Kata kamu baju di sini mahal-mahal, jadi kamu ngerasa gak enak kan sama Mama ku!" Lapor Hani kembali.
Kali ini, Nuri dengan beraninya langsung memelototi sahabat baiknya itu. Dalam hatinya gadis itu mendumel sebal.
'Hani kok tega banget sih ngomong jujur ke Mama nya soal pendapat ku tadi. Aku kan jadi malu..' gumam batin Nuri.
Lea tertegun meresapi makna kalimat yang disampaikan oleh Hani tadi. Kemudian, ia memperhatikan kaos yang dipegang oleh Hani. Sepenilaian nya, kaos itu mestilah pilihan Nuri. Karena ia tahu, style Hani bukan baju yang seperti itu. Lea pun langsung bisa menyimpulkan kalau itu sebenarnya baju pilihan Nuri.
"Hmm.. kaos ini bagus.." komentar Lea kemudian sambil mengambil kaos di tangan Hani.
"Iya kan, Ma? Nuri sebenarnya suka sama kaos itu. Tapi.."
Hani tak melanjutkan kalimatnya lagi. Ia sudah terlanjur takut saat menerima tatapan kesal dari Nuri.
"Hmm.. kalau kaosnya dipadu sama celana jeans yang ini juga kayaknya bagus. Gimana menurut kamu, Nur?" Tanya Lea kemudian meminta pendapat Nuri pada celana jeans yang ia ambil dari rak baju.
"Ba..bagus kok Tante!" Jawab Nuri dengan patuh.
"Nah. Kalau gitu, kamu cobain baju yang ini juga ya, sama Hani. Jangan menolak pemberian Tante ya, Nuri. Kan kamu tadi udah setuju untuk hunting baju bareng-bareng!" Bujuk Lea kemudian.
Nuri tampak merenung sesaat.
"Iya deh, Tante.."
"Bagus! Ayo, Nur! Mumpung kamar gantinya kosong tuh!" Ajak Hani bersemangat.
Dan kedua gadis itu pun bergegas pergi ke kamar ganti. Meninggalkan Lea yang menatap kepergian keduanya sambil tersenyum senang.
"Ah.. dia memang anak yang baik.." gumam Lea saat kedua gadis kecil itu sudah terlihat memasuki kamar ganti yang sama.
***
Selesai hunting baju, Lea mengajak Nuri dan Hani ke sebuah gerai fast food. Tak lupa pula ia membelikan es krim untuk masing-masing mereka. Bahkan juga untuk dirinya sendiri.
Setelah jalan-jalan lagi sebentar dan menonton film layar lebar di 21, ketiganya akhirnya memutuskan untuk pulang.
"Kamu sama Nuri sebaiknya tunggu aja di sini ya. Mama mau ambil mobilnya dulu di basement. Kalau jalan ke basement kan lumayan jauh. Tapi Mama titip belanjaan kita ya, Sayang?" Pinta Lea kepada Hani.
"Iya, Ma.." jawab Hani dengan patuh.
Selanjutnya Lea bergegas pergi untuk mengambil mobil nya di basement. Dan tinggallah Nuri serta Hani di pinggiran mall yang sepi orang.
Saat keduanya asik berbincang, tiba-tiba saja sebuah mobil jeep berhenti di jalan depan mereka. Lalu seorang wanita asing berpakaian modis turun dan menghampiri keduanya.
"Permisi, Dek. Kakak mau tanya.." ucap wanita itu kemudian.
Wanita itu mengaku sebagai sales yang ingin meminta bantuan Hani dan Lea untuk mengisi lembaran survei tentang kepuasan berkunjung di mall ini. Saat Hani dan Lea sibuk berbincang dengan wanita itu, mereka tak menyadari adaya dua pria lain yang keluar dari pintu belakang jeep. Kedua pria itu lalu berjalan mengitari belakang jeep diam-diam. Dan masing-maisng mereka membekap mulut Hani dan juga Nuri.
Hani dan Nuri pun seketika menjadi panik karena mulut mereka tak hanya dibekap, namun juga badan mereka ditarik paksa ke arah pintu jeep yang telah dibuka oleh wanita asing tadi.
Keduanya menyadari kalau orang-ornag ini berniat jahat pada mereka. Sayangnya, belum sempat Hani dan Nuri berteriak, kesadaran mereka tahu-tahu telah pergi meninggalkan keduanya secara perlahan.
Ya. Hani dan Nuri telah dibius dengan obat hingga terjatuh pingsan.
Dengan gerak cepat, komplotan penjahat itu membawa masuk tubuh Hani dan Nuri yang telah pingsan ke dalam mobil. Dan mereka meninggalkan kantong belanjaan milik kedua gadis kecil itu di jalanan.
Tak sampai lima menit, komplotan penjahat itu sudah langsung tancap gas meninggalkan area mall tersebut. Dan Lea yang sampai tak lama kemudian hanya bisa didera kepanikan saat melihat barang belanjaannya tergeletak berantakan di pinggir jalan.
Naluri keibuannya mengatakan kalau Hani dan Nuri sedang dalam bahaya saat ini!
"Hani! Ya Tuhan! Di mana kalian, Nak?!" Jerit Lea yang sungguhan panik kalang kabut.
***