Andi dan Intan adalah dua kakak beradik yang terlahir dari keluarga sederhana. Andi umur 5 tahun dan Intan adiknya umur 3 tahun. Bapaknya meninggal karena serangan jantung, sedangkan mamaknya menikah lagi dengan seorang pria duda.
Mereka (Andi dan Intan) harus berjuang sendiri tanpa kedua orang tua, hingga menjadi pengemis dan pengamen untuk bertahan hidup. Akan tetapi, Andi dan Intan berpisah karena suatu kecelakaan di sebuah lampu merah.
Bagaimana kisah selanjutnya tentang kedua kakak beradik ini? Ikuti kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tampan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15: Mencari Ibu-2
Esok paginya, pemilik ruko membuka pintu. Dia mendapati dua orang anak masih tertidur diemperan rukonya.
"Dik, Dik, bangun! Om mau buka," pemilik ruko membanguni sambil menggoyang-goyang pundak Andi dengan tangannya.
Merasa terganggu dengan suara dan goyangan tangan dari pemilik ruko, akhirnya Andi terbangun. Dia menoleh kiri, kanan dan ke arah pemilik ruko seperti ingin mengetahui siapa yang membanguni.
"Om mau buka," pemilik ruko mengulangi setelah Andi melihatnya.
Andi pun membanguni Intan yang masih tertidur dalam pelukannya.
"Dik, Dik, bangun! Ayo pergi," kata Andi sambil menggoyang-goyang tubuh Intan dengan tangannya. Intan pun terbangun.
Mereka beranjak meninggalkan ruko. Andi yang tidak berbaju kemudian memakai bajunya. Dia bingung harus pergi kemana. Mereka kembali menyusuri kota seperti tanpa arah.
Sambil menyusuri kota yang tidak tahu di mana ujungnya, Intan tiba-tiba berkata, "Bang, lapar!"
"Pakai uang jajanmu, ya" kata Andi. Intan geleng-geleng kepala (pertanda: tidak mau).
"Uangku sudah habis, Dik. Nih, lihat, kosong kan!" kata Andi dengan jujur sambil menunjukkan sakunya. Melihat saku Andi memang benar-benar kosong, Intan baru memberikan uang jajannya.
Mereka mampir di sebuah warung dan beli jajan (kue dan minuman). Tetapi hanya Intan yang beli kue dan minuman, sedangkan Andi hanya beli minuman saja. Mereka kembali melanjutkan perjalanan sambil menikmati jajanannya.
Terkadang mereka berlari kejar-kejaran seperti bahagia dan seolah sudah lupa dengan mamanya.
"Capek, Dik?" tanya Andi tiba-tiba. Intan hanya mengangguk.
Andi mencoba menggendong Intan dari depan.
"Aduhhh... berat, Dik" keluh Andi, lalu menurunkan Intan. Dia hanya menggendong Intan beberapa meter saja. Mereka pun berhenti sejenak dan sambil bermain.
Selesai melepas lelah, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Hanya itulah yang dapat mereka lakukan.
Menjelang sore, Intan kembali lapar. Andi pun panik karena mereka tidak punya uang lagi. Mereka mampir di sebuah toko penjual sembako dan jajanan (grosir/kelontong). Mereka hanya berdiri dan diam saja di depan toko tersebut.
Pemilik toko yang melihat dan merasa aneh kemudian mengusir mereka. Mungkin pemilik toko mengira bahwa mereka adalah anak gelandangan atau pengemis.
"Sana, sana, sanaaa... sana, Dik!" usir pemilik toko dari dalam sambil mengangkat tangan sebelah dan menggerak-gerakkan telapak tangannya. Andi dan Intan pun meninggalkan toko tersebut.
Mereka mampir lagi di sebuah warung makan.
"Bu, Adikku lapar," kata Andi kepada pemilik warung yang tengah sibuk melayani para pembeli.
"Maaf ya Dik, aku lagi sibuk!" jawab pemilik warung. Andi dan Intan pun meninggalkan warung tersebut.
"Bang, lapar!" rengek Intan sambil berjalan.
"Iya Dik, kita cari makan, ya!" kata Andi.
Mereka mampir lagi di sebuah toko penjual sembako dan jajanan (grosir/kelontong) yang lain.
Andi mengambil beberapa kue dan langsung lari.
"Ayo Dik, lariii... lari, Dik!" pekik Andi sambil menarik sebelah tangan Intan. Mereka pun lari.
Pemilik toko yang mengetahui langsung mengejar mereka.
"Heiii...! Kembalikan itu!" teriak pemilik toko sambil menunjuk ke arah Andi dan Intan.
Tetapi apa daya, langkah Andi dan Intan tidak sebanding dengan langkah orang dewasa. Pemilik toko langsung menarik kerah baju Andi dari belakang sehingga kue yang digenggamnya terlempar.
"Hehhh...! Mau lari kemana kaliannn...!" kata pemilik toko sambil memainkan bibirnya.
Seorang pemuda yang kebetulan lewat melihat kejadian.
"Ada apa, Pak?" tanya pemuda itu kepada pemilik toko.
"Kedua anak gelandangan ini mengambil kue dari toko saya!" jawab pemilik toko sambil menunjuk kepada Andi dan Intan.
"Mungkin mereka lapar Pak, biar saya aja yang bayar Pak. Berapa, Pak?" tanya pemuda itu.
"(Menyebutkan harga)", jawab pemilik toko. Setelah dibayar, pemilik toko kembali ketokonya.
-----
Itu hanya NALURI seorang abang kepada adiknya. Sama halnya dengan kita remaja/dewasa/tua ini, mungkin (Author hanya berkata MUNGKIN) ada yang nekat melalukan sesuatu demi: bertahan hidup, kaya, sukses, mendapatkan cinta seseorang, dan lain sebagainya. Karena keadaan tiba-tiba menjadi nekat atau pemberani.
-----
Pemuda itu kemudian mengambil kue yang terlempar dari genggaman Andi, lalu memberikannya kepada mereka yang sudah tertunduk.
"Adik manis, kenapa mengambil kue Bapak itu?" tanya pemuda itu sambil tersenyum.
"Adikku lapar," jawab Andi yang pipinya sudah dibasahi air matanya.
Pemuda itu menoleh wajah mungil Intan dan mengelus rambutnya.
"Ya sudah, tunggu di sini sebentar, ya" kata pemuda itu. Pemuda itu beranjak dan pergi mencari rumah makan untuk beli nasi.
Tidak berapa lama, pemuda itu kembali dengan membawa dua bungkus nasi, air minum yang sudah dibungkus dan memberikannya kepada Andi dan Intan.
"Makanlah, Dik" kata pemuda itu. Andi dan Intan pun menerimanya tetapi tidak langsung makan. Andi masih tertunduk, sedangkan Intan menatap pemuda itu.
"Mungkin mereka malu," batin pemuda itu.
"Ya sudah, kalian makan, ya. Abang pergi dulu, ya" pamit pemuda itu sambil tersenyum dan memegang kepala Andi dan Intan. Pemuda itu pun pergi meninggalkan mereka.
Andi kemudian berbalik badan menoleh pemuda itu, lalu makan bersama Intan.
"Apa itu, Dik?" tanya Andi tiba-tiba di tengah asyiknya makan sambil menunjuk ke atas. Intan pun melihatnya.
Di saat Intan melihat ke atas, Andi diam-diam mengambil ikannya.
"Ikankuuu...." rengek Intan yang tiba-tiba melihat ikannya tidak ada lagi. Andi pun mengembalikan ikan Intan lagi.
Mereka sangat menikmati nasi bungkus yang diberikan pemuda itu, mungkin karena lapar atau enak.
Selesai makan, tidak lama kemudian mereka melanjutkan perjalanan lagi.
"Kesana kita ya, Dik" kata Andi sambil menunjuk. Intan hanya mengangguk.
"Kejar aku, Dik!" seru Andi tiba-tiba sambil berlari.
"Abanggg...." rengek Intan sambil memainkan kedua kakinya seperti berlari di tempat. Sepertinya Intan tidak mau ditinggalkan.
Andi kemudian menghampiri dan kembali memegang sebelah tangan Intan.
BERSAMBUNG..
**Dukung terus ya para READER, dan jangan lupa Vote, Like dan Komen. Terima kasih..**🙏🌹