Namaku Auryn, seorang mahasiswa yang berkuliah di salah satu kampus swasta di ibu kota. Aku merupakan mahasiswa yang bermasalah dan sangat tertutup pada orang lain kecuali dengan teman-temanku yang sama bermasalahnya denganku.
Orang lain menilaiku sebagai gadis yang berkepribadian dingin dan tidak memperdulikan sekitarku, aku mengakui semua itu.
Perlahan sifatku mulai berubah sejak mengenal Dosen yang bergelar Doktor muda di kampusku. Aku tertarik padanya dan melakukan hal yang tidak biasa kulakukan untuk bisa akrab dengannya.
Sifatnya yang berbeda dari kebanyakan orang membuatku penasaran padanya, karena dia aku berusaha ingin menjadi lebih baik lagi.
Aku berharap dialah takdirku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Senang Kau Disini
Sejak pertemuanku dengan kak Rafqi, aku jadi lebih banyak melamun merenungkan Perkataannya. Pikiran dan hatiku terus saja bergelut di dalam sana, ini adalah kali pertama aku dilema oleh pilihan. Aku ingin kembali tapi egoku lebih besar tapi hatiku juga tidak bisa berbohong, aku terus saja ingin kembali untuk memenuhi tugasku.
Malam ini aku sama sekali tidak bisa tidur disaat yang lain sudah tertidur dengan lelapnya, aku masih terjaga di sofa kamar kak Tara dengan posisi telentang menghadap ke langit-langit kamar itu memikirkan apakah besok aku harus datang ke kelas kak Rafqi atau tidak.
"Apa aku harus pergi besok?" gumamku pelan
Jam menunjukkan pukul 05.30 pagi, tapi aku masih terjaga tidak merasakan kantuk sama sekali. Dengan perasaan gelisah ku bolak balikkan badanku secara bergantian ke kiri dan ke kanan
"Apa yang harus ku pilih?" Batinku merasa tertekan dengan pilihan ini
Pada akhirnya aku memutuskan untuk menghadiri kelas kak Rafqi pagi ini. Aku segera beranjak bangun dari posisiku dan berjalan keluar meninggalkan kamar kak Tara tanpa membangunkan mereka.
Dengan langkah yang tergesa-gesa aku berjalan menuju ke kos ku, sesampainya disana aku langsung menuju ke kamar mandi membersihkan diriku dan segera bersiap-siap.
Fajar mulai menampakkan dirinya, biasan sinar matahari pun mulai memasuki kamar kos ku melalui jendela. Aku berdiri mematung di depan cermin besar yang menampakkan seluruh badanku yang sudah terbalut rapi dengan kemeja putih bercorak warna hijau muda dan celana jeans panjang dan rambut yang sengaja ku urai. Ku pandangi wajahku berulang kali untuk memastikan apakah aku benar-benar ingin pergi atau tidak, setelah memastikannya aku memilih untuk melanjutkan niatku tadi menghadiri kelas kak Rafqi.
***
Disinilah aku akhirnya, kelas yang sudah dua minggu ini tidak pernah ku lihat lagi. Setelah mengambil absen dan bahan ajar perkuliahan tadi di kantor fakultas aku sudah berada di dalam ruangan untuk mempersiapkan kelas, seperti biasa aku sengaja datang sepuluh menit lebih awal dari jam perkuliahan.
"Kau sudah datang Auryn" ucap seorang lelaki yang suaranya sudah tidak asing lagi di telingaku. Ia berjalan menuju ke tempatnya dan duduk disana
"Selamat pagi kak, maaf karena saya sudah meninggalkan tugas saya selama dua pertemuan kemarin" sapaku sembari meminta maaf atas kelakuanku
"Tidak apa-apa, justru saya berterima kasih kau sudah mau memilih untuk kembali. Saya senang kau disini" ucapnya tersenyum kepadaku
Aku merasa aku sudah mengambil keputusan yang tepat dengan kembali kesini.
***
Seperti biasa setelah kelas berakhir aku menunggu kak Rafqi menyelesaikan menandatangani absennya dan membereskan bahan ajar yang harus di kembalikan ke fakultas.
"Apa kau ada kelas setelah ini?" tanyanya tiba-tiba
"Tidak ada kak" jawabku sambil menggelengkan kepalaku
"Kau tidak berbohong?" tanyanya yang membuatku bingung
"Maksud kak Rafqi?"
"Katamu kau tidak suka kuliah, barangkali kau punya kelas setelah ini dan tidak ingin masuk ke kelas mu selanjutnya" aku baru mengingat perkataanku kemarin
"Dan saya juga ingat saya berkata kepada kak Rafqi jika saya benci kebohongan, tidak mungkin saya berbuat sesuatu yang tidak saya suka" balasku yang di sambut dengan senyumannya
"Saya suka kejujuranmu Auryn" ucapnya kemudian sembari memberikanku absen dan bahan ajar yang harus dikembalikan ke kantor fakultas. Entah kenapa ada rasa senang yang tidak biasa ketika dia memujiku
"Kalau begitu saya permisi kak, selamat pagi" baru saja aku ingin berbalik meninggalkan ruangan kelas ia langsung menahanku
"Saya belum selesai Auryn" perkataannya seketika menghentikan langkah kakiku dan kembali berbalik mengahadap ke arahnya
"Ada apa lagi kak?"
"hmm, apa kau bisa menemani saya ke toko buku?" Tanyanya dengan ragu-ragu
"Kenapa harus saya kak" aku benar-benar tidak mengerti dengan kak Rafqi yang selalu saja meminta bantuanku untuk menemaninya
"Waktu kita bertemu di perpus beberapa bulan yang lalu, saya lihat selera mu terhadap buku lumayan bagus. Saya ingin kau merekomendasikan buku untuk saya" Lagi-lagi kesalapahaman tentang kelakuanku harus membuatku terlihat seperti orang bodoh di depan kak Rafqi
"Maaf kak, sebenarnya waktu itu saya mengambil buku itu secara acak tanpa melihatnya, buku itu hanya alasan untuk saya berada di perpus karena saya tidak memiliki tujuan lain waktu itu" jelasku jujur padanya. Ia kemudian tersenyum, senyum yang tidak dapat ku artikan
"Kau benar-benar gadis yang jujur" ucapnya dengan senyum yang tertahan
"Kak Rafqi bisa tertawa jika itu lucu bagi kak Rafqi" senyumnya kali ini berubah menjadi tawa kecil yang membuatku menunduk malu
"Kau juga gadis yang lucu. Sebenarnya saya tidak peduli dengan selera bukumu, saya hanya membutuhkan teman untuk di ajak ke toko buku" Sejenak ku lihat wajahnya yang masih menyisakan senyum disana
"Baiklah kak, saya akan ikut dengan kak Rafqi" ucapku kemudian mengiyakan ajakannya.
***
Setelah mengembalikan absen di kantor fakuktas dan bahan ajar di meja kak Rafqi, aku kemudian berjalan dengan langkah yang agak cepat menuju ke parkiran dimana kak mobil kak Rafqi terparkir.
Sesampainya disana, ku lihat kak Rafqi sudah ada di dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya. Aku kemudian bergegas masuk ke dalam mobilnya, ia kemudian melajukan mobil tersebut meninggalkan halaman kampus.
Tidak lama kemudian, mobil kak Rafqi berhenti di sebuah toko buku yang lumayan besar. Ia lalu memarkirkan mobilnya dan kamipun turun secara bersamaan dari pintu mobil yang berbeda kemudian masuk ke dalam toko buku tersebut.
Aku hanya mengikuti langkah kaki kak Rafqi, dimanapun dia pergi aku dengan setia mengekor di belakangnya seperti anak ayam yang terus saja mengikuti induknya kemanapun induknya pergi.
Kak Rafqi memilah satu persatu buku yang ingin di belinya. Aku terkejut melihat buku yang lumayan banyak tersusun di tangannya, sekitar empat buku sudah ada di tangannya saat ini dan dia masih melanjutkan untuk mencari buku lainnya.
"Apa kak Rafqi butuh bantuan untuk memegang bukunya?" Tanyaku dengan ragu karena melihatnya membawa buku tebal dan lumayan banyak itu
"Baiklah, tolong pegangkan yang ini" Ia memberikan dua buah buku untuk ku bawakan untuknya. setelah menemukan buku yang terakhir, raut wajahnya telihat tersenyum dengan puas. Ia lalu menatapku yang memegang dua buku yang lainnya di tanganku
"Kau tidak ingin membeli buku?" tanyanya yang ku jawab dengan gelengan kepala
"Kenapa?" Tanyanya lagi
"Saya tidak suka membaca buku kak" jawabku dengan jujur
"Setidaknya cobalah membaca satu buku" tawarnya kepadaku, aku sejenak memikirkannya
"Kalau begitu, apa kak Rafqi bisa merekomendasikan buku bacaan untuk saya?" alih-alih menjawabnya, ia dengan cepat berjalan ke arah rak paling ujung di toko buku tersebut.
Ia menyusuri setiap buku di rak itu sampai tangannya berhenti di sebuah buku yang lumayan tebal menurutku. Ia kemudian mengambil buku itu dan memberikannya padaku.
The storied Life of A. J Fikry sebuah buku novel yang bergenre fiksi psikologis. Aku melihat buku itu dengan saksama
"Tebal sekali, mana mungkin aku bisa membaca buku ini" batinku, aku merasa memiliki beban baru
"Kau tidak menyukainya?" tanyanya padaku ketika melihat ekspresi datarku saat menerima buku ini
"Tidak kak, saya akan coba membacanya" jawabku dengan cepat takut jika ia merasa tersinggung
"Baiklah kalau begitu, ayo kita kembali"
Saat ini kami berada di depan kasir untuk membayar buku-buku yang telah di pilih tadi. Kak Rafqi memasukkan bukuku ke dalam tagihan pembayarannya, tentu saja melalui perdebatan yang panjang karena aku tidak ingin jika dia yang membayarkan bukunya untukku tapi dia juga bersikeras agar buku yang di pilihkan untukku tadi harus di bayarkan olehnya. Alasannya sebagai bentuk terima kasih karena aku sudah bersedia untuk menemaninya, akhirnya aku mengalah padanya.
Setelah membayar buku-buku yang di pilih oleh kak Rafqi dan juga buku yang dipilihkan nya untukku kami pun bergegas meninggalkan toko buku tersebut.
Sebelum kembali ke kampus, kak Rafqi terlebih dahulu mengantarkan ku kembali ke kos ku.
"Terima kasih untuk hari ini" Ucapnya begitu sampai di depan kos ku
"Tidak masalah kak, saya juga berterima kasih untuk bukunya" ucapku yang ia iyakan dengan anggukan kepala
Begitu aku turun dari mobil, iapun pamit kemudian melajukan mobilnya pergi dari kos ku menuju ke kampus.
***
dsaat pad KUMpul psti ada laras
novelnya👍👍