"Bagaimana? Apa kau menerima tawaranku?" tanya seorang pria yang berpenampilan dengan setelan jas bermerk dunia. Matanya menatap gadis dihadapannya dengan sejuta maksud.
"Apa anda akan memenuhi semua kebutuhan saya? Termasuk biaya perawatan tubuh saya yang terbilang tidak murah?" gadis itu mencoba memastikan kembali apa yang ditawarkan oleh pria yang tengah mengunci pergerakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 15. Terpesona
Di dalam bilik ganti yang disekat dengan tirai, Arruna melihat penampilannya dari pantulan cermin yang ada di depannya.
"Astaga!" pekiknya tertahan.
"Ada apa, Nona?" tanya staf butik yang memuji Arruna barusan. Raut panik dan juga khawatir tampak jelas di wajah staf yang lain. Sampai-sampai mengalihkan pandangan Revald dari ponsel yang ada di tangannya.
"Jadi, aku dari tadi seperti ini?" tanya Arruna kepada mereka sembari menunjuk ke arah wajahnya sendiri.
Ekspresi wanita sangatlah lucu. Antara terkejut dan tidak percaya menjadi satu.
"Apa ada yang salah, Nona?"
Para staf butik dibuat resah dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Arruna. Mereka takut kalau sampai pelanggan VIP-nya ini tidak menyukai koleksi gaun di butik mereka.
"Tentu saja saja salah." sahut Arruna dengan nada sedikit tinggi.
Wanita itu menunduk, merutuki kecerobohannya. Bagaimana bisa dirinya keluar tanpa menggunakan riasan wajah sedikit pun. Paling tidak memakai lip tint atau apalah itu yang bisa membantu penampilan dirinya agar tidak terlihat jelek seperti sekarang ini.
"Maafkan kami, jika Nona kurang puas dengan layanan kami," ucap mereka seraya membungkukkan badan.
Jika itu Arruna yang dulu, yang masih hidup penuh harta, jelas wanita itu akan bersikap pongah. Mengangkat kepalanya dan berjalan begitu sombong sambil melontarkan kalimat yang tidak enak didengar.
Akan tetapi sekarang ini bukan saatnya bersikap seperti itu. Rasa percaya diri Arruna berkurang mendapati wajahnya yang polos tanpa olesan make up. Padahal sebenarnya wanita itu lebih cantik tanpa make up. Lebih terlihat menggemaskan tentunya di mata seseorang.
"Bukan kalian," jawab Arruna. Wanita itu bingung sekaligus malu mau mengatakannya bagaimana. Di tambah lagi gaun yang melekat di tubuhnya tidak sebanding dengan kondisi wajahnya yang polos saat ini.
"Lalu apa gaunnya terasa tidak nyaman, Nona?" tanya staf butik lagi.
"Gaunnya udah nyaman. Cuma ...." Arruna menggantung kalimatnya lalu kemudian menyuruh orang yang berada di dalam bilik bersamanya itu mendekat. Beruntung juga tirainya belum dibuka. "Apa kamu punya perlengkapan make up?" bisik Arruna.
Staf butik itu tersenyum baru kemudian mengangguk. "Punya Nona. Sebentar, saya ambilkan," ujar staf tersebut lalu keluar dan mengambil barang yang di minta oleh Arruna.
Sementara itu Revald mengernyitkan keningnya di kala melihat hanya staf butik saja yang keluar dari bilik tirai itu. Sedangkan wanita yang dia sewa untuk dijadikan istrinya malah tidak kunjung keluar. Membuat rasa sabar Revald kian terkikis.
"Kalau sudah selesai, buruan keluar!" pria itu benar-benar tidak bisa berkata lembut sama sekali pada Arruna.
"Bentar, dikit lagi!" sahut Arruna dari dalam bilik ganti.
Staf yang mengambil perlengkapan make tadi segera masuk dann memberikan barangnya pada Arruna. Tanpa bantuan mereka sedikit pun, Arruna memoles wajahnya sesuai dengan gaun yang dia kenakan saat ini. Tidak terlalu tebal, hanya lebih terlihat fresh saja dibanding sebelumnya yang tampak pucat karena tidak memakai lipstick sama sekali.
Setelah semua selesai, para staf butik yang melayani Arruna pun dengan perlahan membuka tirai yang menjadi sekat antara tempat Revald dan juga Arruna. Hingga tirai itu benar-benar terbuka dan diarahkan di masing-masing sisi.
Revald yang sedari tadi ingin meluapkan rasa kesalnya karena menunggu Arruna mencoba gaun, seketika luntur. Pria itu tampak terpaku dengan sosok wanita yang baru saja berbalik kepadanya hingga mereka saling berhadapan.
Revald dibuat tercengang dengan penampilan Arruna sekarang ini. Terlebih lagi wanita itu menggunakan gaun berwarna peach. Sangat cocok sekali dengan warna kulitnya yang putih bersih.
"Bagaimana? Cantik 'kan?" tanya Arruna sembari membuka tangannya lalu bergerak memutar. Memperlihatkan gaun yang sedang dia pakai dari segala sisi kepada Revald.
kampus rada elit bayar e
ubaya
petra
kampus yg standart
itats
unipra
stesia
wijaya
hangtua
upn
17agustus
tinggal pilih
itu bukan manja tp kebablasan
salah asuham
gkk bahaya tah