Juliana, si perfeksionis, sinis, ketus dan menjunjung tinggi nilai kehormatan seorang wanita, sementara Harsa adalah bentuk nyata dari kerusakan moral manusia yang ada diseluruh dunia, yeah, setidaknya dimata Juliana.
Mereka adalah musuh bebuyutan sejak jaman primitif hingga takdir membawa dua orang itu bekerja dalam satu divisi dan satu ruangan yang sama. Saling membalas umpatan, makian, dan pertengkaran hingga perdebatan sudah bukan lagi hal baru. Tapi siapa yang menyangka, rupanya kebencian mereka malah membawa mereka berdua terbangun suatu pagi di atas ranjang yang sama!
"Kau pasti menjebakku, kan? Kau sengaja mau mencoreng reputasiku sebagai wanita terhormat!" Tuding Juliana.
"Hei, aku mungkin bejat dimatamu, meski begitu aku mempunyai syarat dan ketentuan berlaku untuk wanita yang bermain denganku, dan kau tidak memenuhi semua persyaratan dan ketentuan yang ada." Harsa menyeringai.
Lalu, bagaimana bisa semua itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan Juliana.
Juliana merasakan sakit kepalanya mulai berkurang, tidak lagi terlalu menusuk seperti sebelumnya, namun ada yang aneh, yang dia ingat terakhir kali adalah dirinya hendak masuk ke dalam mobil taksi online setelah pertengkaran menyebalkan dengan Harsa di pinggir jalan, tapi ini ia merasakan tangannya hangat, seperti digenggam oleh seseorang.
Juliana segera membuka matanya, kewaspadaannya seketika tertuju pada Harsa yang dia pikir memegang tangannya, tapi ternyata dugaannya salah.
“Kakak sudah bangun?” Dimas melepaskan genggaman tangannya. Ia merenggangkan otot-otot tubuhnya dengan merentangkan tangannya ke atas sambil menguap.
“Ini dimana?” tanya Juliana.
“Rumah sakit.”
“Rumah sakit? Kok bisa?”
“Lah, Kakak lupa kalau Kakak pingsan… eh, benar juga ya, kan Kakak pingsan, pasti tidak ingat.” Dimas kembali menguap.
“Bagaimana aku bisa sampai di rumah sakit dan kau ada disini?”
“Bang Harsa yang membawa Kakak ke rumah sakit pakai taksi online. Dan pas sekali waktu aku menghubungi Kakak, Bang Harsa yang menjawabnya. Dia bilang Kakak pingsan. Biaya administrasi juga semuanya sudah dibayar sama Bang Harsa. Dia khawatir banget waktu aku datang.”
Harsa? Khawatir dan melakukan semua itu untuknya? Apakah bumi tidak lagi bulat? Juliana berpikir keras dalam kepalanya.
“Dia dimana sekarang?” tanya Juliana akhirnya.
“Di luar. Katanya diam au menunggu di luar saja, karena dia yakin kalau Kakak bangun dan melihatnya ada di dekat Kakak, Kakak akan kembali mengamuk. Memangnya Kakak habis mengamuk?”
“Ngamuk? Yang dia yang habis mengamuk sama supir taksi online tidak jelas. Menyebalkan!” Runtuk Juliana, tapi sembali menyibak selimut dan turun dari brankar, mendorong tiang infusan menuju pintu.
“Kakak mau kemana?” tanya Dimas.
Alih-alih menjawab, Juliana baru menyadari ruang kamar perawatannya. “Ruangan ini kelas berapa?”
“VIP.”
“Apa?” Juliana melotot. “Dia akan membuatku berhutang untuk ruangan VIP, menyebalkan!”
“Bukannya Kakak seharusnya berterima kasih, ya?” Ujar Dimas tidak mengerti kenapa Kakaknya selalu menggerutu menyebalkan dengan bantuan yang sudah diberikan Harsa.
“Kau tidak tahu seperti apa menyebalkannya orang itu. Dia akan menjadikan semua ini sebagai bahan untuk membuatku jengkel.”
Dima mengerutkan kening. Padahal sebelum Juliana sadar, Harsa sangat hangat dan baik, sama sekali tidak tercium sebagai orang yang menyebalkan dan abhnormal seperti yang pernah dikatakan Juliana sebelumnya.
***
Harsa mengerjapkan matanya begitu terasa seperti ada sesuatu yang menabrak kakinya yang menyelonjor, sementara tubuhnya duduk dengan posisi kepala bersandar pada dinding. Ia ketiduran dalam posisi duduknya yang tidak terlalu nyaman.
“Kau sudah bangun? Kenapa langsung turun dari kasurmu? Apa sudah tidak pusing lagi? Dokter bilang tekanan darahmu sangat rendah. Apa kau tidak makan dan tidak tidur-”
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Juliana dingin, menyela perkataan penuh kepedulian dan kekhawatiran Harsa.
“Aku? Aku… ketiduran.” Jawab Harsa sekenanya.
“Kenapa kau harus menolongku? Membayarkan semua biaya dan menempatkanku di ruangan VIP? Kau mau membuatku berhutang padamu, iya kan?” Tuduh Juliana dengan kejamnya. Ia tidak melihat bagaimana Harsa membantunya dengan tulus.
“Wah…” Harsa bangkit berdiri, dengan sunggingan senyum tersirat kekecewaan pada wajah maskulinnya. “Apa hanya itu yang kau lihat dariku?”
“Ya. Memangnya apa lagi?”
“Baiklah kalau begitu.” Harsa memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket yang dikenakannya. “Aku akan kirimkan semua tagihan rumah sakit ini via email, termasuk juga uang yang aku keluarkan untuk membayar taksi online yang batal kau tumpangi karena handphonemu yang lowbat, lalu biaya chargerku yang dipakai untuk mengisi daya batrai ponselmu jadi adikmu bisa tahu kau ada disini, biaya bensin dan cat motorku dan urut kakiku karena aku terjatuh saat mengejar mobil yang kupikir menculikmu, hanya karena aku takut kau diculik. Dan biaya atas jasa aku harus menggendongmu keluar dari mobil ke dalam UGD. Semuanya akan aku rincikan, dan kau bisa membayarnya via transfer.” Tidak ada senyum jenaka pada wajahnya yang dihiasi bewok dan kumis itu. Tatapan matanya membuat lidah Juliana yang tajam menjadi kelu. Entah bagaimana dia menyesal telah menuduh Harsa.
“Aku…”
“Karena sepertinya kau sudah baik-baik saja, sebaiknya aku pulang. Oh, aku juga akan kenakan cas untuk waktuku menunggumu disini, memastikan kau baik-baik saja.” Harsa hendak berbalik badan, tapi kemudian ia kembali melihat Juliana. “Apakah kau akan lebih senang dan bahagia jika aku membiarkanmu pingsan begitu saja di pinggir jalan bersama supir taksi online yang panik karena tidak tahu harus bagaimana?”
Lidah Juliana semakin kelu. Seperti ada sesuatu yang mencubit hatinya, karena rasanya begitu menciut melihat bagaimana sorot ketersinggungan pada tatapan mata yang biasanya selalu melihatnya dengan tatapan jahil.
Harsa pun akhirnya melangkah pergi, melangkah menjauh meninggalkan Juliana yang terpaku dan mematung pada titiknya berdiri di samping kursi tunggu di luar kamar.
Apakah aku sudah terlalu berlebihan? Batinnya.
“Ya, Kak, kau terlalu berlebihan membencinya sampai tidak bisa melihat kebaikannya.” Dimas seolah bisa mendengar dengan jelas suara batin Juliana yang berbisik.
Dimas mendekat, ia menggelengkan kepalanya. “Sudah pernah kukatakan padamu, bukan? Pria itu menyukaimu. Mungkin saat ini Bang Harsa belum menyadarinya. Dan saat ini juga Kakak belum bisa melihatnya karena kebencian Kakak untuknya. Tapi aku bisa melihatnya.”
“Memangnya dari mana kau bisa melihatnya? Kau bahkan tidak mengenalnya. Kau baru bertemu dengannya.” Juliana bergerak kembali masuk ke dalam kamar perawatannya. Dimas mengikuti.
“Kakak lupa jurusan kuliahku?”
“Mengambil jurusan ilmu psikologi bukan berarti bisa membuatmu bisa menghakimi orang lain.”
Dimas terkekeh. “Aku tidak menghakimi, Kak. Tapi aku melihatnya, cukup mudah bagiku untuk melihat sikap Bang Harsa yang cukup terbuka.”
“Kau tidak cukup mengenalnya, Dim. Dia itu orang yang… yang…” Sementara mencari satu kata yang tepat untuk menggambarkan keseluruhan Harsa, Dimas malah terkekeh.
“Jadi, Kakak yang seharusnya sudah lebih mengenalnya dari pada aku, seharusnya lebih bisa melihat dan merasakan perasaan Bang Harsa yang sebenarnya.” Sela Dimas
Juliana mengernyitkan dahi, dan melemparkan tatapan sinis pada adiknya.
“Hanya ada dua golongan orang yang dapat mengenal seseorang. Golongan pertama adalah mereka yang
menyayangi orang tersebut. Dan golongan kedua adalah mereka yang membenci orang tersebut. Mungkin Kakak adalah golongan orang yang kedua. Tapi, Bang Harsa adalah golongan orang yang pertama.”
“Please Dim, jangan berasumsi aneh-aneh.”
“Aku tidak berasumsi aneh-aneh, Kak. Coba Kakak pikir, apa ada musuh yang khawatir dan cemas dan membiayai semua biaya rumah sakit bahkan meminta kamar terbaik untuk musuhnya yang pingsan di pinggir jalan? Dia bahkan membelikan makan malam untuk si adik musuhnya itu. Apa ada musuh yang seperti itu? Menunggu musuhnya sampai sadar karena khawatir jika terjadi sesuatu?”
Juliana memalingkan wajah. Terlalu enggan dan gengsi membenarkan asumsi adiknya yang selalu terlihat santai dan kalem.
“Lalu kau mau aku bagaimana? Katakan lah si nyamuk itu punya rasa padaku, lalu aku harus apa? Bersorak? Membuat perayaan nasi tumpeng?” Sinis Juliana.
“Setidaknya kau bisa menghargai kebaikannya atau normalnya berterima kasih karena telah ditolong. Kau bisa membalas kejahilannya atau godaannya lain waktu, tapi tidak saat dia setelah membantumu. Dan yang tadi kau lakukan padanya sungguh bukan sikap wanita terhormat yang selama ini selalu kau junjung, Kak.” Dimas mengingatkan.
Dimas mengeluarkan sebuah kotak makan dari kantong platik berlogo sebuah restoran. Ia menyiapkan sajian itu di atas meja khusus pasien. “Kakak tidak perlu membalas perasaannya jika memang Kakak tidak mempunyai perasaaan untuknya, tapi setidaknya, saat orang lain menolongmu, siapa pun itu, sudah sepatutnya Kakak berterima kasih, bukannya menuduhnya.”
Sekotak nasi curry chicken dan sebotol air mineral di dorong di atas meja ke depan Juliana.
“Jangan katakan, makanan ini juga dia yang membelikannya?” Tatap nanar Juliana pada menu makanan kesukaannya.
“Aku yang membelinya.” Jawab Dimas.
Juliana bernapas lega. Paling tidak Juliana bisa menyantapnya tanpa rasa bersalah yang kini bergelayutan manja pada hatinya.
“Tapi Bang Harsa yang membayarnya.”
“UHUK!”
.
.
.
TBC~
btw jangan lupa mampir di karya gw yg berjudul Ayunda, gadis pelunas hutang 😘
Akhirnya Every Moment Of You sudah tamat. Terima kasih yang sudah sabar menunggu setiap bab nya update, karena jujur, kisah kali ini cukup menguras energi saya, banyak hal yang saya pertimbangkan untuk saya tulis atau tidak. Misalnya seperti apakah saya perlu menuliskan adegan yang bikin kipas-kipas? Sementara tujuan saya menulis kisah kali ini adalah mengutamakan cerita cinta yang manis di kantor, pertemanan, dan menyampaikan pesan pada pembaca bahwa kita tidak bisa dan tidak boleh menilai seseorang hanya dari melihatnya saja tanpa benar-benar mengenalnya.
Tapi, mungkin ada pembaca yang kecewa karena tidak ada adegan yang bikin degdegserr...maaf yaa🙏🏻
Saya akan membuat kisah yang degdegserr pada kisah lainnya... ditunggu yaa 😊✌🏻