Shania Goldwyn, seorang petugas tiket kereta bawah tanah terpaksa menjadi seorang hot Mommy dari seorang putra yang tidak ia tahu siapa ayahnya. Trauma mendalam ia rasakan setelah lari dari sebuah penyekapan sebuah kelompok Gengster berbahaya di kotanya.
Vedran Sean Kingston, seorang pimpinan Gengster Mongrel Mob di New Zealand. Pria yang sangat kejam dan berbahaya dan tak segan membunuh dengan keji harus kewalahan mencari sosok perempuan yang telah mencuri hati dan pikiran dan juga anaknya.
Pria kejam itu berjanji akan menemukan perempuan yang telah mencuri anak kandungnya itu kemanapun ia berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Harry Galdwin
Shania Galdwin dan Alma Shofie benar-benar menikmati acara shopping mereka di sebuah Mall terbesar di kota Auckland itu.
Mall Auckland Kembali buka setelah kasus covid 19 mereda sehingga warga Selandia Baru Rela Antre Demi Diskon. Semua toko menarik pelanggan dengan acara potong harga besar-besaran.
Kedua perempuan itu saling tersenyum bahagia meskipun harus antri lama di depan toko. Mereka berdua merasa baru kali ini akan menikmati hari yang panjang dengan berbelanja sepuasnya.
Keluar dari pandemi yang cukup membuat stres semua orang di dunia ini dengan membawa uang yang banyak adalah kebahagiaan tersendiri yang mereka alami.
Berbagai rencana sudah penuh dikepala mereka untuk bersenang-senang. Satu sampai dua lembar daftar belanjaan mereka sudah berada ditangan. Rasanya kedua perempuan itu ingin membeli semua isi toko karena bahagianya.
Apalagi mereka akan kembali bekerja setelah berlibur sepekan lamanya jadi mereka memanfaatkan hari itu untuk healing-healing dan bersenang-senang. Mereka berdua lupa ada anak kecil yang sedang menunggunya di sekolah.
🍀
"Harry, kenapa mommy belum menjemput sayang?" tanya Miss. Annette pada anak usia 4 tahun itu yang berdiri di depan gerbang sekolah sendirian.
"Mommy dan Onty Alma mungkin sebentar lagi akan menjemputku, Miss." jawab Harry sembari memainkan ujung tasnya.
"Ah iya baiklah sayang, kamu bisa menunggu di dalam ya," ujar Miss. Annette tersenyum.
"Terima kasih banyak Miss. Aku menunggu disini saja." jawab Harry tanpa mau berpindah dari posisinya itu." Miss. Annette meninggalkan anak kecil itu dan kembali masuk ke ruang kantornya.
Ia tahu betul kalau putra dari Shania Galdwin itu agak keras kalau sudah menginginkan hal itu.
Conan Doyle yang sedang membawa mobilnya dengan pelan karena sedang ada razia masker dan vaksin di jalanan di hadapannya tanpa sengaja melihat anak kecil yang pernah ia tolong.
Perhatiannya terus tertuju pada Harry yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah itu sendirian dengan wajah sedihnya.
"Kenapa berhenti Doyle?" tanya Kingston sembari melihat keadaan sekelilingnya. Gadget yang sejak tadi ia pakai bekerja ia simpan kembali ke dalam saku jasnya.
"Aku ingin menyapa anak itu Pak," jawab pria itu sembari membuka seatbeltnya dan turun dari mobil.
"Hai tampan. Kamu masih ingat uncle?" sapa Conan pada Harry yang menatapnya dengan wajah gembira.
"Hai Uncle. Aku mengingatmu. Kita pernah bertemu kan?" Harry langsung membalas salam dari pria itu dengan melompat bahagia.
"Apa kamu sudah sehat?"
"Iya uncle, aku sangat sehat. Tadi pagi aku sudah makan bubur ayam buatan mommy dan sekarang aku juga sedang membawa bekal. Apa kamu mau mencoba buatan mommy?" Conan tertawa melihat keceriaan anak yang sangat mirip dengan bosnya itu.
"Dimana Mommymu? kenapa belum menjemput?"
Harry nampak berpikir kemudian menjawab.
"Mommy dan Onty Alma sedang berbelanja di Mall untuk membelikan aku mainan yang banyak uncle."
"Oh ya ampun," Conan Doyle menarik nafas panjang.
Pria itu baru saja membaca berita online kalau semua toko ataupun Mall di kota Auckland pada hari ini membludak karena serbuan para pengunjung yang sedang berburu diskon.
Mereka sampai lupa akan protokol kesehatan yang harus dipatuhi sesuai anjuran WHO. Dan pria itu sudah bisa membayangkan bagaimana kalau perempuan saat berbelanja. Pasti akan lupa diri.
"Kamu mau ikut bersama uncle untuk bermain? kita bisa menunggu sampai Mommymu menjemput, bagaimana?" Harry lama terdiam. Pesan dari mommynya untuk tidak berbicara dengan pria asing harus ia lupakan. Anak itu sangat tertarik dengan kata bermain yang disebutkan oleh pria asing itu.
"Baiklah uncle, tapi janji kita cuma sebentar ya. Aku takut mommy akan mencariku disini." jawab Harry setuju.
"Aku bisa mengantarkanmu sampai di rumahmu." jawab Conan Doyle sembari meraih tangan pria kecil itu dan membawanya ke mobilnya.
"Masuklah dan duduk dengan tenang okey?" pintu mobil bagian belakang ia buka untuk mempersilahkan anak itu masuk.
"Terima kasih banyak uncle," ujar Harry sembari menyimpan tas sekolahnya di samping kanannya. "
"Iya," jawab pria itu kemudian mengitari kendaraan itu dan masuk ke tempatnya semula. Ia melajukan kendaraan roda empat itu ke arah sebuah hotel tempat Vedran Sean Kingston akan meeting dengan rekan bisnisnya.
"Apa sekarang kamu berubah jadi perawat anak, Doyle?" tanya Kingston dengan nada kesal sembari melihat anak yang baru masuk itu dari kamera didepan mobilnya.
Deg
Entah kenapa perasaannya sangat berbeda ketika melihat mata anak itu yang berwarna hijau seperti mata Shania Galdwin.
Dulu sewaktu pertama bertemu di Rumah Sakit, ia belum memperhatikan warna mata anak itu karena begitu banyak luka di bagian wajah dan kepalanya, tetapi sekarang warna mata itu sangat jelas.
Ada rasa yang tidak biasa ia rasakan saat mata mereka saling bertemu di dalam kamera itu.
"Nama kamu siapa?" tanya Kingston tanpa memindahkan matanya dari arah kamera di hadapannya.
"Harry Galdwin."
Deg
Vedran Sean Kingston merasa jantung do dalam tubuhnya memompa darahnya begitu kuat sehingga ia merasa dirinya membeku dan hampir meledak. Pria itu sampai gemetaran hanya karena mendengar kata Galdwin.
"Tapi uncle bisa memanggilku Harry." jawab anak itu tersenyum.
"Hai Harry," panggil Conan Doyle yang sedang mengemudikan mobil itu dengan kecepatan sedang.
"Siapa nama mommymu Harry?" tanya Vedran Sean Kingston dengan suara tercekat. Anak itu tidak menjawab.
"Harry?" Conan Doyle memangil anak itu agar mau menjawab pertanyaan pimpinannya.
"Shania Galdwin. Mommy-ku bernama Shania Galdwin."
"Hentikan mobilnya Doyle!" teriak Kingston dengan suara bergetar hebat. Pria itu ingin berpindah tempat duduk ke jok belakang mobil itu.
Ciiiiiit
Vedran Sean Kingston membuka pintu mobil dan langsung masuk ke bagian belakang kendaraan itu.
"Harry, aku Daddymu sayang," ujar pria itu sembari memeluk dan mencium anak laki-laki itu dengan penuh haru dan bahagia.
Harry tidak bereaksi. ia hanya diam saja diperlakukan seperti itu oleh seorang pria asing yang tidak ia kenal.
"Mommy bilang padaku aku tidak punya daddy. Katanya Daddy-ku sudah mati, uncle. Anda pasti salah orang. Iyyakan?" Harry menatap pria dihadapannya dengan wajah bingung.
Shania Galdwin, sang Mommy selalu menekankan pada dirinya kalau ia tidak boleh lagi membicarakan Daddy dengannya.
Bagi perempuan yang melahirkannya itu tidak ada kata Daddy untuk dirinya. Kalau ia bertanya kenapa? maka sang mommy akan menjawab kalau dia
adalah anak yang berbeda dengan anak yang lainnya.
Vedran Sean Kingston merasakan dirinya marah karena dianggap sudah mati oleh perempuan yang hampir membunuhnya itu.
"Kita pulang, Doyle. Meetingnya kita cancel!" pria itu patuh. Ia mengikuti perintah sang bos dengan tersenyum penuh arti.
🍀
*Tobe continued
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍