Delima Anastasia : Hidup dengan sederhana, dipertemukan dengan CEO di temat ia bekerja. Semenjak bertemu dengan CEO itu, ia sudah mempunyai perasaan kepada bos muda di kantornya, dengan hobinya menulis maka ia salurkan menjadi sebuah cerita didalam novelnya.
Sampai suatu hari ia merasa bahwa CEOnya itu mengawasinya dari jauh dan mulai bersikap tidak wajar, membuat Delima merasa selalu di awasi.
"Aku tidak tau takdir membawaku kemana, yang jelas jangan buat aku menderita Tuhan."
Derel Sean Miller :
"Setelah kau jadikan aku fantasimu membuat sebuah cerita, apakah aku akan membiarkanmu pergi dengan mudahnya?"
Tidak akan Delima, kau akan tetap di sini, di tempat yang seharusnya yaitu di sisi ku, kau adalah milikku dan siapapun tak akan ku biarkan milikku di ganggu ataupun disentuh orang.
Kau akan menjadi milikku, karna dari awal kau memanglah tercipta untukku. Apapun caranya itu pasti akan aku buktikan tidak akan lama lagi Del.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KarismaAd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Setelah melewati rutinitas yang panjang dan sangat melelahkan, disinilah Delima. Sesuai dengan janjinya, ia akan mentraktir sahabat terdekatnya.
Mereka pergi ke tempat favorit, tempat yang dari dulu menjadi langganan ia dan para bestienya. Disini suasananya bernuansa klasik, banyak tumbuhan hijau, dan musik yang menghanyutkan para pengunjung yang ada di cafe ini.
Sungguh disini sangat menyenangkan dan buat pikiran rileks, seketika masalah dan beban yang ada dipundak serasa terangkat semua, walaupun hanya untuk sementara, apa lagi berkumpul bersama bestie tercintanya.
"Sungguh hari ini yang gue tunggu-tunggu, berkumpul bersama kalian, apalagi di traktir, wihh.. Mantap betul rasanya." Cerocosan Dista, dengan hatinya yang penuh dengan kegembiraan yang tiada tara.
"Yaelah, lo itu orang kaya, yakan. Lo juga punya banyak uang jugakan, tapi kelakuan lo kanyak ini gak mencerminkan seperti itu deh." Penjelasan Dea, kepada Dista dengan wajah tak percayanya.
"Teruss, urusannya sama lo apa." Jawaban tidak terima dari Dista.
"Udah-udah kalian berdua bisa gak, kalau bertemu itu akur, gak kanyak gini. Berantem mulu seperti kucing dan anjing. Gue capek tau, setiap ketemu malah berantem kanyak gini." Klara menghirup nafas dengan rakus dan dihempaskannya dengan kasar.
"Lagian, kalian gak malu apa, di lihatin sama pengunjung cafe ini. Terutama di sini bukan hanya kita saja, ada dedek gemes di sini. Kalian mau buat dia seperti kalian ha." Cerca Klara dengan garang ke Dista dan Dea.
Sungguh mereka tidak tau situasi dan kondisi. Dimana bertemu, berantem terus seperti musuh sepanjang abat ini.
Mereka berdua langsung pakai mode diem, tak mau mengeluarkan suara sedikitpun, jika tidak mereka mendapatkan ceramah dan cercaan yang tiada henti.
Beginilah jadinya kalau Klara marah. Membuat para sahabatnya itu, bungkam karena sudah buat induk singa marah.
Tapi beda konsepnya kalau dia tidak marah, maka Klara bagaikan malaikat, lembut, perhatian dan sebagai penengah di antara sahabatnya, itu ditunjukkan hanya kepada keluarga dan sahabatnya saja.
Diantara mereka berempat itu hanya Klara dan Delima yang bisa di andalkan kalau untuk kayak sekarang.
Delima hanya menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum melihat kelakuan dari para sahabatnya ini.
Sungguh ajaib kelakuan mereka, inilah yang sangat di rindukan oleh Delima, berkumpul bersama dengan formasi lengkap. Bahkan menjadi hiburan tersendiri buat ia, yang melepaskan penat dan lelah disaat rutinitasnya yang padat.
Dea dan Dista bertengkar, bukan sungguhan. Mereka melakukan itu hanya untuk melepaskan rindu dan kangennya dengan cara seperti ini, perasaan mereka bisa tersalurkan.
Jadi mereka berlima sekarang sudah duduk manis dan sedang bercanda gurau, sambil menikmati makanan dan minuman yang telah mereka pesan.
"Jadi adik gemas ini siapa namanya?" Tanya Klara dengan tiba-tiba, menghadap ke orang yang ia tanyai.
Sedangkan yang di tanya, malah mengerjapkan matanya dengan lucu. Membuat mereka pada gemes dan seakan ingin membungkus, untuk dibawa pulang.
Mereka memalingkan serta menyembunyika wajahnya yang memerah. Karena gemes melihat tingkah Resti yang imut.
"Sungguh gemes, nak pengen cubit pipinya." Suara hati mereka dengan serentak.
Memang dari tadi mereka belum tau nama orang yang di bawa delima, kecuali Dea karna mereka satu kantor dalam satu direksi.
"Yaampun, gara-gara kalian berdua berantem. Gue jadi lupa, memperkenalkan orang yang berada di samping gue ini." Itu bukanlah suara dari orang yang ditanya, melainkan suara dari Delima.
"Yaudah adek kakak yang manis, kenalkan dirimu ya, ke kakak yang lain jangan takut." Dengan suara lembutnya Delima berucap pada dia yang sudah ia anggap sebagai adek angkat, dari pertama Resti masuk kantor.
Delima sedikit menjeda ucapannya, mengarahkan pandangannya ke pada sahabatnya, yang sedang menunggu Resti memperkenalkan diri.
"Walaupun kelakuan mereka seperti yang kamu lihat tadi, tapi mereka sangatlah baik kok." Delima menyuruh Resti memperkenalkan diri, dan memberikan sedikit pengertian tentang para bestienya.
Resti merespon dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya sedikit, pertanda dia tidak keberatan, atas apa yang di ucapkan oleh Delima.
"Hai kakak semua, aku Resti Jessie M, biasa di panggil Resti." Dengan singkat, padat Resti memperkenalkan diri, dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Hai juga Resti.."
"Hai juga dedek gemes.."
Mereka berdua berucap dengan serempak, kecuali Delima dan Dea. Mereka sudah tau Resti, karna satu kantor.
"Sebenarnya kakak, mau tanya sama lo dek, dari kemaren-kemaren, tapi belum sempat. Kepanjanga M di akhir nama lo itu apa sih?" Dea menatap Resti dengan wajah yang meminta jawaban darinya.
"Humm, baiklah kakak, aku akan jawab." Menjeda ucapannya, dan membuat orang semakin penasaran.
"M itu kepanjangannya mil...." Ucapan Resti terputus dengan suara heboh milik seorang wanita.
"Yaampun! akhirnya kita ketemu lagi sayang." Dengan pekikan yang cukup nyaring, dan suara yang sangat heboh yang cetar membahana.
Para pengunjung menolehkan kepalanya ke arah suara yang menyita perhatian mereka, dari kegiatan menyantap makanan dan minuman mereka. Bahkan termasuk Delima dan sahabatnya.
Delima dan para sahabatpun heran, karena wanita yang menyita perhatian para pengunjung itu, menuju ke arah mereka.
Setelah wanita itu berada di hadapan mereka. Delima dan para sahabatnya terpukau dan terpana, termasuk para pengunjung cafe yang ada di sana.
Bagaimana tidak mereka bagaikan melihat ibu peri yang turun dari khayangan. Bahkan bisa di bilang mereka orang yang paling beruntung, melihat ciptaan TUHAN yang sangat sempurna ini.
Beda halnya dengan orang yang berada di samping mereka, dia agak gelisah dan takut ketahuan, seketika menutup wajahnya dengan buku menu. Seolah takut seseorang mengenalnya.
"Sayang, kamu tau gak selama ini tante cariin kamu kemana-mana. Tante bersyukur banget akhirnya kita bisa ketemu lagi sama kamu." Cerocos wanita itu kepada Delima, dengan penuh kegembiraan dan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.
Delima hanya cengong dengan wajah bingungnya, bagaimana tidak, disaat kamu disapa sama orang yang tidak kamu kenal, dan orang itu seolah kenal denganmu.
Delima menengok ke arah para sahabatnya. Dan melihat wajah besteinya yanh seakan meminta jawaban. Ia memberikan isyarat dengan menaikkan bahu, dan menggelengkan sedikit kepalanya, pertanda ia tidak tau.
"Iihhh... Sayang kok gak jawab sih, tante dari tadi gomong panjang lebar loh." Protes wanita itu, karena orang yang ia ajak bicara tidak merespon.
"Ehh, mbaknya bicara sama saya." Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Delima. Sambil jari manisnya menunjuk ke wajahnya, masih dalam keadaan yang bertanya- tanya.
"Iya lah sayang, terus siapa lagi. Kamu gak silahin tante duduk, pengal tau dari tadi berdiri terus." Dengan lelah wanita itu berucap
"Kamu jangan panggil mbak, ya sayang. Alangkah baiknya kamu panggil tante atau momy Ratna juga boleh." Kata Ratna yang sambil melihat menu yang ada di, atas mejannya.
"Lagian umur momy udah 48 tahun, mana bisa di katakan muda lagi sayang." Penjelasan dari momy Ratna panjang lebar.
Mereka semua terkejut dengan apa yang di katakan Ratna. Bagai mana tidak, orang yang di depanny ini sangatlah vantik dan kelihatan masih muda. Bahkan untuk penuaannya saja tidak terlihat.
"Sayang kok diem aja, momy dari tadi dah capek gomong loh, bahkan udah berbuda ini mulutnya momy." Melambaikan tangannya ke wajah Delima, Ratna melihat Delima sedang berpikir sesuatu.
"Eh, iya tante. Maaf sebelumnya apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Lontaran pertanyaan yang ada dalam pikiran Delima dari tadi.
"Yaampun, Momy sampai lupa, kamu inget gak pas waktu di mall, kamu yang tolongin angkat barang belanjaan momy dulu." Penjelasan momy Ratna, kepada Delima. Seperti momy Ratna tau kalau Delima lupa akan kejadian itu
"Ohh, yang waktu itu ya tante, yang aku tolongin pas lagi mau jatuh itu ya." Delima baru ingat kejadian itu.
"Iya sayang, jangan panggil aku Tante loh, panggil aja momy Ratna" Memegang tangan Delima, menghadapnya dan tak lupa senyum di wajahnya.
" Ok Tan.. Ehh momy Ratna maksudnya hehe." Tersadar dari ucapannya dan segera meralat kembali ucapannya.
Mereka asik mengobrol, dan sekarang momy Ratna sudah tau nama orang yang telah membantunya. Sungguh bahagia rasa hati mamy Ratna bisa kembali bertemu dengan gadis baik hati ini lagi.
Tanpa mereka sadari, seseorang terus saja mendumel dalam hati. Entah apa sebabnya, yang jelas dia tidak mau ketahuan sama seseorang.
" TUHAN bantu aku, supanya gak tertangkap sama mata indah orang itu." Rapalan do'a yang ia panjatkan.