"Ceraikan Rey, dan kembalilah padaku!"
"Aku tidak bisa." Ujar Amora dengan wajah datar.
Farhan menatap Amora dengan bingung.
"Kenapa? Bukankah kita sudah sepakat menjadikan Rey sebagai suami sementara agar kita bisa menikah kembali?"
"Aku mencintainya."
"Apa?"
"Kami saling mencintai dan sampai kapanpun kami tidak akan pernah bercerai. Terimakasih karena memilihkan Reyhan untuk menjadi suami sementara untukku. Tapi sekarang semuanya berbeda. Aku ingin dia menjadi suamiku selamanya. Dan maaf, aku tidak bisa kembali padamu."
Awalnya, Farhan memilih sepupunya yang bernama Reyhan untuk menjadi suami sementara bagi Amora sang mantan istri agar keduanya bisa rujuk kembali. Ia sudah menjatuhkan talak tiga, dan jika ingin kembali pada Amora maka Amora harus menikah dengan pria lain terlebih dahulu. Tapi siapa sangka, cinta tumbuh antara Amora dan Reyhan hingga mereka tak ingin berpisah. Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Republik Septy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepupu sialan
Happy reading zheyeng 😘
_________________________
Farhan mengacak rambutnya yang berantakan. Wajahnya kusut khas orang bangun tidur. Perkataan Ibunya tadi pagi tentang Amora yang berduaan dengan pria lain di taman membuatnya gusar. Apakah Amora mempunyai pria lain selain dirinya? Ah, ia tak akan pernah rela jika Amora bersama pria lain. Ia harus mencari tahu kebenarannya, karena ia tidak ingin kehilangan wanita sebaik Amora.
Ya, ia sadar. Selain cantik, Amora merupakan wanita yang sangat baik. Ia memang salah karena telah menduakannya. Maka dari itu, ia harus membuat Amora kembali padanya. Ia harus segera mencari muhalil untuk Amora, lalu setelah mereka bercerai maka dirinya bisa menikahi Amora kembali.
Farhan segera beranjak dari kasur tempatnya bermalas-malasan sepanjang hari ini. Ia segera mandi dan bergegas menemui Reyhan kembali. Ia harus membujuk pria itu, agar mau menjadi muhalil.
Setelah mandi dan bersiap, Farhan segera keluar dengan pakaian rapi. Ia bertemu Ibunya yang sedang menonton sinetron Ikan terbang di ruang tengah.
“Farhan pergi sebentar, Bu.” Ucapnya sembari melirik Ibunya yang terlalu menghayati sinetron di layar televisi.
“Iya.” Jawab Ibunya acuh. Matanya tetap fokus pada layar kaca. Takut jika akan melewatkan sinetron kesukaannya.
Farhan hanya menggelengkan kepalanya melihat sang Ibu yang sangat menggemari sinetron ikan terbang tersebut. Ia berdiri sebentar di teras rumah, mengeluarkan ponsel yang ada di dalam saku kemeja berwarna navy yang ia pakai. Ia segera menghubungi Reyhan dan mereka akan bertemu di sebuah cafe yang tak jauh dari kantor Reyhan. Setelah selesai menghubungi Reyhan, Farhan bergegas memasuki mobil miliknya hadiah dari Amora saat dirinya berulang tahun yang ketiga puluh.
Mobil berwarna hitam itu segera melaju meninggalkan pekarangan rumah. Membelah jalanan Ibukota yang padat dan ramai. Bahkan tak jarang para pengguna jalan akan terjebak kemacetan.
🌼🌼🌼
Reyhan berjalan memasuki sebuah cafe yang telah di tentukan oleh Farhan sebelumnya. Ia mengedarkan pandangannya guna mencari keberadaan sepupunya itu. Hingga netranya bertemu dengan pria yang duduk di bangku nomor tujuh di dekat jendela. Farhan melambaikan tangannya ketika melihat Reyhan yang juga melihatnya.
Reyhan mendekat, berjalan dengan perlahan menuju meja di mana Farhan sedang menunggunya. Kemeja putih yang di lapisi dengan jas berwarna hitam membungkus tubuhnya. Membuat kharismanya semakin terpancar. Tak heran beberapa wanita yang ada di sana banyak memandangnya takjub. Bahkan tak segan-segan ada yang sengaja melempar senyum padanya. Tapi Reyhan tetaplah Reyhan. Ia tak seperti Farhan yang dengan suka rela menebar pesona dan membalas senyuman para wanita. Reyhan tetap fokus berjalan ke arah Farhan tanpa menghiraukan tatapan terpesona oleh para wanita yang ada di sana.
“Ada apa?” tanya Reyhan tanpa basa-basi setelah duduk di kursi yang berada di seberang Farhan.
“Sabar, Rey. Kita pesan makanan dan minuman terlebih dulu.” Ujar Farhan seraya memanggil waiters. Ia memesan makanan dan minuman kesukaan Reyhan tanpa bertanya pada sepupunya terlebih dulu.
“Halah ... Palingan aku yang bayar.” Sinis Reyhan kesal. Ia menyandarkan tubuhnya yang lelah ke belakang. Melipat kedua tangannya di atas dada, ia menatap tajam pada Farhan yang hanya cengar-cengir tanpa merasa bersalah.
“Kamu ini, tidak boleh pelit. Kamu kan banyak uang, direktur sebuah perusahaan properti ternama. Wajar dong kalau kamu yang traktir pengangguran.” Kata Farhan tak tahu malu. Ia meneguk kopi yang ia pesan sebelumnya.
Reyhan memutar matanya, jengah. Sungguh ia ingin segera pergi dari tempat ini karena ia tidak suka keramaian.
“Cepatlah katakan apa maumu! Aku ada meeting setelah ini.” Ucap Reyhan seraya melirik jam berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Dasar sombong!” gumam Farhan pelan tapi masih terdengar oleh Reyhan. Reyhan hanya menarik sebelah alisnya dan kembali memutar bola matanya jengah.
“Pria ini benar-benar menyebalkan.” Rutuknya dalam hati.
“Sabar Pak Direktur yang terhormat. Aku hanya meminta waktu makan siangmu sebentar saja. Bukannya kamu juga akan keluar untuk makan? Maka dari itu aku menggunakan waktumu sebaik mungkin.”
Seorang pelayan wanita datang dengan sebuah nampan di tangannya, ia segera meletakkan pesanan ke atas meja. Membuat perkataan Farhan terjeda. Mata Farhan tak berhenti memandangi wajah pelayan wanita itu yang memang terlihat cantik. Sedangkan Reyhan mengamatinya sembari memandangnya muak.
“Dosa apa yang Amora lakukan di masa lalu sehingga mendapatkan suami seperti sepupunya ini. Bahkan aku sendiri rasanya malu untuk mengakui bahwa dia adalah sepupuku.” Gumamnya dalam hati. Ia meraih secangkir kopi hitam yang di tinggalkan pelayan tadi. Sedangkan Farhan masih memperhatikan pelayan wanita tadi yang perlahan menjauh.
“Gila ya! Pelayan di sini cantik-cantik!” ujar Farhan sembari tersenyum senang.
“Kamu mah monyet di kasih bedak juga di bilang cantik.” Sindir Reyhan setelah menyesap kopinya. Ia meletakan secangkir kopi itu kembali ke meja.
“Sepupu sialan! Mana doyan aku sama monyet. Seleraku itu tinggi! Sembarangan.” Umpat Farhan kesal.
Reyhan terkekeh.
“Jadi kamu mau apa mengajakku bertemu di cafe segala? Mau melihat pelayan wanita di sini? Mau cari mangsa ke club’ malam sana!”
“Iya, nanti malam aku ke sana.” Jawab Farhan santai.
“Dasar gila!” umpat Reyhan sambil menggelengkan kepalanya.
“Aku itu pria dengan sejuta pesona. Wanita mana pun tidak akan ada yang mampu menolakku. Termasuk Amora. Ia begitu tergila-gila padaku!” ucapnya dengan enteng. Reyhan secara tak sadar mengepalkan kedua tangannya yang berada di bawah meja. Rahangnya mengeras, urat-urat di kepalanya menonjol karena menahan emosi.
“Amora itu cinta mati sama aku. Dan aku, tidak bisa melepaskan wanita sebaik Amora. Maka dari itu, aku mohon padamu wahai sepupuku yang baik hati. Please, jadilah muhalil dan jadilah suami sementara untuk Amora. Setelah tiga bulan, ceraikan dia dan kembalikan padaku!”
Reyhan tak habis pikir, bisa-bisanya Farhan semudah itu mengatakan pernikahan dan perceraian dalam waktu yang sama.
“Aku tidak ingin mempermainkan pernikahan. Aku tidak ingin masuk ke dalam ide gilamu ini! Lepaskan Amora agar dia bahagia.”
Farhan terkejut. Ia pikir kali ini Reyhan akan setuju dengan permintaannya. Tapi ternyata Reyhan tetap pada pendiriannya.
“Aku mohon, Rey. Aku mencintainya, aku tidak bisa kehilangan dirinya. Kasihanilah sepupumu ini, Rey.” Farhan memelas.
“Itu bukan lagi cinta! Tapi obsesi,” Ucap Farhan acuh.
“Aku tidak akan mengikuti semua rencana gilamu itu! Aku tidak ingin mempermainkan sebuah pernikahan. Karena menurutku pernikahan itu suci, tidak untuk di permainkan. Paham?” tegas Reyhan.
“Kau melakukannya untuk membantu kami. Kau tidak mempermainkan pernikahan! Kau malah mendapatkan pahala karena membantu kami.” Ujar Farhan.
“Tahu apa kamu tentang pahala?” sahut Reyhan dengan kesal.
“Tahu lah. Ayolah Rey, bantu aku dan Amora. Cukup tiga bulan saja “ Farhan tak berhenti untuk membujuk Reyhan.
“Sekali tidak, ya tidak!” jawab Reyhan dengan keras. Membuat para pengunjung cafe yang duduk tak jauh darinya menoleh.
“Jangan keras-keras! Aku malu,” bisik Farhan.
“Masih punya urat malu?” tanya Reyhan sambil mencebik.
“Sepupu sialan!” jerit Farhan tertahan. Ia kembali memutar otak untuk membujuk sepupunya ini.
🌼🌼🌼
Hai zheyeng 😘
Jangan telat makan dan jaga kesehatan ya.
Jangan galau terus.
Sambut yang datang, persilahkan yang pergi. Tetap tersenyum dan semangat. Esok pasti akan lebih bahagia.🥰😘
amora - evan = amora masih menunjukkan sikap baik saja, masih canggung menunjukkan sikap nyeleneh nya, masih tidak bebas berekspresi
amora - reyhan = disini amora merasa tampa bebas menunjukkan semua sikap, amora merasa bebas dan nyaman berekspresi apapun, jadi tampa sadar amora merasa nyaman berhubungan dengan reyhan yang akhirnya menimbulkan benih cinta
sampai episode ini sebenarnya aku masih tidak suka sikap amora yang tidak sadar statusnya dan kayak tidak menghargai dan menjaga harga dirinya sebagai seorang istri dia masih menunggu pria lain dan gampang berinteraksi berduaan dengan pri lain, tapi setelah episode ini aku suka sifat amora yang belajar dari kesalahan lalu dan belajar menjadi istri yang sesungguhnya dan menghargai suaminya dan satu lagi, amora wanita tanggu yang berani mengaku salah dan berjuang untuk dapat kesempatan
tampa kitasadarir sebenarnya novel ini sangat bagus karena teori sebab akibat terjadi di novel ini