Vika gadis ceria dan sedikit tomboy jatuh cinta pada Ihsan yang merupakan teman kecilnya.
Vika terpaksa harus memendam rasa sukanya pada Ihsan karena ada begitu banyak hal yang membuat mereka tak bisa bersama.
Penasaran ....
yuk simak kisah lengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Maelani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
SELAMAT MEMBACA
Setelah dari kolam renang Ujang dan kawan-kawan singgah di sebuah rumah makan dengan nuansa pemandangan sawah hijau yang terhampar luas.
Mereka duduk di salah satu saung sambil menikmati ikan bakar serta beberapa lauk lainnya.
Ujang dengan telaten memisah daging ikan dari durinya untuk Vika.
Tanpa mereka sadari beberapa pasang mata memperhatikan mereka termasuk Pian.
"Cieee so sweet banget sih kalian" celetuk Pian memecahkan kesunyian.
Sontak Ujang dan Vika langsung melihat ke arah Pian dan mereka baru saja tersadar jika teman-temannya sedang memperhatikan mereka.
"Kenapa gak pada di makan,malah pada bengong begitu"
"Liatin kalian aja kita udah kenyang kok" jawab salah satu teman mereka.
"kenyang makan apa?" ucap Ujang dengan tangan masih sibuk mencuil daging ikan untuk Vika.
"Mau liat yang lebih romantis gak,biar sekalian kaya lagi nonton drakor" ucap Ujang bercanda sambil menyuapi Vika.
Vika yang malu menolak untuk di suapi oleh Ujang.
"Ayo dong Neng buka mulutnya,tangan Aa pegel ini" bujuk Ujang seperti membujuk anak kecil yang sulit makan.
"Gak ah Jang, banyak yang liatin juga malu tau " jawab Vika dengan muka yang sudah bersemu merah.
Setelah selesai makan mereka pun kembali kerumah masing-masing.
Sementara itu Ikhsan yang tidak tau jika Vika pergi bersama teman-temannya nampak kesal karena sejak tadi ia tidak melihat Vika.
Ia sengaja beberapa kali melewati depan rumah Nene Vika dengan harapan dapat melihat gadis itu.
Karena lelah begitu tiba di rumah Vika langsung tertidur dan terbangun saat matahari mulai terbenam.
"Vika ayo bangun udah sore" Mama Iren nampak kesulitan membangunkan Vika.
Beberapa kali ia menguncang-guncang lengan Vika, lalu menepuk-nepuk pipinya namun gadis itu tidak juga mau bangun.
Pian yang melihat mamanya kesulitan membangunkan Vika langsung mengambil ponselnya lalu memutar musik dengan volume Full ditambah speaker bluetooth hingga terdengar begitu bising karena memang kamar Vika yang tidak terlalu luas.
"Apaan sih ini berisik banget" keluh Vika yang langsung bangun dan duduk diatas tempat tidurnya.
"Bangun woiii dah mau malem ini" teriak Pian di telinga Vika dan berhasil membuat Vik menutup kedua telinganya.
"Iya ini udah bangun, matiin itu musiknya berisik tau"
Mama Iren hanya tersenyum melihat tingkah kedua putra dan putri nya .
"Udah mandi sana Vik, abis itu kita ngobrol diruang tamu kasian papa Bagas dari kemarin gak bisa ngobrol sama kamu" Mama Iren langsung meninggalkan kamar Vika.
Dengan rasa malas Vika pun langsung masuk kedalam kamar mandi.
Setelah hampir 15 menit akhirnya ia pun ikut bergabung bersama keluarganya di ruang tengah sambil melihat televisi.
Mereka pun ngobrol sambil melepas rindu.
Nampak bahagia terlihat di raut wajah mama Iren saat mendengarkan cerita Vika selama ia tinggal bersama dengan nenek Dilla
"Soal bebek nanti biar Papa beli yang banyak jadi kamu bisa makan bebek bakar tiap hari"
"Ya gak gitu juga Pah, kan itu bebek ada yang ketinggalan rombongan terus nyasar kemana kan Vika gak tau" sangkal Vika yang langsung di sambut tawa dari mama Iren.
"Papa seneng akhirnya bisa liat kamu bahagia Vik" ucap Papa Bagas sambil mengelus rambut Vika.
"Tapi papa sedih kenapa sekarang kamu kurus banget kaya orang gak makan, Papa malah suka liat kamu yang kemarin" ucap Papa Bagas.
"Dih papa ini tuh gak kurus banget" ucap Vika yang tidak terima dibilang kurus.
"Tapi Papa suka kamu yang dulu Vika, jadi kan keliatan kalo kamu tuh Papa kasih makan" Papa Bagas tersenyum
"Maksud kamu Vika di sini gak Nene kasih makan gitu" timpal Nene Dila sambil menjewer telinga Papa Bagas.
"Bukan begitu Bu, tadi Bagas cuma bercanda" ucap Papa Bagas yang merasa kesakitan.
Mama Iren, Vika dan Pian hanya tertawa melihat Papa Bagas yang terus di jewer oleh Nene Dilla.
Malam itu terasa begitu hangat, terlihat raut bahagia di wajah Vika,baru kali ini lagi ia dapat merasakan kehangatan keluarganya.
Sementara itu di rumah Tio Ikhsan nampak kesal karena hari ini ia tidak melihat Vika, sedangkam besok ia harus segera kembali ke Jakarta.
Pagi-pagi sekali di rumah Nene Dilla nampak sudah begitu sibuk.
Hari ini keluarga Vika akan kembali ke Jakarta.
Vika bersandar di depan pintu dapur sambil melihat Mama Iren yang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka sebelum berangkat.
"Mama, besok aja pulangnya, Vika masih kangen"
"Gak bisa sayang, papa kamu ada meeting penting besok jadi hari ini harus kembali"
"Kamu kan masih libur, kamu aja yang ikut Mama ke Jakarta sampe liburan kamu selesai" ucapa Mama Iren.
"Gak mau, Vika males kembali ke sana" tolak Vika
"Kayanya Mama kemarin liat ada Ikhsan di sekitar sini, apa mama salah liat ya" tiba-tiba Mama Iren teringat jika kemarin ia melihat seseorang yang begitu merip dengan Ikhlas.
"Itu emang Ikhsan Mah, dia punya temen yang rumahnya deket sini" ucap Vika menjelaskan.
"Oh.. .gitu, terus kamu gimana sayang... "Mama Iren tidak melanjutkan kata-katanya, ia manatap putrinya seakan meminta jawaban.
"Vika gak apa-apa Mah, Vika udah gak suka lagi kok sama dia" jawab Vika.
"Alhamdulillah kalo gitu sayang"
"Daripada berdiri disitu lebih baik bantuin Mana sini"
Dengan langkah malas Vika pun ikut bergabung bersama Mamanya meyiapkan sarapan pagi.
Karena Papa Bagas ada kepentingan nanti sore mereka pun berangkat setelah sarapan.
Dengan perasaan berat karena masih rindu Mama Iren masuk kedalam mobil tanpa mau melihat ke arah Vika yang terus saja mengetuk-ngetuk kaca mobil di mana Mama Iren duduk.
Perlahan mobil papa Bagas pun keluar dari garasi dan semakin lama semakin menjauh dari kediaman nenek Dilla.
Ikhsan yang kebetulan saat itu hendak membeli makanan langsung menghentikan motornya tidak jauh dari rumah nenek Dilla saat melihat Vika berdiri sambil melambaikan tangan pada sebuah mobil yang mulai menjauh.
Tanpa sengaja Vika melihat Ihsan yang sedang memperhatikannya.
Tak ingin berlama-lama ia pun segera masuk dan langsung menuju kamarnya.
Didalam kamar ia termenung.
"Apa aku terlalu egois tidak ingin ikut Mama padahal libur masih lama"
Vika terus saja merasa bersalah saat melihat wajah mama Iren penuh kesedihan saat hendak berpisah dengannya.
Sejujurnya ia pun masih sangat rindu ingin bersama dengan keluarganya,namun karena kota itu begitu banyak menyimpan kenangan pahit untuk nya ia pun merasa enggan untuk kembali keana.
Layar ponselnya berkali-kali menyala menandakan ada beberapa pesan masuk, beberapa saat Vika hanya menatapnya saja tanpa ada niat untuk membukanya.
Sementara itu nenek Dilla sedang sibuk membersihkan ruangan yang tadi sempat berantakan.
Setelah semuanya rapi ia pun bergegas menuju kamar Vika.
Benar saja dugaannya saat ini cucunya sedang duduk termenung sambil sesekali menghapus air matanya.
"Kamu kenapa sayang" Nene Dilla langsung masuk dan duduk di sini Vika saat melihat cucunya itu menangis.
"Gak apa-apa nek, Vika cuma masih kangen sama Mama" ucap Vika.
"Kenapa kamu gak ikut nanti kalo udah mau masuk kuliah baru kamu kembali kesini"
"Jangan-jangan kamu berat ya ninggalin Ujang" goda Nenek Dilla
"Ih....gak gitu juga Nek, Vika males kembali kesana takut inget yang dulu-dulu"
"Yang sudah lewat jangan terus di inget Vika, sekarang kamu kan udah berubah, belum tentu juga mereka masih inget kamu" saran Nene Dilla.
"Ya sudah kamu pikir-pikir aja dulu,kamu bisa naik bis kalo mau kesana" Nene Dilla langsung keluar dan membiarkan cucunya berpikir.