Permainan hidup mengoyak semua orang yang datang ke desa Sambayang untuk tinggal disana.
Darah, Tumbal, Keserakahan bahkan intrik manusia menghalalkan segala cara demi kesenangan sementara.
Waktu bukanlah teman melainkan lawan, hidup di desa Sambayang tidak seperti yang terlihat oleh mata.
Dasa mengetahui bahwa untuk bisa bertahan lebih lama di desa Sambayang haruslah berkompromi dengan cepat demi mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Iapun menyerahkan nyawanya demi semua warga desa dan keluarganya keluar dari desa. Namun, aura mistis desa Sambayang tidak puas maka tangan-tangan tak terlihat mulai menarik pulang satu persatu warga desa termasuk keluarganya.
Apa yang akan dilakukan oleh Dasa, saat tahu ia tahu? Bagaimana caranya melawan ganasnya aura mistis desa Sambayang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wish0430, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Cahaya menatap wajah Ama yang mulai bangun dari tidurnya, marlot baru saja keluar untuk mencari sarapan pagi.
"Pagi sayang"
"Bunda"
"Masih sakit?"
"Tidak bunda, lihat kaki Ama"
Cahaya bingung melihat kaki Ama seperti tidak ada yang terjadi.
"Bunda, tadi malam paman datang"
"Paman yang mana?"
"Ingat tidak bunda, paman yang pernah Ama ceritakan"
"Kapan?"
"ah bunda, Ama kan sudah kasi tau"
Ama cemberut mendengar bunda ternyata tidak memperlihatkan ceritanya. Marlot datang membawa bungkusan plastik yang lumayan besar.
"Ayah..ayah bawa apa buat Ama"
"Memang Ama pesan tadi?"
Marlot sangat senang menggoda Ama putrinya. Cahaya menarik tangan marlot.
"ada apa"
Marlot menyerahkan cemilan kesukaan Ama sebelum keluar mengikuti langkah cahaya yang keluar dari kamar.
"Apa maksud Ama dengan paman?"
"Paman? siapa?"
"Semalam datang ke kamar kata Ama, aku tidur, apa kamu tahu?"
"A-ku tidak tahu"
"Jangan bohongi aku, marlot"
Marlot terdiam sejenak, menimbangnya sebelum berbicara tentang paman yang dimaksud Ama. Cahaya was-was melihat wajah marlot berubah muram.
"Marlot?"
Helaan nafas panjang dari marlot sudah menjawab pertanyaan cahaya. Cahaya berniat untuk meninggalkan marlot tapi tangan marlot mencegahnya pergi.
"Dengarkan aku"
"Apa?"
"Aku menyayangi kalian, ingatlah itu"
"Tapi kamu tidak pernah cukup untuk mencintaiku?"
marlot melepaskan tangannya di tangan Cahaya.
"Maaf"
Ada kalanya cinta bergerak masuk begitu dalam tanpa disadari olehnya kalau cinta itu bersifat abadi.
Marlot meninggalkan Cahaya. Air mata cahaya menetes seperti air terjun yang membasahi batu dibawahnya. Sekeras apapun ia melakukan segalanya untuk marlot tapi sepertinya cinta dihatinya hanya untuk dasa seorang.
Ama tertegun melihat kedua orang tuanya yang berdiri berjauhan. Tadi ia turun berniat meminta bunda untuk ke kamar mandi tapi apa yang dilihatnya barusan tak pernah bisa ia mengerti.
Marlot mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya. Sejak Ama lahir, tak pernah disentuh olehnya rokok. Namun, sejak kedatangan makhluk itu mampu membuat dirinya menyadari perasaan sepi dihatinya dan mulai menghisap rokok lagi.
Perasaannya kacau balau antara menolong dasa ataukah keluarga kecilnya yang sudah bertahun-tahun lamanya ia menjaga.
Asap rokok membumbung tinggi membelah diri menjadi kecil hingga hilang ditelan angin yang berhembus pelan menghapus keresahan tak berbatas.
Diinjak kuat-kuat rokok ke lantai. Marlot berbalik arah kehadapan dimana ada Cahaya dan dirinya tersentak melihat putrinya Ama berdiri kening melihat dirinya dan bunda.
Helaan nafasnya sudah seperti rutinitas sehari-hari miliknya akhir-akhir ini. Kakinya berjalan mendekati cahaya, dirangkul pelan.
"Bunda, apa kamu tidak tahu putrimu bingung?"
Cahaya menghapus air matanya cepat lalu mendongak kearah marlot yang sangat dekat dirinya.
"Aku tidak akan pergi meninggalkan kalian tapi aku merasa sudah saatnya kita pulang ke desa"
"Tapi"
"Tentukan sendiri mana yang akan kamu pilih, ikut aku atau aku ikut kamu tapi tidak akan kembali seperti semula"
"Marlot?"
Dilepas rangkulannya beralih ke Ama putrinya yang langsung digendongnya keatas seperti mengendong princess.
"Ayah"teriak Ama histeris karena ayahnya kalau marah karena sesuatu, ujung-ujung harus cahaya yang melakukan semua acara hari ini.
"Ayo bunda masuk kedalam kamar sebentar lagi bakal ada suster."
Bunda mengangguk-angguk mengerti apa yang dibicarakan..Terkadang apa yang terlihat tidaklah seperti itu.
Waktu, teman hanya bagian kecil yang cepat menghilang.
jangan lupa like nanti ku feedback
biar lebih nyambung lagi
...
jadi gak banyak tipo ..biar gak susah juga pemahaman ceritanya
mampir ya kak di tulisanku Putih Abu-Abu 2010 kasih like dan vote
mampir ya kak di tulisan ku Putih Abu-Abu 2010 like dan vote
mampir ya kak di tulisan ku Putih Abu-Abu 2010 like dan vote
Jangan lupa baca juga cerita aku judulnya 'BUTTERFLY EFFECT'