Perjodohan adalah hal keramat yang paling tidak aku sukai. Menurutku di jaman serba modern seperti sekarang ini tidak perlu yang namanya jodoh menjodoh.
Hal yang tidak aku suka malah menghampiriku, orangtuaku menjodohkanku dengan anak sahabat mereka.
Bagaimana kisah mereka?
Novel ini merupakan kelanjutan MBA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shy. ineng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan
"Lo Kenapa? kayak anak ABG yang baru jatuh cinta aja." Edho menegur Varel sahabatnya yang sejak tiba di kantor, hanya mutar-mutar di atas kursi kerjanya dengan senyum yang terus merekah di bibirnya. Sesekali bersenandung lagu cinta.
"Kentara banget ya."
"Banget,"
"Lo iri ya, makanya cari pacar sana. Lo kelamaan jones tuh."
Gue udah nemu bro, tapi di embat sama lo. Batin Edho.
"Usaha ini, cuma belum ketemu yang mampu mengetarkan hati."
"Lo kalau udah tahu rasanya jatuh cinta, lo akan lebih gila dari gue."
Lo kira gue ngak pernah jatuh cinta? gue pernah, sayang cinta gue bertepuk sebelah tangan.Gue hanya sebatas pengagum dari jauh. Batin Edho
"Lo nya aja yang lebay."
"ih ngak percaya dia." Ucap Varel sambil tangannya sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
"Pulang kerja kita nongkrong di tempat biasa ya."
"Ngak lo aja, gue mau ngajak Nasya nonton."
"Lo ya, sejak dekat sama Nasya gue dicuekin hari-hari lo di penuhi dengan Nasya dan Nasya lagi.
"Kok pesan gue ngak di balas sih!" mengomel pada ponselnya.
"Tuh kan gue di hadapannya aja di cuekin."
"husttt diam." Meletakan jari telunjuk di depan bibir.
"Lo kenapa sih," Bingung dengan sikap Varel yang terus menatap ponselnya.
"Nasya ngak balas pesan dari gue."
"Ya elah, di kirain apa."
"Kenapa sih kok ngak dibalas!"
"Sibuk dia Varel, ini jam sibuk. Dia ngak kayak lo tuh, kerjaan di anggurin malah sibuk main ponsel dari tadi."
"Lo kok cerewet banget sih, berisik tahu. Lo kenapa ngak ke ruang kerja lo aja, malah bergosip ngak jelas di sini."
"Kerjaan gue udah kelar dari tadi."
"Terus kenapa lo disini?"
"Biasanya gue di sini seharian lo ngak protes, gue di sini baru satu jam lebih lo udah usir."
Nasib memang jones." Omel Edho keluar dari ruang kerja Varel.
"Nasya kamu kemana sih, pesan gue kok ngak di balas!" Varel mulai gusar.
****
Di tempat lain, di perusahaan Group sanjaya. Nasya baru saja habis metting bersama karyawannya.
"Bu, ponselnya bunyi terus dari tadi." Ucap Nina sekertaris Nasya.
"Iya, biarkan saja."
Pasti Varel, mengila pasti dia kalau ngak di balas pesannya. bisa-bisa nonggol di sini dia.
Betul dugaan Nasya, begitu banyak pesan masuk dan semuanya dari Varel.
💌 aku udah tiba dikantor.
💌 Selamat bekerja
💌aku kok mikirin kamu terus, Nasya.
💌Sepertinya aku merindukanmu.
💌balas.
💌balas Nasya.
💌 lo sibuk?
💌😡
💌😠
Nasya hanya mengeleng-gelengkan kepala membaca pesan dari Varel. Di dalam hati sangat senang dengan perlakuan Varel tersebut.
Nasya membalas pesan Varel singkat.
💌 sibuk.
"Permisi bu, ada tamu." Ucap sekertaris Nina.
"Siapa? Perasaan ngak ada janji temu dengan siapapun hari ini. guman Nasya pelan.
"Selamat siang," Suara Varel mengkagetkan Nasya.
"Varel?"
"Suprise," Ucapnya dengan senyum, memamerkan gigi putihnya.
"Lo ngapain di sini?"
"Mau makan siang bareng lo." Menunjukan bawaannya yang berisi makanan.
"Kan jauh Varel, jarak kantor gue dan kantor lo. Kenapa ngak makan siang dikantor lo aja."
"Kenapa pesan gue ngak di balas?" Memasang ekapresi marah, dengan berkacak pingang.
"Balas kok."
"Balasnya lama, terus kata-katanya singkat."
"Aku tadi metting Varel sayang."
"Ups" Nasya langsung menutup mulutnya mengunakan tangan.
"Sekali lagi." langsung tersenyum, lupa pada marahnya.
"Apanya?"
"Ulangi Kata-kata yang lo ucapkan barusan.'
"Yang mana? Udah yuk makan. Gue banyak kerjaan nih." Mengalihkan pembicaraan.
"Ayo, sekali lagi." Memelas memegang tangan Nasya.
"Ehm.. ehm.. batuk pura-pura Kenzo mengkagetkan Varel.
"Paman Kenzo." Menatap gugup Kenzo yang berjalan ke arah mereka.
"Varel di sini juga!" Lansung duduk di sofa di hadapan Varel dan Nasya.
"Iya paman, Varel mau makan siang bareng Nasya."
"Kian hari, paman perhatikan kalian tambah lengket aja."
"Apaan sih pi," Sewot Nasya.
"Iya paman, Nasya kayak ada magnetnya narik Varel untuk dekat-dekat terus dengannya.
"Hust," Nasya mencubit pingang Varel yang duduk disampingnya dan mulut komat kamit seperti membaca mantra.
"Kayaknya Ngak perlu nunggu dua bulan, besok pun sepertinya kalian siap dinikahin."
"Papi.... Pekik Nasya.
"Bisa juga tuh paman, takutnya nunggu lama jadi khilaf."
"Varel, kalian nih bahas apa sih. Ayo kita makan, papi gabung makan bareng kita juga ya."
"Jangan sampai kalian melakukan itu sebelum sah, Paman gantung hidup-hidup kamu, Varel."
"Aman Paman, Varel paham kok.
"Kenapa aku tidak paham apa yang kalian bicarakan." Nasya menatap Varel dan Papi kenzo bergantian.
"Jangan terlalu sering berduan kalian, takut khilaf." Ucap Kenzo tanpa menghiraukan ucapan Nasya.
"Iya paman." Mengangguk-angguk kepala.
"Paman balik, malas di sini nanti hanya jadi obat nyamuk." Pamit Kenzo.
"Papi makan bareng kita aja." Nasya berusaha menahan Papinya.
"Kalian makanlah, Papi udah makan tadi."
"oh ya sudah, dah papi.
"Ingat pesan paman, Varel. Ucap Kenzo sebelum meninggalkan ruangan Nasya.
"Tadi kalian sedang bahas apa sih, gue ngak mudeng?" Tanya Nasya setelah kepergian Kenzo.
"Ngak ada yang penting. Ayo kita makan."
"iya, aku cuci tangan dulu."
setelah tangannya bersih Nasya mulai menyantap makanan dengan nikmat. Dia makan bukan hanya satu porsi, tetapi dua. Dia makan dengan mengunakan tangan, karena menurutnya makan ayam geprek paling nikmat makan mengunakan tangan.
Sementara Varel, menikmati makannya sambil menatap kagum pada Nasya yang duduk di sampingnya.
"Kenapa liatin gue sampai segitunya? Jijik dengan cara makan gue?
"Gue malah kagum sama lo, Aura kecantikan lo terpancar ketika menikmati makanan dengan cara begitu."
"Gombal receh lagi. Mana ada orang kelihatan cantik kalau lagi makan kayak gini."
"Sumpah, Nasya. gue ngak gombal."
🎵🎵Cantik
Ingin rasa hati berbisik
Untuk melepas keresahan
Dirimu
Oo cantik
Bukan 'ku ingin mengganggumu
Tapi apa arti merindu
Selalu
Walau mentari terbit di utara
Hatiku hanya untukmu
Ada hati yang termanis dan penuh cinta
Tentu saja 'kan kubalas seisi jiwa
Tiada lagi
Tiada lagi yang ganggu kita
Ini kesungguhan
Sungguh aku sayang kamu
Varel tiba-tiba menyanyi untuk Nasya. Membuat muka Nasya bersemu merah bak tomat segar.
"Malah nyanyi, makanan tuh habisin." Berusaha bersikap biasa-biasa aja, padahal rasanya ingin melompat-lompat kegirangan.
"lo ngak merasa tersentuh di nyanyin gitu."
"Suara lo merdu, senang dengarnya."
"Cuma senang dengan suara gue. lah gue ngak di senangin gitu."
"Ngak, cuma suaranya doang yang di senangin." Setelah berucap demikian, Nasya berlari menuju pantry yang terdapat di ruang kerjanya untuk mencuci tangannya.
"Berani ya sekarang godain aku." Tak di sangka Varel menyusul Nasya dan ikut mencuci tangannya.
"Apa!"
"oh nantang," Berusaha menangkap Nasya.
Nasya tak tinggal diam, dia berlari mengintari meja yang berada di pantry. Aksi kejar-kejaran tak terhindarkan lagi.
"Ngak akan aku lepasin," Varel memeluk erat Nasya dari belakang, setelah aksi kejar-kejaran tersebut Varel berhasil menangkap Nasya.
"Varel, lepasin!" Ucap Nasya dengan ngos-ngosan kecapean berlari kejar-kejaran dengan Varel.
"Ngak." Mengeratkan pelukan pada Nasya.
"Varel." Meronta-ronta minta di lepaskan.
Varel tak menghiraukan gerakan Nasya, dia membalikan tubuh nasya untuk berhadapan dengannya. kemudian berlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Nasya.
"Ehem, Suara batuk Zoan.
Spontan Varel menjauhkan badannya dari Nasya dan tertunduk malu.
.
.
.
.
.
.🕊🕊