"Bukankah poligami itu sunnah, kamu orang yang taat agama kan pasti juga tahu, apa kamu tidak ingin menjalankan sunnah yang satu ini?" ujar Ita pada sang suami
Ammar awalnya hanya ingin menolong seorang wanita namun sebuah kejadian yang tak terduga membuat orang lain salah paham dan bahkan istrinya sendiri tak mempercayainya
Bukan, bukan karena sepenuhnya kejadian itu yang membuat Ammar menikah lagi, tapi juga karena rumitnya rumah tangga yang saat ini ia jalankan bersama istri pertamanya karena sang istri masih terbelenggu oleh masa lalunya
"Kalian hanya ingin bermain rumah-rumahan kan, ok saya akan temani kalian bermain" ujar Zofa lantang
Namun ketika Zofa telah memasuki rumah tangga Ammar dan Ita maka saat itu pula hati Ita berubah, terombang-ambing mengikuti arus permainan. Dan kini Ita baru menyadari bahwa ia telah menaruh hati pada suaminya sendiri
____
Hay semua Jan lupa mampir ke novel saya ya, jika sudah mampir tolong tinggalkan jejak kalian baik berupa like, comment maupun vote, thanks a lot guys, ala kuli sukri askuruki
follow ig 👉 habr_zayf
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AFI_18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Yang Dikatakan Mbak Kasir
Setelah Iki pulang Zofa segera bergegas ke kamarnya begitupula yang lain, kini jadwal Ammar tidur di kamar Ita
"Bang boleh aku bertanya?" ujar Ita yang memulai pembicaraan
"Boleh, mau tanya apa?" Ammar mengehentikan pekerjaannya dan menghadap ke arah Ita
"Abang sudah kenal lama dengan Zofa?"
Ammar mengerutkan dahinya "Belum, ya waktu kejadian itu saya kenalnya"
"Apa abang jatuh cinta dengan Zofa?" tanya Ita yang membuat Ammar merasa aneh
"Cinta?" batinnya
"Dia istriku sudah sepantasnya aku harus mencintai dia, begitupula dengan kamu, aku juga harus mencintai kamu" ujar Ammar tulus
Ita menghembuskan nafasnya kasar "Apa abang mempunyai panggilan khusus buat dia?" inilah pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di hatinya
"Panggilan khusus maksudnya?" tanya Ammar bingung
"Ya panggilan khusus seperti panggilan sayang kayak Rasulullah memanggil Aisyah dengan sebutan Humairah" ujar Ita hatinya bergemuruh membayangkan kejadian yang ia intip antara Zofa dan Ammar
Ammar menggeleng
"Benarkah?" tanya Ita tak percaya, ia dengar sendiri bahwa Ammar memanggil Zofa dengan kata habibati atau sayangku
"Iya, apa kamu menginginkan panggilan khusus?" tanya Ammar, ia menanggapi bahwa istrinya ini ingin di panggil dengan panggilan khusus, panggilan sayang seperti pasangan pada umumnya
Tanpa sadar Ita mengangguk mungkinkah ia cemburu
"Panggilan apa yang kamu inginkan?"
"Habibati atau Zaujati" ujar Ita dengan wajah yang mulai memerah
Ammar tersenyum melihat raut wajah istrinya "Baiklah Habibati" ujarnya lembut
"Ayo bang tidur udah malam" ujar Ita kemudian
Ammar mengangguk dan mematikan laptopnya
***
"Aduh hampir telat lagi" gerutu Zofa kala melihat jam yang hampir menunjukkan pukul tujuh, ia buru-buru mandi bebek meski kakinya belum sembuh total, salahkan ia yang tidur sehabis shalat shubuh, kini setiap shubuh Ammar pasti selalu membangunkan Zofa sehabis pulang dari masjid
Zofa berlari dengan tertatih tatih, ia bahkan tak memakai sepatu karena kakinya masih sakit
"Zofa makan dulu" ujar Ammar kala melihat Zofa melintas hendak keluar rumah
"Gak sempet ini udah mau telat" teriak Zofa
"Tunggu Zofa" ujar Ammar yang mengurungkan niat sarapannya, tadi mereka berdua menunggu Zofa namun ternyata yang di tunggu malah sudah kabur mau pergi
"Bi maaf saya gak sarapan, mau ngatar Zofa ke sekolahnya kasian kakinya masih sakit" pamit Ammar
"Iya udah hati-hati ya bang" Ita berjalan ke halaman mengantar kepergian suaminya tak lupa ia mencium punggung tangan Ammar
"Zofa biar saya antar" ujar Ammar yang menghentikan Zofa kala hendak menaiki motornya dengan hati-hati
"Gak usah aku bisa sendiri" tolak Zofa
"Kaki kamu masih sakit, bentar lagi jam setengah delapan mau kamu telat terus gajinya di potong" ujar Ammar santai
"Uang gajiku" batin Zofa meringis
"Iya udah ayo buruan ngebut, jangan sampai uang gajiku kepotong lagi" ujar Zofa
"Mau naik mobil apa motor" tawar Ammar
"Motor motor biar bisa nyempil ayo buruan"
Mereka sampai tujuan dengan selamat, untung sekolahnya hanya membutuhkan jarak tempuh lima belas menitan dikarenakan Ammar sedikit ngebut tadi
Zofa turun tanpa mempedulikan Ammar, ia segera berjalan memasuki gerbang sekolah
Ammar melanjutkan perjalanannya menuju kampus tempat ia mengajar, selain ia mengajar di pesantren ia juga menjadi dosen di salah satu universitas Islam ternama
***
Berkali-kali Ammar menelpon Zofa namun tak ada jawaban, anak itu ternyata mematikan ponselnya
Ammar tak tahu jam berapa Zofa pulang, ia khawatir tak ada yang menjemput anak jutek itu pada akhirnya ia menjemput Zofa pukul dua siang namun ternyata Zofa sudah pulang sejak tadi pukul satu siang
Bahkan Ammar menelpon Ita dan ia berkata bahwa Zofa belum ada di rumah
Sementara itu
"Mmmm ah uuhhh ahhh" Zofa mengibaskan tangannya di depan wajah
"Sruuuupppp ahhhh pedass"
"Makanya gak usah sok sok an minta level 10" ejek Iki
"Gila ki ini pedes banget tapi bikin nagih" Zofa mengusap wajahnya dengan tisu, tak lupa hidungnya yang mbeler
"Jorok ih" ujar Iki yang melempar tisu di hadapan Zofa
"Bodo amat srokkkkk" Zofa mengelap hidungnya
"Bang pesen satu mangkok lagi yang level 3 aja" teriak Zofa
"Sama es jeruknya bang" lanjutnya
Iki hanya menggelengkan kepalanya melihat sahabat karibnya ini makan tiga mangkok bakso katanya sih tadi pagi ia belum sarapan
"Ofa lama-lama perut kamu jadi gentong lo"
"Gak bakal ki, hari sabtu aku bakal ke gym" ujarnya
"Heleh lu ke gym bukannya olahraga malah nontonin tubuh orang, dasar mesum"
"Siapa yang mesum, aku cuma penasaran kok bisa otot cowok kayak gitu sedangkan cewek gak" elak Zofa, sebenarnya ia terpengaruh oleh kakak nya dulu, setiap kakaknya ke gym ia pasti di ajak guna memegangi handuk serta botol minuman
Dan setelah pulang kakaknya selalu membandingkan tubuh wanita dan pria, yang katanya wanita tubuhnya lemah lah gak berotot lah membuat Zofa kesal, maka dari itu kadang ia suka memperhatikan otot otot para pria yang terlihat mengerikan serta menyeramkan baginya padahal kata orang-orang itu seksi
Lama mereka berjalan-jalan hingga pukul sembilan malam barulah Iki mengantar Zofa pulang, tentu saja dengan mobil baru yang Iki beli
"Dadah hati-hati di jalan, jangan sampai nabrak tiang listrik ya kasian dia"
"Dihh bukannya kasian sama gue" gerutu Iki, ia memutar haluan dan bussss pergi menghilang
Zofa masuk rumah dengan santainya "Assalamualaikum" ujarnya
"Waalaikumsalam, darimana aja kamu?" tanya Ammar yang tengah duduk di sofa
"Jalan-jalan" ujar Zofa yang hendak memasuki kamarnya
Ammar mengikuti langkah Zofa, ia juga masuk ke dalam kamar
"Mau ngapain kamu?" tanya Zofa
"Jadwal kita tidur bareng" ujar Ammar
"Astaga ya Allah tolong hambamu ini, hamba udah gak kuat, hamba masih muda ya Allah tolong turunkan hamba jodoh yang lain, seperti yang sering mbak-mbak kasir ucapkan: ADA YANG LAIN, hamba yakin masih banyak yang lain, masih banyak stok cowok lain di dunia ini untuk hamba ya Allah, tolong kabulkan doa hamba" doa Zofa tulus, meski ia terdengar mendramatisir tapi itulah yang ia inginkan
Ammar yang mendengar ucapan Zofa semakin merasa bersalah
"Kalau kamu gak pingin tidur sama saya gak pa pa, saya akan tidur di luar seperti kemarin, saya hanya ingin berperilaku adil pada kalian berdua" ujar Ammar
Zofa hanya terdiam
"Istirahatlah, kalau belum shalat isya shalat dulu, saya permisi" ujar Ammar yang keluar dari kamar Zofa
"Au ah ribet banget hidup kayak gini" gerutu Zofa ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, baru saja ia refreshing sejenak dengan mobil baru sahabatnya kini hatinya kembali kesal
***
Jan lupa like comment dan masukkan ke dalam favorit kalian, oh ya Jan lupakan kata mbak-mbak kasir