Kehilangan sosok seorang ayah tepat diusianya 17 tahun membuat Ayunda jatuh cinta pada Kevin anak baru disekolahnya yang memiliki kemiripan wajah dan sifat yang sama dengan sang ayah, dia mengabaikan cinta Erick yang hanya di anggap sebagai kakak olehnya.
Ayunda harus mengubur rasa cintanya saat tahu ternyata Kevin adalah kakak kandungnya dan baru menyadari ada cinta untuk Erick di hatinya setelah laki-laki itu pergi karena Ayunda menolak cintanya.
Waktu mempertemukan kembali Ayunda dan Erick membuat keduanya kembali dekat dan menjadi sepasang kekasih.
Namun kenyataan harus berkata lain cinta keduanya tidak bisa bersatu, Ayunda harus menikah dengan Nathan atas keinginan keluarganya. Semua itu terjadi dalam tidur panjang Ayunda yang mengalami koma. Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada Ayunda? Bagaimana kehidupannya setelah dia sadar dari koma? yuk... baca cerita selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Cukup Kita yang Tahu
Ayunda pulang malam ini dengan perasaan senang, dia merasa lega sudah mengungkapkan isi hatinya. Walau harus menerima kenyataan ada penghalang untuk dia dan Erick bisa bersama, namun ungkapan perasaan yang telah diucapkan mampu membuang sesak didadanya.
"Kak, cukup kita yang tahu tentang rasa ini" ucap Ayunda saat Erick akan kembali ke mejanya.
Erick menyetujui keinginan Ayunda, mengingat statusnya yang baru saja melamar seorang wanita tidak mungkin dia mengatakan pada semua kalau Ayunda kini kekasihnya.
Erick dipaksa mamanya untuk mau melamar Febby dan semua acara diatur dan disiapkan oleh mamanya, dia hanya mengikuti apa yang jadi keinginan mamanya. Terlebih hatinya masih kecewa dengan penolakan Ayunda. Namun tidak disangka acaranya melamar seorang wanita yang dia lakukan dengan terpaksa berubah jadi kebahagiaan setelah mendenggar ungkapan cinta dari Ayunda yang selama ini diharapkannya.
"Kak Kevin, aku mendapatkan cintanya kembali"
Ayunda mengungkapkan kebahagiaanya saat ini pada Kevin melalui lentera yang diberikan kakaknya itu yang selama ini mampu nenemani kesepiannya, dia memejamkan matanya dengan hati yang penuh kebahagiaan.
Dalam tidurnya Ayunda merasakan pelukan hangat Erick mengaliri seluruh tubuhnya, seakan nyata yang diarasakan. Sudah lama dia tidak merasakan kehangatan seperti ini sejak Erick pergi menjauhinya. Ayunda merasa terlalu terbawa suasana kebahagiaan sehingga kembali bisa merasakan kehangatan pelukan Erick.
Tanpa Ayunda sadari kalau Erick masuk kekamar Ayunda saat gadis yang di cintainya itu sudah tertidur lelap, dia ikut membaringkan tubuhnya disisi Ayunda dan memeluknya dari belakang. Erick mengaliri kehangatan pelukannya, sesekali dia menciumi pucuk kepala Ayunda sampai dia ikut terlelap dalam kehangatan.
Ayunda membuka matanya, saat dia merasa ada hembusan nafas seseorang di tengkuknya, dia melihat tangan yang memeluknya dan dia tahu siapa pemilik tangan itu.
"Kak, kau datang menemaniku" ucapnya dalam hati dan memejamkan matanya lagi.
"Aku tidak bermimpi" Ayunda kembali terlelap dalam pelukan Erick dan menikmati kehangatan yang diberikan laki-laki yang dicintainya.
Saat subuh Ayunda sudah tidak menemukan Erick yang memeluk tubuhnya, seperti biasa sama seperti dulu laki-laki itu datang dan pergi tanpa dia ketahui waktunya. Erick masih menyimpan kunci cadangan rumah Ayunda, karena itu dia bisa datang dan pergi kapanpun dia menginginkannya.
"Yunda keluarlah" suara Mama Mira terdengar memanggilnya didepan pintu kamar miknya.
"Ada apa lagi ma" jawab Ayunda yang merasa baru saja masuk kamar tapi sudah di panggil lagi untuk keluar.
Walau sambil mengerutu, Ayunda mengikuti keinginan mamanya yang meminta dia keluar dari kamar.
"Sini" panggil Mama Mira saat Ayunda menampakkan diri dipintu.
"Lihat siapa yang datang" Mama mira menunjuk tamu yang datang saat dia sudah berada di ruang tamu.
Ayunda melihat arah yang ditunjuk mamanya, tampak Erick tersenyum kearahnya sedang duduk bersama tunangannya. Ayunda memanggil nama Erick seakan dia baru bertemu dengan laki-laki itu, Erick menghampirinya dan memeluknya.
"Bersikaplah biasa" bisik Erick lalu mencium pucuk kepala Ayunda.
Mama Mira mendekati Feby dan meminta Feby untuk tidak salah sangka pada Ayunda saat Erick memeluk Ayunda.
"Mereka biasa seperti itu, hanya pelukan seorang kakak pada adiknya" ucap Mama Mira mencoba memberikan pengertian pada Feby.
"Iya tante, tidak apa-apa, saya memakluminya, Erick juga sudah memberitahu saya" jawab Feby.
"Kakak apa kabar?" tanya Ayunda setelah Erick melepaskan pelukannya.
"Baik" jawab Erick singkat sambil menarik tangan Ayunda dan dikenalkanya pada Feby.
"Salam kenal kakak ipar" sapa Ayunda mengulurkan tangannya yang dibalas senyuman oleh Feby yang juga menjabat uluran tangan Ayunda.
Ayunda masuk kedalam diminta Mama Mira untuk membuatkan minuman dan menyiapkan makanan ringat buatan Mama Mira.
"Kakak akan membantumu" ucap Erick menyusul Ayunda kedapur.
Erick memeluk Ayunda dari belakang saat Ayunda menata makanan dipiring.
"Aku masih merindukanmu" ucap Erick menciumi tengkuk Ayunda.
"Kak geli" Erick melepaskanya sambil tertawa kecil.
"Tadi pagi pulang jam berapa kak?" tanya Ayunda ingin tahu dia sambil menatap Erick.
"Sebelum kamu bangun pastinya" jawab Erick yang memeluk pinggang Ayunda dan mencium pipi mulus itu berkali-kali.
"Itu juga aku tahu kak" kesal Ayunda mendengar jawaban Erick.
Mereka keluar bersamaan, Erick yang membawa minuman dan Ayunda yang membawa makanan.
"Kakak ipar, ini kue buatan mama, dicobain" tawar Ayunda makanan yang dibawanya.
Mereka menikmati kue dan minuman sambil berbincang, tidak ada yang curiga baik Mama Mira ataupun Feby dengan Erick dan Ayunda.
Mereka benar-benar bisa menyembunyikan perasaan mereka yang sesungguhnya. Mama Mira cukup senang, kehadiran Erick membuat Ayunda kembali ceria walaupun Erick datang bersama tunanganya.
"Kakak mau nonton dengan kakak iparmu, apa kamu mau ikut?" tawar Erick pada Ayunda sambil memainkan rambut Ayunda seperti yang biasa dia lakukan.
Ayunda menolak ajakan Erick, dia belum bisa terlalu lama berada diantara Erick dan Feby kalau hanya bertiga.
"Ikut aja ya.." pinta Feby.
"Kakak ipar, aku nanti mengganggu kalian"
Ayunda menjawab seolah mengerti ingin membiarkan Erick menghabiskan waktu berdua tunangannya.
"Kita hanya nonton, filmnya bagus" ajak Feby membujuk Ayunda. Ayunda menatap Mama Mira.
"Apa boleh ma?" tanyanya meminta ijin.
"Kalau kakak iparmu tidak keberatan tidak apa-apa" jawab Mama Mira.
Erick berdiri, lalu menarik Ayunda dan mendorongnya masuk ke kamar.
"Sudah sana ganti pakaianmu" ucapnya lalu menutup pintu kamar.
"Mereka berdua biasa seperti itu, kalau berkelahi lama baikannya, kalau sudah baikan susah memisahkannya" cerita Mama Mira pada Feby agar wanita itu mengerti bagaimana kedekatan Erick dan Ayunda.
Kini mereka bertiga sudah di dalam mobil, hanya Ayunda dan Erick yang terlibat banyak percakapan dan sesekali Ayunda mengajak Feby untuk ikut bicara.
"Kakak ipar aku kasih tahu satu rahasia" ucap Ayunda yang berbisik pada Feby membuat keduanya tertawa.
Erick hanya memperhatikan interaksi keduanya.
"Memang berbeda" batinnya.
Bersama Ayunda suasana lebih ceria di bandingkan kalau dia hanya berdua Feby yang lebih banyak diam.
Mereka sampai di gedung bioskop di subuah mall. Erick berjalan di belakang Ayunda dan Febby, menatap punggung kedua wanita yang kini satu menjadi tunangannya dan yang satu jadi kekasih gelapnya. Erick memberikan kartunya pada Ayunda.
"Belilah makanan yang kalian mau" ucapnya lalu berlalu untuk mengambil tiket yang sudah dipesannya via online.
"Ayo kakak ipar, kita habiskan uang kak Erick untuk beli makanan yang enak" ajak Ayunda pada Feby.
Feby hanya diam mengikuti Ayunda, ada rasa iri karena Erick lebih memilih kartunya di berikan pada Ayunda dari pada kepadanya.
"Kakak ipar pilih apa?" tanya Ayunda menyadarkan Feby dari lamunannya.
"Samakan saja dengan kalian berdua" jawabnya asal.
Dari jauh tampak laki-laki bertubuh besar memperhatikan apa yang dilakukan ketiganya, lalu menghubungi seseorang.
...*****...
jangan lupa mampir di karya aku ya kk
My Little Prince dan VCPD 🥰