follow yuk ig : @riana.kristina
Sekuel "Di Antara Dua Hati"
Jangan lupa siapkan tissu🤧
Plakkk!!
Sebuah kisah yang berawal dari ciuman yang tidak terduga. Mengharuskan gadis bernama Cinta Yasmila Pratama melayangkan tamparan keras ke wajah tampan seorang Adipati Rangga Wijaya.
Pemuda yang selama ini menganggap para gadis hanyalah boneka barbie.
Hingga pada akhirnya mereka saling jatuh cinta, Rangga harus dihadapkan pada kenyataan pahit lantaran Cinta adalah adiknya sendiri.
"Apapun yang terjadi di antara kita, itu semua bukan salah cinta. Tidak ada yang bersalah jika kita saling mencintai."
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Apakah hubungan keduanya harus kandas lantaran adanya hubungan darah?
Penasaran? Ikutin kisahnya ya di,,
"Bukan Salah Cinta"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Kristina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Yang Salah
Matahari mulai menampakkan cahayanya, disambut kicauan burung yang terdengar saling bersahutan dari atas pepohonan.
Cinta terbangun dan menggeliat di atas tempat tidur, samar-samar dia mendengar suara Rangga sedang berbicara dengan seseorang di balkon kamarnya.
"Maaf Yah, Cinta semalam sakit jadi aku menunda kepulangan kami."
Oh, dia sedang menelpon ayahnya, batin Cinta. Wait, kenapa dia bisa ada di kamarku, dan pakaianku?
Cinta baru menyadari kalau dia hanya mengenakan c*lana d*lam di balik selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Dia menjambak rambutnya, mencoba mengingat apa yang terjadi. Kemudian ingatannya berputar kembali saat dia bertemu Rafael, lalu meminum jus pemberiannya. Setelah itu semuanya terlihat samar, dia tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
Cinta bangkit dan menarik selimut hingga lehernya, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kamar. Dilihatnya jas, kemeja, dan celana panjang milik Rangga berserakan di lantai, juga jubah mandinya.
Apa yang terjadi? Kenapa semua terlihat berantakan? Apa ... apa aku dan Adipati ... sudah ... Oh God, tidak mungkin!
Cinta menggigit bibir bawahnya, dia memegang kepalanya mencoba mengingat kembali kejadian kemarin. Dia melihat dirinya menarik kerah Adipati dan memintanya untuk menyentuh dirinya. Dia ingat dirinya mencium Adipati dengan penuh gairah, memaksa pria itu untuk segera memenuhi keinginannya.
No! Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku sebodoh itu?
Cinta menangkup wajahnya sendiri, dia merasa marah, sedih, dan malu. Bisa-bisanya dia hilang kendali seperti itu. Dia ingin marah pada Rangga tapi malu, bukankah dia yang memohon pada pria itu untuk menyentuhnya. Dia hanya bisa menggigit jarinya kini, merutuki kebodohannya.
Rangga terdengar sudah selesai berbicara di telpon, dan kini langkah kakinya terdengar memasuki kamarnya. Cinta menarik selimutnya dan menggenggamnya erat.
"Hm, kamu sudah bangun, Sweetheart." Rangga tersenyum menatapnya.
Cinta melirik lewat ekor matanya, Rangga berdiri di sebelahnya, dan pria itu hanya mengenakan boxer sekarang.
Oh God, jadi itu memang benar terjadi! Kami benar-benar sudah melakukannya, dan, dan ini adalah keinginanku! Argh, stupid! You are stupid, Cinta! rutuknya.
"Kamu mandilah, aku akan mengajakmu jalan-jalan sebentar. Aku sudah memberitahu ayah semalam kamu tidak enak badan, jadinya kita akan pulang sore ini."
Cinta hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Rangga, lidahnya terasa kelu, dan bibirnya terasa kaku untuk digerakkan.
Rangga tersenyum dan mengacak rambutnya lalu membungkukkan badannya mengecup keningnya. Kemudian, dia memungut pakaiannya dan berlalu menuju kamarnya sendiri.
Cinta membuang nafas berat, dadanya terasa sesak tadi. Dia bingung gimana harus menghadapi Rangga sekarang. Dia merasa malu. Pria itu pasti berpikir dirinya sama dengan gadis-gadis yang sudah pernah ditidurinya.
Hah, lagi-lagi dia hanya bisa menghela napas.
...****************...
Cinta mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, Rangga mengajaknya berjalan-jalan ke sebuah taman kecil yang terdapat tiang bendera Maldives berukuran raksasa. Di sebelah selatannya dia melihat bangunan yang disebut The Grand Friday Mosque, katanya masjid terbesar yang ada di kota Male. Mereka berjalan lagi dan akhirnya tiba di taman kotanya yakni Sultan Park. Banyak terlihat warga sana yang sedang bersantai di bawah pepohonan.
"Kamu ingin duduk di sini?" tanya Rangga.
Cinta hanya menggeleng, dia berjalan ke arah timur tepat menuju Istana Presiden. Di seberang jalan dia melihat bangunan masjid lagi. Cinta menghentikan langkahnya dan menatap bangunan itu.
"Masjid itu dinamakan Hukura Miskiiy. Masjid tertua di sini, di dalamnya konon banyak terdapat makam - makam tua. Apa kamu mau masuk dan melihatnya?" tanya Rangga lagi.
Cinta menggeleng lagi, dan tanpa menatapnya lagi. Rangga merasa frustasi dibuatnya, sepanjang perjalanan tadi Cinta belum berbicara sepatah katapun dengannya, apalagi menatapnya. Dia hanya mengangguk dan menggeleng saat diajak bicara.
"Atau, kamu lapar? Kamu mau makan? Di dekat sini ada restoran, gak jauh, cukup dengan jalan kaki aja." Rangga mencoba mengajaknya bicara lagi tapi, lagi-lagi Cinta hanya menggeleng.
"Kamu kenapa sih?" Rangga mulai kesal. "Dari tadi diajak ngomong responnya cuma ngangguk sama geleng-geleng aja." Nadanya meninggi. Dia berkacak pinggang menatap Cinta yang menundukkan wajahnya.
Cinta masih membisu. Sejurus kemudian, Rangga melihat bahu Cinta mulai bergetar. Terdengar isakan dari bibirnya. Rangga meraih dagunya lembut dan mendongakkan wajahnya. Dia melihat butiran bening sudah mengalir di pipi Cinta.
"Kamu kenapa menangis?" Menatapnya iba. "Maaf kalau aku tadi membentakmu, aku terlalu emosi tadi." Mengusap air mata di pipi Cinta.
Cinta cuma menggeleng lagi. Rangga langsung menariknya ke dalam pelukannya. Dia mengusap rambutnya sayang.
"Kamu kenapa?" tanyanya lembut, "kalau aku ada salah, bicaralah! Biar aku bisa memperbaikinya."
"Enggak!" Akhirnya dia bersuara. "Kamu gak salah! Aku yang salah!" jawabnya di sela-sela isakannya.
Rangga melonggarkan pelukannya, "Maksud kamu?" Meraih dagunya agar Cinta bisa menatapnya.
Cinta menelan ludahnya. "A-aku yang sudah memaksamu, a-aku yang meminta itu darimu." jawabnya terbata-bata. Dia mulai sesegukan.
Rangga mengerutkan dahinya, dia belum mengerti kemana arah pembicaraan Cinta. "Kamu bicara apa? Memaksa apa? Meminta apa?"
Cinta menggigit bibir bawahnya, dia menundukkan wajahnya kembali menahan malu. "Meniduriku," jawabnya pelan dengan suara yang nyaris tidak dapat didengar oleh Rangga.
Rangga mengulum senyum lalu meraih dagunya kembali. "Jadi, karena itu kamu mendiamiku sejak tadi. Ckk!" Rangga berdecak lalu tertawa pelan.
Rangga lalu meraih tangannya. "Aku sudah pernah bilang padamu, kalau aku menyukaimu. Aku tidak akan merusak wanita yang aku sukai." Rangga menangkup kepalanya, lalu menatap lekat ke bola matanya. "Aku tidak akan melakukan itu jika kamu tidak memintanya dariku," jelasnya penuh keyakinan.
"Bukankah kemarin aku sudah memintanya darimu." Cinta masih waswas.
Tangan kanan Rangga turun dan menangkup pipi. "Bukan kamu yang memintanya tapi, obat yang kamu minum." Rangga tersenyum sembari mengusap-ngusap pipi Cinta menggunakan ibu jarinya.
"Obat?" Cinta bertambah heran.
"Hm, Rafael pasti sudah memberimu obat yang membuatmu kehilangan kendali. Apa kamu ingat, dia sempat memberikanmu sesuatu mungkin?"
Cinta nampak berpikir. "Hm, aku sempat minum jus jeruk darinya." Dia menerawang, "setelah itu aku merasa tubuhku seperti terbakar. Dan aku, aku ... merasa ... ingin ...." Cinta menghentikan ucapannya lalu menatap malu ke arah Rangga.
"Bodoh!" Rangga menyentil keningnya.
"Aww." Cinta mencebikkan bibir sembari mengusap keningnya yang sebenarnya tidak sakit.
"Lain kali kamu harus hati-hati, tidak semua pria brengsek itu seperti aku." Rangga melotot padanya, "kalau sudah dalam pengaruh obat kayak gitu, sepandai apa pun bela diri yang kamu kuasai gak bisa melawan pengaruh obat itu. Apalagi kalau dosisnya tinggi." Rangga melengos.
"Hm, iya kali ini aku memang bodoh," jawabnya lesu, "lain kali aku akan lebih hati-hati," gumamnya.
Rangga menyeringai, "Namum, di sisi lain aku harus berterima kasih juga sama Rafael." Rangga memegang dagunya sendiri.
Cinta mengerutkan dahinya, "Berterima kasih?"
"Iya, karena berkat dia, aku jadi tahu sisi lain dari dirimu." Rangga mengedipkan sebelah matanya.
Cinta meninju bahunya. "Dasar mesum!"
Rangga tergelak. "Kamu benar-benar badas kalau di ranjang," bisiknya.
"Eh!" Cinta melotot padanya.
Rangga tergelak kembali, lalu meraihnya ke dalam pelukannya dan menyusupkan wajahnya ke leher Cinta. "Kita makan?"
Cinta mendongakkan wajahnya agar bisa menatap wajah Rangga. "Hm." Cinta mengangguk dan tersenyum.
Rangga mengecup keningnya, lalu menggandeng tangannya menuju restoran yang tidak jauh dari tempat itu.
*bersambung....
Gimana readers suka gak sama episode ini?? hehehe...kalau suka jangan lupa jempolnya ya😁 ditunggu vote, like, n coment nya ya. makasih🤗*
thor tolong y sembunyikan cinta sampai dia melahirkan dan bikin rangga prustasi berat