Hidup adalah perjuangan, begitupun dengan cinta. Khanaya
Jika Cinta kita berakhir, maka berjuanglah untuk memulai semuanya dari awal lagi. Adrian
Sepasang kekasih yang menjalani hubungan mereka dengan suka cita. Namun semuanya harus terhalang oleh masa lalu si pria yang membuat Dia harus meninggalkan kekasihnya.
Namun, siapa sangka kesalah fahaman semakin terjadi saat si pria berada jauh dari pemilik hatinya. Kesalah fahaman ini membuat cinta mereka berakhir. Sampai suatu saat mereka di pertemukan kembali dan memulai semuanya dari awal lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
Beberapa Bulan kemudian.....
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa Adrian dan Khanaya sudah selesai melalu ujian nasional. Mereka tinggal menunggu hari kelulusan tiba. Adrian mendapatkan nilai paling tinggi di bandingkan dengan yanga lainnya.
Di posisi kedua ada Zidan, sementara Khanaya ada di posisi ketiga. Tapi, Naya bahagia saat Adrian tidak lagi mengalah untuknya. Bahkan sekarang Adrian di rekomendasikan oleh pihak sekolah untuk masuk ke universitas terbaik di Ibu kota.
"Selamat ya Sayang, kamu bisa kuliah di Ibu kota dengan nilaimu yang sangat memuaskan. Tapi, aku sedih karna kamu pasti akan meninggalkan aku di kota ini" kata Naya
Saat ini mereka sedang berada di taman, duduk di bangku taman yang selalu menjadi saksi cinta dan janji mereka berdua.
Adrian mengelus kepala Naya, menyelipkan anak rambut Khanaya ke belakan telinga "Aku cuma pergi ke luar kota Sayang, bukan ke alam lain. Jadi kita masih bisa bertemu saat aku libur. Kita juga bisa video call"
Naya memeluk Adrian, menempelkan pipinya di dada pria itu "Tapi, kamu janji ya jangan sampai tergoda dengan gadis kota yang pasti cantik cantik"
Adrian mencium puncak kepala Naya "Gak akan Sayang. Lagian, hati dan cintaku sudah terkunci di hatimu. Sudah tidak mungkin berpaling ke hati yang lain"
Naya mendongakan wajahanya yang langsung di beri kecupan di keningnya oleh Adrian.
"Awas aja, kalo sampe kamu pindah ke lain hati atau kamu berani aja ngelirik gadis gadis cantik di kota aku akan pergi ninggalin kamu" ancam Khanaya
"Awas aja kalau berani!!" Adrian melepaskan tangan Naya yang memeluknya. Mrnatap tajam Khanaya, tidak suka dengan apa yang di ucapkan kekasihnya barusan.
"Kemana pun kamu pergi, sejauh apapun kamu berlari. Aku pastikan kau akan kembali lagi kepadaku. Hanya aku yang akan menikahimu, hanya aku yang akan membahagiakan mu. Hanya aku yang akan menjadi Ayah dari anak anakmu nanti" kata Adrian penuh dengan penekanan
"Iya, Naya percaya sama Adrian"
...🐦🐦🐦🐦🐦🐦...
Semua murid telah berkumpul di lapangan sekolah yang sudah di dekor sedemikian rupa. Sehingga terlihat begitu indah, sudah ada panggung dan kursi kursi yang berjejer untuk para murid dan keluarga murid yang datang di hari kelulusan kelas 12 ini.
Banyak penampilan dari para junior untuk menghibur para undangan yang hadir juga untuk memeriahkan acara perpisahan kelas 12 ini.
Para murid laki laki kelas 12 sudah rapi dengan setelan jas dan kemejanya. Untuk murid perempuan sudah cantik dengan kebaya juga riasan yang mereka gunakan.
Kepala sekolah memberikan sambutannya, begitu pun dengan komite sekolah. Sekarang tinggal pemberian penghargaan untuk murid berprestasi yang akan di lakukan oleh pemilik sekolah ini.
"Mari kita sambut pemilik sekolah ini, Tuan Bagas Julian" teriak emsi
Deg
Maria dan Deni merasa jantungnya langsung berdetak cepat. Bodoh... Kenapa mereka sampai tidak mengetahui siapa pemilik sekolah ini.
"Yah, gimana ini? Mungkin juga Arnold sudah ada disini" bisik Maria, tangannya sudah saling bertautan dan gemetar
"Tenanglah Bu, lagian ini sudah waktunya untuk Adrian mengetahui kebenaran nya" kata Deni mencoba menenangkan istrinya
"Bukan pertemuan Arnold dengan Adrian yang aku cemaskan Yah. Tapi, pertemuan Adrian dengan Nyonya Alice. Kamu tahukan bagaimana sifat Dia, aku takut Adrian akan berubah setelah tahu kebenaran nya. Aku takut Adrian akan tertekan dengan kenyataan yang harus Dia hadapi" kata Maria gelisah
"Sudahlah Bu, aku yakin kalau semuanya akan baik baik saja" Deni mencoba membuat istrinya tenang. Padahal dirinya sendiri pun merasa gelisah dan cemas dengan apa reaksi Adrian nanti.
Semua murid kelas 12 berada di tempat yang berbeda dengan para keluarga yang datang untuk menghadiri acara kelulusan ini.
Itukan pria yang waktu itu datang ke rumah. Jadi Dia adalah pemilik sekolah ini. Tapi, kenapa Dia bisa kenal dengan Ibu?
"Sayang"
Adrian tersadar saat sebuah tangan menggenggam tangan nya. Dia menoleh dan tersenyum mendapati kekasih hatinya yang tampak sangat berbeda hari ini.
"Kamu cantik sekali Sayang" bisik Adrian lalu mencium pipi Khanaya
"Malu ihh, gimana kalau ada yang liat" kesal Naya
"Udah biasa Nay, gak usah gak enak sama kite kite" Boni muncul dengan Jay juga Silvia
"Ahhh. Kalian dari mana aja? Kok baru datang" Khanaya dan Silvia langsung berpelukan.
"Gak enak kita ganggu yang lagi pacaran" jawab Boni santai
"Makanya cari pacar, jangan mebjomblo terus" kata Adrian tersenyum mengejek
"Lo gak tahu si Yan, saking beratnya hidup gue. Gue cerita sama kipas angin aja, kipasnya geleng geleng" kata Boni mendrama
"Hahaha. Iyalah kipasnya geleng geleng, ksn emang kipas angin mah kaya gitu" kata Silvia tertawa
"Baiklah mari kita sambut tiga murid berprestasi di sekolah ini. Murid yang terbaik dan yang baik, murid yang sudah pasti membagakan orang tua mereka"
Suara Bagas dari atas panggung membuat semua murid kembali fokus pada acara yang sedang berlanjut
"Urutan pertama ada Adrian Putra Julian" kata Bagas dengan lantang
"Selamat ya, sana naik" bisik Khanaya
Adrian tersenyum lalu berjalan ke arah panggung dengan gabahnya. Bahkan banyak siswi yang berteriak histeris melihat ketampanan Adrian, apalagi sekarang Adrian tampil berbeda dari biasanya.
"Selamat atas pencapaian mu ini Tuan muda Putra" kata Bagas tanpa memakai mikrofon nya
"Hah??"
Adrian bingung dengan panggilan yang di guankan pria di depan nya. Tanpa banyak tanya Adrian hanya menyalamu tangan Bagas dan menerima penghargaan dari Bagas.
Kenapa Dia memanggilku seperti itu.
Bagas kembali ke posisi semula untuk memanggil murid berprestasi lainnya. "Untuk urutan yang kedua ada Zidan Pratama"
Zidan pun naik ke atas panggung, keduanya saling menatap tajam. Apalagi sekarang Zidan berdiri tepat di samping Adrian. Setelah memberi penghargaan dan ucapan selamat pada Zidan, Bagas pun kembali ke tempatnya semula.
"Untuk urutan ketiga kita panggil Khanaya Zahira"
Naya pun naik ke atas panggung dengan wajah menunduk. Kepercayaan dirinya memang di bawah rata rata. Naya selalu merasa tidak percaya diri dengan apa yang Dia dapatkan.
Adrian kesal juga karna Khanaya sekarang berdiri tepat di samping Zidan. Tau kaya gini meningan Gue aja yang jadi juara dua.
"Selamat ya Nay" Zidan mengulurkan tanganya dengan senyuman manisnya
Naya menjabat tangan Zidan "Terimakasih. Selamat juga atas pencapaian mu Zidan"
"Terimakasih " jawab Zidan tersenyun tanpa mau melepaskan genggaman tangannya pada Naya meski gadis itu sudah berusaba melepaskan.
"Ekhem..." Adrian berdehem kesal saat melihat interaksi keduanya. Apalagi ini masih berada di atas panggung.
Naya segera melepaskan tangannya dengan paksa dari genggaman tangan Zidan. Setelah ketiga murid berprestasi ini di berikan pengharagaan. Mereka pun kembali turun dari panggung dan menghampiri keluarga masing masing.
Naya hanya diam, Dia tidak tahu harus menghampiri siapa. Disini Dia tidak mempunyai keluarga yang datang, Ibu panti juga sibuk mengurus adik adiknya di panti. Jadi, tidak memungkinkan untuk hadir di acara kelulusannya.
"Abang hebat banget" Andin yang baru datang langsung terkejut saat tahu kalau Adrian mendapat urutan pertama sebagai siswa berprestasi
"Iya dong, jangan ragukan kemampuan otak Abang. Kalau Abang sudah mengeluarkan segala kemampuan Abang, sudah pasti semuanya terkalahkan" kata Adrian bangga
"Yeee. Narsisnya datang lagi. Terus kenapa selama dua tahun ini selalu menjadi anak bodoh?" Tanya Andin
Adrian mencubit gemas pipi adiknya itu "Karna Abang malea aja jadi pusat perhatian dan jadi kepercayaan guru"
"Ishh. Dasar aneh" gerutu Andin
"Bukannya kamu jadi anak bandel aja masih jadi pusat perhatian Bang? Tadi Ibu lihat para siswi berteriak histeris saat lihat Abang naik ke panggung" goda Maria lalu memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang
"Selamat atas pencapaian mu Bang" Deni juga ikut memeluk Adrian
Naya hanya diam tidak jauh dari Adrian, mau mendekat juga Dia tidak mau mengganggu keluarga Adrian yang sedang berbahagia itu.
Seandainya aku masih punya keluarga.. Ayah, Ibu aku rindu kalian.
Sementara itu sepasang mata juga menatap ke arah keluarga harmonis itu. Di balik kaca mata hitamnya mata itu berkaca kaca. Dia juga ingin memeluk tubuh tegap yang mewarisi ketampanan nya itu.
"Ayo kita temui Dia Bagas" kata Arnold
"Sebentar lagi Ibu akan datang, tunggulah" jawan Bagas
Benar saja, tak lama kemudian Nyonya Alice datang. Dia begitu antusias untuk bertemu dengan cucunya. Mereka pun langsung menghampiri keluarga Deni itu.
Naya yang melihat dari jauh mengerutkan keningnya saat melihat tiga orang itu datang menghampiri keluarga Adrian.
Siapa mereka?
"Putra" panggil Nyonya Alice
Semuanya menoleh ke arahnya, Maria dan Deni terdiam melihat siapa yang memanggil anaknya itu. Sementara Adrian, Andin dan Amera hanya diam.
"Sesuai janjiku Maria, aku akan menemui anaku saat acara kelulusan nya" kata Arnold membuka kacamatanya
Deg
Adrian dan Andin diam mematung, semnetara Amera yang masih kecil itu tidak mengerti dan tidak tahu apa apa. Jadi Dia hanya diam saja.
Mata itu? Mata itu sangat mirip dengan mata Abang. Huaaaa. Apa benar kalau Abang bukan anak kandung Ayah. Aku gak mau di pisahin sama Abang.Andin
"Adrian... Ini Daddy nak"
Bersambung
ku tunggu karya slanjutnya kak😉
thank kaka akhirnya happy ending ,