NovelToon NovelToon
Istri Satu Miliar

Istri Satu Miliar

Status: tamat
Genre:Contest / Nikahkontrak / Nikah Kontrak / Obsesi / One Night Stand / Pengantin Pengganti / Tamat
Popularitas:13.2M
Nilai: 4.6
Nama Author: Eka Pradita

"Kesalahanku adalah karena aku menerima tawaran itu sehingga aku mulai merasa nyaman dengannya."

Melani Pricillia adalah seorang sekretaris baru di Perusahaan Haditama. Ia baru saja bekerja selama 6 bulan pada perusahaan yang dipimpin oleh seorang pria dingin bernama Revan Haditama.

Sebuah tawaran dilayangkan oleh Revan kepada Melani yang membuat wanita itu tergiur dengan isi dari kontraknya. Sebuah kontrak yang mengharuskan Melani berpura-pura menjadi pacar Revan sebagai alasan Revan agar terhindar dari perjodohan yang telah direncanakan oleh orang tuanya. Namun tidak hanya itu, di luar dugaan Revan pun meminta Melani menjadi istrinya dengan bayaran 1 Miliar.

Bagaimana hubungan Revan dan Melani di akhir kontrak? Akankah cinta dapat tumbuh dan menyatukan keduanya dalam sebuah ikatan hati?

Follow Instagram Author : ekapradita_87

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Revan

Selamat membaca!

Suasana yang hening di sekitar rumah kediaman Diana, seketika terusik dengan suara ketukan pintu yang terdengar memenuhi seisi ruangan. Diana yang masih berkutat dengan aktivitas memasaknya pun, memutuskan untuk mematikan kompor gas yang telah dinyalakan dan bergegas menuju ke depan rumah untuk melihat siapa gerangan yang datang bertamu ke rumahnya.

"Permisi, selamat siang!" ucap seseorang tamu yang datang, dia adalah Revan Haditama, seorang pria yang sedang bingung karena sebuah pertanyaan yang menari-nari dalam benaknya masih belum terjawab.

Tak lama kemudian, Diana langsung membuka pintu. "Selamat siang. Maaf Tuan mau cari siapa ya?" tanya wanita paruh baya itu sambil memindai penampilan Revan dari ujung rambut sampai ujung kaki penuh decak kagum.

"Siang, Tante. Sebelumnya perkenalkan saya Revan, atasannya Melani di kantor. Apa Melani ada di rumah, Tante?" Jawab Revan yang diakhiri dengan sebuah pertanyaaan.

Rasa penasaran Diana terjawab sudah, seulas senyuman terbit dengan ramah. "Oh, ternyata Tuan Revan ini atasannya Melani di kantor dan datang ke sini untuk bertemu dengan putri saya ya. Mari masuk dulu, Tuan, saya bangunin Melani dulu ya karena sepertinya dia sedang tidur deh. Maklum, Melani baru pulang ke rumah jam 3 malam setelah meeting di Bandung kemarin."

Dahi Revan mengerut seketika mendengar penuturan Diana yang terdengar aneh karena Melani semalam bersamanya dan bukan meeting ke Bandung. "Melani meeting di Bandung, Tante?" tanyanya dengan raut bingung.

"Iya betul, Tuan Revan, Melani cerita begitu sama saya. Oh ya, Tuan mari silakan masuk, Tuan Revan duduk dulu ya saya mau ke atas untuk bangunin Melani dulu." Diana mempersilakan pria yang sebenarnya sudah menodai putrinya itu dengan begitu ramah.

Revan pun mengangguk patuh, walau dengan batin yang bertanya-tanya ia tetap melangkah ke dalam rumah Melani dan duduk di ruang tamu yang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk siapapun bertamu. Rumah yang minimalis. Namun, setiap sudut penataan furniture-nya terkesan sangat rapi dan memanjakan mata saat melihatnya.

"Melani bilang sama Mamanya kalau dia meeting ke Bandung saja sudah suatu kebohongan, jelas-jelas seharian kemarin dia bersamaku setelah pulang dari kantor. Apa dugaanku ini benar, karena Melani baru pulang ke rumahnya jam 3 malam itu pasti dari apartemenku, dan darah itu," gumam Revan yang tak sanggup melanjutkan perkataannya karena ia tak dapat membayangkan bila ternyata ketakutan benar adanya.

Lagi dan lagi Revan dibuat bimbang dengan pikirannya sendiri tentang Melani yang tiba-tiba menjauhi dirinya tanpa kabar.

"Ya Tuhan, kalau benar begitu. Apa semalam itu kami berdua benar-benar melakukannya? Ya ampun, kejadian ini sungguh membuatku sakit kepala karena aku tidak dapat mengingat semuanya!" batin Revan sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

Setelah menunggu selama lima menit di ruang tamu, akhirnya Diana kembali datang menghampiri Revan dengan perasaan tidak enak. Kedatangan wanita paruh baya itu membuat Revan segera bangkit dari posisi duduknya.

"Tuan Revan, maaf banget Melani bilang tidak mau bertemu dengan Tuan. Saya juga tidak tahu alasan pastinya, tapi tadi dia bilang lagi butuh banyak istirahat dan enggak mau bertemu dengan siapapun dulu. Apa ada pesan yang mau Tuan sampaikan pada Melani, mungkin saya bisa menyampaikannya pada Melani nanti?" ungkap Diana dengan tidak enak hati dan mencoba bertanya maksud kedatangan Revan ke rumahnya.

"Ini benar-benar aneh. Melani begitu berani menolak bertemu dengan aku yang sudah datang jauh-jauh dari kantor. Aku jadi semakin yakin, bahwa Melani sengaja menghindar dariku!" batin Revan yang terlihat begitu geram.

Sebenarnya Diana heran atas sikap Melani yang tidak bersedia menemui atasannya yang telah repot-repot datang ke rumah hanya untuk bertemu dirinya karena putrinya itu tidak biasanya menolak bertemu dengan tamu yang datang sudah berkunjung ke rumahnya, sekalipun ia sedang demam. Namun, Diana tak memiliki waktu untuk banyak bertanya pada putrinya karena Revan sedang menunggunya di ruang tamu.

Raut wajah Revan seketika menampilkan guratan rasa kecewa yang mendalam atas penolakan Melani. "Oh jadi begitu ya, Tante. Ya sudah kalau Melani tidak ingin menemui saya tidak apa-apa. Saya titip pesan untuk Melani ya, Tan, agar besok dia masuk bekerja karena ada banyak pekerjaan yang harus Melani selesaikan di kantor."

"Nanti pasti akan saya sampaikan pada Melani ya, Tuan. Sekali lagi saya minta maaf atas sikap putri saya yang mungkin kurang berkenan di hati Tuan. Semoga Tuan Revan tidak marah 'kan? Oh ya, apa Tuan mau duduk dulu sebentar biar saya buatkan kopi untuk Tuan ya?" tawar Diana dengan senyumnya yang ramah.

Revan sebenarnya sedang malas untuk minum kopi. Namun, ia berpikir semoga Melani berubah pikiran dan mau menemuinya di sini, hingga pria berwajah tampan itu pun dengan cepat mengangguk untuk menerima tawaran dari Diana.

"Boleh deh, Tante. Kebetulan saya memang belum ngopi dari tadi pagi dan saat ini sepertinya kopi obat yang paling ampuh untuk menghilangkan rasa kantuk yang sedang saya rasakan."

"Tuan suka kopi apa?" tanya Diana dengan senang hati karena Revan mau menerima tawarannya.

"Kalau boleh cappucino saja ya, Tante."

"Oh cappucino ya, tapi tunggu sebentar ya, Tuan, karena saya harus ke warung dulu."

Seketika Revan seperti melihat secercah harapan untuknya menemui Melani ketika Diana pergi ke warung.

"Warungnya jauh enggak, Tan? Aduh saya jadi tidak enak malah merepotkan." Revan bertanya untuk mengetahui waktu yang Diana butuhkan selama pergi meninggalkan rumah.

"Lumayan jauh sih jarak dari rumah ke warung, tapi benar deh ini tidak merepotkan saya sama sekali. Saya malah senang kalau Tuan sudah mau datang bertamu dan bersedia minum kopi yang saya buatkan."

"Oh ya sudah kalau begitu, Tan. Sebelumnya terima kasih banyak ya, maaf bila saya merepotkan."

Diana pun menanggapinya dengan senyuman sebelum akhirnya wanita itu pun berlalu pergi keluar dari rumah setelah mengambil dompetnya yang berada di sebuah nakas tidak jauh dari tempatnya sekarang.

Setelah memastikan kepergian Diana yang sudah keluar dari pagar rumah, kini Revan segera berlari menaiki anak tangga untuk menemui Melani di kamarnya. Tak ada pilihan lain, pikirnya. Walau hanya pria itu belum mengetahui letak kamar Melani yang pasti di lantai atas. Namun, pria itu akhirnya tiba di sebuah kamar yang pintunya tertutup rapat dan berbeda dengan kamar yang satunya dengan kondisi terbuka.

Pria itu segera menarik handle pintu tersebut yang kebetulan tidak terkunci dan langsung masuk ke dalamnya tanpa mengucapkan salam terlebih dulu.

Saat pintu terbuka, kedua mata Revan langsung menatap sesosok wanita yang kini sedang menangis dengan begitu terisak. Sadar dengan kedatangan seseorang, Melani segera mengusap air mata pada kedua pipinya dan langsung menoleh ke arah pintu kamarnya yang seketika membuatnya terkesiap, saat sosok yang masuk ternyata bukanlah Diana melainkan Revan. Pria yang telah merenggut mahkota yang telah dijaganya selama 23 tahun ini. Melani pun segera bangkit dari ranjang dan menghampiri pria itu.

"Kenapa kamu masuk ke sini? Siapa yang mengizinkan kamu masuk ke kamar saya?!" tanya Melani dengan bibir yang bergetar karena rasa takut kembali menyeruak ke dalam pikirannya.

Kini Revan dapat melihat dengan jelas bagaimana kondisi sekretarisnya saat ini. "Saya harus bertemu kamu sekalipun dengan cara yang kurang sopan seperti ini karena ada hal penting yang harus saya tanyakan."

"Apalagi yang ingin kamu tanyakan, Tuan? Saya sudah tidak mau bertemu lagi denganmu dan besok saya akan melaporkan kejadian semalam pada pihak yang berwajib!"

"Memangnya apa yang terjadi semalam sampai kamu ingin melaporkan saya pada polisi?" tanya Revan dengan menangkup kedua lengan Melani dan menggenggamnya begitu erat. Raut wajah pria itu begitu panik dengan kedua alis yang saling bertaut.

"Kamu jangan pura-pura tidak tahu ya, apa kamu mau menyangkal dengan apa yang telah kamu lakukan terhadap saya?" tanya Melani sambil mendorong tubuh Revan dengan jari telunjuknya.

Revan semakin penasaran dan walau sudah beringsut mundur, tapi pria itu kembali mendekati Melani untuk memperjelas apa maksud perkataannya. "Apa maksudmu? Saya memang tidak ingat! Apa kamu tidak pernah mabuk? Orang mabuk itu tidak akan ingat apa yang dilakukannya ketika dia sudah sadar kembali." Revan coba protes dengan apa yang telah dituduhkan Melani kepadanya.

"Baik, biar saya perjelas! Kamu telah memerkosa saya dan saya tidak ikhlas dengan semua itu! Saya pastikan Kamu akan mendekam di dalam penjara atas perbuatanmu!" kecam Melani dengan gurat amarah yang terlihat jelas di wajahnya.

Revan membeliak mendengar pernyataan yang terlontar dari mulut Melani. Ternyata apa yang ditakutkannya sejak melihat bercak darah di atas ranjangnya kini benar-benar seperti apa yang ditakutkannya.

"Ya Tuhan, aku benar-benar telah melakukan itu pada Melani! Aku sudah merenggut kesucian wanita ini dengan paksa. Sekarang apa yang harus aku lakukan?" batin Revan yang begitu syok sekaligus panik karena Melani akan melaporkan apa yang telah dilakukannya semalam pada pihak berwajib. Pria itu pun segera melepaskan genggamannya dari tangan Melani dan terlihat lemah seperti kehilangan tenaga.

🌸🌸🌸

Bersambung✍️

Berikan komentar positif kalian ya.

Terima kasih banyak ya.

Jika berkenan tunjukkan cinta kalian pada karya ini dengan memberikan gift untuk novel ini.

Baca juga Ansel dan Irene yang sebentar lagi akan menuju ending episode :

1
Aisyah Ajamu
ada videonya gak
ira
bgs Daddy selidiki sampe akar² nya trs jg nnti selidiki jg Jessica
ira
licik kali lah si Revan ini ternyata itu semua ulahnya aku sumpahin kamu Revan bucin akut kepada Melani 😁😁
ira
aku sih berharapnya Revan duluan yang Bucin kepada Melani 😁😁
ira
aman Bu uangnya Melani banyak jadi ibu puas mau belanja apa aja 😁😁
ira
sebenarnya apa yang membuat Revan bersikap dingin seperti itu kepada daddynya sendiri 🤔🤔 setelah dirimu mengetahui perselingkuhannya Jessica apakah rasa cintamu masih ada untuk wanita jalang itu
ira
hayo lo Revan ketahuan kan diintrogasi itu sama Daddy
ira
betul sekali Daddy selidiki dengan segera Revan itu cuman bersandiwara saja visualnya Daddy ganteng kali😆😆
ira
semoga pas ke Paris perselingkuhannya Jessica diketahui oleh Revan 😁😁😁bagus sekali acara pernikahannya dimajukan
ira
betul banget tuh daddy harus diselidiki terutama kelakuannya Jessica
ira
semoga sandiwara mereka jadi kenyataan
ira
justru itu Mel kmu hrs buat Revan jth cinta kpd mu
ira
doa kn ya mah supaya Revan berjodoh dgn Melani🤭
ira
itu berarti kamu masih mempunyai rasa kan kepada Melani, al
ira
kamu tuh nggak sadar aja Revan sebenarnya udah ada rasa kan kepada Melani
ira
bukan main 16 m terus pajaknya setahun berapa itu 😆😆😆
ira
semoga kebusukan Jessica segera terungkap agar Revan merasakan yang namanya sakit dikhianati ya anggap saja itu sebagai balasan dari dia telah menyakiti Melani 🤣🤣🤣
ira
lbh cantik visualnya Melani🤭🤭 heh Revan kekasih tersayangmu malah bercinta di luar negeri sana dan kau Dengan bodohnya percaya dia setia 😆🤣🤣
ira
manfaatkan waktumu Melani buat Revan jatuh cinta kepadamu sampai bucin akut supaya pernikahanmu makin lancar
ira
aamiin mah semoga doa² mu terkabulkan dn Revan jdi bucin bngt KPD melani
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!