Melati harus menelan pil pahit ketika dirinya harus di benci oleh suaminya.
Kesalahan melati di masa lalu, membuatnya mau tak mau menerima luka demi luka akibat pernikahannya yang berawal dari fitnah yang ia lakukan terhadap Faisal.
Duka demi duka ia lalui.
Pedih demi kepedihan ia lewati.
Hingga ia tak tahan dan memilih pergi.
Sayangnya, keputusannya untuk pergi menjauh, membuatnya menyesali segalanya.
Untuk kembali pun, Melati tak lagi memiliki nyali.
Hatinya seakan mati seiring penyiksaan yang Faisal lakukan terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Iban nggak mau sembuh, yah. Biar ayah di sini terus. Kalau Iban sehat, ayah pasti nggak mau jenguk Iban kayak kemaren-kemaren".
Faisal semakin mengeratkan pelukannya. Hatinya tidak hanya tersayat, melainkan lebih dari itu.
Seperti seonggok daging yang hancur tercabik, tidak ada yang Faisal pikirkan selain penyesalannya pada sang putra.
Gibran Al-Ghifari.....
Entah bagaimana caranya, telah berhasil meluluh lantakkan hati Faisal dengan sangat kejam.
"Enggak. Gibran ndak boleh sakit. Gibran harus sembuh demi ayah. Maaf karna ayah selama ini nggak ada buat Gibran. Tapi ayah janji, setelah ini, kita akan selalu bersama-sama".
Ungkapan Faisal rupanya mampu membuat hati Melati mencelos sakit.
Ketakutan tiba-tiba menyergap hatinya.
Bayangan Faisal akan membawa Gibran ke Yogya, Bayangan Melati di pisahkan dari anaknya, bayangan Faisal merebut Gibran secara paksa, membuat melati syok.
Berbeda dengan rianti yang juga hatinya terasa sakit. Pernyataan Faisal, mungkinkah Faisal akan membawa Melati dan Gibran tinggal bersama?
Rianti meremas dadanya sendiri yang terasa sesak.
"Gibran Ndak boleh kemana-mana. Gibran hanya akan tinggal bersama saya".
Tandas Melati dengan tegas.
Di saat yang bersamaan, dokter datang untuk memeriksa keadaan Gibran. Faisal Sama sekali tidak menjawab ungkapan Melati. Dalam hati, Faisal hanya mendesah, akan sangat sulit setelah ini untuk kembali menggenggam hati Melati.
Lantas Faisal naik ke atas ranjang dan memeluk putranya.
"Perkembangan pasien cukup stabil. Mohon untuk tidak membicarakan hal-hal yang berat untuk di bahas. pasien butuh istirahat yang cukup untuk mengembalikan tenaganya."
"Terima kasih, dok". Faisal tersenyum hangat tanpa beranjak pergi dari sana. Tatapan matanya yang dulu sangat dingin dan berjarak terhadap Melati, kini berubah lembut tatkala menatap putranya, Gibran.
"Ayo duduk di sana, Melati".
Fian mengajak Melati untuk duduk di sofa.
"Wajah kamu pucat. Kamu pasti kelelahan. Apa kita ke kantin rumah sakit dulu?".
Perhatian kecil dari Fian, rupa-rupanya mampu memicu sesak dalam dada Faisal. Entahlah. Meski ia tidak menatap melati secara langsung saat ini, tetapi ia merasakan..... cemburu?
Ah, apa pantas Faisal mengatakan demikian?
Sedang dulu ia sangat membenci Melati setengah mati, Bahkan dengan sangat kejam dirinya menendang melati tanpa perasaan dari hidupnya.
Pandangan Rianti tidak luput dari Faisal yang menatap Melati dengan penuh sesal.
Dada Rianti seketika bergemuruh hebat.
Dari sini dia menyadari bahwa, suaminya bukan hanya memendam rasa sesal, melainkan emosi lain yang terlihat dengan jelas di matanya yang tajam.
Begitu juga dengan Ratri.
Sebagai seorang ibu yang telah membesarkan Faisal, ia bisa merasakan perasaan putranya.
Cinta itu begitu nyata. Hanya saja mungkin ego dan sakit hati Faisal terlampau besar hingga ia memperlakukan Melati dengan sangat tidak manusiawi selama pernikahan mereka sembilan tahun lalu.
"Tidak, ndoro.... saya.... di sini saja."
Hanya itu yang mampu Melati katakan.
"Ayah, Iban mau pulang. Iban udah sembuh.
Di sini Ndak enak"
Suara Gibran mengiba ketika sang dokter telah pergi meninggalkan ruangannya.
Bau obat-obatan menyengat serta desinfektan, membuat Gibran tidak tidak betah berlama-lama di sana.
"Iya, kalau Gibran sembuh, Gibran bisa pulang.
Makanya cepet sembuh ya, nak".
Faisal mencoba memberi pengertian.
"Beneran Iban bisa pulang, yah?
Itu artinya....
Ayah akan pulang ke rumah Iban, kan?
Kita......
Bisa tinggal sama-sama, kan yah?"
Semua membisu ketika pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Gibran yang begitu mirip dengan Faisal.
Melati merasakan dadanya seperti di sambar petir seketika. Matanya terasa panas dan berair.
Dengan cepat, Melati menghapus air matanya, langkahnya berat saat mendekat menuju Gibran. Tangannya terulur untuk mengusap lembut kening hingga pipi putranya.
"Ndak bisa, le, ayah akan pulang ke rumah keluarganya. Ayah punya istri dan anak yang harus ayah jaga.
Mungkin.......
Sesekali ayah akan menjenguk Iban, nanti".
Itu benar.
Melati memang harus memberikan pengertian pada putranya mengenai ayahnya.
Pandangan mata Melati terarah pada Faisal dan Gibran secara bergantian. Ada sorot luka yang jelas begitu nampak di matanya.
Mata Gibran menatap Faisal tajam menuntut jawaban.
"Jadi itu alasan ayah nggak pernah jenguk Gibran dan ibu selama ini?".
Faisal diam seribu bahasa. Lidahnya terasa kelu. Otaknya seolah mati dan tidak bisa menemukan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan telak putranya.
Apa yang harus Faisal katakan?
"Iya. Ada beberapa alasan orang tua, yang tidak harus di ketahui para anak-anak yang........"
"Tapi Iban sudah besar, Bu. Iban bukan anak kecil lagi. Iban berhak tau!!".
Gibran berseru dengan hati yang tersayat.
Kalimat Melati sama sekali tidak di ijinkan berlanjut oleh Gibran.
"Bicaranya nanti saja. Iban perlu istirahat kan kata dokter tadi?"
Fian harus bisa menghentikan topik kali ini.
Sebagai seorang pria yang benar-benar memantau perkembangan dan kecerdasan Gibran, Fian tentu tau perdebatan ini tidak akan berakhir bila tidak segera di hentikan.
Begitu juga dengan Pramono dan Ratri. Ia tidak menyangka bahwa cucu sulungnya ini, memiliki pola pikir tidak seperti anak sembilan tahun pada umumnya.
"Ya udah. Iban mau istirahat. Tapi janji ya, Bu..... Ibu harus janji jangan bohongi Iban. Iban nggak suka di bohongi, seperti ibu."
Hati Gibran terluka.
Mendapati rupanya ayahnya telah memiliki istri lain, membuat hatinya terremas pilu.
Memejamkan mata, Gibran nampak ingin istirahat dan segera mendengar penjelasan yang mungkin akan membuat dunianya runtuh.
"Ayo kita ke kantin. Kita perlu bicara dan kamu perlu makan dulu.
Saya yang akan membayari semuanya."
"Ti...tidak, ndoro..... sa--saya... emmm akan menunggui Gibran disini".
"Gibran? Gibran sudah ada mas Faisal sebagai ayahnya yang akan menjaganya"
Sedikit pemaksaan, Fian menarik pergelangan tangan Melati dengan paksa tanpa menunggu jawaban Melati.
Meninggalkan Faisal, Pram, Ratri dan Rianti dengan segala gemuruh di hatinya.
Setibanya di kantin, kantin nampak lengang di sore menjelang malam hari seperti ini.
Fian segera memesan beberapa makanan untuknya dan Melati.
"Kamu masih mencintai mas Faisal?".
Senyum tipis Fian terulas.
Pandangan matanya lekat dan tidak beralih dari Melati. Menuntut jawaban terjujur yang Melati miliki.
"Untuk apa saya menjawab pertanyaan yang ndak akan pernah bisa merubah apapun, ndoro?
Sebesar apapun cinta saya pada ndoro Faisal, itu tidak lepas dari yang namanya kenangan masa lalu. Semua hanya kenangan yang tidak bisa di ubah.
Saya sudah ikhlas dan berbesar hati untuk menerima ini."
"Bagus kalau begitu, itu artinya......
Saya memiliki kesempatan untuk bisa dekat dengan kamu, Melati. Persiapkan dirimu, Mungkin satu atau dua bulan lagi, kita akan menikah. Yang perlu kamu lakukan adalah, belajar mencintai saya, membuka hatimu sepenuhnya untuk saya, dan menjadi istri yang penurut pada saya nanti. Dan saya tidak mau di bantah.
Kalau kamu menolak, itu artinya kamu akan menjadi duri dalam rumah tangga mas Faisal dan mbak Rianti. Dan saya yakin kamu tidak akan rela menjadi duri, kan?".
Senyum Fian terkembang dengan sempurna.
Melati menegang seketika.
"Sa--saya tidak bersedia, ndoro......"
"Kalau kamu tidak bersedia memakai jalan baik-baik, maka saya akan katakan pada bapak, seperti apa yang kamu katakan sepuluh tahun lalu pada bapak tentang kamu yang sudah mengaku di nodai oleh mas Faisal.
Saya yakin, bapak pasti akan menikahkan kita.
Jadi, pilihan mana yang akan kamu pilih?"
Fian tidak membiarkan Melati menolak kali ini.
....
....
....
ingat loh masih punya istri gak mikir apa udah punya dua anak sama rianti,, mau melati juga🤣🤣🤣
bawangnya banyak banget 😩😩😩😩😩