Judul : Namaku, Aya
Author : Mamak_A
Sinopsis :
Inginnya menikah dengan pria yang kita cintai, bersama hingga menua dan menuju surga.
Tapi perjalanan hidup tak bisa diduga. Semua rencana bisa saja tak sesuai. Karena sesungguhnya, skenario-Nya lah yang terbaik.
Lika liku perjuangan hidup yang hebat, harus dilalui seorang Ayatul Husna. Sejak sang ayah mengalami kecelakaan kerja, ketika dirinya duduk di kelas 1 SMA, membuat Aya harus menjadi asisten rumah tangga paruh waktu, demi melanjutkan pendidikannya.
Bahkan setelah lulus SMA, dirinya bekerja sebagai cleaning service di sebuah gedung perkantoran, untuk membiayai kuliahnya.
Selesai menempuh pendidikan di universitas, Aya pun mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak. Dia meminta ibunya untuk tidak bekerja lagi sebagai asisten rumah tangga. Aya pun menjadi tulang punggung kala itu. Hidup mereka menjadi sedikit mudah, setelah Aya menjadi seorang karyawan di perusahaan besar.
Namun, takdir seolah mempermainkannya. Ayahnya harus meninggalkan mereka untuk selamanya. Dan satu minggu setelah kepergian sang ayah. Aya harus menanggung beban yang selama ini tertutup rapi. Membayar hutang sang ayah yang jumlahnya tidak sedikit.
Aya juga harus membuat banyak keputusan penting dari dilema hidupnya, sekarang. Termasuk soal harus menikahi pria yang tidak dikenalnya demi membayar hutang sang ayah. Pria dengan usia yang terpaut 19 tahun.
Aya pun berkali-kali dihadapkan dengan pilihan menyerah atau bertahan. Bisakah gadis itu bertahan? atau, dia malah memilih menyerah?
. . .
Namaku, Aya. Ayatul Husna. Semoga kalian menyukai kisahku.
©2021, Maya Asviana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps.14
Tiga bulan setelah keluar dari pekerjaannya, Aya pun mengalami flek berkepanjangan dan Lutfi selalu menyindir Aya yang tidak bisa melayaninya dengan baik. Hingga akhirnya, wanita itu memeriksakan dirinya ke dokter spesialis obstetri dan gynecology (obgyn).
Dengan di temani sang suami, malam ini Aya tengah mengantri di salah satu rumah sakit umum di dekat rumah mereka.
Setelah nama Ayatul Husna dipanggil oleh seorang perawat, mereka masuk ke ruangan pemeriksaan itu. Aya pun menyeritakan mengenai kondisinya kepada dokter.
"Terakhir datang bulan kapan Bu?" tanya dokter.
"Tiga minggu yang lalu, Dok. Itupun hanya sedikit, dan setelahnya flek hingga sekarang."
Dokter hanya mengangguk dan memersilakan Aya untuk berbaring di ranjang periksa. "Misalnya dari pemeriksaan USG ini tidak kelihatan penyebabnya, kita akan melakukan USG transvaginal ya Bu." Dokter berujar.
Aya yang tidak mengerti maksud dokter kandungan itu, hanya menganggukkan kepalanya. Seorang perawat menyapukan gel di perut Aya bagian bawah. Setelah itu, sang dokter pun mulai melakukan pemeriksaan.
Dokter itu seperti mencari sesuatu di perut Aya, dengan alat yang dipegangnya. "Wah ....," ujar dokter.
"Kenapa Dok? istri saya punya penyakit berbahaya ya, Dok?" tanya Lutfi penasaran. Aya terlihat sedih mendengar pertanyaan suaminya. Sementara sang dokter hanya menanggapinya dengan tersenyum.
"Gak ada penyakit berbahaya kok. Bu Aya sekarang malah sedang hamil," jelas dokter. Aya dan Lutfi hanya bisa terbengong mendengar ucapan dokter spesialis kandungan itu.
Hamil?
Begitulah isi pikiran Lutfi. Padahal tadinya, Lutfi mengira jika Aya mempunyai suatu penyakit. Bahkan Lutfi berencana menikahi Lisa, jika Aya terbukti memiliki suatu penyakit yang parah.
Namun ucapan dari dokter itu, membuyarkan semua angan Lutfi untuk menikahi Lisa. Dia sedikit merasa kecewa dengan kenyataan jika Aya tidak memiliki suatu penyakit. Akan tetapi, berita kehamilan Aya itu, juga membuat Lutfi merasa sangat gembira, karena akhirnya dia akan memiliki keturunan.
"Coba lihat Bu, Pak, itu janinnya."
Aya dan Lutfi masih terdiam dan tidak dapat berkata-kata. Mata mereka hanya terpaku pada apa yang ditunjuk oleh dokter di layar monitor itu.
"Sekarang, kita dengar suara detak jantungnya." Dokter pun memperdengarkan suara detak jantung janin itu. Air mata Aya spontan menetes mendengarnya, sedangkan Lutfi tersenyum lebar sembari menatap layar monitor.
"Selamat ya Bu Aya dan Pak Lutfi," ucap Dokter sesaat sebelum Aya dan Lutfi meninggalkan ruangan itu. Senyuman lebar pun terpatri di wajah sepasang suami-istri itu. Bahkan, ketika di dalam mobil, Aya terus tertawa kecil sembari mengelus-elus perutnya. "Ternyata kamu sudah sembilan minggu ada di rahim ibu, ya Nak," ucap Aya senang.
Melihat Aya yang begitu ceria, membuat Lutfi semakin sumringah. Pria itu pun ikut mengelus-elus perut Aya. "Akhirnya, kamu hamil juga. Mudah-mudahan anak laki-laki, jadi bisa meneruskan usaha elektronik kakeknya," gumam Lutfi.
"Bagi Aya, perempuan atau laki-laki sama aja, Mas. Yang penting anak kita lahir dengan sehat dan selamat." Lutfi pun menyetujui ucapan Aya, pria itu pun menganggukkan kepalanya.
"Mas ... mau gak kalau kita ke Mc.D, Aya ingin makan burger di sana," ucap Aya pelan.
Wajah Lutfi begitu bersinar mendengar permintaan Aya. Pria itu merasa sangat senang, karena untuk pertama kalinya, Aya meminta sesuatu kepadanya, walupun hanya seporsi burger.
"Kamu ngidam ya?" tanya Lutfi senang. Aya mengangguk sembari tersenyum, "sepertinya gitu Mas. Tiba-tiba Aya ingin ke Mc.D," jawab Aya.
"Iya, ayo kita ke Mc.D," ucap Lutfi sembari mengelus perut Aya. Aya pun merasa teramat bahagia saat ini. Kehadiran buah hati dan perhatian Lutfi membuatnya benar-benar merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.
.
Esok harinya, bu Retno yang sudah mengetahui mengenai kehamilan Aya, langsung datang dan menginap di rumah anaknya itu.
Satu minggu penuh, bu Retno menginap di sana. Aya pun puas bermanja dengan ibunya itu. Setiap hari, Bu Retno selalu memasak makanan kesukaan Aya. Wanita itu pun selalu makan dengan lahap.
Setelah bu Retno kembali ke kediamannya, Aya kembali ingin memasak untuk Lutfi. Namun pria itu melarangnya. Lutfi bahkan melarang Aya melakukan pekerjaan apa pun.
Setiap pagi, pria itu mengantarkan istrinya menuju rumah mertuanya, dan kembali menjemput Aya pada sore hari. Sengaja Lutfi melakukan hal itu, agar sang istri tidak merasa bosan di rumah.
.
Sembilan bulan pun berlalu, selama sembilan bulan ini. Bobot badan Aya pun melonjak naik. Berat badannya bertambah 20kg saat ini. Sejak Aya terlihat menggemuk, Lutfi tidak lagi memberikan nafkah batin kepada Aya.
Ketika Aya menanyakan hal itu, Lutfi pun selalu mengatakan, jika ia tidak tega menjamah istrinya karena perutnya sudah membesar.
Hari-hari berlalu, tadi siang, bu Retno membawa Aya ke sebuah klinik di dekat rumah mereka karena Aya merasakan mulas yang sangat intens. Wanita itu juga mendapatkan bercak darah di pakaian dalamnya.
...****************...
.......
.......
.......
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan...
...BERI HADIAH & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....