Sebuah kisah tentang hubungan antara dua anak manusia. Melibatkan dunia mistis dan sebuah mesteri yang belum terpecahkan.
Kakek
Aku tak ingin cucuku tersakiti karena kesalahan yang dulu pernah kubuat.
Aldo
Aku ingin melepasmu, tapi aku mencintaimu.
Pria
Dirimu adalah magnet bagiku, magnet yang menarikku mendekat setiap kali kita bertemu, karena aku tak memiliki kuasa atas diriku ketika itu berhubungan dengan pesonamu.
Gadhis
Apa yang kau sembunyikan dariku mas, tetapi apapun itu aku harap itu bukanlah sebuah penghianatan.
Bagaimana kisah Gadhis dan Pria selanjutnya ketika ada lelaki lain yang juga mencintainya…
Jadilah saksi dari perjalanan kisah Gadhis dan Pria dalam “Ketika Kisah Kita ternyata Abadi”. Dibumbui dengan kisah cinta segi tiga, penghianatan, pengorbanan. tangis, dan tawa. Buktikan bahwa setiap kisah akan indah pada waktunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isnasari Sulfia Handriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Availabel
Malam ini semua mahasiswa yang menjalani praktek kerja sudah berkumpul di ruang tengah rumah Pak Karun. Gadhis masih belum bisa menetralkan ekspresi wajahnya, antara terkejut, nggak suka dan curiga berkumpul menjadi satu. Meskipun hanya satu minggu, karena tempatnya yang jauh dari rumah mau tidak mau dia akan bertemu dengan laki-laki itu setiap hari, sungguh menyebalkan.
“Dhis, calon imamku ternyata ada disini,” bisik Santi sambil senyum-senyum nggak jelas.
“Males aku, perasaan dia selalu ada dimana aku ada lo San.”
“Jangan GR kamu, siapa tahu Allah itu selalu menempatkan dia dimanapun aku berada.”
Gadhis hanya memajukan bibirnya mendengar ucapan Santi. Petir…ya namanya Petir. Kalau mendengar kata petir yang dia ingat hanya satu orang yaitu petir boy. Teman sekolahnya dulu, namanya Pria tetapi dia memanggilnya dengan julukan petir boy. Anak lelaki yang juteknya melebihi anak perempuan, tapi perhatiannya tak pernah bisa dia lupakan.
Senyum tipis menghiasi wajah Gadhis, bila mengingat Pria dia akan selalu tersenyum. Dimana kamu petir boy, bagaimana keadaanmu sekarang. Apakah kamu masih sejutek dulu? Pertanyaan-pertanyaan yang selalu bergelayut dikepalanya ketika mengingat anak itu.
“Selamat datang mas-mas dan mbak-mbak mahasiswa calon guru dan calon kerja kantoran,” kalimat pembuka makan malam dari Pak Karun memecah lamunan Gadhis. “Malam ini saya sengaja mengundang mbak-mbak dan mas-masnya disini tujuannya agar kita saling mengenal. Antara saya, mbak dan masnya biar semua saling tahu begitu…Saya juga ingin mengucapkan selamat datang ke desa kami ini. Meskipun desa kami ini sangat dekat dengan kota, tapi kami ini masih benar-benar orang desa, ndesani istilahnya.”
Kalimat pembuka yang sangat menyenangkan didengar, begitu welcome dengan kedatangan para mahasiswa di desa itu. Semua mendengar dengan khusuk dan sangat setuju dengan apa yang diucapkan oleh Pak Karun. Memang seharusnya mereka saling kenal dan saling bantu menyelesaikan semua tugas yang menanti selama seminggu ke depan.
“Monggo dari pihak mbak-mbak dan mas-mas nya silahkan untuk mewakili barangkali ada yang ingin disampaikan.”
Gadhis melihat lelaki itu berdiri dengan sikap jumawa dan sangat berwibawa. Tak bisa dipungkiri dia kelihatan sangat tampan. Memang benar kata Santi, kalau tidak ada Mas Aldo bisa saja dia jatuh hati pada laki-laki itu. Sadar Dhis…sadar, calon suami sedang kerja keras menata masa depan. Gadhis menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan untuk menenangkan debaran hatinya.
“Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarokatuh, selamat malam buat teman-teman, Pak karun serta Bu karun. Tidak banyak yang ingin saya sampaikan. Sebagai wakil dari teman-teman yang ada disini, saya hanya ingin mengucapkan terimakasih karena sudah diterima dengan baik. Untuk kedepannya kami mohon bantuan dari bapak dan bu karun agar tugas-tugas kami dapat selesai tepat waktu dengan hasil memuaskan. Saya kira itu sudah cukup mewakili apa yang dipikirkan teman-teman yang ada disini. Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarokatuh,” kata-katanya pas, padat dan tidak bertele-tele.
“Calon imam aku Dhis,” bisik Santi sambil memandang Pria dengan mata berbinar. Gadhis tak menimpali kalimat Santi, dia sudah sibuk memilih hidangan yang ada di atas tikar. Piring ditangannya masih kosong belum terisi apapun.
Gadhis melihat semua hidangan itu dengan hati ciut, semua makanannya berwarna merah. Ada sayur tempe, tahu dan irisan berbagai macam cabai yang dimasak dengan santan. Ada oseng tahu yang juga ada irisan cabai di dalamnya. Ada juga sayur krecek yang kuahnya juga berwarna merah. Dari semua hidangan itu, tak ada satupun yang akan aman masuk ke dalam perutnya.
Haduh kenapa semuanya merah sih, kalau nggak merah pasti ada irisan cabai disitu. Aku harus makan yang mana…akhirnya dia biarkan piringnya kosong tidak terisi apa-apa.
Ketika sedang bingung, dari arah belakang ada seseorang yang memegang tangannya dan menariknya menjauhi ruang itu tiba-tiba, “Aku tahu kamu bingung mau makan yang mana, aku lihat piringmu masih kosong.”
Gadhis menghempaskan tangan Pria kuat-kuat, pegangan tangan itu langsung terlepas dengan satu hentakan, “lepaskan tanganku.”
“Maaf, aku bermaksud baik, aku tahu kamu perlu makan. Dan aku perhatikan dari tadi tidak ada satupun hidangan yang disediakan kamu sentuh. Kamu tidak ingin perutmu sakit karena kelaparan kan?”
Gadhis diam – omongannya benar, kalau aku menolak bantuannya aku akan sakit perut karena lapar. Setelah diam beberapa saat untuk berpikir, akhirnya gadhis memutuskan mengikuti ajakan laki-laki itu untuk mencari makan.
“Mmm…petir, namamu petir kan, aku akan mengikutimu kali ini, karena aku nggak mau mati kelaparan. Tapi awas, jangan macam-macam sama aku,” ancam gadhis sambil melotot dan mengangkat kedua tangannya dengan gaya bertinju.
“Hahahaha…aku tidak tertarik dengan calon istri orang,” jawab Pria sarkas sambil berjalan meninggalkan Gadhis menuju penginapan sebelah balai desa.
Gadhis mengikuti langkah cepat Pria dengan berlari kecil. Ternyata laki-laki itu langkahnya panjang sekali, sedikit sulit bagi gadhis untuk mensejajarkan langkahnya.
“Kamu bisa nggak sih, langkahnya agak dipelanin sedikit gitu, capek tahu jalan setengah berlari begini.”
“Bisa…tapi aku khawatir terlalu malam, kalau kita disangka mesum sama penduduk lokal terus dibawa ke depan kepala desa buat dikawinkan kamu mau?”
“Eh…enaknya sendiri kalau ngomong…” Gadhis tak melanjutkan kalimatnya, dia tahu apa yang dikatakan laki-laki itu masuk akal juga.
Keduanya melangkah ke arah tempat motor Pria terparkir. Pria mengambil helm miliknya yang tergantung di jok bagian belakang kemudian meletakkannya didalam rumah.
“Kita nggak usah pakai helm, cari makannya hanya di sekitar sini saja kok,” ucap Pria menjelaskan. Gadhis hanya menganggukkan kepala tanpa banyak kata.
Pria sudah siap diatas motor ninjanya menunggu Gadhis yang seperti ragu-ragu untuk naik.
“Ayo naik, biar segera terisi perutnya.”
Karena bentuk motor yang lebih tinggi di bagian belakang mau tak mau Gadhis harus berpegangan pada tangan Pria untuk naik. “Maaf ya, aku pegang tangannya,”
Pria menyimpan senyum di bibirnya. Dia tahu Gadhis tidak akan bisa melihat senyumnya karena penerangan yang minim. Terasa sekali kalau Gadhis duduk dengan gestur tubuh yang tidak nyaman. Ketika Pria melirik kaca spion Gadhis duduk posisi tubuh tegak, mungkin karena takut bersentuhan jadi Gadhis sengaja menjaga jarak tubuhnya.
Kita lihat saja siapa yang akan menang, aku dengan motorku, atau kamu dengan kecanggunganmu.
Ketika motor sudah dinyalakan Pria sudah mengingatkan agar Gadhis memeluk tubuhnya. Tapi dasar Gadhis memang keras kepala jadilah dia tersentak sedikit ke belakang saat motor melaju. Dengan terpaksa Gadhis akhirnya memeluk tubuh Pria agar tidak terjatuh. Pria memasang senyum lebar, hatinya bersorak seperti mendapat lotere.
Akhirnya…kamu memelukku Dhis, meskipun ini tidak bisa dikatakan berpelukan, tapi ini cukup bagiku.
Malam itu ada satu hati yang sangat bahagia karena sebuah pelukan dari perempuan yang selalu menghiasi mimpi-mimpi malamnya. Meskipun bagi orang lain itu tidak bisa disebut sebagai pelukan tetapi itu sudah cukup baginya. Dia akan merekamnya dalam hati dan menyimpannya dalam kalbu seperti sebuah album foto yang menyimpan kenangan.
Santi mondar-mandir tak karuan di depan rumah Pak Karun menanti sahabatnya yang tiba-tiba menghilang. Dia yakin Gadhis pergi bersama laki-laki bernama Petir itu. Sekilas tadi dia memang sempat melihat kalau Gadhis ditarik keluar oleh lelaki itu, tapi karena perutnya yang lapar dan piringnya terlanjur penuh dengan makanan akhirnya dia abaikan saja tadi.
*Sialan Gadhis, ada-ada saja harusnya tadi dia menolak ajakan laki-laki itu. Kalau dia diculik bagaimana, bisa-bisa donatur tetap makan siangku hilang*.
Ketika ada suara motor mendekat setelah satu jam menunggu didepan teras rumah, Santi langsung berlari menghampiri, benar saja dia melihat gadhis turun dari motor laki-laki itu. Tanpa ada kata-kata lelaki itu langsung melajukan motornya menjauhi rumah Pak Karun.
“Sialan kamu Dhis, aku khawatir tahu,” sembur Santi tanpa basa-basi sambil menarik Gadhis masuk ke kamar.
Wajah gadhis masih tak berekspresi, seperti wajah seseorang yang mengalami kebingungan, ”Dhis kamu diperkosa sama itu cowok?” tak ada jawaban dari Gadhis, hanya tatap mata Gadhis yang menatap lurus ke arah Santi.
“Dhis…..kamu jangan nakutin, bisa dijadikan hiasan mobil aku sama Mas Aldo, kalau terjadi apa-apa sama kamu. Belum lagi Tante Marta, bisa jadi campuran rujak cingur aku dhis…Gadhis,” teriak Santi antara tidak sabar dan khawatir.
“Aku rasanya seperti baru menemukan sesuatu yang selama ini hilang San, aku nggak tahu apa itu. Tapi rasanya nyaman dan menenangkan.”
Santi melotot melihat Gadhis sambil berteriak, “Gadhis…jangan macam-macam kamu, dia calon imam aku, kamu sudah punya calon suami,” tangannya tak berhenti memukul lengan Gadhis histeris.
*Maaf ya San, selama janur kuning belum melengkung berarti orang itu masih boleh dimiliki siapa saja*.
semangat
lanjut
aku suka ceritanya