Cinta monyet yang meninggalkan luka dan trauma di hati seorang pemuda bernama Ahmad Dzaki. Karena perasaan bersalah atas apa yang menimpa wanita yang dicintainya, Dzaki memilih menjauh dan berubah menjadi sosok arogan, kasar dan dingin.
Setelah 18 tahun, akhirnya Dzaki bertemu kembali dengan Aleya, gadis yang dicintainya. Namun pertemuan itu justru semakin membuat Dzaki sakit hati dan menyesal. Akankah Dzaki dan Aleya bisa bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilmi Syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran
"Aleya laporan biaya promosi sudah kamu emailkan ke saya?" Jihan yang tadinya terlihat terburu-buru berhenti di depan pintu ruangan divisi pemasaran.
"Sudah bu" Aleya mengangguk pelan
"Laporan rekapan penjualan bulan lalu bagaimana?"
"Belum bu, bukannya deadlinenya minggu depan?"
"Deadlinenya memang minggu depan, tapi kalau bisa gak perlu nunggu sampai minggu depan kan?" Jihan tersenyum licik
Aleya hanya diam,
"Ok, kamu kerjakan ya. Besok pagi simpan laporannya di meja saya" Jihan pergi tanpa menunggu jawaban Aleya
Aleya menghela nafas panjang, dia akan lembur lagi malam ini.
"Bi, laporanmu tolong kirim ke emailku ya" Aleya meminta laporan Bianca untuk membuat rekapan
"Aku bahkan belum narik data Al, lagi ribet banget nih. Kamu tahu sendiri kan kalo permintaan di areaku bulan ini melonjak banget" Bianca mencari alasan
Aleya melirik jam di komputernya, 16:10
"Ya udah kamu tarik datanya aja, biar aku yang lanjutin nanti" Aleya memperbaiki posisi duduknya, siap-siap lembur malam ini
Aleya merentangkan kedua tangannya, melakukan sedikit gerakan peregangan, jam sudah menunjukkan pukul 22:03. Ruangan kerjanya yang luas sudah sepi sejak beberapa jam yang lalu, tinggal Aleya sendiri yang masih bertahan. Aleya mengecek ponselnya, tadi ada beberapa pesan masuk tapi karena keasyikan kerja, dia belum membacanya.
Satu pesan dari Dinda
Alee, tolong beliin pembalut yaa, udah gak ada stok buat besok pagi. 🥺🥺
Dua pesan dari Beni
*Aku serius sama kata-kata aku tadi siang, aku harap kamu mau mempertimbangkan aku, Aleya.
Kabari aku kapanpun kamu siap, aku bisa menunggu*.
Beni adalah salah satu manager produksi di JD.Corp. Karena pekerjaan yang saling berhubungan Beni dan Aleya memang sering bertemu di kantor. Beni adalah salah satu dari segelintir orang yang memperlakukan Aleya dengan baik. Namun sejak Aleya cuti berduka tiga bulan yang lalu, Beni mulai menunjukkan ketertarikannya. Dia beberapa kali menghubungi Aleya secara pribadi
Aleya teringat dengan percakapannya dengan Beni hari ini.
Flashback on
"Aleya, kamu punya pacar?" Beni bertanya saat dia dan Aleya sedang sibuk melakukan uji kualitas barang yang akan disalurkan ke customer mereka
"Kenapa Mas?" Aleya heran, Beni yang salah bicara atau dirinya yang salah dengar.
"Kamu udah punya pacar?" Beni mengulang pertanyaannya
Aleya diam sesaat
"Gak ada yang mau mas, lagian aku ogah pacaran" Aleya menjawab asal
"Kalau aku ngajak kamu nikah, mau gak?"
Aleya diam, entah harus percaya atau tidak. Dia tidak mau salah mengambil sikap
"Aku serius, aku mau kamu jadi istriku. Gak usah dijawab sekarang kok, aku bakal tunggu jawabanmu sampai kamu siap"
Flashback off
Aleya menghelas nafas, diajak menikah seperti itu mengingatkan Aleya pada cinta monyetnya saat di bangku SMA, tiba-tiba hatinya menjadi sakit. Akhirnya Aleya memilih untuk pulang ke rumahnya, dia ingin meminta pendapat Dinda dalam hal ini.
"Besok pagi sisa aku print aja" Aleya merapikan meja, mematikan lampu di ruangannya dan berjalan menuju lift.
"Kamu habis lembur?" terdengar suara yang terdengar familiar memancing Aleya untuk menoleh ke sumber suara
"Kak Sam? Eh iya pak" Aleya malu-malu, Sam berdiri tidak jauh di belakangnya
"Santai aja kali, gak ada orang lain kok dek"
Aleya memang tidak mau memanggil Sam dengan sebutan kak jika di kantor. Dia tidak ingin Sam semakin terlibat dengan gosip miring yang selama ini di arahkan padanya. Bahkan beberapa kali Aleya pura-pura tidak melihat Sam saat di kantor demi menjaga kenyamanan laki-laki yang sudah dia anggap kakak sendiri.
Aleya melihat ke sekeliling, benar saja, hanya ada mereka berdua.
"Kamu mau pulang kan? aku antar ya?" Sam menawarkan diri dan berjalan di depan Aleya
"Jangan repot-repor kak, lagian aku takut nanti kak Sam makin digosipin" Aleya menolak
Sam berhenti berjalan lalu membalikkan badannya, membuat Aleya yang berjalan di belakangnya mengerem otomatis langkahnya.
"Digosipin sama hantu maksud kamu? Jelas-jelas gak ada orang lain" Sam tertawa
"Buruan" Sam mempercepat langkahnya menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan lobi. Dia membuka pintu mobil untuk Aley, setelah Aleya duduk dia pun menutup pintu, berjalan ke kursi kemudi dan mobil pun meninggalkan gedung JD.Corp dengan santai.
Dua pasang mata melihat adegan itu dari kejauhan. Dzaki dan Ferdy keluar dari lift VIP tepat saat Sam membuka pintu mobil untuk seorang gadis
"Dia bukannya orang yang waktu itu?" Ferdy berusaha mengingat kejadian saat Dzaki disiram ice greentea
Dzaki tidak mengatakan apapun, dia teringat kejadian itu, tepatnya dia teringat dengan tatapan gadis yang menyiramnya hari itu.
***
Di mobil Sam
Aleya sudah duduk kembali di kursinya setelah membeli titipan Dinda di mini market yang tidak jauh dari kantornya.
"Lagi mikirin apa sih?" Sam bertanya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kelihatan banget ya kak? Kak Sam dari dulu gak pernah berubah, salut" ujar Aleya
Sam mengangguk, suasana hening selama beberapa detik
"Menurut kak Sam, Mas Beni itu gimana sih?" Aleya mulai membuka mulutnya
"Bee...nii, beni yang manager produksi?" Sam memperjelas ingatannya. Aleya mengangguk
"Dia lumayan baik, emangnya kenapa?" Sam mulai curiga
"Dia mau melamar aku kak, menurut kak Sam bagaimana?" Aleya memantapkan diri meminta pendapat Sam. Bagaimanapun, selain Dinda hanya Sam yang selama ini betul-betul peduli dan selalu pasang badan setiap Aleya mengalami masalah.
"Orangnya sih baik, ibadahnya juga bagus, pokoknya tipe kamu banget deh. Hmm, tapi kamu juga tertarik sama dia gak?" Sam balik bertanya
Aleya hanya diam, pikirannya melintasi ruang dan waktu.
Melihat reaksi Aleya, Sam memutuskan untuk fokus mengemudi. Dia sangat berharap sahabat yang sudah dia anggap adik sendiri itu bisa bahagia entah siapapun yang dia pilih menjadi pendampingnya. Walaupun dia tahu kalau Dzaki sebenarnya masih mencari Aleya, Sam tidak mau terlalu ikut campur karena takut akan menyakiti salah salah satu dari mereka.
"Kak, Ade apa kabarnya yah?" Suara Aleya sangat pelan, hampir tidak terdengar oleh Sam
Sam tidak tahu harus bereaksi seperti apa, dia hanya diam di sisa perjalanan menuju kontrakan Aleya. Ini pertama kalinya Aleya menyebut nama itu sejak mereka bertemu 2 tahun yang lalu.
***
Keesokan harinya
Sam baru saja duduk di meja kerjanya, dia teringat percakapannya dengan Aleya semalam. Berpikir sejenak lalu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya
Sam menelepon Reka, setelah berdering beberapa kali akhirnya panggilannya dijawab
"Halo Sam"
"Halo Pak Reka, ada sesuatu yang harus saya sampaikan"
"Ya, silahkan" Reka menjawab dengan tenang
"Pak, ini masalah Dzaki dan Aleya" Sam berhenti sejenak
Sam lalu menceritakan percakapannya dengan Aleya semalam, tentang Beni yang melamar Aleya juga tentang Aleya yang tiba-tiba menanyakan kabar Dzaki.
"Saya mengerti, biar saya yang urus sisanya. Terima kasih Sam" Reka mematikan teleponnya
"Katanya sudah pensiun, tapi kok pagi-pagi udah sibuk pa" Widya menyindir Reka
"Mama harusnya bangga punya suami yang hebat, sudah tua tapi tetap diandalkan oleh mereka yang masih muda-muda" Reka tersenyum
"Ma, panggil Dzaki makan malam di rumah ini hari Minggu depan" Reka tiba-tiba serius
"Ada apa pa?"
Reka diam sejenak, menatap wajah istrinya yang sudah mendampinginya hampir 40 tahun.
"Ma, papa mau cerita sesuatu"
Reka merasa ini saat yang tepat untuk meceritakan semua kepada Widya. Dia mencerikan semua yang dia ketahui termasuk Aleya yang sudah dilamar oleh Beni
"Papa kenapa gak cerita dari dulu, mama merasa bersalah banget udah maksa jodohin Dzaki sama Jihan" Widya merasa bersalah
"Ma, kita gak tahu rencana Allah tentang jodoh mereka, dipaksa seperti apapun kalau emang gak jodoh mereka gak akan bersatu" Reka menghibur istrinya
"Kasihan sekali Aleya, kasihan anak kita pa" Widya menangis
***
Sementara itu Sam termenung di ruangannya, dia mengingat kejadian dua tahun yang lalu saat dia berhasil menemukan keberadaan Aleya setelah mencarinya hampir setahun penuh.
Hal pertama yang dilakukan Sam adalah menemui Reka dan menceritakan kondisi Aleya saat itu serta kedekatan Aleya dengan Dzaki.
"Sejujurnya saya lega setelah mengetahui semua itu, tapi saya ragu untuk membuat mereka bertemu satu sama lain"
"Aleya gadis yang dewasa dan baik pak, dia tidak akan menyalahkan Dzaki atas kecelakaan itu" jawab Sam waktu itu
"Saya percaya dia gadis yang baik, Sam"
Reka mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan untuk merekrut Aleya menjadi karyawan di perusahaannya, juga memberinya gaji yang lebih besar dibanding karyawan lain. Reka melakukan banyak hal untuk menolong Aleya, tapi tentunya melalui perantara Sam.
Hal itu dilakukan karena Reka karena tidak mau Aleya merasa terbebani dengan bantuan yang Reka berikan.
Bersambung...
Sudah Ku tinggalkan like banyakkk juga.dan fav
Ku juga menunggumu di Karya Ku ...Saling Dukung yukk....
MAKASIH..
..Banyakkk