Bercerita tentang seorang gadis SMA kelas 2 bernama Ran. Diam-diam Ran jatuh cinta pada teman barunya bernama Saka. Saka adalah murid pindahan yang memiliki kehidupan yang nyaris sempurna. Cinta Ran pun berbalas. Namun, ternyata ada satu hal yang membuat mereka ngga dibolehkan untuk pacaran lebih dari 30 hari. Sebuah rahasia yang ngga ada satu orang pun di sekolahnya tau tentang kehidupan Ran, dan hal itu membuat Saka sangat penasaran. So, what is Ran’s secret?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
SMK DWI KARYA
“Sejak kapan mereka jadi dekat?”
“Gue juga ngga tau.”
“Tapi gara-gara kedekatan mereka berdua, banyak cewek yang patah hati.”
“Tapi kok bisa-bisanya ya Saka tertarik sama cewek kayak dia?”
“Cewek kayak dia gimana maksud lo?” Tiba-tiba Devanya muncul di belakang dua cewek yang sedang membicarakan Saka dan Ran dari luar kelas.
“Bodyguardnya udah datang. Cabut.”
“Dia belum tau Ran secantik dan sebaik apa. Bahkan pintar” Gerutu Devanya, emosi.
“Sabar, beb.” Kata Kenan, mengelus punggung Devanya agar tenang.
“Tapi kan aku ngga rela kalo teman aku diejek kayak gitu.”
“Iya, aku tau.”
“Ran!” Panggil Devanya, setengah berteriak, seraya berjalan menghampiri Ran yang sedang duduk di kursinya.
“Ada apa?”
“Hari ini lo ikut klub menggambar?”
“Oh iya, gue hampir lupa.” Kata Ran, baru teringat.
“Bukannya kita mau nonton hari ini?”
“Iya. Lo udah beli tiketnya ya di online?”
“Iya.”
“Kalian janjian nonton?” Tanya Devanya.
“Iya.” Jawab Ran, nyengir.
Devanya langsung memandang curiga dua temannya itu.
“Nonton yang jam berapa?”
“Jam empat.”
“Jam empat kan gue masih di klub menggambar.”
“Emang ngga bisa izin?”
“Ran udah keseringan izin. Lama-lama lo dikeluarin dari klub menggambar.” Kata Devanya, mengingatkan.
“Terus gimana donk?”
“Ngga tau.” Jawabnya, bingung.
Ran langsung menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Tapi dengan sigap Saka langsung meletakkan telapak tangannya di atas meja, dan dengan cepat pula Ran langsung menahan dahinya begitu melihat tangan Saka ada di depan matanya. Tinggal satu centi lagi mereka nyaris bersentuhan untuk pertama kalinya.
***
16:10 Bioskop
“Yakin ngga apa-apa ngga ikut klub menggambar lagi?” Tanya Saka, khawatir.
“Iya, ngga apa-apa.” Jawabnya, ragu.
“Maafin aku ya. Seharusnya aku tanya kamu dulu mau nonton film yang jam berapa.” Kata Saka, merasa bersalah.
“Ngga apa-apa. Santai aja.”
Meskipun Ran bilang begitu Saka tetap merasa khawatir.
“Oh iya, abis nonton kita makan dulu ya.”
“Emang durasi filmnya berapa lama?”
Saka langsung menggoogling.
“Dua jam.”
“HAH?!” Ran kaget.
Itu artinya hari ini ia akan pulang lewat dari jam 6 lagi. Padahal semalam Ale sudah mengingatkannya supaya tidak pulang lewat dari jam 6.
Ran pun langsung mengirim pesan ke Ale, dan mengatakan
“Bang Ale, hari ini aku pulang lewat dari jam 6 lagi. Karena ada kegiatan di klub menggambar.”
Send.
Ran sedikit merasa lega setelah mengirim pesan pada suaminya. Ia pun kembali menikmati popcornya dengan tenang, dan nonton dengan hati damai.
***
18:10
Langkah kaki Ran langsung terhenti, begitu ia baru keluar dari ruang bioskop studio 3.
“BANG ALE???”
Ran terkejut melihat keberadaan Ale yang muncul tiba-tiba di depannya. Tapi tidak untuk Saka.
Saka sama sekali tidak merasa terkejut dengan keberadaan Ale. Saka justru merasa kasihan pada Ran. Karena senyuman di wajah Ran langsung berubah drastis menjadi raut kesedihan, begitu melihat Ale.
“Saka, aku pulang duluan ya.” Kata Ran pamit, sambil tersenyum sendu. Senyuman yang terlihat dipaksakan.
Saka tak menyahuti ucapan Ran.
Lalu Ran segera berjalan menghampiri Ale, dan pulang bersama Ale.
***
Ran tidak bisa mengatakan apapun. Rasa bersalahnya karena sudah membohongi Ale membuatnya tidak bisa berkutik. Ia hanya diam dan menutup rapat mulutnya.
Di pertengahan perjalanan pulang, Ale menghentikan mobilnya.
“Ran” Suara Ale terdengar kecewa.
“Aku minta maaf. Aku salah.” Kata Ran, mengakui kesalahannya. Sebelum Ale mengatakan sesuatu padanya.
“Kenapa Ran jadi suka bohong sama Abang?”
“Aku salah.” Aku Ran, lagi.
“Ran, Abang…”
“Aku salah.” Ran memutus kalimat Ale.
“Kalo Abang Ale mau hukum aku, aku bakalan terima.”
Ale kaget mendengarnya.
“Ran, Abang…”
“Aku salah. Aku salah. Aku salah.” Ran kembali memutus kalimat Ale yang belum selesai Ale katakan.
Ale pun langsung diam, dan ia memandangi Ran yang terus menyalahkan dirinya tanpa menangis.
“Aku tau aku salah. Aku udah ngga nurut sama Abang Ale. Aku juga udah bohong sama Abang Ale. Makanya aku bakalan terima kalo Abang Ale mau hukum aku.”
“Kenapa Ran ngomong gitu? Abang ngga mungkin hukum kamu.”
“Ngga apa-apa Abang Ale hukum aku, biar aku jadi nurut lagi sama Bang Ale.”
Melihat Ran terlihat begitu menyedihkan, bahkan ia terus mengakui kesalahannya sendiri tanpa keluar air mata sedikit pun, membuat Ale merasa tidak tega.
Ale pun perlahan mendekati Ran, lalu dengan hangat ia peluk Ran sambil membelai lembut kepala Ran.
“Ran, Abang ngga semarah yang Ran pikir. Abang cuma mau Ran jadi anak yang jujur. Dengan siapa pun Ran bergaul asalkan Ran merasa nyaman dengan teman Ran itu, Abang ngga akan melarang. Asalkan Ran tau batas. Ran bisa tau mana yang baik untuk Ran, dan mana yang salah untuk Ran.” Kata Ale, menasehati dengan pelan.
Perlahan Ale semakin menyadari, kalau memang tak seharusnya gadis remaja seusia Ran harus merasakan beban seperti ini. Mungkin semua ini tidak akan terasa berat, andai ada cinta di hati Ran untuk Ale.
Namun sekeras apapun Ran menolak keberadaan Ale, kenyataan tetap tidak bisa ia hindari kalau Ale adalah suaminya. Laki-laki yang harus ia hormati sampai akhir hidupnya.
***
Keesokan harinya
Setelah berseragam rapih, Ran keluar dari kamarnya. Ran berdiri diam di depan pintu kamarnya sambil melihat Ale yang sudah menunggunya untuk sarapan bersama.
“Bang Ale, kenapa Bang Ale ngga marah sama aku? Padahal aku udah buat banyak kesalahan.” Tanya Ran.
Ale menyambut pertanyaan Ran dengan senyuman hangat. Lalu
“Kesini. Ran duduk dulu.” Kata Ale, menyuruh Ran untuk segera sarapan.
Ran pun menurut. Ia berjalan ke meja makan, lalu duduk di depan Ale.
“Ran suka telur dadar pake daun bawang sedikit kan?” Tanya Ale.
“Iya”
“Ini” Ale memberikannya. Ia sudah menyiapkannya.
“Bang Ale, kenapa ngga jawab pertanyaan aku?”
“Ran, Abang memang kecewa sama Ran karena Ran udah bohong sama Abang. Tapi, kalo Abang marah sama Ran, apa Ran bisa janji ngga akan bohong lagi sama Abang?”
Ran diam. Ia berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Ale sangatlah benar. Kemarahan Ale padanya hanya akan membuatnya malah membenci Ale.
“Ran, apa ada teman cowok Ran yang lagi Ran suka?”
Ran kaget mendengar pertanyaan itu. Ia jadi panik, takut, dan bingung.
“Ngga apa-apa, Ran jujur aja sama Abang. Abang benar-benar ngga akan marah.” Kata Ale, berusaha meyakinkan kekhawatiran Ran.
Harus berkata jujur? Tapi pasti akan menyakiti hati Ale.
Atau, berkata bohong? Tapi pasti akan ketahuan juga.
Ale tahu kalau Ran bingung menjawab pertanyaannya.
Ran serba salah untuk menjawabnya. Karena Ran sedang menjaga hati Ale.
“Ran” Ale kembali memanggil namanya dengan sangat lembut. Sama seperti yang selalu Ale lakukan pada Ran dari delapan tahun yang lalu.
“Yang harus Ran lakukan sekarang adalah bahagiain diri Ran. Ran ngga usah pikirin Mama, Papa, Ayah, Bunda. Abang ngga akan kasih tau ke mereka.”
“Ran, Abang akan baik-baik aja. Jadi, Ran ngga usah pikirin hati Abang.” Kata Ale, mencoba tegar.
Ran diam. Diam dan berpikir dalam.
Apa Ale benar akan baik-baik saja? Atau ia sedang kembali mengalah???
***
SMK DWI KARYA
Gaya cool Saka saat sedang menunggu seseorang di pintu gerbang sekolah, membuat para siswi yang melihatnya langsung terpesona. Dalam hitungan detik saja, foto Saka langsung viral dan jadi trending topik di forum chit-chat sekolah.
“WHOAAA tampannya Saka.”
Kalimat itulah yang terucap hampir semua siswi yang melewatinya.
Menyandarkan punggungnya di dinding, sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Membuat pesona Saka semakin sempurna.
Begitu Saka melihat Ran datang, ia langsung berlari menghampirinya dan menyapanya dengan senyuman.
“Hai”
Untuk ketiga kalinya Ran dibuat terpesona oleh senyuman Saka. Ran jadi melamun karena senyumannya. Matanya pun tak terlepas dari wajah Saka yang membuat Ran jadi ikut tersenyum.
“Ini” Saka memberikan segagang lollipop stroberi pada Ran.
“Buat aku?” Lamunan Ran pecah.
“Iya” Kata Saka, menyodorkan permen lollipop ke wajah Ran.
“Aku ngga suka.” Tolaknya. Lalu pergi meninggalkan Saka.
“Kalo aku ganti rasa cokelat, kamu mau ngga?”
“Tetap ngga mau.”
Saka menggeleng melihat penolakan Ran. “Yang dia suka cuma air putih.”
“Selain itu, dia juga ngga suka dekat gue, susah dideketin, kebanyakan jaim, suka nangis, ngga suka minuman yang cewek lain pada suka, ngga suka makanan yang cewek lain pada suka. Seplain itu rasa hidupnya. Tapi…kenapa gue terus penasaran sama dia?”
Dari kejauhan, Saka melihat Ran yang sedang bicara dengan Aluna. Bukan hal aneh melihat siswa bicara dengan guru apalagi wali kelasnya. Tapi begitu melihat raut berbeda yang terpancar dari wajah Ran, Saka pun jadi bertanya.
“Ran, Gimana? Sudah disampaikan ke Abang Ale?”
Dengan raut sungkan, Ran menggeleng pelan sembari mengatakan “Maaf. Aku…bingung gimana cara sampeinnya ke Bang Ale.”
“Bingung kenapa?”
“Bu Aluna, sebaiknya Ibu sampein sendiri aja ke Bang Ale. Aku takut salah ngomong nantinya.”
“Begitu ya?” Aluna kecewa.
Ran pun kesulitan berkata-kata. Karena saat ini hubungannya dengan Ale pun sedang dalam kekacauan perasaan. Tak mungkin dalam keadaan sekarang Ran harus menyampaikan tentang perasaan Aluna pada Ale.
“Aku…pamit ke kelas.” Kata Ran, seraya menyalimi Aluna.
“Iya.”
09:10 11Multimedia1
Untuk kesekian kalinya Saka melamun karena memikirkan Ran.
“Ka, apa segitu cantiknya ya Ran di mata lo? Sampe-sampe lo sering ngeliatin Ran?” Tanya Juna, yang sejak tadi memperhatikannya.
Saka menoleh Juna dengan tatapan kosong. Pertanyaan Juna tiba-tiba membuatnya bertanya balik.
“Iya. Kenapa gue kayak gini sama tuh cewek? Padahal, pacar-pacar gue sebelumnya jauh lebih cantik dan modis dari tuh cewek. Tapi, kenapa cewek satu ini bisa buat gue rela sesabar ini ngadepin sikap labilnya dia???”
Sementara Ran…
Perasaannya kini bimbang. Tiba-tiba saja ia jadi merasa tidak rela kalau Ale sampai dekat dengan Aluna, sekalipun Aluna adalah perempuan yang baik.
***
gk ad kelanjutanya kah....??
smngat thor.. smg kamu sehat...selalu
tapi lagi otw review. tunggu aja ya ☺️
atau juga aluna????
thooor katanya mau posting foto bang ale yg asli manaaaaa??
jg lupa si ran nya juga ya....
kalem ga ??
aku suka bngt...
iya kan thor??
uuh makin sayang bgt sama bang ale
lnjut dong thor