NovelToon NovelToon
BIMA LOVERS

BIMA LOVERS

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: NOVIA IP

Bimatara Reza Winajaya tumbuh menjadi pria tampan yang amat di kagumi semua wanita yang melihat. Tapi kisah cintanya tidak semulus di bayangkan banyak orang. Meski fisik mendukung tapi soal wanita dia kurang beruntung.

Banyak orang yang mencintai tapi cintanya hanya untuk wanita di masa lalunya. Clara Mariana Argata.

Pertemuan dengan wanita yang mirip wanita di masa lalu menghantuinya. Ciara Hanaria Azata. Memiliki banyak rahasia yang wanita itu sembunyikan. Hingga wanita itu diam-diam mengagumi Bima saat pertemuan pertama.

Apa Bima akan melupakan sosok wanita yang di cintai selama hidupnya? Atau wanita yang mirip dengan masa lalunya yang akan mengubah segalanya, menjadi cinta baru...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peduli dan Perhatian

Hai guys, apa mohon maaf ya baru bisa update 

Soalnya lagi kurang sehat 😷

Selamat membaca 

Jangan lupa Komen dan Jempolnya (👍)

***

Seperti biasanya Hana sudah duduk manis di depan meja. Bangun lebih awal dan berangkat satu jam sebelum masuk kerja. Masih ingat jelas daya ingatnya kalau Bosnya tidak suka dengan karyawan yang lelet. Hana tidak mau mendengar kata tersebut di kumandangkan lagi Bosnya karena Hana bekerja dengan segenap jiwa dan penuh semangat dalam menjalankan tugasnya. Hana menyiapkan berkas untuk meeting nanti siang, perusahaannya sedang melakukan proyek besar-besaran. Pembangunan apartemen yang di alokasi di kota Malang, Bali, Medan, Bogor dan kota besar lainnya.

Jam masuk kerja sudah berlalu tapi Bosnya belum juga kelihatan batang hidungnya. Bukannya dia tidak suka dengan orang lelet, lalu dia apa? Meski dia atasan tapi harus mencontoh yang baik untuk karyawannya kan? 

Karena merasa ingin minum teh, Hana bergegas menuju pantry kantor. Disana Hana melihat ada dua pria dan juga Mang Casmad sedang melayani keduanya. Hana berjalan mendekati Mang Casmad. 

"Pagi, Mang Casmad." Sapa Hana ramah tamah membuat kedua pria tadi yang fokus pada Mang Casmad beralih ke arahnya dengan tatapan penasaran.

"Pagi Mbak Hana. Mau bikin kopi buat Pak Bima, yah?" tanyanya membuat kedua pria itu mengerut kening dan mengalihkan pandangan pada Mang Casmad.

Belum sempat Hana menjawab, seorang pria terlebih dulu angkat bicara. 

"Anak baru, Mang?" tanya pria berkacamata minus. Hana diam menyaksikan.

"Iya baru, Mbak Hana ini, sekretarisnya Pak Bima. Bos kita yang baru." jelas Mang Casmad membuat keduanya kaget dan manggut-manggut.

"Mang Hana tolong buatkan teh manis." Hana membuka suara tidak nyaman karena sekarang mendapat tatapan dari kedua pria itu. 

"Bukan kopi pahit biasanya?" Mang Casmad sembari mengaduk kopi yang dibuatnya. 

"Ini buat Hana bukan Pak Bima." tukas Hana melirik sekilas pada kedua pria itu. 

"Siap Mbak ditunggu."

Hana duduk di sebelah kedua pria itu dan lebih memilih menyibukan dengan ponselnya. Namun tidak butuh lama keduanya mengajak ngobrol sembari mengajak untuk berkenalan.

"Kenalin aku Gio." pria itu menyodorkan tangannya dan pria gendut satunya lagi mengikuti mengajak berkenalan. "Aku Roby"

"Saya Hana." 

"Ternyata gosip itu benar, ya?" kata Gio membuat Hana kebingungan.

Gosip? apa maksudnya? Hana mendelik ke arah Gio yang tersenyum jahil. 

"Gosip apa?" balasnya.

"Gosip kalau sekretarisnya Pak Bima itu cantik. Ternyata yang memang benar. Kamu cantik." seru Gio menatapnya dari bawah sampai atas membuat Hana tidak suka cara tatapannya.

Dasar pria genit.

"Selain cantik kamu juga ramah mudah bergaul. Nyatanya sama Mang Casmad aja kamu gak sungkan. Biasanya kan orang yang punya jabatan bagus selalu gengsi menjabat atau berbicara dengan lawannya yang gak sepadan." timpal Roby. 

"Dalam masalah kerjaan saya tidak memandang status atau jabatan seseorang, toh kita sama-sama kerja cari uang di perusahaan ini." tegas Hana. Tidak pernah bangga akan jabatannya sebagai sekretaris yang dia cari adalah kenyamanan bekerja.

"Setuju sama kamu. Ngomong-ngomong makan siang boleh bareng dong." ajak Gio yang menurut Hana benar-benar genit dan sok kenal sok dekat.

"Maaf saya sudah ada janji dengan sahabat saya." balas Hana sopan tidak ingin menyinggung dan menolak halus ajakan mereka.

"Sayang banget padahal aku pengen akrab sama kamu."  timpal Roby. 

"Lain kali saja."

Tidak lama Mang Casmad datang dengan teh manis yang Hana inginkan. Ia bernafas lega karena bisa terbebas dari kedua pria di sebelah yang jelas-jelas ingin menggoda.

"Hush. Kalian jangan godain Mbak Hana. Mau saya lapor Pak Bima." cetus Mang Casmad memberikan belaan dan memberi teh manis pada Hana. 

Hana tersenyum, berterima kasih atas teh manisnya. 

"Mang Casmad gak asyik kita cuma mau temenan doang. Benarkan Hana?" elak Gio sekilas meminta jawabannya.

"Iya. Mang Casmad. Aku juga lagi perbanyak teman kantor."

"Dengar sendiri kan Mang?" cetus Roby. 

Mang Casmad manggut-manggut. Hana tahu kalau pria paruh baya itu ingin Hana berhati-hati.

Hana berdiri. "Kalau begitu Hana duluan. Takut Pak Bima datang." katanya sopan berpamitan pada mereka. Hana bukan takut hanya saja tidak mau mendengar ceramah Bosnya yang membuat Hana pusing tujuh keliling.

Ia melangkah cepat sembari membawa teh manisnya meninggalkan Pantry.

Sampai di depan Hana bernafas lega kalau Bosnya pasti belum datang. Sambil menunggu Hana menikmati tehnya. Namun saat hendak meminum tehnya seseorang sudah berdiri didepan meja. Hana terkejut hampir saja tersedak tehnya. Ia cepat meletakkan cangkirnya dan berdiri tegak menghadap sosok yang ditunggunya. 

Bimatara Reza Winajaya.

Hana menelan salivanya susah payah. Matanya menatap Bosnya penuh dengan pertanyaan. Kemudian gugup apalagi saat pandangan keduanya bertemu. Hana menjadi salah tingkah. Cobaan di pagi hari. 

"Kamu baru masuk?" tanya Bima mengintrogasinya. Saat datang ia tidak melihat Hana namun ia tahu kalau tasnya sudah ada. 

"Saya sudah masuk satu jam yang lalu, Pak." Hana menjawab dengan hati-hati agar tidak salah lagi berucap. Yang ada nanti Hana sendiri yang akan kena batunya. Apa Pak Bima sudah datang saat Hana berada di Pantry? Bagaimana ini pasti Hana akan mendapat ceramahan panjang dari Bos galaknya. 

"Tapi saya tidak melihat kamu. Saya tidak suka karyawan yang berbohong." ucap Bima tegas. Sebenarnya Bima tidak ingin memarahi Hana karena masalah kecil seperti saat ini. Tapi begitu emosinya selalu melonjak naik setiap melihat Hana.

"Maafkan saya, Pak. Saya tadi ke Pantry kantor dulu membuat teh manis karena perut saya sedikit sakit." balasnya. Hana tidak bohong kalau memang perutnya terasa tidak enak. Mungkin tanda-tanda akan datang bulanan.

Bima menghela. Ia melihat Hana tampak pucat. "Baiklah kali ini saya maafkan. Tapi lain kali saya bakal hukum kamu, Hana." desis Bima melenggang masuk ke dalam ruangannya. Meninggalkan Hana yang masih menunduk diam. 

"Saya malah senang dapat hukuman dari Pak Bima." gunamnya pelan kemudian duduk di depan mejanya, menekan perutnya yang mulai terasa sakit. 

***

Cuaca sudah mulai mendung pertanda akan turun hujan. Hana duduk bersama dengan seorang pria berjas dengan perawakan tinggi dan wajah ramahnya tersenyum manis ke arahnya. Jadwal siang ini Bosnya bertemu dengan Pak Serkan yang jadwalnya pernah dimundurkan. Hana diajak Bosnya ikut dan sekarang ia berada di restoran yang menyajikan makanan timur tengah. Bosnya ngobrol serius sambil menikmati makan dengan Pak Serkan dan Hana duduk menikmati makannya dengan sekretaris dari Pak Serkan yaitu Ahmed. Mereka asli Turki hanya saja mereka fasih berbahasa hingga dalam komunikasi Hana tidak ambil pusing.

"Anda terlihat sangat pucat?" tanya Ahmed sedikit cemas akan wanita dihadapannya terlihat diam. "Apa anda benar baik-baik saja?"

Hana menekan perutnya. Benar saja tamu bulanannya datang. Untung Hana sudah mempersiapkan diri sebelum berangkat dengan Bosnya. Hana menahan sakitnya tidak biasanya sesakit ini. 

"Saya baik-baik saja." bohongnya tidak ingin merusak acara Bosnya.

"Apa anda merasa sakit, sejak tadi saya melihat anda terus menyentuh perut anda?"

"Saya hanya sedang mendapat tamu bulanan." Hana tidak peduli ia berkata jujur. Habis tidak ada alasan lain dan memang ini sangat menyakitkan.

"Oh! Kalau begitu saya pesankan teh hangat untuk anda untuk mengurangi sakitnya."

Hana mengangguk, mengiyakan.

Tanpa Hana tahu, Bima sembari tadi memperhatikannya. Ia memang merasa kalau Hana sudah pucat seperti dia sedang menahan sakit. Jarak meja Bima dan Hana tidak jauh jadi Bima mendengar obrolan Hana sejak tadi. Bima berdiri permisi untuk ke toilet. Ia bisa melihat Hana sudah memiliki teh hangat yang di pesan Ahmed.

Dalam toilet, Bima menekan sebuah nomor menghubungi seseorang yang bisa membantunya. 

"Assalamualaikum, Mommy." salam Bima saat nomornya sudah terhubung.

"Waalaikumsalam ada apa, Biboy?" tanya Luna penasaran saat Bima menghubungi.

"Aku butuh bantuan, tapi janji dulu tidak akan banyak bicara." ujar Bima.

Luna diam sejenak. "Uhm baiklah. Apa itu?" balas Luna mengiyakan.

"Apa obat untuk seorang wanita saat datang bulan?" Bima memberanikan diri bertanya pasti Mommy-nya pasti terkejut.

"Biboy, siapa yang datang bulan? Apa dia pacar kamu?" sahut Luna cepat. Karena Bima bertanya tentang hal itu. Luna senang Bima bisa bersikap peduli akan wanita. Ini pertama kali mendengar Bima begitu gelisah. 

"Mommy please, tadi sudah janjikan. Bima butuh jawaban cepat." Bima mengingatkan. 

"Baiklah, Mommy hanya terkejut. Beri dia teh hangat."

"Sudah. Tapi dia masih kesakitan."

"Pakai pad saja."

"Pad?" tanyanya tidak mengerti.

"Koyo tempel khusus wanita saat sedang datang bulanan. Kamu bisa beli di apotik atau swalayan terdekat." Jelas Luna. 

"Kalau begitu terima kasih."

Bima langsung menutup sambungan. Luna berdecak saat Bima memutuskan sambungan tanpa memberitahu siapa wanita itu.

Kemudian Bima menghubungi Pak Nandar untuk membeli yang dimaksud Mommy-nya.

Setelah urusan selesai Bima kembali bergabung dengan Pak Serkan yang sejak tadi menunggunya sekilas melihat Hana masih dengan wajah pucatnya. Ia jadi tidak tega melihat Hana begitu tersiksa. Tunggu, kenapa aku jadi perhatian dengannya?

Bima terus menerapkan pada pikirannya kalau apa yang dilakukan karena peduli dan membantu sesama manusia tidak lebih.

Lima belas menit kemudian Pak Nandar datang dengan kantong putih dan memberikan pada Hana. Wanita itu terlihat kebingungan. Memang Bima sebelumnya sudah memerintahkan kalau pesanan itu diberikan langsung pada Hana. Setelah melihat isi kantong, Hana sekilas melihat ke arah Bosnya yang masih sibuk mengobrol dengan Pak Serkan. Hana yakin Bosnya sebenarnya peduli dan perhatian padanya hanya gengsi saja untuk mengakuinya. Kadang Hana selalu di buat uring-uringan Bosnya. Maksudnya apa mau tarik ulur, punya hubungan saja tidak.

Hana berpamitan untuk pergi ke toilet. Memakai koyo Dan menempelkannya di perut. Baru di tempelkan saja panas koyonya sudah terasa membuat Hana sedikit lega. Perut Hana memang selalu kram saat datang bulan. Keluar dari toilet kembali ke tempat semula Ahmed masih duduk di tempatnya sambil memegang berkas di tangannya dan Bosnya melirik ke arahnya namun tidak menampakan senyum atau ekspresi lainnya. Bosnya pelit ekspresi pada Hana sedangkan pada orang lain dia bisa tersenyum.

Apa Hana tidak menarik perhatian? Ia menggeleng pelan kembali duduk dengan Ahmed.

Pertemuan antara mereka berjalan lancar kerjasama pun sudah didepan mata. Mereka akan bertemu kembali di perusahaan meski pertemuan kecil tapi menjadi sebuah bomber besar kelak ke depannya. Ini awal kepemimpinan Bima.

Bima dan Hana berdiri di depan restoran menunggu Pak Nandar datang yang sebelum nya sudah berpamitan dengan Pak Serkan yang sudah lebih dulu kembali. Hana melirik Bosnya di samping ia berniat berterima kasih.

Hana berdehem. "Terima kasih untuk yang tadi." Hana yakin Bosnya tahu maksud ucapannya. 

Bima menatap Hana. Kedua pandangan mereka bertemu. Pandangan Bosnya seakan menariknya masuk kedalam matanya.

"Saya hanya tidak ingin kamu merepotkan Ahmed. Jangan berpikir kalau saya peduli atau perhatian sama kamu." ketus Bima pandangannya beralih pada mobil di depannya.

Hana terdiam sesaat namun kembali sadar dan menaiki mobil saat Bima sudah terlebih dahulu naik. Ia duduk di depan matanya mulai memanas menahan air matanya agar tidak keluar. Ucapan Bosnya sangat menyakitkan. Dadanya sesak dan bergemuruh apa salah Hana? Apa yang Bosnya tidak menyukai? Rasanya Hana ingin sekali mengeluarkan segala unek-uneknya selama beberapa minggu ini. Apa tanggapan pria itu? Apa Hana akan di pecat? Ia tidak peduli toh pekerjaanya di Jakarta masih banyak bukan hanya perusahaan ini saja. 

Dalam mobil suasana terasa hening. Tidak ada yang mengeluarkan suara apapun sampai Pak Nandar melirik Hana.

"Mbak Hana pucet banget, masih sakit?" tanya Pak Nandar. Hana tersenyum. Lihatkan Pak Nandar  yang notabene seorang supir saja perhatian dan peduli akannya. Tapi Bosnya? Ia hanya peduli akan dirinya sendiri. Hana tidak habis pikir untuk apa Bosnya membelikan pad koyo padanya? Mau bikin baper? Jangan harap. Mulai saat ini dalam hati dan jiwanya Hana akan mencoba untuk berhenti menyukai Bosnya yang galak. Itu pun kalau Hana bisa. 

"Sudah lumayan." Balas Hana tidak ingin banyak bicara karena suasananya sedang buruk.

"Syukur kalau begitu. Soalnya tadi Pak―"

"Kita langsung antar Hana pulang saja Pak Nandar. Gak usah ke kantor lagi." potong Bima membuat Hana sedikit tersentak dan menoleh kebelakang. Pak Nandar hanya mengangguk, mengiyakan. Hana yakin sekali kalau tadi Bosnya sengaja mengalihkan pembicaraan padahal Hana penasaran kelanjutannya.

"Tapi, pak, apa ini masih jam kerja, saya masih bisa lanjut bekerja." sanggah Hana. Ia merasa aneh dengan sikap Bosnya peduli tapi tidak mengakui. Baik tapi tidak mau diakui. Lalu ia harus bersikap bagaimana menghadapinya? Diam atau pura-pura tidak tahu, begitu?

"Kalau kata saya pulang ya pulang Hana. Saya tidak menerima penolakan. Kamu kasih tau alamat rumah kamu pada Pak Nandar." tukas Bima sudah final dan Hana tidak bisa menolak.

Hana menunduk, mengiyakan. Percuma saja kalau ia bicara tidak akan didengar. 

"Pak Nandar, anter ke toko kue Bunda Hana saja. Nanti Hana kasih tahu arah-arahnya." kata Hana membuat Bima mengernyit.

"Toko kue? Bundanya Mbak Hana punya toko kue?" Pak Nandar mulai penasaran sedangkan Bosnya hanya diam mendengarkan dan tentu saja fokus dengan ponselnya. 

"Iya." singkat Hana. 

"Wah, kalau anak saya nanti ulangtahun bisa pesan sama Mbak Hana, tapi dapat diskon dong." cetus Pak Nandar.

"Jangankan diskon buat Pak Nandar gratis deh. Kasih tahu aja kapan anak Bapak ulangtahun." balasnya dan membuat Pak Nandar sumringah.

"Alhamdulillah. Siap nanti Bapak kabarin ya."

Hana mengangguk. 

Setelah perjalanan menempuh selama tiga puluh menit, sampailah mereka di toko kue milik Bundanya. Sebelum Hana keluar ia berpamitan terlebih dahulu pada Bosnya dan pada Pak Nandar.

Bima hanya melihat punggung wanita itu masuk ke dalam toko dan berlalu, Bima masih penasaran akan Hana dan masih belum bisa bersikap baik. Beberapa menit mobil masih di depan toko buku karena Bima masih melamun akan sesuatu. Bima tersadar saat suara deheman Pak Nandar terdengar.

"Kita kembali ke kantor."

Mobil melaju menuju arah perjalanan ke kantor dan selama perjalanan Bima masih diam. Apa sikapku tadi keterlaluan?

***

Terima kasih

Jangan lupa Vote Rankingnya ya 😎🙏

1
reea
blangkar or brankar bukan trolly thor🤣😭
Vy Maniez
saya sudah baca berulang x tapi belum ada jga lanjutannya.
Hardiana Rahim
othorrnya kmana ini?sdh brp tahun ini gk prnh up?mirisnya/Grimace//Smug/
ros
ceritanya gantung belum di selesaikan
adm dome
udah 1thn ga ad update an thor.
Desi Nofita Sari
ad yg tau thornya kemn
Desi Nofita Sari
kemna si author nya kok gak pernah up date n gak ad keterangan juga, padahal suka sm novel karya thor
Zulfha Barawas
halo thor .. apa kabar .. kangen cerita nya .. udab lama gak up 😭😭😭😭
Desi Nofita Sari
kok blm update juga kaj
Desi Nofita Sari
kemna kah gerangan author ini kok gak update2, msh ditunggu untuk selesai ni thor, kmu sehat kan
Desi Nofita Sari
kak thor kok gak up2 si kasih tau dong kenapa,,,, kamu sehatkan
Herlan Budiman
ini author'y kmna ya? ko ga pernah d lanjut
Khey Rachmat
kok ga update lg thor sudah mau setahun.. aku kangen bima
Hana Rohana
gantung ,bolak balik cek ga ada up terus
Lia ajalah 💋
otor ba'a kabanyo nih...kok gak pernah up lagi,gantung deh ceritanya tor ✌️😥
Anonim
Lanjut thor penasaran dengan cerita selanjutnya
Anonim
bima
Anonim
Yang A thor
Anonim
Visual siapa thor?
Desi Nofita Sari
thor knm ni da lm banget gak up date
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!