Cerita ini hanyalah karangan fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat dan kejadian, berarti othor adalah cenayang yang hebat yang bisa menerawang. eyaaa ... canda kaleee.
Blurb:
"Eh ... asal loe tahu saja, mau ngambek mau nggak, gue tetep tampan kok!" kilah Rey.
"Kan kalau loe ngambek, loe nggak tampan Rey! Jadi jangan ngambek ya, biar tampan!" rayu Jihan lagi seraya mengerjapkan kedua matanya.
"Idih!! Loe bilang gue tampan juga nggak ikhlas buat apa?" timpal Rey.
"Ihh ... loe kok ngeselin sih! Kan gue udah nglakuin apa yang loe mau. Masa iya gara-gara gue salah sebut loe marah dan ga bantu gue, jahat loe!" rengek Jihan dengan mimik sedih dan kesal.
Rey yang di angkat adik oleh Julia sang mama dari Jihan, tidak pernah akur sedikitpun dengan gadis itu, bukan tak akur benci hanya tak akur karena belum saling mengerti.
Setting tempat bukan di indo ya, trus agama juga ga othor cantumin, takute nanti bertentangan dengan norma/ajaran yang ada, anggap aja ini cerita fiktif yang ada di dunia novel halu dan ga mungkin ada di dunia nyata.
Pict from Google, editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14- Mati lampu
Terkejut, Rey yang tengah menaiki anak tangga langsung merogoh ponsel yang ada di sakunya. Bergegas berjalan menuju kamar Jihan karena dia tahu gadis itu takut kegelapan, benar saja belum sampai pintu kamar Jihan, Rey mendengar gadis itu berteriak sangat kencang memanggil namanya.
Mempercepat langkahnya, dengan pencahayaan yang minim Rey melihat Jihan meringkuk di atas tempat tidur dengan suara terisak.
"Rey!" panggil Jihan sekali lagi.
Meski melihat secercah cahaya, Jihan masih takut untuk membuka matanya, ia hanya menahan agar tidak terus menangis.
Duduk di sisi ranjang Jihan, Rey mendekatkan ponselnya ke Jihan agar gadis itu tidak merasa gelap.
"Rey! Loe kok jahat seh?" suara Jihan terisak, ia masih menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.
"Ya Tuhan, Je! Jahat bagaimana?"tanya Rey bingung.
"Loe kesel sama gue, kan! Makanya loe matiin listriknya karena loe tahu gue takut gelap," jawab Jihan terisak.
"Satu komplek mati, Je! Kalau gue yang matiin, gimana gue bisa sampai kesini secepat ini," kata Rey menjelaskan.
Jihan tidak menjawab perkataan Rey, ia masih terisak karena rasa takutnya. Merasa bersalah karena baru saja bertengkar dengan Jihan, ditambah kini gadis itu ketakutan. Rey tidak ingin perdebatan mereka terus berlanjut, tangan kiri memegang ponsel tangan yang lainnya iya gunakan untuk meraih punggung Jihan, Rey mendekap Jihan dalam pelukannya agar gadis itu tidak merasa takut.
Membelalakan matanya, Jihan tidak menyangka jika Rey memeluknya. Namun dalam pelukan pemuda itu Jihan merasa sedikit tenang, ia menenggelamkan wajah ke pundak Rey mencoba mengatur napasnya agar bisa kembali normal, mencoba menghilangkan rasa takutnya serta rasa sesak di dadanya.
Tanpa berkata apa-apa, Rey membelai rambut panjang Jihan mencoba menenangkan gadis itu agar tidak merasa takut lagi. Ia tahu betul jika dalam kegelapan yang pekat Jihan akan takut bahkan sampai tidak bisa bernapas dengan normal.
"Je! Gue nyari lilin atau senter dulu" lirih Rey.
"Nggak! Loe sini aja, jangan kemana mana!" tolak Jihan yang masih takut.
Menghela napas, Rey akhirnya tidak jadi pergi. Jihan masih memeluknya seakan enggan melepas pelukannya pada pemuda itu. Pada akhirnya mau tidak mau Rey tetap berada disana, ia bersandar pada kepala ranjang, sedangkan Jihan memeluk erat lengan pemuda itu sambil memejamkan matanya, ia takut jikalau Rey pergi meninggalkannya.
Emm ... itu Author nggak koment ah! Kan gue lagi menikmati kue balok sisa kemarin di depan lilin karena sedang mati lampu. Serasa nungguin lilin buat ngepet gue. Astojim!
*
*
*
*
*
Matahari mulai meninggi, cahayanya merangsek masuk melewati sela sela jendela hingga sampai pada dua manusia yang masih tertidur.
Jihan yang merasa silau mulai membuka matanya perlahan, ia mengusap matanya hingga ia sadar siapa yang tidur dengan posisi duduk di sampingnya. Menatap wajah lelah Rey, ia tahu pemuda itu pasti semalaman terjaga untuk menunggu dirinya yang tidur karena rasa takut.
Tidak ingin membangunkannya, Jihan turun dari tempat tidur perlahan kemudian ia pergi keluar kamar menuju dapur. Menguncir rambutnya, Jihan melihat di lemari pendingin apa yang bisa dia masak. Hanya menemukan telur dan beberapa sayur, Jihan memilih untuk membuat roti isi untuk sarapan.
Roti isi dengan segelas susu sudah siap di atas meja, bermaksud untuk membangunkan Rey ternyata pemuda itu sudah berdiri di pintu menatap ke arahnya.
"Wah dalam rangka apa ini loe nyiapin sarapan?"tanya Rey dengan sedikit nada menggoda.
Menyipitkan matanya, Jihan tahu Rey pasti akan besar kepala jika tahu maksud dari dirinya membuat sarapan.
"Dalam rangka terima kasih karena loe semalaman udah jadi satpam gue!" jawab Jihan .
"Oh ... gue kira loe perhatian ma gue, Je! Makanya gue dibikinin sarapan!" kelakar Rey.
"Idih ... narsisnya kumat!" cibir Jihan.
Rey hanya tersenyum melihat Jihan sudah tidak seperti semalam, ia duduk di kursi meja makan kemudian menyantap sarapan yang sudah di buat susah payah oleh Jihan.
*
*
*
*
*
*
Di rumah sarapan bersama, di kampus pastinya beda lagi. Jihan langsung di sambut oleh Jason begitu ia keluar dari mobil, tentu saja Jihan senang ia langsung tersenyum melihat Jason yang sudah menunggunya.
"Keluarga loe sudah balik? Semalam gue nelpon tapi ponsel loe mati?" tanya Jason.
"Semalam ponsel gue jatuh trus mati, keluarga gue balik hari ini," jawab jihan.
Nggak mungkin kan kalau Jihan bilang semalam mati lampu terus dia ketakutan dan semalaman meluk lengan Rey.
"Oh ... gue pikir loe kenapa. Sekarang ponselnya bagaimana?" tanya Jason lagi.
"Sudah nyala lagi, tidak rusak juga," jawab Jihan lagi.
Ahirnya mereka berjalan bersama menuju jurusan. Tentu saja lagi lagi mereka bertemu dengan Rey dan Tisa, tapi kali ini ada Arya juga.
"Rey!" kali ini Jason yang memanggil dulu.
Rey, Tisa serta Arya tentu saja langkah mereka langsung terhenti. Arah mata Jihan tertuju pada tangan tisa yang menggandeng tangan Rey.
" Hai, Jas! Hai, Je!" sapa balik Rey yang tidak lupa menyapa Jihan juga.
Jihan hanya tersenyum canggung mendengar Rey menyapanya. Meski ia tidak senang dengan Tisa yang menggandeng Rey, tapi dia bisa apa? Memangnya dia siapa?.
"Oh ya, Rey! Dua minggu lagi Mapala akan ngada'in camping, ikut ya!" ajak Jason.
"Mapala? Apa itu?" tanya Jihan yang tidak mengerti.
"Mahasiswa pecinta alam, Je!" jawab jason.
"Loe mau ikut? Kalau mau nanti gue daftarin." imbuh Jason.
Mendengar hal itu, Rey langsung melotot pada Jihan mengisyaratkan agar gadis itu tidak ikut , bukan tanpa alasan! Camping itu biasanya di adakan sekitar lima hari di area pegunungan juga akan ada acara naik gunung, Jihan yang takut pada kegelapan bagaimana bisa ikut acara seperti itu.
Melihat ekspresi Rey tentu saja membuat Jihan malah semakin tertarik untuk ikut.
"Boleh, kalau loe ikut gue juga," jawab Jihan dengan nada manja seraya merangkul lengan Jason.
Jihan dengan sengaja menatap Rey dengan senyum ejekan. Rey menyipitkan matanya, tidak menyangka jika gadis itu akan main-main dengan ketakutannya sendiri. Tisa yang menyadari ada yang berbeda dengan tatapan Jihan pun melihat ke arah Rey, ia merasa ada sesuatu di antara kedua orang itu.
"Loe gimana, Rey! Ikutkan?" tanya Jason lagi pada Rey yang belum menjawab ajakannya.
Rey terlihat berpikir, kemudian ia memberi jawaban yang tidak di sangka oleh Jason, Jihan maupun Arya.
"Gue nggak ikut!" jawab Rey tegas.
"Hah! Tumben Rey? Yakin loe nggak ikut?" tanya Arya yang terkejut.
"Yakin! Kaki gue masih sakit, kakak gue pasti ngelarang gue ikut," jelas Rey yang tentu saja itu hanyalah sebuah alasan.
Arya maupun Jason akhirnya tidak bisa berkomentar , padahal mereka tahu jika Rey tidak pernah absen jika Mapala melakukan kegiatan Camping atau naik gunung.
*
*
*
*
*
*
...Bantu Like dong😓😓😓 serius othor pengen di like ma koment. pengen ngrasain dapat like berjibun kek apa. serius kalau like komennya berjibun, othor bakal rajin creejiiii up meski dobel, oceh😎😎...
...Udah Crejii up, kalau ga like koment tiap bab othor ogah crejii crejiii😒😒...
...Baca Novel Author yang lain juga ya .......
...Thank u...