NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.

Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.

Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.

Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.

Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14 : Ini Pasti Jebakan

Di luar rumah sakit...

Miranda masuk ke dalam mobil, Markus menyusul. Begitu pintu tertutup, Miranda mengembuskan napas panjang.

"Kita berhasil."

Markus menatapnya. "Belum."

Miranda mengernyit. "Apa maksudmu?"

"Gunawan terlalu tenang," sahut Markus.

Miranda terdiam, beberapa detik kemudian ia tersenyum. "Biarkan dia tenang." Ia menatap ke luar jendela. "Orang seperti Gunawan akan merasa menang ketika menemukan sebuah petunjuk, padahal..." Senyumnya berubah dingin. "Petunjuk itu memang sengaja aku berikan."

Mobil mulai bergerak meninggalkan rumah sakit, namun Miranda tidak tahu. Di saat yang sama, Gunawan sedang mengirimkan pesan lain kepada Adrian.

Gunawan: Jangan percaya dokumen itu. Saya yakin Miranda sengaja membuatnya.

Beberapa detik kemudian, balasan Adrian masuk.

Adrian: Saya juga berpikir begitu.

Gunawan tersenyum tipis. Lalu Adrian mengirim pesan berikutnya.

Adrian: Tapi saya tahu satu hal. Rendra tidak akan lari tanpa alasan.

Gunawan membaca pesan itu. Gunawan: Maksudmu?

Balasan Adrian muncul beberapa detik kemudian.

Adrian: Cari tahu siapa yang terakhir kali menghubungi Rendra sebelum dia melarikan diri.

Gunawan langsung terdiam, matanya melebar. "Kenapa aku tidak memikirkan itu sejak awal?" Ia segera menoleh kepada pengawalnya. "Periksa ponsel dan riwayat komunikasi Rendra."

"Baik, Tuan."

Gunawan kembali melihat mobil Miranda yang sudah semakin jauh. Kini ia tidak lagi hanya mencurigai wanita itu. Ia yakin, Miranda sedang memainkan permainan besar. Dan jika dugaan Adrian benar... Rendra bukan pemain utama.

Ia hanya salah satu bidak, sementara pemain sebenarnya masih berdiri bebas di luar sana mengawasi mereka, menunggu saat yang tepat untuk bergerak dan tanpa diketahui Gunawan maupun Adrian.

Di dalam mobil lain yang berhenti beberapa ratus meter dari rumah sakit, Rendra sedang duduk dengan wajah pucat. Tangannya gemetar ketika ponselnya berdering.

Nomor tanpa nama muncul di layar. Rendra menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat.

"Hallo..."

Suara dari seberang terdengar dingin. "Kamu seharusnya tidak membiarkan mereka melihat dokumen itu."

Rendra menelan ludah. "Saya tidak sengaja..."

"Kesalahanmu sudah terlalu banyak."

Rendra memejamkan mata. "Jangan lakukan apa pun kepada saya."

Terdengar tawa pendek dari seberang. "Baik." Suara itu kemudian berubah lebih pelan. "Kalau kamu ingin tetap hidup... jangan pernah menyebut nama Miranda."

Sambungan terputus.

Rendra menatap layar ponselnya dengan tubuh gemetar. Kali ini, ia menyadari bahwa orang yang paling ia takuti mungkin bukan Miranda. Ada seseorang yang jauh lebih berbahaya di belakang semua ini.

***

Malam semakin larut.

Di rumah persembunyian, Adrian masih duduk di ruang keluarga sambil menatap layar ponselnya. Pesan terakhir dari Gunawan terus terbayang di pikirannya.

Cari tahu siapa yang terakhir menghubungi Rendra.

Adrian mengernyit. "Ada sesuatu yang terasa janggal," pikirnya.

Nadira datang membawa dua cangkir teh. "Kamu belum tidur?"

Adrian menggeleng. "Belum."

Nadira meletakkan teh di atas meja. "Apa kamu masih memikirkan Rendra?"

"Ya."

"Apa menurutmu dia benar-benar tahu siapa dalangnya?"

Adrian terdiam sesaat. "Dia sepertinya tahu sesuatu," jawabnya. "Tapi dia sengaja menutupinya."

Nadira duduk di sampingnya. "Kalau begitu, kita harus menemukan Rendra, sebelum ada yang mengancamnya."

Adrian menatap Nadira. "Kamu benar."

Tiba-tiba ponsel Adrian bergetar.

Pesan dari Gunawan masuk.

Gunawan: Kami menemukan sesuatu. Riwayat komunikasi Rendra menunjukkan sebuah nomor yang menghubunginya tepat tujuh menit sebelum dia melarikan diri. Nomor itu terdaftar atas nama perusahaan.

Adrian langsung menegakkan tubuh.

"Perusahaan apa?" tanya Nadira.

Adrian membuka pesan berikutnya, matanya membelalak.

"Perusahaan keamanan."

Nadira mengerutkan kening. "Perusahaan keamanan?"

Adrian mengangguk pelan. "Yang lebih aneh..." Adrian membaca pesan Gunawan berikutnya. "Perusahaan itu ternyata pernah menjadi vendor keamanan Rumah Sakit."

Nadira terdiam. "Jadi mereka punya akses ke rumah sakit?" tanyanya.

"Ya, sepertinya begitu."

Adrian mulai menyusun semuanya, orang-orang yang masuk ke rumah sakit. Rekaman CCTV yang diubah, kebakaran di ruang arsip. Rendra yang tiba-tiba melarikan diri. Dan sekarang perusahaan keamanan yang memiliki akses ke berbagai area rumah sakit.

"Selama ini kita terlalu fokus kepada Miranda," gumam Adrian.

Nadira menatapnya. "Maksudmu Miranda bukan dalangnya?"

"Bukan." Adrian menggeleng. "Aku yakin Miranda terlibat. Tapi dia mungkin bukan orang yang mengendalikan semuanya."

Nadira membelalak. "Kalau Miranda bukan pemain utama..." Ia menelan ludah. "Lalu siapa?"

Adrian belum sempat menjawab, tiba-tiba seluruh lampu rumah padam... lalu gelap.

Nadira tersentak. "Adrian?"

Adrian langsung berdiri. "Jangan bergerak."

Dari luar terdengar suara langkah kaki. Kemudian semakin banyak Adrian segera menarik Nadira menjauh dari jendela.

"Om Gunawan punya sistem keamanan cadangan," bisik Nadira.

"Kalau listrik padam bersamaan dengan sistem keamanan..." Adrian menatap pintu. "Berarti seseorang sengaja mematikannya."

Tiba-tiba terdengar suara dari lantai bawah.

Brak!

Nadira terkejut.

Adrian menggenggam tangannya. "Kita ke ruang keamanan."

Mereka bergerak perlahan melewati lorong gelap. Namun ketika sampai di tangga, terdengar suara seseorang dari bawah.

"Periksa semua kamar."

Nadira membekap mulutnya, Adrian menatapnya serius. Mereka bukan orang biasa, mereka sudah menemukan rumah persembunyian itu. Padahal alamat rumah itu seharusnya hanya diketahui Gunawan dan orang-orang kepercayaannya.

Adrian berpikir cepat. "Ikuti aku."

Mereka masuk ke sebuah ruangan kecil di dekat tangga. Adrian menutup pintu perlahan, di dalam ruangan itu terdapat panel tersembunyi.

Adrian menekan beberapa tombol, sebuah pintu kecil terbuka di balik lemari.

Nadira menatapnya tak percaya. "Ada jalan rahasia?"

"Sepertinya Om Gunawan sudah menyiapkan rumah ini untuk keadaan terburuk."

Mereka masuk, namun baru beberapa langkah... ponsel Adrian kembali bergetar. Kali ini bukan pesan dari Gunawan. Nomor tidak dikenal, satu foto dikirim. Adrian membukanya, wajahnya seketika berubah.

Nadira mendekat. "Apa itu?"

Foto tersebut memperlihatkan sebuah ruangan. Di dalamnya terdapat seseorang yang duduk dengan tangan terikat, oria itu adalah Rendra. Di bawah foto itu terdapat sebuah pesan.

Kalau ingin Rendra tetap hidup, datang sendiri.

Nadira memucat. "Adrian, jangan pergi."

Adrian mengepalkan tangannya.

Pesan kedua masuk.

Dan jangan beri tahu Gunawan.

Adrian menatap layar cukup lama, kemudian ia tersenyum tipis. "Justru karena mereka mengatakan jangan beri tahu Om Gunawan..."

Nadira menatapnya bingung.

Adrian menunjukkan layar ponselnya. "Aku yakin Om Gunawan juga sedang diawasi."

Sementara Nadira hanya terdiam.

Adrian kemudian mengetik sesuatu.

Adrian: Kalau kalian ingin aku datang, beri tahu lokasinya.

Balasan muncul hanya beberapa detik kemudian.

Pelabuhan lama, gudang 17. Satu jam lagi.

Adrian menatap pesan itu.

Nadira langsung menggeleng. "Ini jebakan."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa kamu masih ingin pergi?" tanya Nadira heran.

"Karena kalau Rendra memang tahu siapa dalangnya, ini satu-satunya kesempatan kita," jelasnya singkat.

Nadira menggenggam lengannya. "Kalau begitu aku ikut."

Adrian menggeleng. "Tidak."

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian."

"Nadira... aku sudah memilih untuk percaya kepadamu."

Tatapan mereka bertemu.

Nadira berkata pelan, "justru itu... sekarang jangan suruh aku untuk meninggalkanmu."

1
It's me Sky
terimakasih kakak selalu suport karyaku🙏
Arditya
novel bagus ini sih, wajib di baca. Author satu ini gk pernah gagal buat buku. semangat thoor,😎
Amoera
suka banget sama alur ceritanya, mantap thoor👍
Amoera
Asli ini sih novelnya bagus thoor, menegangkan... semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!