NovelToon NovelToon
Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:405
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.

Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.

Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanda yang Tak Terbantahkan

taman belakang rumah keluarga Pratama tampak lengang. Naura sengaja memilih tempat itu karena jarang dilewati para pelayan. Ia berdiri di bawah rindangnya pohon sambil menunggu dengan perasaan gelisah. Jemarinya terus saling menggenggam, pertanda batinnya sama sekali tidak tenang.

Tak lama kemudian, Setyo datang dengan langkah tergesa. Begitu melihat Naura, wajahnya langsung berubah serius.

"Aku dengar kabar itu," ucap Setyo tanpa basa-basi. "Naura... katakan yang sebenarnya."

Naura mengalihkan pandangannya.

"Tidak ada yang perlu dijelaskan."

Setyo menghela napas panjang, lalu menatap Naura lekat-lekat.

"Anak yang kamu kandung..." suaranya mulai bergetar, "...apa itu anakku?"

Pertanyaan itu membuat Naura memejamkan mata sejenak. Dadanya terasa sesak. Namun, ketika kembali membuka mata, ekspresinya berubah tegas.

"Itu anak Mahesa."

Jawaban singkat itu membuat Setyo terdiam beberapa detik.

"Kamu yakin?"

"Iya."

Setyo menggeleng pelan. Ia tidak percaya begitu saja.

"Naura, jangan bohong padaku."

"Aku tidak berbohong."

"Kita sama-sama tahu bagaimana keadaan beberapa bulan terakhir."

Naura segera memotong ucapannya.

"Cukup. Aku tidak mau membahasnya lagi."

Setyo mengepalkan kedua tangannya. Rasa cemas, marah, dan kecewa bercampur menjadi satu.

"Jangan menganggap aku tidak mengerti keadaan ini," katanya dengan nada yang mulai meninggi. "Kalau memang anak itu darah dagingku, aku berhak mengetahui kebenarannya."

Naura menatap Setyo dengan sorot mata yang dingin, meski di baliknya tersimpan kegelisahan.

"Tidak ada yang perlu kamu ketahui. Anak ini adalah anak Mahesa. Mulai sekarang, anggap saja semua yang pernah terjadi di antara kita sudah selesai."

Kalimat itu terasa seperti menghantam dada Setyo.

"Selesai?" Ia tertawa lirih, tetapi penuh kepahitan. "Menurutmu semudah itu?"

Naura tidak menjawab.

Setyo melangkah lebih dekat. Nada suaranya berubah rendah, tetapi dipenuhi kemarahan yang berusaha ia tahan.

"Kalau kamu menyembunyikan kebenaran, suatu hari semuanya bisa terbongkar. Jangan kira rahasia sebesar ini akan selamanya aman."

Naura berusaha tetap terlihat tenang, meski jantungnya berdegup semakin cepat.

"Aku hanya ingin mempertahankan keluargaku."

"Lalu bagaimana denganku?" balas Setyo. "Apa aku harus diam seolah tidak pernah terjadi apa-apa?"

Keheningan menyelimuti taman. Hanya suara angin yang menggerakkan dedaunan di sekitar mereka.

Setyo menarik napas panjang untuk meredam emosinya.

"Aku tidak ingin membuat keributan," katanya lebih pelan. "Tapi aku juga tidak mau dihapus begitu saja dari kenyataan ini. Kalau memang ada sesuatu yang perlu dihadapi, hadapilah dengan jujur."

Naura menundukkan kepala. Untuk sesaat, ia tidak mampu menjawab. Di satu sisi ia ingin mempertahankan kehidupan yang baru mulai terasa utuh. Di sisi lain, setiap kebohongan yang ia pertahankan justru membuat beban di hatinya semakin berat.

Setyo menghentikan langkahnya. Ia berbalik menatap Naura dengan sorot mata yang dipenuhi amarah dan kekecewaan. Selama ini ia selalu menuruti keinginan Naura, tetapi sikap wanita itu yang kini seolah ingin menghapus semua masa lalu membuat emosinya meledak.

"Jangan pikir semuanya selesai hanya karena kamu mengatakannya," ucap Setyo dengan suara berat.

Naura membalas tatapannya tanpa gentar.

"Aku sudah bilang, jangan pernah membahas ini lagi."

Setyo tertawa hambar.

"Tidak membahasnya? Setelah kamu hamil, kamu malah ingin membuangku begitu saja."

"Aku tidak membuang siapa pun."

"Benarkah?" Setyo mendekat selangkah. "Atau karena sekarang kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan?"

Naura mengernyit.

"Apa maksudmu?"

"Kamu ingin tetap menjadi istri Mahesa. Kamu ingin mempertahankan kedudukanmu di keluarga Pratama. Sekarang Bu Ratih menyayangimu, semua orang menganggapmu calon ibu pewaris keluarga. Lalu aku harus menjadi apa? Orang yang dilupakan?"

Wajah Naura memerah menahan emosi.

"Kamu tidak tahu apa yang sudah aku lalui."

"Aku tahu lebih banyak daripada yang kamu kira," balas Setyo. "Selama bertahun-tahun pernikahanmu dengan Mahesa tidak pernah terlihat seperti hubungan yang dibangun karena cinta. Kalian lebih sering bertengkar daripada saling memahami."

Kalimat itu membuat Naura mengepalkan tangannya.

"Jangan mencampuri rumah tanggaku."

"Rumah tangga yang sekarang ingin kamu pertahankan karena ada warisan dan kedudukan?" sindir Setyo. "Kamu boleh membohongi orang lain, tapi jangan membohongi dirimu sendiri."

"Diam!"

Suara Naura menggema di taman belakang.

Napasnya memburu. Dadanya naik turun menahan kemarahan.

"Jangan pernah menilai aku seolah kamu paling benar."

Setyo menggeleng pelan.

"Aku tidak sedang merasa paling benar. Aku hanya tidak mau dijadikan orang yang dibuang setelah semua yang terjadi."

Naura menatapnya tajam.

"Lalu apa maumu?"

Setyo terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada tegas.

"Aku ingin kebenaran tidak dikubur begitu saja. Kalau kamu terus memaksaku diam dan menganggap aku tidak pernah ada, jangan salahkan kalau suatu hari semua orang mengetahui hubungan kita."

Ucapan itu membuat wajah Naura berubah pucat.

"Kamu sedang mengancamku?"

"Aku sedang mengingatkanmu bahwa setiap tindakan punya akibat."

Naura menggigit bibirnya. Amarah bercampur ketakutan memenuhi benaknya. Ia tidak rela kehilangan kehidupan yang selama ini susah payah ia pertahankan, tetapi ancaman Setyo membuatnya sadar bahwa rahasia mereka kini berada di ujung tanduk.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Naura berbalik dan meninggalkan taman dengan langkah cepat. Sementara Setyo tetap berdiri di tempatnya, memandang kepergian wanita itu dengan hati yang dipenuhi luka, kemarahan, dan penyesalan. Ia tahu, sejak hari itu, hubungan mereka bukan lagi sekadar rahasia, melainkan bom waktu yang bisa meledak kapan saja.

Sore itu, Bu Ratih kembali mendatangi rumah sang cenayang. Langkahnya tidak lagi setegas biasanya. Wajahnya tampak lelah, sementara pikirannya dipenuhi kegelisahan yang belum menemukan jawaban. Semua yang terjadi dalam keluarganya terasa jauh dari harapan yang selama ini ia bangun.

Begitu memasuki ruangan yang dipenuhi aroma dupa dan cahaya lilin, Bu Ratih langsung duduk tanpa banyak basa-basi.

"Semua ini tidak sesuai dengan rencana," ucapnya dengan nada kecewa. "Aku ingin cucu dari Mahesa dan Naura, bukan dari perempuan lain."

Sang cenayang memejamkan mata beberapa saat sebelum membuka kembali kedua matanya.

"Justru semua berjalan sesuai dengan apa yang kulihat sejak awal."

Bu Ratih mengernyit.

"Maksudmu?"

"Sejak pertama kali aku diminta melihat masa depan rumah tangga Mahesa, aku tidak pernah melihat bayangan seorang anak laki-laki lahir dari ikatan Mahesa dan istrinya. Penglihatanku hanya menunjukkan bahwa jalan menuju pewaris laki-laki akan datang melalui perempuan lain."

Kalimat itu membuat wajah Bu Ratih menegang.

Sang cenayang melanjutkan dengan suara tenang.

"Aura yang kubuka bukan untuk memaksa takdir, melainkan agar jalan yang sudah ada menjadi terlihat. Selebihnya tetap bergantung pada pilihan manusia."

Bu Ratih mengepalkan kedua tangannya.

"Tapi perempuan itu Maya."

"Iya."

"Dia hanya anak dari keluarga sederhana. Seorang pegawai hotel. Bagaimana mungkin dia menjadi ibu pewaris keluarga Pratama?"

Nada suara Bu Ratih mulai meninggi. Kekecewaan bercampur kemarahan memenuhi dadanya.

"Aku membesarkan Mahesa untuk menjaga nama keluarga. Aku ingin cucuku lahir dari menantu yang pantas mendampingi keluarga Pratama."

Sang cenayang tetap tenang.

"Status seseorang tidak mengubah apa yang sudah menjadi bagian dari jalan hidupnya."

Bu Ratih menggeleng keras.

"Tidak! Aku tidak bisa menerima itu."

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Naura sudah bertahun-tahun menjadi menantuku. Dia telah berusaha mendapatkan penerimaan keluarga ini. Sekarang dia juga sedang mengandung. Bagaimana mungkin aku harus menerima kenyataan lain yang jauh lebih rumit?"

Ruangan kembali hening.

Sang cenayang memandang Bu Ratih cukup lama sebelum berkata pelan, "Yang paling berat bukan menentukan siapa yang pantas menjadi ibu pewaris, melainkan menerima bahwa setiap keputusan akan membawa konsekuensi. Apa pun yang Ibu pilih nanti, akan ada hati yang terluka."

Ucapan itu membuat Bu Ratih terdiam.

Bu Ratih yang semula hendak melangkah keluar mendadak menghentikan langkahnya. Ucapan sang cenayang beberapa saat lalu kembali terngiang jelas di kepalanya, membuat bulu kuduknya meremang.

Perlahan ia membalikkan badan.

"Tunggu..."

Sang cenayang mengangkat pandangannya, tetap duduk dengan tenang di hadapan nyala lilin yang berkelap-kelip.

"Tadi kau berkata... sejak awal kau tidak pernah melihat Mahesa dan Naura memiliki anak laki-laki."

"Iya."

Bu Ratih menelan ludah. Jantungnya berdetak semakin cepat.

"Kalau begitu..." suaranya mulai bergetar. "Anak yang sekarang dikandung Naura..."

Kalimat itu menggantung di udara.

Bu Ratih menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Kalau penglihatanmu benar, berarti anak itu perempuan."

Ruangan kembali sunyi.

Tatapan Bu Ratih berubah semakin gelisah. Berbagai kemungkinan memenuhi pikirannya hingga membuat dadanya terasa sesak.

"Dan kalau nanti bayi itu lahir laki-laki..." bisiknya lirih.

Ia menatap lekat wajah sang cenayang, seolah takut mendengar jawaban yang akan diterimanya.

"...berarti dia bukan anak Mahesa?"

Sang cenayang tidak segera menjawab.

Ia hanya memejamkan mata perlahan, lalu mengembuskan napas panjang. Wajahnya tetap tenang, tanpa menunjukkan ekspresi terkejut ataupun membantah.

Keheningan itu justru terasa lebih menyesakkan daripada jawaban apa pun.

Bu Ratih mundur selangkah. Kakinya terasa lemas.

"Kenapa kau diam?" tanyanya dengan suara yang mulai bergetar. "Jawab aku."

Sang cenayang membuka matanya perlahan.

"Ada hal-hal yang tidak bisa dipastikan manusia sebelum waktunya tiba."

Jawaban itu tidak benar-benar menjawab pertanyaan Bu Ratih. Namun, sikapnya yang memilih diam membuat kegelisahan di hati Bu Ratih semakin membesar.

Pikirannya mulai dipenuhi bayangan-bayangan yang selama ini berusaha ia singkirkan. Ia teringat hubungan Mahesa dan Naura yang sering merenggang, pertengkaran yang terus terjadi, hingga berbagai kejanggalan yang belakangan ia rasakan.

"Mustahil..." gumam Bu Ratih, lebih kepada dirinya sendiri. "Jangan sampai dugaanku mengarah ke sana."

Sebelum ia benar-benar pergi, sang cenayang kembali berkata lirih.

"Dan ingat satu hal, Bu Ratih... kelak akan tiba saatnya seorang anak laki-laki berdiri di hadapan Ibu. Pada hari itu, bukan wajah anak itu yang menentukan siapa pewaris keluarga Pratama, melainkan keberanian orang-orang dewasa untuk mengakui kebenaran."

Tangannya mulai gemetar. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah kemungkinan, bukan kenyataan. Namun, semakin ia mengingat setiap kejadian yang terjadi beberapa bulan terakhir, semakin sulit ia mengusir rasa cemas yang memenuhi hatinya.

Sang cenayang tetap duduk dalam diam, membiarkan Bu Ratih bergulat dengan pikirannya sendiri.

"Kalau semua ini benar... bagaimana nasib keluarga Pratama nanti?"

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, sementara rasa takut perlahan mengalahkan keyakinan yang selama ini selalu ia pegang. Ia sadar, yang sedang dihadapinya bukan lagi sekadar persoalan tentang pewaris, melainkan ancaman yang dapat meruntuhkan kepercayaan di dalam keluarganya.

Dengan langkah berat, Bu Ratih bangkit meninggalkan rumah sang cenayang. Di dalam mobil, ia memejamkan mata sambil mengusap air mata yang kembali mengalir.

Di satu sisi ada Naura, menantu yang selama ini menjadi bagian dari keluarga Pratama. Di sisi lain ada Maya, gadis sederhana yang kini membawa kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan.

Semakin ia mencoba mencari jalan keluar, semakin ia merasa terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama akan mengubah masa depan keluarga Pratama untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!