Setelah menyelesaikan misi terakhirnya, Aurora Veyra, seorang agen pembunuh bayaran, tewas akibat kecelakaan konyol dan terbangun di dalam novel favoritnya. Sialnya, ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan Shen Yuxin, istri kejam yang gemar menyiksa suaminya, Lu Zhichen, Raja Mafia paling ditakuti di Beijing.
Mengetahui akhir tragis yang menantinya, Aurora bertekad mengubah jalan cerita. Namun, bisakah ia meluluhkan hati suami yang telah terluka, menghindari takdir kematiannya, dan menulis ulang akhir kisah nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shen Melin tiada kapok nya
Suasana di kediaman keluarga Shen tampak tenang seperti biasanya. Namun, ketenangan itu hanyalah topeng.
Di ruang utama, Nyonya Besar Shen duduk anggun sambil menikmati teh. Di sampingnya, Shen Melin tersenyum licik.
"Nenek, menurutku sudah saatnya kita memberi pelajaran pada Shen Yuxin."
Nyonya Besar Shen mengangkat sebelah alis. "Apa rencanamu?"
Melin tersenyum tipis. "Kita suruh dia pulang. Lalu kita buat dia sadar... bahwa di keluarga Shen, dia tetap tidak memiliki hak untuk melawan."
Sang nenek berdecak kesal. "Menurutmu, apa anak itu akan datang?"
Shen Melin tersenyum penuh siasat. "Jika bibi yang memintanya datang, Yuxin pasti tidak mungkin menolaknya."
Sang nenek tersenyum puas. "Bagus, Melin. Suruh wanita tak berguna itu segera menghubungi putrinya yang pembangkang itu."
Shen Melin tersenyum puas. Kali ini, ia yakin Shen Yuxin tidak mungkin berani bersikap sombong lagi.
*
*
Di Mansion keluarga Lu, Shen Yuxin baru saja selesai menyiram bunga hingga notifikasi pesan menghentikan kegiatannya.
Shen Yuxin merogoh ponselnya untuk melihat siapa yang baru saja mengirim pesan kepadanya. Ternyata, pesan itu berasal dari sang ibu.
Ibu Tercinta: Yuxin, hari ini keluarga Shen mengadakan pertemuan keluarga. Nenekmu meminta kamu pulang. Namun, jika kamu sibuk, kamu tidak perlu datang.
Di belakangnya, Lu Zhichen yang baru turun dari tangga melirik isi pesan itu.
"Kau tidak perlu datang kalau tidak mau."
Nada suaranya datar, tetapi penuh ketegasan.
Yuxin tersenyum tipis. "Tidak, aku akan tetap datang. Jika aku tidak datang, ibu yang akan menjadi pelampiasan mereka."
Zhichen menatap istrinya beberapa saat.
"Kalau begitu, bawalah Han Mo dan beberapa pengawal."
Yuxin menggeleng pelan. "Tidak perlu. Aku bisa mengatasinya sendiri. Aku hanya butuh sopir untuk mengantarku ke sana," tolak Shen Yuxin.
Lu Zhichen dengan berat hati akhirnya membiarkan Shen Yuxin kembali ke kediaman Shen Tanpa pengawalan.
*
*
Siang hari.
Mobil yang ditumpangi Yuxin berhenti di depan kediaman megah keluarga Shen. Begitu turun, seluruh pelayan langsung membungkukkan badan dengan hormat.
Status Shen Yuxin sekarang sudah berbeda. Ia bukan lagi sekadar cucu keluarga Shen, tetapi juga Nyonya Besar keluarga Lu.
Namun, belum sempat ia masuk ke ruang tamu, suara bentakan keras terdengar dari halaman belakang.
"Dasar perempuan tidak berguna! Kau bahkan tidak bisa membersihkan daun dengan benar!"
Yuxin langsung menghentikan langkahnya. Suara itu... adalah suara sang nenek.
Perasaannya mendadak menjadi tidak nyaman. Ia segera menuju halaman belakang.
Dan...
Pemandangan di depannya membuat wajahnya perlahan mengeras.
Seorang wanita paruh baya mengenakan pakaian sederhana sedang berlutut di halaman. Tangannya memegang sapu bambu. Wajahnya sudah pucat, sementara peluh membasahi dahinya.
Wanita itu adalah ibu Shen Yuxin.
Di depan sang ibu, Nyonya Besar Shen berdiri sambil memegang tongkat. Wajahnya yang mulai dipenuhi keriput masih memancarkan keangkuhan yang begitu tinggi.
"Dasar pembawa sial. Kau melahirkan putri yang tak berguna, yang selalu membuat keluarga Shen malu."
Di sampingnya, Shen Melin menyilangkan tangan sambil tersenyum puas.
"Bibi, bagaimana mungkin kau tidak bisa mengerjakan pekerjaan semudah ini? Seharusnya kau merontokkan terlebih dahulu daun-daun yang sudah menguning agar tidak kembali mengotori halaman," kata Shen Melin sambil menggelengkan kepala, meremehkan apa yang sedang dikerjakan ibu Shen Yuxin.
Ibu Yuxin hanya menundukkan kepala.
"Maaf... aku akan membersihkannya lagi."
Bug!
Tongkat sang nenek menghantam bahu ibu Shen Yuxin dengan keras.
"Siapa yang menyuruhmu menjawab?!"
Tubuh wanita itu terhuyung. Ia sudah tidak mampu lagi menahan rasa sakit di bahunya.
Namun, belum sempat tubuhnya jatuh, seseorang menangkap lengannya.
Semua orang membeku ketika melihat Shen Yuxin berdiri di sana. Ia membantu ibunya berdiri.
Tatapannya perlahan beralih kepada Nyonya Besar Shen dan Shen Melin.
Tatapannya dingin, dipenuhi amarah yang meluap. Namun, ia lebih dulu membantu ibunya.
"Ibu, apa Ibu terluka?" tanya Shen Yuxin khawatir sambil memeriksa lengan sang ibu yang sudah memerah dan membengkak.
Wanita itu buru-buru menggeleng.
"Tidak... Yuxin... Ibu baik-baik saja. Kamu baru saja datang. Masuklah dulu ke dalam. Ibu harus menyelesaikan pekerjaan Ibu."
Dada Shen Yuxin terasa semakin sesak. Sudah bertahun-tahun ibunya diperlakukan seperti budak oleh sang nenek, dan tidak ada seorang pun yang pernah membelanya.
Shen Melin tersenyum sinis.
"Yuxin, kau datang tepat waktu. Lihat, ibumu memang pantas diperlakukan seperti ini. Dia hanyalah perempuan yang gagal karena melahirkan putri tak berguna sepertimu."
Kalimat itu membuat amarah Shen Yuxin semakin tak terbendung.
Yuxin terlebih dahulu meminta para pelayan membawa ibunya masuk ke dalam rumah.
Lalu...
Ia berjalan mendekati Shen Melin dengan tatapan dingin yang dipenuhi amarah.
Selangkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Melin mendengus meremehkan.
"Memangnya kau mau apa?"
Meski begitu, di dalam hatinya Shen Melin mulai merasa sedikit waswas.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Shen Melin.
Tubuh wanita itu sampai berputar sebelum akhirnya jatuh terduduk.
Semua orang membelalak.
Termasuk sang nenek.
Ia benar-benar terkejut hingga tak mampu bereaksi.
Shen Yuxin sudah lebih dulu menarik kerah pakaian Shen Melin.
"Berani sekali kau memperlakukan ibuku seperti itu!"
Plak!
Plak!
Dua tamparan lagi mendarat tanpa ampun.
"Aaa! Seseorang, tolong aku! Shen Yuxin sudah gila! Dia hendak membunuhku!" jerit Shen Melin histeris.
Nyonya Besar Shen menghentakkan tongkatnya ke lantai.
"Shen Yuxin! Beraninya kau menyakiti Shen Melin!"
Namun, Yuxin sama sekali tidak menoleh.
Ia justru memberikan peringatan tegas kepada Shen Melin.
"Dengarkan baik-baik. Kalau kau berani memperlakukan dan menghina ibuku sekali lagi, aku akan membuatmu menyesal karena pernah dilahirkan ke dunia ini!"
Ancam Shen Yuxin disertai tatapan tajam yang seolah benar-benar ingin membunuh Shen Melin. Membuat Shen Melin gemetar ketakutan.
Nyonya Besar Shen mengangkat tongkat, hendak memukul Yuxin. "Dasar anak kurang ajar!"
Namun...
Brak!
Yuxin menangkap tongkat itu di udara.
Semua orang terdiam.
Tak ada yang pernah berani melawan Nyonya Besar Shen di rumah ini. Sebab, dialah pilar tertinggi keluarga Shen.
Namun, Shen Yuxin...
Baru saja melawan neneknya sendiri.
Yuxin menatap wanita tua itu tanpa sedikit pun rasa takut.
"Cukup! Nenek benar-benar sudah keterlaluan!"
Shen Yuxin menghentakkan tongkat sang nenek hingga tongkat itu terlepas dari genggamannya dan jatuh berguling di lantai.
Tok!
Tok!
Suara tongkat itu menggema di seluruh halaman.
Wajah Nyonya Besar Shen memerah karena marah.
"Kau...! Kau benar-benar berani melawanku?!"
Yuxin melangkah maju. Aura dinginnya membuat para pelayan tanpa sadar mundur beberapa langkah.
"Nenek, semut yang terus-menerus diinjak lama-kelamaan juga akan melawan. Begitu juga denganku. Jika Nenek terus menyakiti Ibu, jangan salahkan aku jika aku membalasnya berkali-kali lipat."
di novel aja ya, kalau di RL hus... hus... jauh" serem
berarti emng dia ga ada perasaan apa" sama zhichen ya...
😁😁😁😁😁