Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Kecil..
Setelah kembali dari membeli berbagai kebutuhan dapur, mereka memutuskan beristirahat sejenak di posko sambil melepas lelah.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
“Ihh… kita lupa beli sapu, astaga,” keluh Laura tiba-tiba sambil menatap lantai kayu posko.
Ia menunjuk sekitar.
“Posko kita belum disapu. Liat tuh halaman udah penuh daun lagi, lantainya juga keliatan berdebu.”
“Aku punya.”
Suara santai Alya langsung membuat semua orang menoleh.
“Lah?” Adrian sempat membuka mulut ingin menanggapi.
Namun Alya sudah keburu berjalan masuk ke dalam posko.
Tak sampai satu menit kemudian, ia keluar lagi sambil membawa dua sapu lidi dan sebuah sapu lantai yang masih terlipat rapi.
“Ini ada sapu lantainya juga. Kalian pasang aja gih.”
Suasana langsung hening.
Dion menatap benda di tangan Alya dengan ekspresi tidak percaya.
“Anjirr… sapu lantai bongkar pasang, coii.”
Ia lalu menunjuk koper Alya yang tergeletak di sudut.
“Tadi gue mau komen, gimana cara muat tuh sapu ke dalam tas si Alya.”
Kevin ikut tertawa.
“Isi koper Alya udah mirip kantong Doraemon.”
Arga yang sejak tadi diam langsung maju mengambil sapu lantai itu.
Tanpa banyak bicara, ia mulai merakit bagian gagangnya dengan santai.
Klik.
Klik.
Beberapa detik kemudian sapu itu sudah berdiri sempurna.
Rizki langsung berseru.
“Hahaha gokill banget.”
Arga lalu menatap semuanya.
“Oke. Masalah sapu selesai.”
Ia menunjuk beberapa orang.
“Sebagian bersih-bersih. Sisanya masak.”
“Ehh aku mau mandi dulu,” celetuk Adrian cepat.
“Gantian aja biar nggak lama antre.”
Yang lain setuju.
Alya sendiri memilih mengambil sapu lidi dan mulai membersihkan halaman depan.
Laura mengambil alih membersihkan bagian dalam posko dengan mulai menyapu lantai kayu yang kembali dipenuhi debu tipis.
Beberapa yang lain langsunG bergerak ke dapur sederhana untuk menyiapkan bahan-bahan masakan yang baru saja mereka beli tadi.
Sementara Adrian, seperti biasa, jadi orang pertama yang menghilang lebih dulu ke kamar mandi sebelum antrean mulai penuh.
Di halaman posko, Alya tampak cukup kewalahan menjalankan tugasnya.
Beberapa kali ia berusaha mengumpulkan daun-daun kering yang terus berhamburan tertiup angin, membuat pekerjaannya terasa jauh lebih sulit Dari yang dibayangkan.
Tak jauh dari sana, beberapa teman-temannya yang sedang duduk santai hanya memperhatikan tingkah Alya dari kejauhan.
Melihat itu, Dion tiba-tiba menyeringai jahil, seolah baru mendapat ide untuk mengusilinya.
“Alya… di belakang kamu masih belum bersih tuh.”
Tanpa curiga Alya langsung menoleh lalu mulai menyapu bagian belakang.
Dion kembali berteriak.
“Itu… bagian sana juga masih kotor.”
Alya kembali bergerak serius membersihkannya.
Andre yang melihat itu langsung menggeleng.
“Sialan lo… ngerjain anak orang.”
Dion justru tertawa puas.
“Yah kapan lagi bisa nyuruh-nyuruh anak orang kaya.”
Beberapa orang ikut tertawa.
Arga yang melihat itu hanya menggeleng kecil.
Namun matanya beberapa kali masih memperhatikan Alya yang terlihat begitu serius menyapu.
Di sela-sela pagar yang dipenuhi ranting liar, perhatian Alya tiba-tiba tertuju pada buah kecil berwarna kuning yang tumbuh bergerombol di sana.
Rasa penasarannya langsung muncul.
Tanpa berpikir panjang, ia mengambil satu buah iTu lalu memperhatikannya beberapa saat.
Ketika ditekan perlahan, bagian dalamnya langsung terlihat, berisi daging buah yang sekilas tampak mirip markisa.
“Hm?”
Tanpa terlalu memikirkan apa pun, Alya langsung memasukkan sedikit isi buah itu ke mulutnya untuk mencoba.
Seketika rasa asam langsung memenuhi lidahnya.
Namun anehnya, rasanya justru cukup enak.
Karena peNasaran, ia kembali memetik beberapa buah lainnya, lalu jongkok santai di dekat pagar sambil menikmati buah-buah kecil itu satu per satu.
Tak jauh dari sana, Dion yang sejak tadi duduk bersama yang lain mulai memperhatikan tingkah Alya dengan ekspresi heran.
“Ehh… Alya ngapain tuh?”
Mendengar ucapan Dion, perhatian yang lain langsung ikut tertuju ke arah Alya.
Rasa penasaran membuat mereka satu per satu berjalan mendekat unTuk melihat apa yang sedang dilakukan gadis itu.
Arga yang sedari tadi berdiri tak jauh dari sana pun ikut melangkah menghampiri.
Saat sampai di dekat pagar, mereka langsung mendapati Alya masih asyik memakan sesuatu di tangannya.
Melihat itu, Rizki spontan mengernyit heran.
“Eh lo makan apa itu?”
Alya mendongak polos lalu menunjukkan buah kecil di tangannya.
“Ini.”
Andre langsung membelalakkan mata.
“Buset… lu tau buah ini juga Al?”
Kevin ikut menyahut.
“Anjir gue kira orang kaya nggak bakal tau beginian.”
Alya mengangkat bahu santai.
“Ini buah markisa kan?”
Andre langsung menggeleng.
“Mirip sih… tapi ini buah liar.”
“Loh emang bukan?”
“Nggak.”
Alya masih memegang buah itu.
“Tadi aku liat isinya mirip markisa. Aku kira markisa versi buah-buahan desa. Rasanya asem juga sih.”
Andre baru mau menjawab—
Namun Arga lebih dulu melangkah maju.
Tanpa bicara ia langsung mengambil buah itu dari tangan Alya.
“Ehh?”
Arga menatapnya datar.
“Lain kali jangan sembarang makan apa pun.”
Alya langsung diam.
“Iya…”
Arga membuang buah tadi ke semak.
“Kalau beracun bagaimana?”
Rizki langsung ikut menimpali.
“Nah betul tuh. Untung yang lo makan nggak beracun.”
Rizki terkekeh kecil sebelum akhiRnya menunjuk Alya dengan ekspresi geli.
“Kalau sampai kenapa-kenapa, bisa dibombardir satu posko sama papi lo, Al.”
Yang lain tertawa kecil.
Arga lalu mengambil sapu dari tangan Alya.
“Mending kamu masuk.”
Arga langsung menyerahkan sapu itu ke andre.
“Lahhh…”
“Lanjutin itu,” kata Arga santai sebelum berjalan pergi.
Andre mendengus pasrah.
“Nasib…”
Setelah urusan bersih-bersih selesai, Alya akhirnya memutuskan untuk mandi lebih dulu.
Namun seperti biasa, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Begitu masuk ke kamar mandi, ia langsung menghela napas panjang.
Bak air di dalAm sudah kosong total.
Mau tak mau, pandangannya beralih ke arah sumur yang berada di belakang posko.
Kemarin ia sempat memperhatikan bagaimana Arga mengambil air dari sana.
Menurutnya, seharusnya hal itu tidak akan terlalu sulit untuk dilakukan sendiri.
Tanpa ingin merepotkan orang lain, Alya akhirnya mengambil ember dan timba yang berada di dekat sumur lalu mencoba melakukannya sendiri.
Dengan sedikit ragu, ia mulai melemparkan timba ke dalam sumur.
Tuk.
Suara benturan pelan terdengar, menandakan timba itu sudah jatuh ke dalam air.
Setelah merasa cukup terisi, Alya langsung mulai menarik tali perlahan.
Namun baru beberapa detik berlalu, ekspresi di wajahnya langsung berubah.
“Ehh… kok berat banget ya…”
Tidak ingin menyerah begitu saja, Alya kembali menarik tali itu dengan tenaga lebih besar.
Beberapa detik kemudian, telapak tangannya mulai memerah karena terus bergesekan dengan tali kasar sumur tersebut.
Saat timba hampir berhasil terangkat ke atas, sebagian air di dalamnya justru bergoyang hebat lalu tumpah, membasahi bagian depan bajunya.
“Astaga… kok susah banget sih…”
Dari belakang tiba-tiba terdengar suara.
“Oii Al… lu mandi di sumur kah?”
Dion muncul sambil tertawa.
Dimas ikut menyahut.
“Lebih simpel sih gitu.”
Melihat usahanya kembali gagal, Alya langsung mendengus kesal sambil menatap timba yang masih menggantung setengah jalan.
Ia tidak mau menyerah.
Dengan wajah Serius, ia kembali mencoba menarik tali itu sekali lagi, berusaha mengerahkan seluruh tenaganya.
Namun hasilnya tetap sama.
Gerakannya justru semakin berantakan dan air di dalam timba kembali bergoyang.
Dan di tengah perjuangannya itu—
tanpa mengucapkan apa pun, tiba-tiba Arga muncul dari sampingnya.
Dengan gerakan santai, Arga menarik ember itu seolah tidak ada beban sama sekali.
Tanpa banyak bicara, Arga langsung mengambil alih tali timba dari tangan Alya.
Dengan gerakan santai dan tenaga yang terlihat begitu ringan, ia menarik timba itu seolah sumur tersebut sama sekali tidak memiliki beban.
Hanya dalam beberapa Detik, timba penuh air sudah berhasil terangkat ke atas.
Arga kemudian menuangkan air itu ke dalam ember yang tadi dibawa Alya.
Namun rupanya ia belum berhenti.
Tanpa mengatakan apa pun, Arga kembali mengulangi hal yang sama berkali-kali sampai bak mandi di dalam kamar mandi akhirnya terisi penuh.
Pemandangan itu membuat beberapa orang yang sedari tadi memperhatikan mulai saling melirik.
Dimas yang berdiri tak jauh dari sana tiba-tiba berdeham kecil sambil menatap langit sore di atas mereka.
“Ehh… senja hari ini bagus ya.”
Rizki langsung mengangguk pura-pura.
“Iya… bagus banget.”
Alya tentu saja menyadari apa yang sedang dilakukan teman-temannya.
Ia tahu betul, komentar aneh mereka barusan jelAs hanya alibi untuk menutupi sesuatu sambil sengaja menggodanya.
Namun sebelum sempat mengatakan apa pun, dari arah pintu belakang posko tiba-tiba muncul Nadia yang sejak tadi rupanya ikut memperhatikan seluruh kejadian itu.
Melihat pemandangan di depan matanya, Nadia langsung mencibir sinis.
“Dasar menyusahkan.”
Ia melipat tangan.
“Ngambil air aja nggak bisa. Manja banget.”
Setelah mengatakan itu, ia langsung pergi.
Yang lain pura-pura sibuk seolah tidak mendengar apa pun.
Arga menoleh pada Alya.
“Sana mandi.”
Alya terdiam beberapa detik sambil menatap bak mandi yang kini sudah Terisi penuh hingga hampir meluap.
Perlahan, ia kemudian mengalihkan pandangannya dan menoleh ke arah Arga yang masih berdiri tak jauh darinya.
“Makasih Arga…”
“Hm.”
Arga menjawab singkat.
Setelah itu ia berjalan menjauh menuju pohon besar di dekat sumur.
Bersandar santai seolah tidak peduli pada tatapan jahil teman-temannya.
Padahal diam-diam…
beberapa orang di sana sudah saling melirik menahan senyum.
Dan Alya…
tanpa sadar terus menatap punggung Arga beberapa detik lebih lama dari biasanya.