Perjalan hidup seorang Damar menggapai kesuksesan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Rahasia Energi Kehidupan
Suara jangkrik bersahut-sahutan di tengah keheningan malam yang pekat. Di luar gubuk, angin dingin berembus pelan menyapu hamparan sawah. Setelah seharian bekerja dan melayani pesanan rumput Pak Lurah, Damar akhirnya bisa beristirahat di kamar kecilnya.
Di atas tikar pandan, lembaran Kitab Tabib Langit tergelar tepat di bawah pendar redup lampu tempel minyak tanah. Tiga lembar uang seratus ribuan hasil menyembuhkan kambing-kambing Pak Lurah tadi siang sudah tersimpan aman di dalam lemari tua. Pengalaman luar biasa tadi siang membuat dada Damar bergemuruh oleh rasa semangat yang tak terbendung.
"Ternyata cuma dengan pijatan saraf dan perasan rumput liar saja, kambing lumpuh bisa langsung berdiri..." gumam Damar pelan sambil mengelus sampul kulit legam kitab itu.
Ia membetulkan kacamata tebalnya yang sedikit melorot di hidung, lalu merapatkan kedua telapak tangannya untuk mengatur napas. Seperti biasa, ia menarik napas dalam-dalam, menahannya di dada, lalu mengembuskannya perlahan. Sensasi hangat dari ulu hatinya kini mengalir jauh lebih kencang dan lancar dibanding kemarin, merayap lembut hingga ke ujung-ujung jarinya.
Begitu jemari Damar yang hangat menyentuh lembaran kertas kulit tebal itu, tulisan-tulisan latin bercahaya keemasan kembali bermunculan secara ajaib, menata dirinya dengan rapi.
"Seorang tabib sejati tidak menebak-nebak penyakit dari rupa luar belaka, melainkan mendengarkan bisikan energi kehidupan lewat getaran denyut nadi..." suara bariton Tabib Dewandaru bergema teduh di dalam benak Damar.
Damar mendekatkan wajahnya, membacanya dengan sangat teliti. "Membaca penyakit dari denyut nadi? Bukannya dokter atau mantri biasanya cuma menghitung berapa kali denyutnya per menit ya?"
"Itu cara pandang orang awam, Anak Muda," balas suara Tabib Dewandaru di dalam pikirannya. "Denyut nadi manusia adalah muara dari seluruh aliran hawa murni dan darah. Setiap organ di dalam tubuh memiliki ritme, kedalaman, dan tekanan denyut yang berbeda-beda di sepanjang pergelangan tangan."
Damar terpesona. Ia memperhatikan diagram detail yang tergambar di halaman kitab tersebut. Di sana diperlihatkan tiga titik utama pada pergelangan tangan bawah jempol, titik Cun, Guan, dan Chi.
"Tiga titik ini... punya fungsi sendiri-sendiri, Mbah?" tanya Damar penasaran sambil mengangkat tangan kirinya sendiri.
"Benar," sahut suara Tabib Dewandaru. "Titik Cun di paling depan terhubung dengan organ jantung dan paru-paru. Titik Guan di tengah mencerminkan kondisi hati dan lambung. Sedangkan titik Chi di paling belakang menggambarkan kesehatan ginjal serta daya tahan tubuh utama. Tempatkan tiga jarimu di atas ketiga titik itu pada pergelangan tangan pasien."
Damar mengikuti instruksi itu. Ia menempelkan tiga jari tangan kanannya, jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis, di pergelangan tangan kirinya sendiri.
"Tekanannya harus bagaimana, Mbah?" tanya Damar lagi.
"Gunakan tiga tingkatan tekanan. Tekanan mengambang untuk merasakan penyakit di bagian luar kulit dan saluran napas. Tekanan sedang untuk memeriksa organ dalam. Dan tekanan meresap mendalam sampai menempel ke tulang untuk mendeteksi racun tersembunyi atau kerusakan saraf parah."
Damar mencobanya perlahan. Ia menekan lembut pergelangan tangannya. Di bawah sentuhan jemarinya, ia bisa merasakan benturan ritmis yang halus. Begitu ia mengalirkan sedikit hawa hangat dari energi penyembuhannya ke dalam sentuhan jari tersebut, tiba-tiba gambaran di pikirannya menjadi begitu tajam!
Ia tidak hanya merasakan detak jantungnya sendiri, tetapi juga merasakan getaran hangat yang mengalir lancar di pembuluh darahnya. Hanya ada sedikit rasa lelah di bagian otot lengannya akibat mengarit rumput seharian.
"Luar biasa..." bisik Damar terkagum-kagum. "Semua kondisi tubuh beneran terasa dari sini!"
"Le... Damar? Kamu belum tidur jam segini?" suara Bu Rahmi terdengar pelan dari balik pintu kamar.
Damar dengan sigap menutup Kitab Tabib Langit itu dan menyelipkannya di bawah bantal. "Belum, Bu! Ini Damar baru selesai baca-baca!"
Bu Rahmi mendorong pintu kamar dan melangkah masuk sambil membawa segelas air hangat. Wajah ibunya tampak jauh lebih segar dibanding hari-hari sebelumnya, tetapi mata Bu Rahmi terlihat sedikit kuyu.
"Ibu kok bangun? Ada yang sakit lagi, Bu?" tanya Damar cemas sambil berdiri dan membetulkan kacamatanya.
"Tidak ada yang sakit kok, Le. Cuma tiba-tiba Ibu kebangun, kepalanya agak keliyengan sedikit," tutur Bu Rahmi sambil duduk di pinggir dipan bambu milik Damar.
Mata Damar berbinar. Ini adalah kesempatan sempurna untuk mempraktikkan pelajaran membaca denyut nadi yang baru saja ia pelajari dari kitab.
"Sini, Bu. Coba duduk tenang sebentar. Damar mau coba periksa denyut nadi Ibu," kata Damar lembut.
Bu Rahmi mengernyit heran sambil menyodorkan tangan kanannya. "Lho, kamu bisa periksa denyut nadi juga, Mar? Kayak dokter-dokter di rumah sakit saja."
"Cuma belajar sedikit dari buku tua tadi, Bu. Biar kita tahu Ibu kurang istirahat atau kenapa," jawab Damar santai.
Damar berjongkok di hadapan ibunya. Ia memegang pergelangan tangan Bu Rahmi, lalu menempelkan tiga jarinya, telunjuk, tengah, dan manis, tepat di atas titik Cun, Guan, dan Chi. Damar menarik napas dalam-dalam, menenangkan pikirannya, lalu memfokuskan hawa hangat dari ulu hatinya ke ujung-ujung jarinya.
Thump... thump... thump...
Pada tekanan mengambang pertama, Damar merasakan denyut di titik Cun (paru-paru) yang tadinya sangat lemah dan tersendat, kini sudah mengalir jauh lebih kuat dan teratur berkat ramuan herbal yang diminum ibunya tadi siang.
Namun, ketika Damar menambah tekanannya sedikit ke tingkat sedang pada titik Guan (lambung dan hati), ia merasakan denyutan yang agak keras, kaku, dan ritmenya tidak stabil.
"Hmm..." Dahi Damar berkerut di balik kacamata tebalnya.
"Kenapa, Mar? Ada penyakit berbahaya ya di badan Ibu?" tanya Bu Rahmi cemas melihat perubahan raut wajah anaknya.
Damar tersenyum menenangkan untuk mengusir kekhawatiran ibunya. "Tidak kok, Bu. Tidak ada penyakit berbahaya sama sekali."
"Terus kenapa kerut-kerut gitu jidatmu, Le?" tanya Bu Rahmi lagi.
"Ibu tadi sore belum makan nasi kan? Cuma minum ramuan herbal saja terus langsung tidur?" tebak Damar tepat sasaran.
Bu Rahmi membelalak terkejut. "Lho... kok kamu bisa tahu, Mar?! Iya, tadi sore perut Ibu rasanya belum lapar, jadi cuma minum air hangat terus ketiduran."
Damar terkekeh pelan sambil melepaskan pegangan tangannya dari pergelangan Bu Rahmi. "Terasa banget dari denyut nadi di titik tengah pergelangan tangan Ibu. Denyut lambungnya kaku dan agak cepat. Itu tandanya asam lambung Ibu naik karena perutnya kosong, jadinya bikin kepala Ibu agak pusing dan keliyengan."
Bu Rahmi memandangi tangannya sendiri, lalu menatap anaknya dengan raut wajah takjub yang luar biasa. "Astaga, Le... Cuma dipegang tangannya beberapa detik begini bisa tahu Ibu belum makan? Canggih banget kamu sekarang, Mar!"
"Buku tua warisan yang Damar temukan itu bener-bener hebat, Bu. Isinya ilmu pengobatan kuno yang sangat akurat," tutur Damar jujur tanpa membocorkan rahasia tentang Tabib Dewandaru.
"Ya sudah, Ibu tunggu di sini sebentar ya. Damar ambilkan nasi sama sup hangat di dapur. Perutnya harus diisi dulu biar pusingnya hilang," kata Damar berdiri menuju dapur.
"Iya, Le. Terima kasih ya," sahut Bu Rahmi penuh rasa syukur dan bangga.
Tak lama kemudian, Damar kembali membawa piring berisi nasi hangat dan mangkuk sup. Ia menemani ibunya makan hingga habis. Benar saja, setelah perutnya terisi makanan hangat, rasa pusing di kepala Bu Rahmi perlahan-lahan sirna sepenuhnya.
"Wah, beneran hilang keliyengannya, Mar. Badan Ibu rasanya segar lagi," puji Bu Rahmi sambil mengusap bibirnya dengan kain lap.
"Alhamdulillah kalau begitu, Bu. Sekarang Ibu balik ke kamar ya, lanjut tidur lagi biar besok bangun badannya makin fit," tutur Damar telaten membimbing ibunya kembali ke kamarnya.
"Iya, Le. Kamu juga langsung tidur, jangan bergadang malam-malam," pesan ibunya sebelum merebahkan diri.
"Pasti, Bu."
Setelah ibunya kembali tertidur lelap, Damar kembali ke kamar kecilnya. Ia duduk bersila di atas tikar pandan, mengeluarkan Kitab Tabib Langit dari bawah bantal, lalu menutupnya dengan sangat hati-hati.
Damar memandangi kedua telapak tangannya sendiri di bawah redupnya lampu minyak tanah. Perasaan takjub dan haru memenuhi relung dadanya. Hanya dalam hitungan hari, kehidupan dan kemampuannya telah berubah begitu drastis. Dari seorang pemuda desa yang selalu dihina dan dipandang sebelah mata, kini ia memegang kunci rahasia energi kehidupan dan ilmu pertabiban kuno yang amat langka.
"Membaca denyut nadi... memahami alur energi... dan menyembuhkan tanpa obat kimia," bisik Damar pelan pada dirinya sendiri.
Suara angin malam berembus lembut menerpa dinding bambu gubuknya. Damar membetulkan letak kacamatanya, menyunggingkan senyuman tipis penuh rasa percaya diri, lalu memadamkan lampu minyak tanah. Di dalam kegelapan malam, tekad Damar telah bulat untuk terus mengasah ilmu ajaib ini demi menolong sesama dan mengubah takdir hidupnya.
SKIP and OUT
PENTOL KOREK...!!!
sayangnya terlalu byk main spasi.
percakapan yg hny satu dua kata terasa kaku, terkesan seperti robot.
disinilah letak sesuatu yg harus outhor perbaiki, agar kedepan karya2 outhor lebih terasa hidup, & nyaman dinikmati reader, sehingga menjadikan outhor sbg writer yg paling dicari karyanya.
tetap semangat, pantang menyerah karna komentar yg mengkritik bahkan menyinggung. anggap itu semua sbg pemicu semangat & tangga pencapai suksesmu..💪👍🙏
contoh pembicaraan antara mc & perempuan yg bertemu dgnnya, dan mc dgn nita. tau2 nita nongol tanpa ada info drmn dia tau/ mengenal mc.
dr situ ceritamu akan terasa lbh padat dan berisi, tdk terkesan "hny menjual spasi"💪
kyk makan arum manis..
jd terasa kosong ceritanya