NovelToon NovelToon
My Fate

My Fate

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / TimeTravel / Tamat
Popularitas:418.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: chiccacaaa

Zora Naladhipa seorang siswa kelas menengah atas yang sering mewakili sekolahnya untuk berbagai perlombaan sejarah.

Suatu hari ia diminta oleh gurunya lagi untuk mengikuti sebuah lomba tentang sejarah. Ayahnya memberikannya sebuah buku kuno yang beliau dapatkan dari pasar loak. Zora selalu membawanya kemanapun karena isi di dalamnya membuatnya tertarik untuk terus membacanya.

Suatu hari saat jam sekolah telah usai, Zora memilih pergi ke toilet tak lupa dengan buku yang berada di genggamannya. Ia mendengar suara dua orang sedang berbicara orang tadi tak lain adalah pacarnya dan seorang wanita. Matanya memanas, ia kemudian pergi dari toilet tadi dengan air mata yang membanjiri pipinya.

Saat sampai di rumah ia lalu merebahkan dirinya di kasur sambil menggenggam buku kuno itu. Tak terasa air matanya menetes mengenai buku tadi lalu ada sebuah cahaya yang menariknya menuju tempat lain. Ia kemudian bangun dengan kepala yang berdenyut.
"Ahh, dimana aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Cerita ini terinspirasi dari serial drama love destiny. Stay tune dan lanjutkan membaca ya:))

ig: @chiccacaaa

tidak update setiap minggu ;))

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiccacaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berhenti Menggangguku- 14

Saat ia mendekat ia ingin mencubitnya dengan tangan namun entah karena apa malah ia mencubit bibir itu menggunakan bibirnya sendiri ia bahkan menggigit bibir bawah Zora dengan giginya karena sangat gemas. Ciuman pertamanya dan pastinya ciuman pertama Zora, sangat manis, pikirnya.

•••

Pangeran Auriga terus memikirkan kejadian yang ia lakukan tadi tetapi ia berusaha menepisnya sekuat mungkin.

"Haiss, mungkin itu maksud perkataan para orang tua jika perempuan dan laki-laki yang belum menikah tidak boleh berada dalam satu ruangan karena terkadang dedemit bisa meracuni pikiran-pikiran kita yang waras" gumam pangeran Auriga.

Sedangkan Zora masih termenung di kamarnya. Ia hanya mengingat perkataan ayahnya yang memintanya untuk mencegah segala bentuk penjajahan di kerajaan ini.

"Kenapa ya papa bilang kaya gitu? Apa jangan-jangan kalo gue udah bisa menyelamatkan masa depan kerajaan ini gue bisa balik ke masa depan ya?" gumam Zora yang sedang menafsirkan ucapan papanya.

Tiba-tiba pintu terbuka yang membuat Zora sedikit terkejut. Ternyata Ratu Anindita yang membuka pintu itu.

"Putri Zora kamu tidak apa-apa Nduk? Kata Ambar kamu tadi pingsan" ucap Ratu Anindita.

Zora hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan.

"Hamba tidak apa-apa, Ratu" ucapnya.

"Maafkan Auriga yang membuatmu jadi pingsan seperti tadi. Dia bilang pada ibunda kalau dia tidak mungkin mengusir Nyonya Gayatri jadi agar tidak terjadi hal-hal di luar dugaan ia lebih memilih menyuruhmu yang keluar" ucap Ratu Anindita.

"Iya Ratu, hamba mengerti" ucap Zora.

"Lalu dimana anak itu?" tanya Ratu Anindita.

"Tentu saja di kamarnya" ucap Zora.

"Ya, sudah ibunda kembali dulu ya. Kamu istirahat lagi" ucap Ratu Anindita kemudian keluar dari kamar Zora.

Hari-hari berlalu seperti biasanya. Zora juga lebih sering berdiam diri di kamar memikirkan perkataan ayahnya di dalam mimpinya. Tekadnya sudah kuat, ia akan mengikuti kemauan ayahnya karena bisa saja dengan menuruti perintah itu ia bisa kembali ke zamannya.

Saat keluar dari kamar, Zora melihat Saka dari kejauhan. Ia lalu meneriaki nama Saka dan menyusul Saka di tempatnya.

"Saka!" panggil Zora sambil berlari.

Saka yang merasa namanya dipanggil kemudian menoleh. Disana sudah ada Zora yang berlarian mengerjarnya, ia tersenyum melihat hal itu.

"Tumben kau ke istana" ucap Zora setelah sampai di samping Saka.

"Kau tidak suka? Aku tadi memiliki sedikit urusan disini" ucapnya.

"Bukannya aku tidak suka. Kau kan jarang sekali berkunjung ke istana aku jadi tidak ada teman mengobrol" ucap Zora.

"Baiklah, sebagai ganti hari-harimu yang sepi sekarang kita akan mengobrol" ucap Saka yang membuat Zora senang.

"Ayok" ucap Zora sambil menggandeng tangan Saka.

"Zora jangan seperti ini, tidak baik jika dilihat orang-orang" ucap Saka sambil melepaskan tangan Zora dari lengannya.

"Hmmz" gumam Zora yang sebal karena bergandengan tangan saja masih sangat tabu disini.

Mereka kemudian bercerita tentang keseharian mereka masing-masing. Zora dan Saka merasa terhibur satu sama lain karena mereka bisa bercanda dan bercerita dengan leluasa. Di tengah jalan mereka tidak sengaja berpapasan dengan pangeran Auriga dan Ayara yang juga terlihat sedang berjalan-jalan.

"Pangeran Auriga" ucap Saka sambil menundukkan kepalanya memberi hormat dan Zora juga melakukan hal yang sama tetapi tidak menyapa pangeran Auriga.

"Kalian ingin pergi kemana?" tanya pangeran Auriga.

"Hamba rasa itu bukan urusan anda, pangeran" ucap Zora sambil menatap mata pangeran Auriga.

"Ayo kita pergi" ucap Zora kepada Saka.

Mereka lalu pergi meninggalkan Pangeran Auriga dan Ayara yang masih dalam suasana canggung itu.

"Mari pangeran" ucap Ayara lembut yang membuat pangeran Auriga kembali ke kesadarannya.

"Kenapa wajahmu nampak kesal seperti itu?" tanya Saka saat mereka sampai di taman.

"Kau cemburu ya?" goda Saka.

"Tidak! Seharusnya Ayara itu menghormatiku sebagai putri kerajaan Wirastama. Dia itu kan bukan temanku" ucap Zora kesal.

"Jadi kalau dia temanmu dia boleh tidak menghormatimu sebagi putri kerajaan Wirastama?" tanya Saka.

"Benar, seperti kau. Jika aku sudah menganggapmu teman maka aku adalah temanmu bukan putri dari kerajaan Wirastama" ucap Zora sambil tersenyum.

"Kau ini sebenarnya rendah hati sekali namun jika kau berhadapan dengan Ayara kau malah jadi tinggi hati. Mungkin persaingan antar wanita" batin Saka di dalam hatinya.

Sesaat kemudian, pangeran Auriga dan Ayara juga tiba di taman yang sama. Ingin rasanya Zora berteriak tetapi ia urungkan. Ia tidak mau disebut orang aneh karena ia mengusir orang lain dari taman ini. Ia memilih kembali bercerita dengan Saka. Sedangkan pangeran Auriga dan Ayara tidak ada yang memulai untuk membuka suara.

"Saka apa kau punya teman yang tampan? Jika ada kenalkan kepadaku" ucap Zora.

"Tampan ya? Bukankah aku ini sudah tampan?" tanya Saka sambil mengerlingkan matanya yang membuat Zora tersenyum malu.

"Kau ini narsis sekali hahaha!" ucap Zora sambil menepuk bahu Saka.

"Narsis? Apa itu narsis?" tanya Saka bingung.

"Emm, terlalu percaya diri dengan ketampananmu" ucap Zora kembali tertawa.

"Kalau ada yang lebih tampan darimu kenalkan kepadaku ya. Siapa tau nanti kami berjodoh dan akhirnya menikah" ucap Zora lagi yang membuat bukan hanya Saka tetapi pangeran Auriga juga membulatkan matanya.

"Ehem" deheman pangeran Auriga menghentikan tawa Zora.

"Danindra, hari sudah sore sebaiknya kau mengantarkan Nona Ayara untuk pulang" ucap pangeran Auriga.

"Tidak bisa!" ucap Zora sewot.

"Kau kan kekasihnya seharusnya kau yang mengantarkannya pulang bukannya Saka. Jika Saka mengantar Ayara pulang lalu siapa yang akan mengantarkanku kembali ke kamar. Pokoknya Saka tidak boleh pulang sebelum aku yang mengizinkan" ucap Zora menatap pangeran Auriga dengan tatapan menantang.

"Danindra" ucap pangeran Auriga sekali lagi.

Saka terpaksa pamit kepada Zora meskipun Zora sudah berusaha menghalanginya. Setelah itu Saka dan Ayara keluar dari istana dan kembali ke kediamannya masing-masing. Sedangkan Zora masih berada di taman dengan wajah yang ditekuk.

"Hari sudah mulai gelap, kembalilah ke kamarmu" ucap pangeran Auriga tetapi Zora tidak menggubris sama sekali.

"Putri Zora" panggil pangeran Auriga namun tetap sama, tidak ada respon.

"Kenapa kau selalu mengganggu apa yang menjadi kesenanganku? Bukankah hanya bercanda tawa dengan teman sendiri itu tidak menjadi masalah untuk kerajaan?" tanya Zora tanpa menatap pangeran Auriga.

"Aku juga sudah tidak pernah mengganggumu lagi bahkan aku sudah melepaskanmu jadi kau bebas jika ingin bersama Ayara dan begitu pula aku. Aku bebas ingin dekat dengan siapa saja" imbuhnya.

Pangeran Auriga terdiam. Memang ini yang diinginkannya, berpisah dengan Zora. Ia juga tidak mengetahui kenapa bisa bersikap sangat bodoh dengan mengganggu Zora dan Saka.

"Aku mohon Auriga berhentilah menggangguku kecuali jika itu memang benar-benar berkaitan dengan urusan istana. Aku juga ingin hidup bebas sepertimu." ucap Zora kemudian pergi meninggalkan pangeran Auriga yang masih mematung.

•••

jangan lupa vote komen rate dan like

1
missyouuu
baca novel ini sambil ngebayangin drama love destiny. mirip tapi beda, pinter deh otornya.
•Rifa_Fizka
Hallo Thor ijin promosi ya😃
Mampir yuk di novel pertama ku yang berjudul "KEKUATAN HATI WANITA"

Berkisah wanita yg bangkit dari penghianatan.

Mohon dukungannya, terimakasih🙏🏻🤗🌹
Cicik Aisyah
suka sama author satu ini, novelnya beda
Bayu Fian
tamat kah,,, 🤔
Bayu Fian
pangeran wis ora sabaran🤣🤣
Bayu Fian
absen, thor
tp ngomong-ngomong,,, ceritanya bagus lho,,, cerita jaman dahulu kala
Nur rahmayana
untuk sementara saya kasih like aja dulu ya Thor....
Na Ys
LOE GUE.. ELO GUE 😄😄😄😄😄😄😄
Sri Mulyaningsih
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Sri Mulyaningsih
semangat Thor👍🏻
Sri Mulyaningsih
suka karakter zora
Sri Mulyaningsih
😄
Sri Mulyaningsih
👍🏻
Sri Mulyaningsih
mantap
Sri Mulyaningsih
semangat.....bagus ceritanya
momy ida
sungguh ceritaaaa novellll yg amazing.... krennnnn pake bgt......😍😍😍thanks authorrr zeyeng udah suguhin kita dengan ceritaaaa novel yg sekerennnn ini😘😘😘suksesss selalu buat lo authoorrrrrr zeyengggggggg🌹🌹🌹
Erni Hidayat
Dari sekian banyak novel kerajaan yang dibaca... Ini paling berkesan.. Karena diangkat dari dalam negri...

I love Indonesia😍😍😍😍
I love you thooor 😘😘😘😘
Dehar Tati
ya abiis,ngak jdi dong,lihat kisah zora zaman sekarang,lanjuuuuut lh thoooor
Nadiyyar
kapal goyang apasiii woy ngakakkk
azfaa
berasa di gantung😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!