NovelToon NovelToon
The Savior

The Savior

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Misteri / Action / Fantasi / Sci-Fi / Horor
Popularitas:63
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.

Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.

Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.

Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.

Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.

Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi part 3

Will memejamkan mata.

"Tapi... kau tidak bisa keluar rumah sambil memamerkan tanduk itu," suara Aisa mengingatkan.

Will mengangguk. Ia sendiri juga tidak mau, tanduk hitam itu terlalu mencolok.

Orang-orang akan bertanya, resepsionis akan curiga, Clara bisa jadi ketakutan.

"Lalu, aku harus apa, Kak?"

"Hmm, coba fokus pada tandukmu dan ubah menjadi aksesoris,"

"Aksesoris?"

"Iya. Gelang, kalung, atau apapun yang tidak mencolok. Kau kan bisa berubah wujud,"

Will mengangguk. "Baik, akan kucoba,"

Will memfokuskan pikirannya pada tanduk di sisi kiri kepalanya.

Tanduk hitam itu bercahaya. Perlahan, bentuknya berubah.

Beberapa detik kemudian, tanduk itu lenyap. Berganti menjadi sebuah pita kecil berwarna biru muda, di rambut sisi kirinya.

"Berhasil,"

"Bagus. Sekarang tidur. Besok kau harus fokus ke misi,"

"Baik, Kak,"

Batu itu dingin.

Will menyimpannya.

Ia berdiri di depan cermin cukup lama, menatap pita biru kecil di sisi kiri kepalanya.

Will menyentuh pita itu pelan. Masih terasa sedikit hangat.

Lalu ia menarik napas, membaringkan diri di kasur, dan menutup mata.

Keesokan harinya...

Pagi hari, Will terbangun. Cahaya matahari masuk dari sela-sela tirai jendela. Udara masih sejuk.

Ia turun dari kasur, berjalan ke kamar mandi kecil di ujung lorong. Sambil menyikat gigi, ia menatap pantulannya di cermin.

Pita biru masih melingkar rapi di rambut sisi kirinya.

Will menyentuhnya sebentar. Masih terasa hangat.

Entah kenapa, setelah memiliki tanduk ini, yang kini tersembunyi sebagai pita. Tidak ada yang mengganggunya. Tidak ada rasa diawasi. Tidak ada perasaan aneh seperti kemarin.

Seolah-olah keberadaan tanduk itu membuatnya... lebih aman?

Will menggeleng. Ia membilas mulutnya, menyeka wajah, lalu kembali ke kamar.

Ia berganti pakaian. Memeriksa perlengkapan. Semua sudah siap di ruang penyimpanan.

"Jam 8. Bertemu Clara di Guild," gumamnya.

Will keluar kamar, berjalan ke meja depan untuk sarapan.

Perempuan pemilik penginapan tersenyum seperti biasa.

"Pagi, Nak. Mau sarapan?"

"Pagi, Kak. Iya, seperti biasa,"

Will duduk di meja dekat jendela. Seporsi bubur hangat dan segelas teh datang tak lama kemudian.

Ia makan perlahan. Pikirannya mulai terarah ke hari ini.

Soal uang, masih banyak di penyimpanan pribadinya. Aisa memberinya cukup banyak sebelum berangkat. Ditambah hasil panen kemarin, meski tidak seberapa, tapi cukup untuk cadangan.

Senjata? Ada. Aisa memberinya pisau kecil sebelum pergi, bukan untuk bertarung, tapi untuk memotong tali atau keperluan darurat lainnya.

Will menyimpannya di ruang penyimpanan.

Minuman? Ada. Beberapa botol air ia siapkan sejak awal.

Tapi untuk melawan monster?

Will menghela napas.

Apakah ini cukup?

Ia tidak tahu. Belum pernah bertarung sungguhan. Yang ia punya hanyalah kemampuan meniru dan kekuatan Daimos yang belum ia pahami.

"Nanti di hutan, aku lihat dulu bagaimana Clara bertarung. Lalu aku tiru gerakannya," pikirnya.

Itu rencananya.

Sederhana. Tapi mungkin berhasil.

Will menghabiskan sarapannya, membayar, lalu berjalan keluar menuju Guild.

Sesampainya di depan Guild.

Udara pagi masih sejuk. Beberapa orang sudah lalu-lalang di depan bangunan. Will menyusuri trotoar, matanya mencari sosok Clara.

Clara sudah berdiri di sana, di samping tiang bendera Guild. Rambut pirangnya tertiup angin pagi. Ia memegang sebuah gulungan kertas di tangan kirinya.

Ia melihat Will, lalu tersenyum.

"Nah... akhirnya kau datang,"

Will berjalan mendekat. "Apa aku terlambat?"

"Tidak. Aku yang datang terlalu pagi,"

Will menghela napas lega. "Kukira aku terlambat,"

Clara terkekeh kecil. "Kamu tipe orang yang tidak suka terlambat, ya?"

Will tersenyum tipis. "Lebih baik begitu,"

Clara mengangguk. Lalu ia mengangkat gulungan kertas di tangannya.

"Ini misi rank B yang akan kita kerjakan. Aku sudah ambil tadi pagi,"

Will melihat gulungan itu. Ada stempel merah di sudutnya.

lambang resmi Guild.

"Hutan timur?" tanya Will, mengingat apa yang ia baca kemarin.

"Iya. Mengusir Goblin,"

Will mengerjap. "Eh! Goblin? Kukira kita bakal melawan monster,"

Clara menatap Will bingung.

"Sepertinya, kau salah lihat misi,"

Will terdiam.

Ia mengingat kembali papan pengumuman kemarin. Banyak misi yang terpajang di sana. Ada yang tulisannya merah, ada yang hitam. Mungkin ia terburu-buru membaca dan salah mengingat.

"Goblin," ulang Will pelan. Lebih kecil dari monster. Tapi tetap berbahaya.

Clara mengangguk. "Ayo berangkat. Sekalian beli baju untukmu,"

"Baju?" tanya Will.

"Iya. Kau tidak mungkin bertarung menggunakan jaket dan celana pendek, kan?"

Will melihat penampilannya. Jaket yang sama sejak ia tiba di kota ini. Celana pendek. Sepatu biasa. Tidak cocok untuk bertarung di hutan.

"Tidak," jawabnya jujur.

"Kalau begitu, ayo,"

Clara berjalan lebih dulu. Will mengikuti.

Mereka tidak langsung menuju gerbang kota, tapi berbelok ke arah distrik selatan.

"Di sini banyak toko pakaian," jelas Clara.

Will melihat sekeliling. Distrik selatan lebih ramai dari sekitar Guild. Pedagang kaki lima berjejer. Bau ikan asin menyengat dari pasar ikan yang tidak jauh.

Clara berhenti di depan sebuah toko kecil. Papan kayu di atas pintu bertuliskan 'Pakaian Praktis'.

"Masuk,"

Will masuk ke dalam. Toko sempit, tapi pakaian tergantung rapi di dinding. Ada jaket tebal, celana panjang, sepatu bot, dan aksesoris kecil lainnya.

Seorang perempuan tua menyapa dari belakang meja.

"Ada yang bisa dibantu?"

"Baju untuk bertarung," kata Clara singkat.

Perempuan itu mengamati Will dari ujung rambut ke ujung kaki.

"Ukuran kecil. Tunggu,"

Ia berbalik, mengambil beberapa potong pakaian dari rak, lalu meletakkannya di meja.

Will bingung ketika disuruh memilih.

Ia memandangi pakaian-pakaian yang tergantung di dinding toko. Jaket tebal, jaket tipis, celana pendek, celana panjang, warna gelap, warna terang, semuanya campur aduk.

Will tidak pernah terlalu memperhatikan pakaian. Selama nyaman dan tidak mengganggu gerakannya, itu sudah cukup.

Clara yang melihat kebingungan itu akhirnya membantu memilihkan.

 

Di Guild.

Suasana masih ramai seperti biasa. Beberapa petugas sibuk dengan berkas. Beberapa tamu duduk di bangku panjang sambil menunggu giliran.

Resepsionis duduk di belakang meja. Matanya mengawasi pintu masuk, lalu beralih ke tumpukan kertas di depannya.

Ia tersenyum sendiri.

Bukan senyum ramah. Tapi senyum tipis, seperti orang yang sedang merasa puas dengan rencananya.

"Clara mau saja, aku kasih misi palsu," gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

"Misi yang dia terima sebenarnya misi rank A, bukan B,"

Ia menarik napas, lalu menghela perlahan.

"Dengan ini, Will pasti dihabisi oleh Goblin itu,"

Ia melanjutkan menulis. Tidak ada yang memperhatikan. Tidak ada yang mendengar.

Kembali ke Will.

Setelah memilih pakaian yang menurutnya cocok, Will keluar dari toko.

"Nah, ini baru pakaian petualang," kata Clara sambil mengamati Will dari ujung rambut hingga kaki.

Will menoleh ke arah Clara. Ia berpikir.

"Ini pasti ujian dari Clara. Dia sengaja membelikanku baju untuk jaga-jaga,"

Bersambung...​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!