Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tea Party
Ketika Lilly memasuki paviliun timur kediaman Albert, aroma teh hangat dan bunga musim panas langsung menyambutnya pelan.
Angin bergerak ringan melewati taman luar, membawa suara dedaunan yang bergesekan samar.
Berbeda dengan aula pesta bangsawan yang megah dan penuh tatapan tajam, tempat ini terasa jauh lebih tenang.
Meja panjang telah tertata rapi di tengah paviliun.
Teko porselen putih.
Kue-kue kecil dengan lapisan glaze mengilap.
Serta beberapa potong tart buah yang masih tampak segar.
Bahkan teko tehnya masih mengeluarkan uap tipis.
Beberapa wanita bangsawan telah duduk di sana. Mereka bukan gadis muda seperti para debutan ballroom. Melainkan wanita-wanita generasi yang jauh lebih dewasa.
Generasi yang tampak sebaya dengan mendiang ibu Lilly.
Tatapan mereka bergerak perlahan ketika Lilly masuk. Senyum tipis yang tampak lebih sopan dilemparkan pada gadis yang baru saja datang.
Namun cukup tajam untuk membuat seseorang merasa sedang dinilai dari ujung kepala hingga kaki.
“Lady Lillyane.”
Salah satu wanita dengan gaun hijau tua tersenyum.
“Kami sudah cukup sering mendengar tentang Anda akhir-akhir ini.”
Lilly membalas senyum sopan sebelum duduk perlahan di kursi yang telah disiapkan.
Percakapan kecil segera kembali mengalir di atas meja teh.
Terutama tentang gala amal yang menjadi topik hangat pembicaraan mereka.
Dan meski semua terdengar ringan—
Lilly bisa merasakan setiap perkataan yang dilemparkan sebenarnya sedang mengukur secara perlahan.
“Namun,” salah satu wanita lain akhirnya berbicara sambil menyeruput tehnya pelan, “saya rasa yang paling saya ingat adalah dansa Anda di ballroom.”
Suasana meja teh mendadak sedikit lebih tenang.
Netra beberapa wanita lain ikut bergerak ke arah Lilly.
Wanita itu tersenyum kecil.
“Mengingatnya membuat saya sadar bahwa Anda berbeda dari rumor yang selama ini beredar.”
Lilly terdiam sesaat.
Lalu perlahan sudut bibirnya terangkat tipis.
“Sejujurnya,” ucapnya pelan, “sejak kecil saya cukup sering melihat kedua orang tua saya berdansa.”
Beberapa wanita tampak sedikit terkejut mendengar jawaban itu.
Lilly masih mempertahankan senyum lembutnya.
“Ayah saya selalu memutar musik waltz setiap akhir pekan.”
Perhatiannya turun sesaat pada cangkir teh yang tampak menguap tipis.
“Ibu saya sangat anggun ketika berdansa.”
Pandangannya hanya bertahan sesaat sebelum Lilly kembali tersenyum dengan hangat.
“Beliau benar-benar terlihat elegan.”
Salah satu wanita di ujung meja akhirnya mengangkat bibirnya tipis sambil meletakkan cangkir tehnya perlahan.
“Tentu saja,” ucapnya lembut, “setiap anak ingin ibunya dipuji.”
Nada suaranya terdengar ringan.
Namun Lilly bisa menangkap lapisan lain di balik kalimat itu.
Perhatian beberapa wanita lain ikut tertuju padanya, menunggu bagaimana calon Putri Mahkota itu akan menjawab.
Dan Lilly tetap tersenyum
Tenang.
“Itu memang sudah seharusnya.”
Jawaban yang sederhana.
Cukup membuat beberapa wanita di meja teh itu saling bertukar pandang samar.
Karena Lilly tidak terdengar defensif.
Tidak pula mencoba merendahkan dirinya.
Ia hanya menjawab sebagaimana mestinya.
Wanita tadi terkekeh kecil sebelum kembali menyeruput tehnya.
“Skandal yang telah lalu…”
Pandangannya bergerak perlahan pada Lilly.
“Ternyata justru menjadi awal bagi Lady.”
Angin musim panas bergerak pelan melewati jendela terbuka, membuat tirai tipis di sisi ruangan bergoyang samar.
Dan untuk sesaat—
semua orang di meja itu tahu apa yang sebenarnya sedang dibicarakan.
Bagaimana seorang gadis biasa berhasil masuk ke lingkaran keluarga kerajaan melalui skandal terbesar ibu kota.
Namun Lilly tidak menurunkan pandangannya.
Mata hazelnya tetap lembut.
“Kalau dipikir kembali,” ucapnya pelan, “saya juga tidak pernah membayangkannya akan menjadi seperti ini.”
Kalimat itu terdengar hampir jujur sepenuhnya.
“Namun sekarang saya berada di sisi Yang Mulia Putra Mahkota.”
Senyum kecil perlahan muncul di wajah Lilly.
“Karena itu saya akan berusaha melakukan yang terbaik.”
Keheningan langsung memenuhi paviliun.
Tidak ada yang segera menyahut.
Hanya suara lembut sendok porselen yang bersentuhan pelan dengan cangkir teh, bercampur hembusan angin samar dari taman luar.
Beberapa wanita bangsawan saling bertukar pandang.
Karena jawaban Lilly terlalu tenang.
Gadis itu tidak menyangkal skandal yang telah berlalu.
Tidak pula mencoba melarikan diri darinya.
Namun juga tidak membiarkan dirinya diinjak karenanya.
Dan justru itu membuat suasana meja teh berubah sedikit berbeda.
Lilly bisa merasakannya.
Tatapan mereka kini tidak lagi sepenuhnya memandangnya sebagai gadis biasa yang terseret keberuntungan.
Melainkan seseorang yang perlahan mulai memahami bagaimana berdiri di tengah lingkaran bangsawan.
Keheningan itu akhirnya dipatahkan oleh suara lembut dari sisi meja.
“Kalau begitu,” ucap seorang wanita sambil tersenyum samar, “suasana kita menjadi terlalu serius.”
Tatapan Lilly bergerak pelan ke arah wanita tersebut.
Istri Albert.
Gaun cokelat keemasan yang dikenakannya tampak elegan tanpa terlihat mencolok. Wanita itu sejak tadi lebih banyak diam, hanya memperhatikan jalannya percakapan sambil sesekali menyeruput teh.
Senyumnya terlihat hangat.
Namun tetap sulit ditebak.
“Tuan Albert mengatakan pesta teh seharusnya dinikmati dengan santai.”
Wanita itu memberi isyarat kecil pada para pelayan.
Tak lama kemudian, sebuah kotak kayu panjang dibawa ke tengah meja.
Beberapa wanita langsung tersenyum kecil seolah mengenali benda tersebut.
“Karena itu,” lanjutnya pelan, “bagaimana kalau kita memainkan sesuatu?”
Kotak kayu itu dibuka perlahan.
Dan di dalamnya—
tertata rapi setumpuk kartu klasik dengan lapisan emas tipis di sisinya.
“Whist?”
Salah satu wanita tersenyum kecil.
Istri Albert mengangguk pelan.
“Sudah lama kita tidak memainkannya bersama.”
Beberapa pelayan segera bergerak merapikan meja teh, memberi ruang pada permainan.
Lilly memperhatikan kartu-kartu itu beberapa detik.
Permainan kartu.
Ia pernah melihatnya.
Namun tidak pernah benar-benar memainkannya.
Mata hazelnya perlahan bergerak pada para wanita bangsawan di sekeliling meja.
Dan entah mengapa—
Lilly merasa permainan itu bukan tentang mengisi acara.
****