NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14

***

Dini hari di Desa Sukamaju masih diselimuti embun pekat saat Laras sudah memaksakan diri bangkit dari ranjang. Kepalanya berdenyut, efek dari tangis hebat semalam dan kurangnya oksigen karena posisi tidurnya yang tidak nyaman. Namun, rasa sakit di hati rupanya lebih kuat memacu adrenalinnya daripada rasa lelah di sekujur tubuhnya yang hamil delapan bulan.

Laras berjalan ke dapur dengan langkah terseret. Suasana rumah begitu sunyi, hanya suara detak jam dinding yang seolah mengejek kesendiriannya. Dengan gerakan mekanis, ia mulai mencuci beras, memotong sayuran, dan menyalakan kompor. Ia melakukan semuanya dalam diam, sebuah rutinitas yang kini terasa seperti beban besi di pundaknya.

Tak lama, terdengar langkah kaki berat mendekat. Bagas muncul di ambang pintu dapur, wajahnya tampak kuyu, rambutnya berantakan—pertanda ia pun tak tidur nyenyak setelah diusir secara halus semalam.

"Ras... sudah bangun?" tanya Bagas dengan suara serak, mencoba mencairkan suasana.

Laras tidak menoleh. Ia hanya memberikan anggukan kecil yang sangat singkat sembari tangannya tetap sibuk mengaduk sayur di dalam panci.

"Sini, biar Mas bantu potong bawangnya. Kamu duduk saja, wajahmu masih pucat sekali," Bagas mencoba melangkah mendekat, hendak meraih pisau di tangan Laras.

Laras dengan sigap menggeser tubuhnya, menghindari sentuhan Bagas seolah-olah tangan suaminya adalah api yang panas. Ia hanya berdeham pelan—ehem—sebagai tanda penolakan, lalu menunjuk ke arah meja makan dengan dagunya, mengisyaratkan Bagas untuk duduk diam di sana.

"Mas cuma mau bantu, Ras. Mas tahu kamu marah, Mas tahu Mas salah semalam..." Bagas mendesah frustrasi, suaranya mengandung nada memohon.

Laras tetap membisu. Ia mengangkat panci yang berat itu dengan napas yang tertahan, memindahkannya ke wadah saji. Tidak ada satu kata pun yang keluar. Keheningan itu terasa lebih tajam daripada pisau dapur yang ia pegang.

**

Pukul tujuh pagi, Gilang dan Arka sudah duduk rapi di meja makan. Keceriaan anak-anak itu menjadi satu-satunya warna di tengah mendungnya atmosfer rumah pagi itu. Laras duduk di antara kedua putranya, sibuk menyuapi Arka yang sedang rewel tidak mau makan sayur.

"Ayo, Arka sayang... satu suap lagi buat jagoan Mamah. Habis ini kita main mobil-mobilan ya?" ucap Laras dengan nada suara yang sangat lembut, penuh kasih sayang. Ia tersenyum tipis, mengusap pipi Arka yang belepotan nasi.

Bagas, yang duduk di ujung meja, menatap pemandangan itu dengan getir. Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.

"Ras, kopi Mas mana?" tanya Bagas pelan, mencoba membuka percakapan lagi.

Tanpa menatap wajah suaminya, Laras berdiri. Ia berjalan ke dapur, mengambil secangkir kopi hitam yang sudah ia siapkan, lalu meletakkannya di depan Bagas dengan bunyi tuk yang tegas. Ia langsung kembali duduk dan melanjutkan bercanda dengan Arka.

"Mah! Tadi Mamas lihat ada burung besar di pohon!" seru Gilang bersemangat.

"Wah, benarkah? Warnanya apa, Sayang?" sahut Laras antusias, seolah dunia hanya milik dia dan anak-anaknya.

"Warna kuning! Bagus banget, Mah!"

"Ras..." Bagas menyela, suaranya sedikit meninggi karena merasa diabaikan. "Tadi Mas cari kaos kaki cokelat yang biasa dipakai dinas, kok nggak ada di laci ya? Di mana kamu taruh?"

Seketika, keceriaan di wajah Laras menguap. Ekspresinya berubah datar, sedingin es. Ia menoleh ke arah Bagas tanpa sedikit pun sorot mata yang ramah. Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannya hanya menunjuk ke arah tumpukan baju bersih yang sudah disetrika rapi di atas lemari samping. Di sana, semua perlengkapan Bagas sudah tertata sempurna, dari kaos kaki hingga sapu tangan.

"Aku tanya, Ras. Bukan minta ditunjuk," ucap Bagas, mulai merasa frustrasi. "Bisa nggak bicara sepatah kata saja? Mas ini suamimu, bukan tembok."

Laras menarik napas panjang, dadanya yang sesak karena kehamilan terasa kian terhimpit. Ia meletakkan sendok makan Arka, lalu berdiri. Ia berjalan menuju tumpukan baju itu, mengambil kaos kaki yang dimaksud, lalu meletakkannya di samping piring Bagas. Setelah itu, ia kembali menyuapi Arka tanpa mengeluarkan suara setitik pun.

"Ya Tuhan, Laras... Sampai kapan kamu mau begini?" Bagas meletakkan sendoknya dengan keras ke piring, menimbulkan bunyi denting yang membuat Gilang dan Arka terdiam ketakutan. "Mas sudah minta maaf! Mas sudah usir Siska! Apa itu belum cukup?"

Laras hanya diam. Ia menepuk-nepuk punggung Arka yang mulai gelisah. Di matanya, pembelaan Bagas terhadap Siska memang hebat, namun bentakan Bagas semalam telah meruntuhkan kepercayaan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Baginya, melayani Bagas adalah tugas, namun memberikan suaranya adalah sebuah kehormatan yang belum sanggup ia berikan lagi.

Setelah sarapan, Bagas bersiap berangkat ke kantor desa. Laras melakukan kewajibannya seperti biasa. Ia menyiapkan seragam dinas Bagas yang sudah licin tanpa kerutan, memastikan sepatu suaminya mengkilap, dan memasukkan berkas-berkas penting ke dalam tas kerja Bagas.

Bagas berdiri di depan cermin, mengamati Laras yang sedang merapikan kerah bajunya dari belakang. Laras melakukan semuanya dengan sangat telaten, sangat sempurna, namun tanpa ada tatapan mata. Sentuhan tangan Laras di bahunya terasa dingin, hanya sebuah fungsi, bukan perasaan.

"Ras... Mas pulang agak sore nanti. Ada rapat di kecamatan," ucap Bagas sambil menatap pantulan wajah Laras di cermin.

Laras hanya memberikan anggukan kecil. Ia tidak bertanya jam berapa Bagas pulang, atau apakah Bagas sudah membawa bekal minum. Ia hanya mengulurkan tangan untuk menyalami Bagas—sebuah ritual wajib istri di desa itu.

Bagas menggenggam tangan Laras erat-erat saat istrinya mencium punggung tangannya. "Mas sayang kamu, Ras. Mas sungguh-sungguh."

Laras menarik tangannya dengan lembut namun tegas. Ia menatap Bagas sekilas, lalu berbalik menuju dapur untuk mencuci piring sisa sarapan. Tidak ada jawaban "Hati-hati" atau "Iya, Mas". Hanya suara kucuran air keran yang memenuhi ruangan.

Bagas melangkah keluar rumah dengan bahu merosot. Ia memacu motornya menuju kantor desa dengan perasaan yang hancur berkeping-keping. Di kepalanya, ia lebih suka Laras memaki-makinya, berteriak padanya, atau melempar piring ke arahnya, daripada harus menghadapi "keheningan maut" seperti ini.

Sementara itu, di dapur, Laras jatuh terduduk di kursi kayu. Tangannya gemetar hebat. Ia memegangi perutnya yang mendadak kram karena ketegangan emosional yang luar biasa. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh satu per satu.

"Maafin Mamah ya, Nak..." bisiknya parau pada bayinya. "Mamah cuma capek... Mamah cuma ingin dihargai, bukan cuma dilayani..."

Laras menyadari, ia bisa melakukan semua tugas istri dengan sempurna, tapi ia tidak bisa berpura-pura bahwa hatinya tidak sedang terluka hebat. Keheningan ini adalah benteng terakhirnya agar ia tidak hancur sepenuhnya di depan laki-laki yang ia layani setiap hari namun seringkali gagal memahami jiwanya.

****

Bersambung....

1
Paradina
😍
Heresnanaa_: Stay tune terus ya kak🙏😍
total 1 replies
arniya
mampir kak, bab pertama udh gereget sm Bagas
Heresnanaa_: Hai Kaka, terimakasih sudah mampir

happy reading yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!