Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.
Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.
pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.
tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.
tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....
karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 3 : Rosario yang nggak akan Dipakai
---
Tas besar itu masih bersandar di belakang kursi kereta. Berat.
Tapi yang paling berat buat Indry bukan isinya, melainkan satu benda kecil yang tadi dia serahkan ke Zaki.
Kalung rosario.
Manik-maniknya pink muda, berkilat lembut kayak permata. Tua, tapi bersih, terpelihara. Indry selalu simpan di dalam pouch beludru biru muda, kecil.
Kalau jalan selalu melingkar di leher, menggantung dengan penuh percaya diri si pemilik.
Setiap habis retret, habis doa, habis pakai, dia lap satu per satu. Harus bersih biar awet.
"Ini hadiah dari panitia Seminar Hidup Baru dalam Roh,"
katanya dulu ke Zaki.
"Buat pengingat kalau aku nggak jalan sendiri."
Sekarang rosario itu ada di tangan Zaki.
Indry nggak tahu Zaki akan ngapain dengan benda itu.
Zaki Muslim.
Zaki pernah nyantri.
Zaki punya cara sendiri buat berdoa.
Tapi Indry nggak punya apa-apa lagi buat kasih.
Itu satu-satunya yang paling berharga.
Di stasiun Tegal, Zaki masih duduk di bangku kayu.
Kantong hadiah buat Indry dan adik-adiknya sudah berpindah tangan. Sekarang yang dia pegang cuma rosario itu.
Manik-manik pink muda itu berkilat pelan di bawah lampu stasiun.
Zaki nggak tahu doa Salam Maria.
Dia nggak pernah pakai rosario seumur hidup. Tasbih ada... tapi ini beda sih,
Dia tatap lama, kayak lagi baca surat yang nggak pakai huruf.
Benda ini akan Ia simpan dan kembalikan pada saatnya nanti, ini berharga buat Indry,
Flashback nyerang.
_16 tahun lalu, Tahun yang nggak pernah terlupa sedikit pun, kebersamaan yang manis, sengaja atau kebetulan, Indry pernah menjadi Fokus diam diam nya._
Tapi kesan pertama itu gak pernah bisa ilang,
Indry duduk di kursi teras bu Inah, tetangga Mushola di gang Kost an Zaki, megang rosario sambil doa pelan.
Bu Inah ini tetangga Zaki juga Tetangga Kost Indry waktu masih tinggal di gang itu.
Kursi panjang teras rumah kayu sederhana itu, tempat ngobrol yang paling asyik setelah pulang kerja, sekedar basa basi dan memang pemilik rumah sangat ramah dan baik, Indry sering berbagi tanaman sayur hasil Pot nya dan Bu Inah bagi sayur masak nya.
Dulu, saat Kost di gang ini, sampai saat itu Zaki slalu menanti Indry datang kesana,
Zaki baru aja keluar Mushola abis sholat Dzuhur
"kamu nggak takut ya deket-deket tempat aku doa?"
Indry ngangkat muka, senyum kecil.
"Tuhan aku nggak ngusir orang, Zak."
"kan masi jauh juga, gak di tangga Mushola itu... "
Zaki cuma garuk kepala. "Kamu doa sambil denger Dzikir ya " gak maksud ngejek sebenarnya,
Itu awal mereka akrab. Ngobrol apa aja. Tentang Tuhan yang mereka percayai dengan cara berbeda, tentang pandangan hidup, tentang pekerjaan, makanan, keluarga.
Zaki ingat Indry yang dulu, kerja padat, ngurus lima adik, tapi tetap nyempetin ikut retret, ikut doa malam, ikut pelayanan.
"Aku kuat bukan karena aku hebat, Zak. Aku kuat karena Dia."
Zaki dulu cuma senyum.
Sekarang dia ngerti.
Indry kuat bukan karena nggak punya beban.
Indry kuat karena bebannya dititip ke Tuhan.
Jari Zaki usap manik-manik itu pelan. Dingin, tapi terasa hangat.
Kalau Indry bisa setia sama imannya, Zaki juga mau setia sama hormatnya.
Hormat pada perempuan yang ngasih hal paling suci yang dia punya.
Di kereta, Indry menatap tas besar itu.
Di dalamnya ada baju, makanan, uang, semua yang dia butuh.
Tapi yang bikin dadanya sesak bukan itu.
Yang bikin sesak adalah pikiran: Zaki sekarang pegang rosario pink muda itu.
Zaki yang Muslim. Zaki yang dididik di pesantren.
Entah dia akan simpan, entah dia akan letakkan di laci, entah dia akan lupa.
Tapi Indry percaya satu hal: Zaki nggak akan melecehkan.
15 tahun yang lalu, ada banyak kebersamaan dan kebetulan yang pernah membuat mereka dekat. Cukup untuk mengenal bahwa pria itu orang yang baik, ciri anak sholeh yang sering disebut-sebut Meta.
Dan disaat yang sama, obrolan akrab itu juga dikenang Indry.
Dua orang. Dua keyakinan.
Dipertemukan setelah 15 tahun.
Tapi sepertinya sulit menemukan titik persatuannya.
Indry menutup mata. Doanya cuma satu:
"Tuhan, kalau ini bukan jalan kami, tolong kuatkan aku untuk melepaskan. Tapi kalau ini ujian... tolong beri aku cukup iman untuk menjalaninya."
Di Tegal, Zaki memasukkan rosario itu ke saku kemeja, dekat jantung.
Dia berbisik pelan, walau Indry nggak dengar:
"Kalau memang harus berhenti di sini, Dry... aku terima. Tapi aku simpan ini. Biar aku ingat, pernah ada kamu yang percaya aku bisa jaga."
Zaki melangkah meninggalkan stasiun, namun membawa doa-doa menurut keyakinannya.
"Ya Allah... kalau dia bukan jodohku, kuatkan aku untuk ikhlas. Kalau dia jalan yang Kau beri, tunjukkan aku cara untuk menghormati imannya."
---