NovelToon NovelToon
Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:29.9k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.

Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.

Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.

Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Dentang sendok perak yang beradu dengan piring porselen krisan terdengar seperti lonceng kematian di telinga Aira. Ruang makan kediaman Maheswari malam itu terasa begitu dingin, meski pendingin ruangan sudah disetel di suhu normal. Wangi steak wagyu yang mahal justru membuat perut Aira mual.

Di kepala meja, Prasetya Maheswari duduk dengan punggung tegak, menatap selembar kertas hasil ujian dengan binar bangga yang jarang terlihat.

"Sempurna. Nilai rata-rata sembilan puluh delapan. Kamu benar-benar permata keluarga ini, Airin," suara Prasetya berat namun lembut saat berbicara pada gadis di sisi kanannya.

Airin, yang mengenakan gaun sutra berwarna peach yang sangat kontras dengan kulit porselennya, tersenyum manis. Rambutnya yang legam tergerai indah, berkilau di bawah lampu gantung kristal. "Ini semua berkat dukungan Papa dan Mama. Airin hanya tidak ingin mempermalukan nama Maheswari."

"Tentu saja, Sayang. Gelar dan prestasi adalah napas keluarga kita," sahut Ratna, sang ibu, sembari mengusap lembut tangan Airin. Matanya kemudian beralih ke sisi kiri meja. Seketika, kelembutan itu menguap, digantikan oleh tatapan sedingin es.

"Dan kamu, Aira? Mana kertasmu?"

Aira tersentak. Tangannya yang berada di bawah meja saling meremas. Ia bisa merasakan tekstur kasar di ujung jarinya—bekas tusukan jarum yang mengering dan kapalan kecil akibat terlalu sering memegang gunting kain yang berat. Ia perlahan mengeluarkan selembar kertas yang sudah lecek dari saku seragamnya yang kusam.

Kertas itu diletakkan di atas meja dengan tangan gemetar.

Prasetya meraihnya. Hanya dalam tiga detik, pria itu melempar kertas tersebut ke tengah piring Aira yang masih penuh makanan. Angka '42' di kolom matematika tampak seperti ejekan berwarna merah menyala.

"Empat puluh dua?" Prasetya tertawa hambar, suara yang lebih menyakitkan daripada bentakan. "Aira, katakan pada Papa, apa yang ada di dalam otakmu? Kamu dan Airin lahir dari rahim yang sama, di hari yang sama. Tapi kenapa kamu tumbuh seperti... cacat produksi?"

Cacat produksi. Kata itu menghantam dada Aira hingga ia sesak napas.

"Aku... aku sudah belajar, Pa. Tapi angka-angka itu selalu melompat-lompat di mataku," cicit Aira. Suaranya serak, hampir tenggelam oleh suara detak jam dinding.

"Alasan!" bentak Ratna tiba-tiba, membuat Aira berjengit. "Kamu itu malas. Lihat wajahmu, kusam, tidak terawat. Rambutmu seperti singa. Kamu tidak punya prestasi akademis, tidak punya kecantikan untuk dibanggakan. Kamu itu noda, Aira! Kamu membuat orang bertanya-tanya, apakah kami benar-benar memiliki dua putri atau satu putri dan satu pelayan yang salah makan."

Airin hanya diam, menyesap jus jeruknya dengan anggun. Tidak ada pembelaan. Justru, sudut bibirnya sedikit terangkat—sebuah kemenangan kecil yang hanya bisa ditangkap oleh mata Aira.

"Maaf, Ma..."

"Jangan minta maaf! Perbaiki nilai itu atau keluar dari rumah ini. Maheswari tidak butuh orang bodoh yang kerjanya hanya melamun di gudang belakang!" Prasetya memotong tajam. "Kamu tahu sendiri, di dunia ini, gelar adalah segalanya. Tanpanya, kamu bukan siapa-siapa."

Aira semakin menundukkan kepalanya. Ia menyembunyikan tangannya di bawah meja lagi. Di bawah sana, ia meraba secarik kain perca di dalam sakunya. Sebuah desain gaun yang ia gambar diam-diam di balik buku catatan matematika. Baginya, garis-garis kain itu jauh lebih masuk akal daripada rumus kalkulus yang dianggap ayahnya sebagai Tuhan. Namun, ia tahu, jika ia menunjukkan sketsa itu, ayahnya akan membakarnya hidup-hidup.

Suasana kembali hening, hanya ada suara denting alat makan yang elegan. Tiba-tiba, ponsel Prasetya bergetar. Ia mengangkatnya, dan raut wajahnya berubah drastis. Ada ketegangan, rasa hormat, dan kegembiraan yang meluap.

"Ya? Benarkah? Kapan?" Prasetya berdiri dari kursinya. "Kami akan menyambutnya dengan sangat baik. Tentu saja."

Setelah menutup telepon, Prasetya menatap istri dan kedua anaknya dengan mata berbinar-binar.

"Berita besar. Cucu tunggal dari Pratama Group, Alvaro Pratama, akan kembali ke Indonesia minggu depan. Dia akan bersekolah di sekolah kalian," ujar Prasetya dengan nada yang bergetar.

Ratna menutup mulutnya karena terkejut. "Alvaro? Anak kecil yang dulu... yang dulu dekil dan sering bermain di halaman belakang kita karena kakeknya memberikan beasiswa?"

"Ya. Tapi sekarang dia bukan lagi anak miskin yang bau matahari. Kakeknya sudah menjadikannya pewaris tunggal seluruh aset Pratama. Dia kembali sebagai pangeran," Prasetya menoleh ke arah Airin dengan tatapan penuh rencana. "Dan yang paling penting... dia menelepon asisten kakeknya tadi. Katanya, Alvaro ingin mencari sahabat masa kecilnya."

Jantung Aira berdegup kencang. Alvaro. Nama itu memicu memori tentang seorang anak laki-laki yang menangis di bawah pohon mangga karena kakinya terluka, dan Aira kecil yang membalutnya dengan sapu tangan rajutan pertamanya.

"Dia mencari 'Ai'," lanjut Prasetya sembari tersenyum lebar pada Airin. "Airin, ini kesempatanmu. Dia pasti mencari kamu. Siapa lagi gadis bernama 'Ai' yang pantas bersanding dengannya kalau bukan kamu yang cantik dan cerdas?"

Airin tersipu, matanya berkilat penuh ambisi. "Aku ingat dia sedikit, Pa. Dia yang dulu sering aku beri sisa kue, kan?" dusta Airin lancar.

Aira mendongak, matanya membulat. "Tapi Pa, dulu yang sering bermain dengan Varo itu—"

"Diam, Aira!" potong Ratna dengan suara rendah yang mengancam. "Jangan coba-coba mengklaim sesuatu yang bukan milikmu. Dengan wajah dan otakmu yang seperti itu, mana mungkin seorang Alvaro Pratama mencarimu? Dia mencari 'Ai' yang sempurna, dan itu adalah Airin."

Prasetya mengangguk setuju. "Ingat ini baik-baik. Minggu depan, saat dia datang ke sekolah, Airin adalah satu-satunya sahabat masa kecilnya. Aira, jika kamu berani mendekatinya atau merusak rencana ini dengan penampilan dekilmu itu, Papa tidak akan segan-segan menghapus namamu dari kartu keluarga."

Aira terdiam. Di balik meja, ia meremas sapu tangan tua di sakunya—sapu tangan yang sama dengan yang dulu ia gunakan untuk membalut luka Alvaro. Air mata tertahan di pelupuk matanya.

Alvaro kembali. Tapi dia tidak mencari seorang gadis yang disebut "noda". Dia mencari sebuah kenangan yang kini siap dicuri oleh kembarannya sendiri.

1
Ma Em
Wah pak Prasetya ditantang Aira untuk melakukan tes DNA malah kabur , berarti benar Aira bkn anaknya pak Prasetya .
Allea
kalo lo ga bongkar kebusukan si airin trus kpn bales kebusukannya ,enak si airin dong aman2 bae 😁
Salwa Blora
kak lantoot semangat kak😁😁
M ipan
semangat ya💪
Aletheia: thanks, atas komen dan like nya kak👍
total 1 replies
Ma Em
Prasetya , Ratna dan Airin kenapa selalu jadi duri dlm setiap ada kegiatan atau acara yg Aira adakan , kapan Prasetya , Ratna juga Airin akan dapat karmanya dan membiarkan Aira hdp bahagia tanpa diganggu ketiga iblis berbentuk manusia ini , semoga kebohongan Airin segera diketahui Alvaro bahwa anak yg dikandung Airin bkn darah daging Alvaro tapi benih dari tuan Burhan .
Aletheia: terimakasih kak atas komennya,bisa tulis di rating ya kak terus kesan novelnya di disana🤭
total 1 replies
Tetii Riiani
ceritanya seru n gak bertele tele
Aletheia: thanks kak atas ratingnya, semoga sehat selalu dan lancar rejekinya 🙏
total 1 replies
Rinrin Novani
sangat bagus
Aletheia: terimakasih kak atas ratingnya semoga sehat selalu dan lancar rejekinya 🙏
total 1 replies
andi tahang
lanjutyy
Ma Em
Semoga secepatnya Aira menikah dgn Bara jgn ditunggu lama lagi karena terlalu banyak orang yg akan menghancurkan Aira .
Ma Em
Aira kamu berani melawan dan hilangkan rasa trauma kamu Aira dan jgn sampai kamu tertipu oleh bapakmu , ibumu juga Airin yg licik itu mereka hanya mau memanfaatkan kamu Aira , Aira jgn terlalu senang dulu dgn modal yg diberikan pak Darmawan karena ada Alvaro yg sdh mengincar dan akan membuat usaha Aira gagal , Aira hrs hati hati jgn sampai lengah .
Aletheia: thanks ya kak udah komen,minta ratingnya karena besok mau up banyak
total 1 replies
Allea
sebenarnya Aira itu tangguh ga sih 😁
Ma Em
Ada hubungan rahasia antara Prasetya dgn tuan Galaksi tentang Aira yg selalu dikurung didalam gudang bawah tanah , apakah Aira bkn anak kandung pak Prasetya , tapi aku agak kecewa pada Aira sepertinya Aira msh suka pada Alvaro setelah Alvaro menyakiti dan selalu menghina Aira tetapi Aira diam saja saat dipeluk Alvaro , hati2 Aira kamu jgn mengecewakan Bara karena Bara yg sdh menolong mu dan mengangkat derajatmu sehingga jadi desainer yg hebat jadi lupakan Alvaro itu cuma masa lalu yg menyakitkan Aira jgn luluh dgn Alvaro .
Yeni Astriani
Alvaro sungguh pria tidak tahu malu dan gak punya harga diri sama sekali
Ma Em
Aira lawan jgn takut lagi sama Airin juga ibumu kasih pelajaran untuk Airin juga ibumu agar kapok dan tdk akan mengganggu Aira lagi , masa Aira sdh jauh2 belajar di Milan msh bisa ditekan dan diancam sama Airin .
Ma Em
Bagus Aira kamu jgn lupakan pengorbanan Bara yg sdh menolong dan menjadikan Aira designer yg handal , biarkan Alvaro menyesal karena kebodohan nya , mau tau juga bagaimana nasibnya Airin juga bapak dan ibunya , manusia sombong dan pilih kasih pada anak sendiri bagaimana kehidupan nya sekarang setelah ditinggalkan Aira .
Ma Em
Aira lupakan Alvaro masa kamu msh mau menerima Alvaro lelaki yg selalu menghina dan merendahkan kamu , ingat Aira kamu sdh diangkat derajatmu sama Bara dan sekarang sdh jadi designer yg hebat disekolahkan di Milan ingat itu Aira jgn melupakan jasa Bara hanya karena lelaki teman masa kecilmu yg sdh melupakanmu Aira , jgn sampai jadi manusia yg tdk bisa balas budi .
partini
dah ada filing akan macam ini ,, teringat novel th 2018 tapi luka karya siapa gitu di NT
si cewe ending nya sama yg lama yg baru hempas
Aletheia: haha,tunggu aja ya kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh kumat lolanya aira
Allea
cari masalah si aira harusnya lgsg geser biar ngegabruk tuh si al ngapain malah bernarasi dalam hati 😅
Aletheia: haha,biar greget kak🤭🤭🙏
total 1 replies
Ma Em
Buat Maheswari bangkrut dan Airin nasibnya hancur dan tersebar semua kelakuan Airin yg sdh menjual diri demi kemewahan .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!