Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Jeritan Yang Tidak Terdengar
Pukul 05.17.
Tidak berubah.
Namun kali ini—
detiknya… terdengar dua.
Tik.
…tik.
Seperti ada dua waktu berjalan bersamaan.
Kinasih berdiri di depan cermin.
Tidak bergerak.
Tidak bernapas dalam beberapa detik.
Karena ia tahu—
yang di depannya…
bukan sekadar pantulan.
Perlahan…
pantulan itu berkedip.
Sekali.
Kinasih tidak.
Senyum tipis muncul di wajah pantulan itu.
Tipis.
Namun… cukup.
Cukup untuk membuat jantungnya terasa seperti jatuh.
“Kamu sudah bangun…”
Suara itu.
Keluar dari dalam cermin.
Namun—
bibir Kinasih di pantulan…
tidak bergerak.
Suara itu datang dari tempat lain.
Lebih dalam.
Lebih dekat.
Lebih… dalam dari dirinya sendiri.
Kinasih mundur satu langkah.
Pantulan itu—
tidak ikut mundur.
Ia tetap di tempat.
Tetap tersenyum.
“Kita harus mulai.”
Kinasih menggeleng pelan.
“Aku nggak mau…”
Pantulan itu tertawa kecil.
Suara tawa yang… seperti pecahan kaca.
“Bukan soal mau atau tidak…”
Perlahan—
tangan pantulan itu terangkat.
Menempel ke permukaan cermin.
Dan—
dari sisi Kinasih—
muncul sesuatu.
Tonjolan kecil.
Seperti ada tangan dari dalam… mendorong keluar.
Kinasih menjerit.
Ia mundur cepat.
Namun—
terlambat.
Tangan itu menembus.
Keluar.
Dari cermin.
Putih.
Pucat.
Dengan kuku panjang.
Retak.
Dan…
berlumur sesuatu yang hitam.
Tangan itu mencengkeram pergelangan Kinasih.
Dingin.
Sangat dingin.
Dan dalam satu tarikan—
Kinasih terseret.
Tubuhnya menabrak kaca.
Namun—
ia tidak terbentur.
Ia masuk.
Masuk ke dalam cermin.
Gelap.
Namun tidak sepenuhnya.
Ada cahaya redup.
Berwarna… abu-abu.
Seperti dunia tanpa warna.
Kinasih terjatuh.
Tubuhnya menghantam sesuatu yang dingin.
Keras.
Ia membuka mata.
Dan langsung membeku.
Ia berada di kamar yang sama.
Namun—
tidak sama.
Segalanya terlihat…
mati.
Dindingnya retak.
Catnya mengelupas.
Langit-langitnya… berlubang.
Dan dari lubang itu—
menggantung sesuatu.
Tali.
Banyak tali.
Seperti bekas…
gantungan.
Kinasih perlahan berdiri.
Napasnya berat.
“Ini… di mana…”
“Kamar kamu.”
Suara itu muncul lagi.
Kinasih menoleh.
Dan di sudut ruangan—
pantulan dirinya berdiri.
Namun sekarang—
bukan di cermin.
Nyata.
Di depan matanya.
“Kamu ada di sisi yang lain sekarang.”
Wajahnya sama.
Namun—
tidak hidup.
Matanya kosong.
Namun terlalu sadar.
“Kamu…” suara Kinasih gemetar.
“Bukan aku.”
Pantulan itu tersenyum.
“Sekarang… kita berbagi.”
Ia melangkah mendekat.
Dan setiap langkahnya—
lantai mengeluarkan suara.
Krek…
Krek…
Seperti tulang yang diinjak.
Kinasih menelan ludah.
“Apa yang kamu mau…”
Pantulan itu berhenti tepat di depannya.
Dekat.
Terlalu dekat.
“Aku tidak mau apa-apa…”
Ia mengangkat tangan.
Menyentuh dada Kinasih.
“Yang mau… mereka.”
Sekejap—
suara muncul.
Langsung.
Keras.
Banyak.
Di dalam kepala Kinasih.
“BUKA!”
“BIARKAN KAMI MASUK!”
“KAMI SUDAH MENUNGGU!”
Kinasih berteriak.
Menutup telinganya.
Namun—
suara itu tidak berhenti.
Karena itu bukan dari luar.
Itu dari dalam.
Tubuhnya mulai gemetar.
Dan—
sesuatu bergerak di bawah kulitnya.
Seperti ada sesuatu…
merayap.
Dari tangannya.
Naik ke bahu.
Ke leher.
Kinasih menjerit.
Ia menggaruk kulitnya.
Namun—
yang ia rasakan—
bukan kulit.
Melainkan sesuatu yang lain.
Seperti…
lapisan tipis yang bukan miliknya.
“Lepas…” bisiknya panik.
“Lepas dari aku…”
Pantulan itu hanya menatap.
Tenang.
“Tidak bisa.”
Ia mendekat lagi.
“Sekarang… kamu wadahnya.”
Kinasih jatuh berlutut.
Tubuhnya tidak berhenti bergerak.
Seperti dikendalikan sesuatu.
Dan tiba-tiba—
mulutnya terbuka.
Dengan sendirinya.
Tanpa ia kendalikan.
Dan dari dalam—
keluar suara.
Bukan suaranya.
“Kami lapar…”
Kinasih membeku.
Air matanya jatuh.
“Tidak… bukan aku…”
Namun suara itu keluar lagi.
“Kami ingin hidup lagi…”
Tubuhnya berdiri.
Tanpa ia mau.
Langkahnya bergerak.
Menuju pintu.
Yang tadi tidak ada—
sekarang muncul.
Tua.
Lapuk.
Dan dari balik pintu itu—
terdengar suara.
Tangisan.
Jeritan.
Dan—
ketukan.
Tok.
Tok.
Tok.
Kinasih mencoba menahan.
Namun tubuhnya—
tidak mendengar.
Tangannya terangkat.
Menyentuh gagang pintu.
“Jangan…” bisiknya lemah.
Namun—
terlambat.
Pintu terbuka.
Lorong.
Namun bukan yang sebelumnya.
Ini lebih sempit.
Lebih gelap.
Lebih… hidup.
Dindingnya basah.
Dan sesuatu bergerak di sana.
Seperti daging.
Berdenyut.
Pelan.
Setiap langkah—
lantai terasa lunak.
Seperti menginjak sesuatu yang… tidak seharusnya diinjak.
Kinasih berjalan.
Tanpa kendali.
Dan suara-suara itu—
semakin keras.
“Dekat…”
“Kita sudah dekat…”
Di ujung lorong—
ada pintu lagi.
Namun yang ini—
berbeda.
Putih.
Bersih.
Kontras dengan semuanya.
Dan di atasnya—
tertulis:
“AKHIR”
Tubuh Kinasih berhenti.
Tiba-tiba.
Untuk pertama kalinya—
ia bisa bergerak sedikit.
Ia mundur.
Selangkah.
Dua langkah.
“Jangan masuk…” bisiknya.
Namun—
tangannya masih bergerak sendiri.
Menuju pintu itu.
“JANGAN!”
Ia menahan.
Dengan sisa tenaga.
Dan untuk sesaat—
ia berhasil.
Tubuhnya berhenti.
Sunyi.
Lalu—
tawa.
Pelan.
Dari belakang.
Kinasih menoleh.
Dan—
pantulan itu ada di sana.
Namun—
tidak sendiri.
Di belakangnya—
semua perempuan itu.
Semua yang pernah ia lihat.
Semua yang terjebak.
Mereka berdiri.
Diam.
Namun—
mata mereka.
Mengarah ke satu titik.
Ke pintu itu.
“Kamu pikir kamu bisa menahan kami selamanya?”
bisik pantulan itu.
Kinasih menggeleng.
“Aku nggak akan buka…”
Pantulan itu tersenyum.
“Tidak perlu kamu.”
Ia menunjuk ke tubuh Kinasih.
“Tubuhmu sudah cukup.”
Dan—
tangan Kinasih bergerak lagi.
Lebih kuat.
Lebih cepat.
Ia menjerit.
Namun—
tidak bisa berhenti.
Gagang pintu itu—
diputar.
Klik.
Pintu terbuka.
Dan—
cahaya.
Putih.
Sangat terang.
Namun—
tidak hangat.
Dingin.
Menusuk.
Kinasih terlempar masuk.
Dan—
semuanya berubah lagi.
Ia berdiri di ruangan luas.
Sangat luas.
Namun kosong.
Hanya putih.
Tak berujung.
Namun—
di tengahnya—
ada sesuatu.
Sebuah ranjang.
Dan di atas ranjang itu—
seseorang terbaring.
Kinasih berjalan mendekat.
Pelan.
Napasnya berat.
Dan saat ia melihat—
ia membeku.
Itu dirinya.
Tubuhnya.
Yang asli.
Berbaring.
Diam.
Mata tertutup.
Seperti…
tidur.
Atau…
mati.
“Selamat datang…”
Suara itu muncul.
Kinasih menoleh.
Dan perempuan itu—
berdiri di sana.
Namun—
berbeda.
Lebih jelas.
Lebih… nyata.
Lebih… mengerikan.
Gaunnya kini benar-benar seperti pengantin.
Namun—
terbuat dari sesuatu yang bergerak.
Seperti ribuan tangan kecil.
Yang terus bergerak di kain itu.
“Kamu akhirnya sampai di sini.”
Kinasih gemetar.
“Apa ini…”
Perempuan itu tersenyum.
“Tempat di mana semuanya dimulai.”
Ia melangkah mendekat ke tubuh Kinasih yang terbaring.
Mengelus wajahnya.
“Dan tempat di mana semuanya berakhir.”
Kinasih langsung maju.
“Jangan sentuh aku!”
Perempuan itu tertawa.
“Kamu?”
Ia menatap Kinasih.
Lalu ke tubuh di ranjang.
“Kamu yang mana?”
Sunyi.
Kinasih tidak bisa menjawab.
Karena—
ia sendiri mulai tidak yakin.
Tubuhnya terasa ringan.
Tidak nyata.
Seperti—
ia bukan lagi yang asli.
“Selama ini…” lanjut perempuan itu pelan, “…kamu hanya berjalan di antara.”
Ia menunjuk ke tubuh di ranjang.
“Itu yang asli.”
Lalu ke Kinasih.
“Dan kamu…”
Senyumnya melebar.
“…hanya yang tersisa.”
Kinasih mundur.
“Bohong…”
Namun—
ia bisa merasakannya.
Denyut.
Yang tidak ada.
Napas.
Yang tidak terasa.
Ia tidak hidup.
Atau…
tidak sepenuhnya.
“Kalau aku masuk lagi ke tubuh itu…” bisiknya.
Perempuan itu mengangguk.
“Semuanya selesai.”
Kinasih menatap tubuhnya.
Diam.
Namun—
di saat itu—
mata tubuh itu…
terbuka.
Pelan.
Dan menatap langsung ke arahnya.
Senyum muncul.
Senyum yang sama.
“Sudah terlambat…”
Tubuh itu duduk.
Pelan.
Dan—
sesuatu keluar dari mulutnya.
Hitam.
Mengalir.
Seperti asap.
Dan suara itu—
keluar dari sana.
“Kami sudah di dalam.”
Kinasih membeku.
Air matanya jatuh.
“Tidak…”
Tubuh itu berdiri.
Menghadapnya.
Dan—
melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Semakin dekat.
Dan setiap langkah—
tubuh itu semakin berubah.
Kulitnya retak.
Matanya menghitam.
Dan dari dalam—
tangan-tangan kecil keluar.
Merobek.
Menggeliat.
“Kamu terlambat…”
bisik suara itu.
“Kami sudah menjadi dia…”
Kinasih mundur.
Namun—
tidak ada tempat.
Putih.
Kosong.
Tanpa arah.
Perempuan itu berdiri di belakang tubuh itu.
Tersenyum.
“Sekarang…”
Ia menatap Kinasih.
“…kamu tidak punya tempat kembali.”
Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya—
Kinasih merasa sesuatu yang lebih buruk dari takut.
Kosong.
Benar-benar kosong.
Namun—
di dalam kekosongan itu—
sesuatu muncul.
Suara.
Lemah.
Namun ada.
“Kinasih…”
Bima.
Lagi.
Namun—
lebih jauh.
Lebih dalam.
“Kalau kamu masih dengar…”
Suara itu putus-putus.
“…jangan kembali…”
Kinasih mengangkat kepala.
Matanya berubah.
Sedikit.
“Aku harus…” bisiknya.
Tubuh di depannya mendekat.
Hampir menyentuh.
“Tidak…”
Kinasih mundur.
Dan untuk pertama kalinya—
ia tidak lari.
Ia berdiri.
Menatap.
“Aku nggak butuh tubuh itu…”
Perempuan itu terdiam.
“Kamu mau aku masuk ke situ…” lanjut Kinasih, “…supaya mereka bisa hidup.”
Ia menggeleng.
“Bukan begitu caranya.”
Senyum perempuan itu… perlahan hilang.
“Kamu pikir kamu bisa menang?”
Kinasih menatapnya.
Dalam.
Dengan sisa kekuatan yang ia punya—
dan sesuatu yang baru.
Lebih gelap.
Lebih dingin.
“Aku nggak perlu menang…”
Ia melangkah maju.
Mendekati tubuh itu.
Dan—
menyentuhnya.
Sekejap—
jeritan.
Keras.
Semua suara pecah.
Putih itu retak.
Dunia itu—
bergetar.
“Kalau aku hancur…”
bisik Kinasih.
“…kalian ikut.”
Dan untuk pertama kalinya—
perempuan itu benar-benar panik.
“JANGAN—”
Namun—
terlambat.
Cahaya meledak.
Suara pecah.
Dan—
semuanya hilang.
Pukul 05.17.
Lagi.
Namun—
jam itu…
retak.
Jarumnya bergerak.
Namun—
tidak beraturan.
Maju.
Mundur.
Cepat.
Lambat.
Kinasih duduk di lantai kamarnya.
Sendirian.
Sunyi.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun—
ia tersenyum.
Pelan.
Matanya—
tidak lagi sama.
Dan dari dalam dirinya—
suara itu muncul lagi.
Namun kali ini—
tidak melawan.
Menyatu.
“Kita…”
“…belum selesai.”