NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Benteng Pertahanan

Sengatan cengkeraman tangan Harjono terasa begitu beringas, seolah berniat meremukkan tulang lengan atasnya dalam sekali tekan.

Aroma tajam tembakau cengkih dari pakaian Harjono beradu pekat dengan bau minyak tanah samar yang menguap dari kain-kain di sekitar mereka.

Lampu minyak di atas meja kayu bergoyang pelan, memantulkan bayangan tubuh tegap Harjono yang bergerak naik turun akibat napasnya yang memburu kasar.

Di ambang pintu paviliun, Sulastri berdiri menyilangkan tangan dengan senyum kemenangan yang mengembang lebar di bibirnya yang bergincu merah jambu pekat.

"Jawab pertanyaanku, Marni!" bentak Harjono lagi, suaranya menggelegar rendah namun penuh tekanan yang sanggup meruntuhkan nyali siapa saja. "Apa yang kamu lakukan bersama Handoyo di stasiun dan gudang utama saat aku tidak ada?"

Sumarni menolak untuk menunjukkan kelemahan, ingatan masa lalunya sebagai editor konten dari tahun 2026 langsung menyusun taktik pertahanan.

Sesuai dengan jalinan aliansi bisnis yang terbentuk pada malam kebakaran gudang Surabaya, ia tahu posisi Handoyo kini adalah rekan kerjanya demi menyelamatkan pasokan kretek.

Namun, tampaknya kedekatan taktis itu telah diputarbalikkan menjadi sebuah skandal menjijikkan oleh lidah berbisa Sulastri.

"Lepaskan tanganmu dulu, Mas. Kamu menyakitiku," ucap Sumarni dengan suara yang teramat tenang, meski denyut di pelipisnya kian menyengat kaku.

Harjono tertegun melihat sepasang mata bening itu menatapnya tanpa ada secercah pun ketakutan yang biasanya selalu mendominasi wajah istri keduanya.

Perlahan, cengkeraman jemari kasarnya melonggar, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras di atas kulit lengan Sumarni yang putih bersih.

Sulastri melangkah masuk ke dalam ruangan yang kini sudah berubah estetis, tumit selopnya mengetuk lantai tegel abu-abu dengan ritme yang sengaja dibuat nyaring. "Mas Harjono, lihat sendiri bagaimana selirmu ini mencoba mengelak. Mbok Nah melihat mereka berbisik-bisik di sudut gudang utama, bahkan Handoyo memberikan dompet kulitnya pada perempuan ini."

"Apakah itu benar, Marni?" tanya Harjono, matanya menyipit penuh selidik, menuntut kepatuhan yang mutlak dari wanita di hadapannya. "Handoyo adalah adik kandungku. Dia yang bertanggung jawab atas distribusi, dan kamu tidak punya hak untuk mencampuri urusannya, apalagi bergerak terlalu dekat di belakangku."

Rasa cemburu dan kecurigaan Harjono yang sempat meningkat semenjak insiden gaun malam arisan kini berada di puncaknya. Sebagai pemilik pabrik kretek terbesar, egonya sebagai pria dan penguasa rumah tangga merasa terancam oleh ketangguhan baru yang ditunjukkan oleh Sumarni.

[Peringatan Sistem: Kecurigaan target utama mencapai tingkat berbahaya. Deteksi manipulasi informasi oleh pihak ketiga.]

[Saran Tindakan: Gunakan fakta aliansi bisnis dan patahkan fitnah secara elegan untuk memicu penyesalan target.]

Sumarni menarik napas dalam-dalam, menenangkan gemuruh amarah yang tertahan di dalam dadanya demi menjaga kewarasan. Ia tidak menatap Harjono, melainkan mengalihkan pandangannya langsung ke arah Sulastri yang masih berdiri congkak.

"Nyonya Sulastri tampaknya sangat rajin mengumpat di balik gorden rumah utama sampai tahu ke mana saja kaki saya melangkah," sahut Sumarni dengan nada menyindir yang sangat halus namun tajam menembus ulu hati.

"Marni! Jaga mulutmu di depan Mas Harjono!" jerit Sulastri dengan wajah yang seketika memerah menahan geram.

Sumarni mengabaikan teriakan itu, ia membalikkan tubuhnya menghadap mesin jahit Singer yang logam hitamnya berkilat kokoh di bawah cahaya temaram lampu. Dengan gerakan anggun, ia mengambil salah satu dari sepuluh kemeja batik parang rusak yang telah selesai direkonstruksi dengan aplikasi kain tenun tumpal emas.

"Mas Harjono baru saja kembali dari Surabaya untuk memeriksa sisa kebakaran gudang nomor tiga, bukan?" Sumarni melangkah mendekati suaminya, mengulurkan kemeja mewah itu tepat di depan dada bidang sang pria. "Daripada mendengarkan dongeng pengantar tidur dari istrimu, silakan Mas periksa sendiri pakaian ini."

Harjono mengerutkan keningnya dalam-dalam, matanya terpaksa turun memandangi kemeja batik yang disodorkan oleh Sumarni. Detik itu juga, kemarahan yang membakar dadanya seolah terhantam oleh gelombang keheningan yang dingin.

Pola parang rusak yang sengaja digunting hancur di bagian tengah oleh sabotase minyak tanah tempo hari, kini berubah menjadi detail modern yang sangat berkelas tinggi untuk ukuran tahun 1984.

"Bagaimana mungkin..." gumam Harjono lirih, jemari tangannya yang kasar meraba permukaan benang emas yang terjahit rapi tanpa cacat sedikit pun. "Kain yang dibawa Mbok Nah kemarin seharusnya sudah tidak bisa diselamatkan."

"Itulah alasan mengapa saya harus bertemu dengan Handoyo, Mas," potong Sumarni dengan tegas, membiarkan suaminya tenggelam dalam pesona keahlian barunya. "Kereta api logistik fajar yang kita sewa kemarin membutuhkan manifes resmi dan jaminan modal tambahan. Handoyo memberikan dompet kulitnya bukan untuk merayu saya, melainkan berisi nota pembayaran benang sutra emas ini yang harus ditebus di stasiun kota."

Wajah Sulastri seketika memucat pasi mendengar penjelasan yang begitu runtut dan logis tersebut. Ia menatap tidak percaya pada deretan kemeja batik yang tergantung rapi di kapstok kayu, semuanya tampak begitu sempurna dan tidak menyisakan ruang untuk kegagalan.

"Mas, dia pasti berbohong! Mana mungkin selir bodoh ini bisa menjahit seindah ini dalam waktu satu hari satu malam?" Sulastri mencoba merangkak kembali ke dalam narasi manipulasinya, suaranya bergetar panik. "Pasti Handoyo yang mencarikan penjahit terbaik di kota untuk membantunya!"

"Cukup, Sulastri," potong Harjono dengan nada suara mendatar yang seketika membungkam seluruh kata-kata istri pertamanya.

Harjono membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Sulastri dengan sepasang mata elang yang kini memancarkan kekecewaan yang sangat pekat. "Aku sudah memeriksa pembukuan stasiun sebelum kembali ke rumah ini. Semua dokumen kargo kereta fajar atas nama perusahaan kita ditandatangani oleh Handoyo dengan persetujuan kepala stasiun yang merupakan kerabat dari buruh batik Marni."

Rasa bersalah dan penyesalan mendadak menusuk dada Harjono dengan begitu tajam, menciptakan rasa sesak yang menghimpit kerongkongannya. Ia teringat bagaimana beberapa menit yang lalu ia telah mencengkeram lengan wanita ini dengan penuh tuduhan keji, sementara sang istri justru bekerja tanpa lelah sepanjang hari demi menyelamatkan muka bisnis keluarganya dari kehancuran pasar Surabaya.

"Las, kembali ke rumah utama sekarang," perintah Harjono mutlak, menggunakan nada suara dingin yang tidak menerima bantahan apa pun. "Urusan fitnah kain ini akan kuselesaikan bersamamu besok pagi."

Sulastri membeku di tempatnya berdiri, giginya menggertak tegang menahan malu yang luar biasa hebat. Dengan hentakan kaki yang dongkol dan penuh dendam yang kian membara, wanita beludru merah jambu itu akhirnya membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan paviliun belakang yang sunyi.

Setelah bayangan Sulastri menghilang di balik kegelapan halaman, Harjono kembali memusatkan seluruh perhatiannya pada Sumarni. Ada kilat ketertarikan, kekaguman, dan obsesi yang mulai tumbuh semakin subur di balik matanya yang biasanya sedingin es batu.

Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma tembakau dari tubuhnya kembali mengunci indra penciuman Sumarni. Harjono terulur untuk menyentuh dagu istrinya, mencoba mencari kembali kelembutan pasif yang dulu biasa ia kuasai.

Namun, Sumarni dengan cepat memiringkan kepalanya, menolak sentuhan tangan suaminya dengan gerakan yang teramat elegan namun sarat akan penolakan mutlak.

"Marni, aku minta maaf karena telah salah paham kepadamu," bisik Harjono, suaranya melembut satu tingkat, bergetar oleh emosi mendalam yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. "Aku hanya tidak bisa menahan diri saat mengira kamu memiliki hubungan khusus dengan pria lain, meskipun itu adikku sendiri."

Sumarni tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak pernah mencapai matanya yang sedingin hamparan salju. Insting tajamnya tahu bahwa ini adalah momen terbaik untuk menekan ego sang juragan pabrik kretek.

"Kamu cemburu karena mencintaiku, Mas? Atau kamu hanya takut kehilangan pelayan gratis yang bisa kamu buang kapan saja saat istrimu yang lain merasa bosan?" tanya Sumarni, setiap kalimat pendek yang keluar dari bibirnya terdengar seperti hantaman godam yang menghancurkan kesombongan Harjono.

[Ding! Misi Sampingan Selesai: Mematahkan Fitnah Kedekatan Handoyo.]

[Hadiah Berhasil: 500 Poin Reputasi ditambahkan ke akun Anda. Poin saat ini: 650 Poin.]

Harjono terdiam, lidahnya mendadak kelu untuk menjawab pertanyaan retoris yang begitu menusuk tersebut. Wanita di depannya kini berdiri tegak bagaikan benteng pertahanan yang mustahil untuk ia runtuhkan kembali dengan kekuasaan uang atau kata-kata manis.

Sumarni berjalan melewati tubuh tinggi suaminya, melangkah menuju pintu kamar tempat Dimas bersembunyi dengan ketakutan. Ia merapikan tatanan rambut jepitnya yang sedikit longgar dengan jari-jarinya yang mulai lecet akibat kayuhan mesin jahit seharian penuh.

Sebelum menyibak tirai kamar, Sumarni membalikkan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata kelam Harjono yang masih terpaku menatapnya penuh obsesi berbahaya.

"Mas Harjono, kamu melupakan janjimu di malam kebakaran itu," ucap Sumarni dengan nada suara yang membekukan udara malam. "Kamu bilang anakku tidak boleh hidup di tempat seperti ini lagi, dan kamu yang menjamin keamanan kami dari segala bentuk fitnah."

Harjono menelan ludahnya dengan susah payah, rasa bersalah di dadanya kian bergemuruh hebat menciptakan sesak yang tak kunjung hilang. "Aku tidak pernah melupakan janji itu, Marni. Besok pagi, aku sendiri yang akan memindahkan seluruh barang kalian ke paviliun timur di rumah utama."

"Tidak perlu repot memindahkan barang-barang lusuh kami, Mas," balas Sumarni cepat, suaranya memotong kalimat Harjono dengan ketegasan yang mematikan. "Sebab mulai besok, aku yang akan menentukan posisiku sendiri di rumah ini."

1
𝐀⃝🥀Weny
cemburu ni ye😂
sukensri hardiati
untuk ukuran pengusaha harjono ni sukses....untuk ukuran suami..?...payaaah...
sukensri hardiati
harjono ni pengusaha batik sekaligus rokok ya....?
𝐀⃝🥀Weny
perlahan² harjono mulai menyukai Sumarni😁 lanjut lagi thor
gina altira
lanjutt
gina altira
Diracun lagiii
Titi Liana
menarik
gina altira
Wah Sulastri bikin fitnah kayaknya
gina altira
hati" Sumarni
gina altira
Lanjuttt thorrr
𝐀⃝🥀Weny
lanjut thor
Anne Soraya
lanjut
Dwi Agustina
Semangat semangat💪💪💪
gina altira
seruu, ceritanya berbeda nih ada sistem nya
𝐀⃝🥀Weny
lanjut up thor
𝐀⃝🥀Weny
tambah up lagi thor😂
irena
harusnya emasnya nanti tersimpan di tasnya Sulastri.. pas saat menuduh si Marni jadi senjata makan tuan.. klo perlu pas ada suaminya.. supaya kelakuan Sulastri ketahuan selama ini suka menindas
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
gina altira
ada" aja
gina altira
Harjono begoo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!