NovelToon NovelToon
Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Bisikan dari Balik Luka

Darah menetes dari lengan kiri Raka, jatuh di lantai tanah kamar Arga dengan bunyi lembut yang nyaris tak terdengar. Pemuda itu menyandarkan punggungnya ke dinding bambu, napasnya memburu, tapi matanya tetap waspada menatap ke luar jendela yang baru saja ia masuki.

Arga duduk tegak di ranjangnya, mengabaikan rasa sakit di tulang rusuknya yang belum sembuh. "Kau terluka."

"Hanya goresan." Raka menekan lukanya dengan kain yang ia sobek dari jubahnya sendiri. "Tapi yang mengejarku mungkin masih di sekitar sini. Kita tidak punya banyak waktu."

Sari yang terbangun karena suara itu langsung panik. Ia setengah berteriak sebelum Arga mengangkat tangan, memberi isyarat diam. Gadis itu menutup mulutnya sendiri, matanya membelalak melihat darah di lantai.

"Sari, ambil air bersih dan sisa ramuan herbal," perintah Arga pelan. "Lalu kau tunggu di luar. Jangan sampai ada yang masuk."

Gadis itu mengangguk cepat dan bergegas keluar. Arga kembali menatap Raka.

"Jadi? Apa yang begitu penting sampai kau datang dalam keadaan seperti ini?"

Raka mengatur napasnya. "Besok pagi, pamanku—Arman—akan mengumumkan sesuatu di aula utama. Sesuatu tentangmu."

Arga menunggu.

"Dia akan menuduhmu mencuri teknik rahasia Klan Sanjaya." Mata Raka tajam. "Katanya, tidak mungkin kau bisa sekuat itu tanpa mencuri kitab pusaka klan. Dia akan menggunakannya sebagai alasan untuk mengusirmu. Atau lebih buruk lagi—menghukummu di depan umum."

Arga terdiam. Tuduhan itu tidak mengejutkannya. Arman sudah lama mencari cara untuk menyingkirkannya. Kemenangannya di festival justru menjadi bumerang—pamannya tidak bisa membiarkan "sampah klan" menjadi pahlawan.

"Dari mana kau tahu?"

Raka menyeringai pahit. "Karena aku mendengarnya sendiri. Malam ini, setelah kembali dari kota, aku tidak sengaja lewat di belakang aula utama. Arman sedang bicara dengan seseorang. Bukan anggota klan. Orang luar."

"Siapa?"

"Baskara Wirya."

Nama itu membuat udara di kamar terasa lebih berat. Arga mengepalkan tangannya di balik selimut. Jadi pamanku bekerja sama dengan Klan Wirya. Pantas.

"Mereka membicarakanmu," lanjut Raka. "Arman ingin menyingkirkanmu secara legal, dengan tuduhan mencuri teknik klan. Baskara menawarkan bantuan—katanya, kalau Arman bisa mengusirmu dari klan, orang-orangnya akan 'menjemputmu' di perbatasan."

"Dan kau mendengar semua ini."

"Ya. Tapi mereka menyadariku." Raka menunjuk lukanya. "Salah satu anak buah Baskara melukaiku. Aku berhasil kabur, tapi mereka pasti masih mencari."

Arga memproses informasi itu dengan cepat. Situasinya lebih buruk dari yang ia kira. Arman tidak lagi menunggu—ia ingin menyingkirkannya sekarang, saat Arga masih lemah dan terluka. Dan dengan Baskara di belakangnya, ancamannya menjadi dua kali lipat.

"Aku harus pergi," kata Arga akhirnya. "Malam ini juga."

"Kau belum sembuh. Tulang rusukmu—"

"Kalau aku menunggu sampai besok, aku tidak akan punya kesempatan untuk sembuh sama sekali." Arga bangkit dari ranjangnya, menahan rasa sakit yang menjalar di dadanya. "Sari!"

Gadis itu masuk membawa baskom air dan ramuan. Wajahnya pucat.

"Tuan Muda... apa yang terjadi?"

"Sari, dengarkan." Arga memegang bahunya. "Aku harus pergi malam ini. Kau tetap di sini. Kalau ada yang bertanya, bilang kau tidak tahu apa-apa. Pura-pura terkejut saat pengumuman besok."

Air mata mulai menggenang di mata Sari. "Tuan Muda... ke mana Tuan Muda akan pergi? Kapan kembali?"

Arga tidak menjawab pertanyaan pertama. Ia sendiri tidak tahu. "Aku akan kembali. Itu janjiku."

Sari mengangguk, meski air matanya sudah jatuh. Ia membantu Arga mengenakan baju luarnya—sebuah jubah usang berwarna cokelat—dan menyiapkan bungkusan kecil berisi bekal.

Raka yang sudah membalut lukanya berdiri di dekat jendela, mengawasi keadaan luar. "Jalur belakang masih aman. Tapi kita harus cepat."

Arga meraih liontin giok di dadanya. Denyutnya terasa hangat, seolah memberinya ketenangan di tengah kekacauan ini. Ia memasukkan pisau berkaratnya ke pinggang, lalu menoleh pada Sari.

"Terima kasih untuk semuanya."

Gadis itu memeluknya tiba-tiba. Pelukan singkat yang hangat. "Hati-hati, Tuan Muda. Aku akan menunggumu."

Arga tidak tahu bagaimana merespons pelukan itu. Tubuhnya kaku sejenak, lalu ia menepuk punggung Sari dengan canggung. Setelah itu, ia mengikuti Raka keluar melalui jendela belakang.

---

Malam semakin larut. Bulan bersembunyi di balik awan tebal, memberi mereka kegelapan yang sempurna untuk menyelinap.

Mereka bergerak di sepanjang dinding belakang kompleks klan, melewati gudang-gudang tua dan kandang hewan yang kosong. Suara langkah kaki penjaga terdengar dari kejauhan, tapi Raka tahu persis kapan harus berhenti dan kapan harus bergerak.

"Aku akan mengantarmu sampai gerbang timur," bisik Raka. "Setelah itu, kau sendiri."

"Cukup," jawab Arga. "Kau sudah banyak membantuku."

Mereka tiba di gerbang timur—sebuah pintu kayu kecil yang jarang digunakan, tersembunyi di balik rumpun bambu. Tidak ada penjaga di sini. Raka membuka gerbang itu perlahan, engselnya berderit pelan.

Di luar, jalan setapak menuju Hutan Timur terbentang gelap.

Arga melangkah keluar, tapi Raka menahan lengannya.

"Arga." Suaranya serius. "Ada satu hal lagi yang kudengar tadi malam. Arman dan Baskara membicarakan sesuatu. Tentang 'warisan Langit' yang disembunyikan ibumu."

Arga menegang.

"Mereka tidak tahu detailnya. Tapi mereka yakin kau menyembunyikannya. Itu alasan sebenarnya mereka mengincarmu. Bukan sekadar balas dendam atau politik klan."

Warisan Langit. Liontin di dada Arga terasa panas sejenak.

"Kenapa kau memberitahuku ini?"

Raka tersenyum tipis. "Karena aku bosan menjadi bagian dari klan yang korup. Dan karena... aku penasaran. Apa sebenarnya yang kau sembunyikan, Arga? Siapa kau sebenarnya?"

Arga menatapnya lama. Lalu ia berkata, "Suatu hari nanti, kau akan tahu."

Ia melangkah keluar gerbang, masuk ke dalam kegelapan malam. Raka menutup gerbang di belakangnya. Suara derit kayu itu adalah suara terakhir yang Arga dengar sebelum ia berlari kecil menuju hutan, meninggalkan satu-satunya tempat yang disebutnya rumah.

---

Hutan Timur di malam hari adalah dunia yang berbeda.

Suara-suara malam bergema di antara pepohonan—desiran sayap kelelawar, langkah kaki kecil hewan pengerat, dan sesekali lolongan serigala dari kejauhan. Arga berjalan dengan Langkah Bayangan Bulan, membuat gerakannya senyap di atas tumpukan daun kering.

Tubuhnya masih sakit. Setiap langkah mengirimkan getaran ke tulang rusuknya yang retak. Tapi ia tidak bisa berhenti. Arman dan Baskara mungkin sudah menyadari kepergiannya. Mereka akan mengirim orang untuk mencarinya.

Aku harus masuk lebih dalam. Ke tempat di mana bahkan pemburu bayaran tidak berani masuk.

Ia teringat kata-kata Raka. "Warisan Langit yang disembunyikan ibumu." Jadi Arman dan Baskara tahu tentang itu. Mungkin mereka terlibat dalam kematian orang tuanya. Mungkin semua ini—penindasan, pengasingan, tuduhan—adalah bagian dari rencana yang lebih besar untuk mendapatkan warisan itu.

Liontin di dadanya berdenyut. Seolah membenarkan pikirannya.

Ibu menyembunyikan ini untukku. Aku harus melindunginya. Dan untuk itu, aku harus lebih kuat.

Ia terus berjalan. Semakin dalam, pepohonan semakin rapat, kanopi semakin tebal, hingga cahaya bulan nyaris tidak bisa menembus. Udara menjadi lebih dingin, lebih lembap. Bau tanah dan lumut semakin kuat.

Menjelang fajar, ia menemukan sebuah gua kecil di lereng bukit. Mulutnya tersembunyi di balik semak-semak berduri—tempat yang sempurna untuk beristirahat.

Arga masuk dan duduk bersandar di dinding gua yang dingin. Ia mengeluarkan bekal dari Sari—roti kering dan dendeng—lalu makan perlahan sambil mengatur napas.

Hari pertama. Aku harus bertahan.

Ia menutup mata dan mulai bermeditasi. Benang Perak di Dantian-nya berdenyut pelan, perlahan memulihkan energi yang terkuras. Delapan ruas jari. Satu lagi menuju sembilan.

Sembilan ruas jari. Lalu transformasi ke Benang Emas.

Tapi untuk itu, aku butuh Inti Monster Tingkat Raja. Dan di hutan ini... mungkin ada satu.

Di kejauhan, suara raungan dalam menggetarkan udara pagi. Raungan yang bukan berasal dari serigala atau beruang biasa. Raungan yang mengandung tekanan energi—tekanan yang hanya dimiliki oleh monster tingkat tinggi.

Arga membuka matanya.

Mungkin lebih cepat dari yang kukira.

1
Mommy Dza
Lanjut💪
Mommy Dza
Tetap semangat Arga 💪
Mommy Dza
Cara memperkuat segel adalah
Mommy Dza
Bravo Arga 👍💪
BlueHeaven
Sekelas Penguasa Tertinggi kok sampe nggak tau sih, apalagi setetes demi setetes tiap harinya
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Mommy Dza
Arga kembali 💪
Mommy Dza
Arga mau dimangsa 🥹 haddehh
hancurkan dia Arga
Mommy Dza
Memperbarui segel dan mengurung pemangsa 💪
Mommy Dza
Arga semakin kuat 💪
Mommy Dza
Nasib apa yg menunggunya 🥹
Mommy Dza
Lanjut thor
Mommy Dza
Wah ketemu pecahan kedua yah 💪
Mommy Dza
Siapa lagi yg muncul /Smug/
Mommy Dza
Bunuh dia Arga 💪
Mommy Dza
Deg degan aku Thor 😁
Lanjutt
Mommy Dza
Mungkin ini saatnya 💪
Mommy Dza
Semoga lekas sembuh 🤲
Mommy Dza
Maju Arga 💪
Mommy Dza
Kita baru saja mulai 💪🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!