Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup dari sisa-sisa
Dinginnya air laut perlahan berganti dengan panas matahari yang menyengat kulit. Clara Marine membuka matanya dan merasakan butiran pasir kasar di bawah pipinya. Ia terbatuk, memuntahkan sisa air asin yang terasa pahit di pangkal tenggorokannya. Tubuhnya terasa seperti habis dipukuli; memar di bahu dan lecet di sekujur kaki akibat terbentur karang semalam.
Ia menoleh ke samping. Nikolai Brine terbaring tak jauh darinya. Pria itu tampak jauh lebih buruk. Kemeja hitamnya sudah robek di sana-sini, memperlihatkan balutan luka yang kini kotor oleh pasir dan darah kering. Nikolai tidak bergerak.
"Nikolai?" suara Clara parau.
Ia merangkak mendekat, menyeret tubuhnya yang lemas. Clara meletakkan tangannya di dada Nikolai. Ada detak jantung di sana—lemah, tapi konstan. Clara menghela napas lega yang gemetar. Ia tidak menyangka bahwa orang yang paling ingin ia hindari beberapa minggu lalu, kini menjadi satu-satunya alasannya untuk tetap merasa aman.
Pesisir Terpencil
Mereka terdampar di sebuah pantai kecil yang diapit oleh tebing kapur tinggi. Tampaknya ini adalah bagian terpencil dari pesisir Malaysia atau pulau kecil di sekitarnya. Tidak ada pemukiman, tidak ada sinyal ponsel, hanya ada suara monyet hutan dan deburan ombak.
Nikolai akhirnya mengerang dan membuka matanya. Ia langsung meringis kesakitan saat mencoba menggerakkan bahunya yang tertembak.
"Jangan banyak gerak, lukamu terbuka lagi," ujar Clara sambil mencoba membersihkan pasir dari balutan luka Nikolai dengan sisa air tawar yang ada di dalam kantong kecil di pelampungnya.
Nikolai menepis tangan Clara dengan sisa tenaganya, lalu duduk bersandar pada sebuah batang pohon tumbang. Ia menatap ke arah laut lepas dengan tatapan kosong yang mematikan. "Silas pikir kita sudah jadi abu di dasar laut."
"Dia mencoba membunuhku, Nikolai. Dia benar-benar melakukannya," bisik Clara. Matanya berkaca-kaca, bukan karena takut, tapi karena rasa dikhianati yang teramat dalam. "Semua harta itu... aku bahkan tidak pernah memintanya."
Nikolai menoleh ke arahnya. "Dunia tidak peduli apa yang kau inginkan, Clara. Di mata Silas, kau adalah saingan bisnis. Dan dalam bisnis keluarga seperti Marine, saingan berarti target."
Nikolai merogoh saku celananya yang basah dan mengeluarkan sebuah pemantik api logam yang masih berfungsi. Ia mencoba menyalakannya berkali-kali hingga api kecil muncul.
"Dengar," Nikolai menatap Clara dengan serius. "Saat ini, statusmu adalah 'mati'. Ini adalah posisi paling kuat yang bisa kau miliki. Silas akan mulai bertindak ceroboh karena dia merasa sudah menang. Dia akan memindahkan aset, menandatangani dokumen, dan merayakan kekuasaannya."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Clara.
"Kita tidak lari lagi," jawab Nikolai tegas. "Kita akan kembali ke Jakarta, lalu ke Belanda. Tapi kau tidak bisa kembali sebagai Clara si guru perpustakaan yang polos. Kau harus belajar bagaimana menjadi seorang Marine yang ditakuti."
Pelatihan di Balik Tebing
Selama tiga hari berikutnya, mereka bertahan hidup dengan memakan buah hutan dan kerang yang mereka bakar di api unggun kecil. Nikolai, meskipun terluka, menolak untuk bersantai. Ia mulai mengajari Clara hal-hal dasar yang tidak pernah diajarkan ayahnya: cara menggunakan senjata api, cara mendeteksi pengintai, dan cara membaca pergerakan musuh.
"Pegang pistol ini dengan kedua tangan. Jangan ragu saat menarik pelatuknya. Jika kau ragu meski hanya setengah detik, lawanmu akan melubangi kepalamu," Nikolai berdiri di belakang Clara, memperbaiki posisi tangannya.
Clara merasakan dinginnya logam senjata di tangannya. "Aku tidak tahu apakah aku sanggup membunuh saudaraku sendiri."
"Dia tidak ragu untuk meledakkan kapal saat kau ada di dalamnya, Clara," suara Nikolai rendah di dekat telinganya. "Jika kau tidak menghancurkannya, dia akan terus memburumu sampai ke lubang mana pun kau bersembunyi. Pilihannya hanya dua: kau yang memegang kendali, atau kau yang dikubur."
Clara menarik napas dalam-dalam dan melepaskan tembakan ke arah batang pohon kelapa yang menjadi sasaran. Pelurunya meleset jauh, tapi suaranya yang menggelegar memberikan kekuatan baru di dadanya.
Silas yang Mulai Berpesta
Di Jakarta, Silas Marine mengadakan pertemuan tertutup di kantor cabang Marine Logistics. Ia tampak jauh lebih segar. Luka di lengannya akibat pertempuran di pulau sudah tertutup perban rapi di balik jas mahalnya.
"Semua sudah beres?" tanya Silas pada kepala keamanannya.
"Kapal itu hancur total, Tuan. Tim kami menemukan beberapa serpihan pakaian dan darah di permukaan air. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dalam radius sepuluh mil," lapor bawahannya.
Silas tersenyum puas. Ia menuangkan wiski ke gelas kristalnya. "Bagus. Umumkan pada dewan komisaris di Belanda bahwa Nona Clara Marine tewas dalam serangan teroris Rusia. Kita akan mengadakan upacara peringatan minggu depan di Belanda."
Silas merasa dunianya sudah sempurna. Namun, ia tidak menyadari bahwa di sebuah pesisir terpencil, "saingan" terbesarnya sedang dilatih oleh seorang mafia yang tidak punya apa-apa lagi untuk dilepaskan selain dendam.
Nikolai menatap Clara yang sedang berlatih bela diri dasar di atas pasir. Rambut pirang wanita itu kini berantakan, kulitnya menggelap karena matahari, dan matanya tidak lagi menunjukkan ketakutan, melainkan api kemarahan.
"Bagus," gumam Nikolai. "Sebentar lagi, dunia akan tahu bahwa kematianmu hanyalah awal dari mimpi buruk mereka."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...