NovelToon NovelToon
Layu Sebelum Mewangi

Layu Sebelum Mewangi

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Single Mom / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: miss tiii

" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.

Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Palu yg Menghantam Sunyi

Tiga bulan berlalu sejak malam kepergian itu. Arumi tidak lagi tinggal di rumah orang tuanya yang penuh aturan, juga tidak di kontrakan Baskara yang pengap. Atas bantuan Tante Sari, ia menyewa satu kamar kos kecil di dekat pasar tempatnya bekerja. Kinan kini sudah mulai bisa tengkurap, matanya bulat bersinar—satu-satunya alasan Arumi kuat bangun setiap jam empat subuh.

Hari ini adalah sidang pertama perceraian mereka. Arumi datang mengenakan gamis sederhana namun rapi. Wajahnya tidak lagi pucat; ada semu merah di pipinya karena terlalu banyak bekerja, tapi matanya terlihat sangat hidup.

Di depan ruang sidang, ia melihat siluet yang sangat ia kenal. Baskara duduk di bangku panjang. Ia mengenakan kemeja yang sama dengan saat mereka menikah dulu, namun kemeja itu kini tampak kebesaran dan tidak disetrika.

Baskara menoleh. Ia menatap Arumi, lalu menatap Kinan yang sedang digendong Tante Sari di kejauhan.

"Kamu beneran mau begini, Rum?" tanya Baskara. Suaranya masih sama. Datar. Tanpa emosi.

"Iya, Mas," jawab Arumi tenang. Ia duduk di ujung bangku yang berbeda, memberi jarak yang lebar. "Aku sudah bilang, aku tidak bisa mekar di rumahmu."

Baskara menghela napas panjang—suara yang dulu sangat dibenci Arumi karena itu adalah tanda kepasrahannya. "Repot, Rum. Urus surat-surat begini capek. Jauh juga tempatnya. Kenapa tidak pulang saja? Aku janji tidak akan melarang kamu kerja kalau itu maumu."

Arumi tertawa kecil, tawa yang penuh rasa pahit. "Mas... Mas mau aku pulang cuma supaya ada yang mencuci bajumu dan mengurus rumahmu? Mas bahkan tidak tanya kabar Kinan. Mas tidak tanya dia sudah bisa apa."

Baskara terdiam. Ia merogoh saku kemejanya, mencari rokok, tapi kemudian teringat ini adalah area bebas rokok. Ia menggerutu pelan.

"Panggilan untuk nomor urut 07, Arumi binti Ahmad dan Baskara bin Yusuf," suara petugas pengadilan menggema.

Di dalam ruang sidang, hakim yang sudah berumur menatap mereka berdua dengan kacamata yang melorot di hidung.

"Saudara Baskara, benarkah Anda tidak memberikan nafkah lahir dan batin secara layak kepada istri Anda?" tanya Hakim.

Baskara diam sebentar. Ia menatap Arumi, lalu menatap Hakim. "Saya sudah usaha sebisanya, Pak Hakim. Tapi memang rezekinya baru segitu. Istri saya saja yang terlalu menuntut."

Arumi memejamkan mata. Kata-kata itu seperti jarum yang menusuk hatinya. Terlalu menuntut. Menuntut beras, menuntut listrik, dan menuntut kehadiran seorang ayah dianggap sebagai "tuntutan berlebih" oleh Baskara.

"Lalu, kenapa Saudara tidak berusaha mencari pekerjaan lain saat ekonomi keluarga sedang krisis?" tanya Hakim lagi, nada suaranya mulai terdengar geram.

"Saya capek kalau harus kerja kasar, Pak. Saya ini punya ijazah," jawab Baskara pelan, nyaris berbisik.

Hakim mengetuk meja dengan pulpennya. "Ijazah itu untuk mengangkat derajat keluarga, bukan untuk menjadi alasan membiarkan anak istri kelaparan!"

Setelah rentetan pertanyaan, Hakim memberikan kesempatan terakhir untuk mediasi. "Apakah ada keinginan untuk rujuk? Demi anak kalian?"

Baskara menoleh pada Arumi. "Pulang yuk, Rum? Kasihan Kinan kalau bapak ibunya pisah. Nanti aku cari kerja deh, janji."

Arumi menatap mata Baskara. Ia mencari setitik ketulusan di sana, tapi ia hanya melihat rasa malas—malas menghadapi proses hukum, malas mengurus diri sendiri, dan malas kehilangan pelayan di rumahnya.

"Maaf, Mas," suara Arumi terdengar sangat jernih di ruang sidang yang sunyi itu. "Kinan justru akan lebih kasihan jika tumbuh besar melihat ibunya mati rasa dan ayahnya menjadi beban. Aku ingin anakku bangga melihat ibunya mandiri, bukan malu melihat ayahnya yang menyerah pada hidup."

Arumi menoleh pada Hakim. "Saya tetap pada gugatan saya, Pak Hakim. Saya ingin mengundurkan diri dari status istri pria ini. Saya ingin mewangi di tanah saya sendiri."

Baskara hanya mengangkat bahu. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras itu. "Ya sudah kalau itu maumu. Aku tidak mau pusing."

Kalimat sakti itu kembali keluar. Aku tidak mau pusing.

Sidang ditunda untuk keputusan akhir bulan depan. Saat keluar dari ruangan, Baskara berjalan mendahului Arumi tanpa menoleh sedikit pun ke arah anaknya. Ia melangkah cepat menuju tempat parkir, seolah-olah proses perceraian ini hanyalah interupsi yang mengganggu waktu tidurnya.

Arumi menghampiri Tante Sari dan mengambil Banyu ke dalam pelukannya.

"Gimana, Rum?" tanya Tante Sari cemas.

Arumi mencium kening bayinya yang beraroma minyak telon. "Sudah selesai, Tante. Aku sudah memotong akarnya. Sekarang, tinggal urusanku untuk tumbuh."

# penasaran ga niii jangan lupa like,komen dn follow yaa

1
Diana Bellusi
bagus ceritanya q suka💪
miss tiii: halooo kakk, jangan lupa vote yaaa , salam kenalll🙏🤭
total 1 replies
Emily
dah baskara gak usah harap Arumi lagi pigi kerja jadi kuli buat ngisi perutmu
Emily
kerja baskara jangan ngintipin arumi aja
Emily
lha baskara itu pernah berjuang apa
Emily
nah gitu dong Rumi
Emily
ah ngomong aja kau Rumi..makin banyak kau ngomong makin mentiko lakikmu
Emily
si Arumi kan udah pernah ngomong begitu jgn sampe berkali kali ngomong begitu tapi tetap masih mengharap laki mokondo
Emily
lha Arumi di tinggal saja laki begitu..malah balik lagi
Emily
baskara kerja apa kok modelnya begitu.. bpak nya Arumi juga salah kenapa menjodohkan anaknya dgn leleki gak jelas
Emily
semangat
Yuli Yanti
sbetulnya nama anaknya Bayu apa Kinan. bingung aku
miss tiii: Kinan Buu , episode berapa yg masih nama Bayu biar saya ganti , makasihh atas komentarnya 🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!