Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.
Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.
Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.
Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Di pemakaman umum, Natalie, Fabian, dan Nathan menghadiri pemakaman Arya saat sore hari.
Kenapa fabian bisa ada di sana? Karena ia ngotot ingin ikut keduanya, sehingga mau tak mau Nathan dan Natalie mengalah dengan watak keras kepala Fabian.
Hingga di sinilah ketiganya berada sekarang. Mengikuti proses pemakaman Arya sedari awal hingga tidak ada lagi orang yang menetap di sana.
Natalie bersimpuh di tanah dengan pandangan kosong. Tangannya sibuk mengusap batu nisan Arya dengan pelan. Langit mendung menggantung di udara, seakan mengetahui isi hati Natalie.
"Lo jahat …," lirih Natalie.
"Mana janji Lo waktu itu. Lo bilang mau lamar gue setelah lulus sekolah, mana? Lo bohong. Kenapa Lo tinggalin gue di sini sendirian. Kenapa Lo nggak ajak gue?"
Fabian berjongkok dengan pelan di samping Natalie. Mengusap pelan bahu sahabatnya yang bergetar. Menyenderkan kepala Natalie ke pundaknya dengan lembut.
Ia hanya diam, membiarkan Natalie menangis sepuasnya. Mendengarkan tangisannya tanpa menyela, tanpa menghakimi. Hanya cukup dengan diam yang mampu menenangkan.
Hari semakin gelap, namun tak membuat ketiganya beranjak sedikitpun dari tempatnya.
Fabian yang semula mengusap bahu Natalie, kini ikut menyandarkan kepalanya. Pandangannya lurus ke depan, menatap deretan makam yanh berjejer rapi.
Ia mengigit bibirnya pelan, menahan rasa sakit di kepalanya yang tiba-tiba muncul. Napasnya sedikit memberat dengan keringat dingin mengucur deras membasahi pelipisnya.
"Nata, pulang yuk," ajak Nathan yang sudah merasa bosan melihat pemandangan di depannya.
Ia juga merasakan gelagat aneh dari Fabian yang masih setia duduk di dekat Natalie. Untungnya Natalie nurut dengan ajakan Nathan, membuatnya tak perlu banyak-banyak buang tenaga untuk membawa Natalie pulang.
Baru juga berdiri dari duduknya, tubuh Fabian oleng ke samping—membuat Nathan dengan sigap menahan bobot tubuh sahabatnya itu.
"Ian …," ujar Natalie pelan dengan pandangan kosong.
"Nata, Lo bisa jalan sendiri, kan?" harap Nathan yang keberatan menahan tubuh Fabian.
Dengan patah-patah Natalie menganggukkan kepalanya, membuat Nathan menghela napas lega. Bukan apa, dia hanya nggak sanggup apabila harus menuntun keduanya.o
Tubuh Fabian aja begitu berat, bagimana jadinya kalau di tambah dengan Natalie? Bisa-bisa encok pinggangnya.
......................
"Lo makan apaan, sih! Berat banget sumpah," keluh Nathan sepanjang jalan sambil memapah Fabian.
Fabian hanya diam tak menjawab ocehan Nathan. Ia sibuk menahan rasa sakit di kepalanya yang semakin menjadi-jadi. Pandangannya mulai buram. Kakinya terasa lemas seperti jelly.
Bruk!
"IAN!!" pekik Nathan kesal.
"Lo ngapain pakek pingsan segala, sih! Nyusahin aja sumpah. Udah bener Lo tadi diam di rumah sakit nggak udah ikut ke sini. Ngeyel sih jadi orang. Gue kan jadi ikut jatuh," lanjutnya mengomel pada Fabian yang sudah tak sadarkan diri.
Keduanya terjatuh begitu saja di tanah yang sedikit kasar bercampur dengan kerikil tajam. Di mana Fabian ada di bawah, tertindih tubuh Nathan di atasnya.
"Tangan gue …," ratapnya melihat tangannya yang terluka akibat jatuh.
Sedangkan Natalie, ia terus berjalan tanpa menghiraukan ocehan Nathan. Telinganya seakan-akan tuli, tak mendengar keributan yang sedang terjadi.
"NATA! Tungguin napa!" teriak Nathan yang tak diindahkan oleh Natalie.
Dengan gerakan cepat, ia buru-buru berdiri dari posisinya. Mengejar Natalie yang semakin jauh—meninggalkan Fabian dalam keadaan pingsan di atas tanah.
Berhasil. Ia berhasil meraih tangan Natalie, membuat tubuh perempuan itu terjatuh pada pelukannya.
"Nata …."
Tak ada jawaban. Hanya tatapan kosong yang Nathan dapatkan. Ia menangkup pipi Natalie, mencoba menyadarkannya. Alih-alih sadar Natalie justru kehilangan kesadarannya.
"Astaga … apalagi ini Tuhan …," keluh Nathan mengambil napas dalam-dalam.
Boleh nggak sih, buang kedua sahabatnya itu ke rawa-rawa. Capek dia tuh hadapin dua orang keras kepala kayak mereka, pikirannya.
"Terpaksa deh telpon Tante Dewi," gumamnya.
......................
Nathan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Memandang datar dua ranjang pesakitan di depannya.
Setelah kejadian tadi, di mana Natalie pingsan—ia langsung menghubungi Tante Dewi untuk menjemputnya di pemakaman umum. Untung saja Tante Dewi datang tepat waktu, kalau nggak bisa-bisa mereka akan di situ sampai malam.
Kan nggak lucu kalau tiba-tiba di ganggu penghuni sana. Bisa-bisa ia pulang cuma raga doang.
"Secangkir kopi mungkin akan membuatmu lebih baik," ujar Dewi menyodorkan kopi panas di depannya.
Nathan mengambil kopi itu, tak lupa ia juga mengucapkan terima kasih.
"Jadi bisa kamu ceritakan apa yang sudah terjadi, Nathan?"
"Ceritanya panjang Tan," jawab Nathan sekenanya.
"Singkatkan."
Nathan mengambil napas dalam-dalam, sebelum akhirnya menceritakan semuanya yang sudah terjadi. Mulai dari Fabian yang berakhir di rumah sakit, pertengkaran kedua orang tua Fabian, dan tentang kepergian mantan kekasih Natalie yang membuat tubuhnya kembali drop.
"Kenapa kamu biarkan Fabian ikut kalian berdua ke pemakaman mantan pacar Natalie? Bukankah kamu tau keadaan Fabian kayak gimana. Seharusnya kamu cegah, dong."
"Tante, mau sekeras apapun aku ngelarang Fabian ikut dia tetap ngeyel. Emang Tante mau tanggung jawab kalau misalnya Fabian kabur dari rumah sakit? Enggak, kan."
Dewi menampar mulut Nathan pelan. "Kamu tuh ya."
"Sakit tau, Tan. Nih lihat, tangan aku sampai berdarah gara-gara Ian pingsan tiba-tiba," adunya dengan mengerucutkan bibirnya.
Dewi memutarkan bola matanya malas melihat tingkah Nathan yang kembali seperti biasanya.
"Mending sekarang kamu pulang, Nathan. Pasti orang tua kamu nyariin di rumah," jengah Dewi.
"Nggak mau. Aku mau di sini aja, nungguin mereka."
"Besok kami harus sekolah, jadi kamu harus pulang sekarang," usir Dewi dengan halus.
Nathan melipat kedua tangannya di dada, menoleh ke sudut ruangan. "Nggak mau, Tante. Aku mau di sini aja."
"Nathan …," geram Dewi dengan nada rendah.
Nathan tetap diam. Bersiul seolah-olah tak terjadi apa-apa.
"Udahlah terserah kamu."
Suara pintu terbuka membuat keduanya sontak menoleh ke arah pintu. Kedua orang tua nathan beserta adiknya datang dengan membawa buah-buahan dan makanan di tangan mereka.
"Bunda …."
Nathan berlari ke pelukan bundanya. Memeluk bundanya erat dengan manja.
"Nathan, malu di liat banyak orang," ucap bunda Nathan.
"Suruh tutup matanya bunda, biar nggak ada yang liat."
"Kamu tuh, ya."
"Biarin. Siapa suruh mereka liat aku peluk bunda," ujar Nathan dengan nada manja.
Suara ringisan keluar begitu saja dari mulut Fabian, membuat mereka yang semula asik dengan dunianya berjalan menghampiri ranjang pesakitan Fabian.
Dalam tidurnya, dahi Fabian mengernyit dalam. Resti mengulurkan tangannya mengusap dahinya. Membuat Fabian sedikit tenang di penglihatan mereka.
"Ian kenapa, Nathan?"
Nathan kembali menceritakan apa yang sudah terjadi kedua kalinya. Sungguh, sebenarnya ia benar-benar malas menceritakan kembali apa yang sudah terjadi.
Bibirnya benar-benar lelah mendongeng panjang lebar tanpa henti. Tapi meskipun begitu ia tetap melakukannya dengan ogah-ogahan.
Kedua orang tua Natalie sangat marah mendengar semuanya. Kilatan amarah dapat Nathan lihat di dalam sudut matanya, membuatnya menelan ludah kasar.
"Bisa-bisanya mereka melakukan itu sama anak sendiri. Aku nggak nyangka kalau mereka akan setega itu," gumam Resti.
Brak!!
.
.
.