Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Galau lagi
Dave baru saja melangkahkan kakinya ke arah teras dengan pintu rumah yang masih terbuka lebar. Sosok opanya sekarang berdiri di sana sedang menatapnya. Kemudian teguran opa menyapanya.
"Baru pulang?" Opanya menatap jam di pergelangan tangannya.
Pukul sebelas malam.
"Tadi lembur, opa." Dave langsung menyalim tangan opanya.
"Hemm.... Opa mau bicara sebentar," tukas opanya sambil melangkah lebih dulu ke dalam rumah.
Huuufffhhh.... Dave menghembuskan nafasnya perlahan.
Opa mau bicara perjodohan lagi? tebaknya dalam hati sambil megikuti langkah kaki opanya menuju ruang kerjanya.
Dave duduk tenang di depan opanya yang masih berjalan mondar mandir di balik meja kerjanya.
"Tadi siang opa bertemu Rhea."
Dave menatap opanya lurus, menyembunyjkan kekagetannya. Perasaaannya mulai ngga enak. Hatinya mulai menebak nebak maksud opanya berkata seperti itu.
"Opa tadi bertemu guru keponakan keponakan kamu. Ternyata dia cantik banget, ya," puji Opa Hendy kemudian tersenyum agak lebar.
Dave menghela nafas pelan. Sudah dua orang mengatakan gadis itu cantik. Opanya dan Edwin tadi.
Bahkan sepanjang mereka berkumpul tadi dengan teman teman yang lain, Edwin masih saja memuji dan bertanya tentang gadis itu. Hatinya geram karena temannya itu baru saja mengumumkan kalo Daniar sudah jadi pacarnya.
Jangan tanya wajah Daniar saat itu sudah seperti apa. Masam. Dia pasti tidak senang karena pacarnya malah membicarakan gadis lain. Tapi dia dan teman temannya yang lain sudah hapal dengan watak Edwin yang pacarannya paling lama hanya satu minggu.
Opa Hendy mengamati wajah cucunya yang tampak lelah. Dia merasa waktunya kurang tepat, tapi hatinya tetap memaksanya untuk mengatakan keinginannya
"Opa hanya mau bilang itu aja. Kamu istirahatlah."
Dave tersenyum.
"Ya, opa istirahat juga," tukas Dae sambil berdiri. Dalam hati bersyukur opanya tidak berkata yang aneh aneh.
"Iya." Opa Hendy menatap lekat punggung cucunya yang mulai menjauh. Dia tau Dave akan menghindar.
"Dave..."
Langkah Dave hampir mencapai pintu ketika mendengar suara panggilan opanya.
Dia membalikkan punggungnya. Balas menatap opanya.
"Kamu bisa memikirkan lagi, Talisha atau Rhea."
Dave menghembuskan nafasnya panjang dan perlahan. Dia salah, opanya tetap keukeh dengan tujuannya, mencarikannya jodoh.
"Ya, opa." Dave ngga mau memperpanjang lagi percakapannya, hingga kemudian opanya membiarkannya pergi.
*
*
*
Dave baru saja keluar dari kamar mandi ketika telponnya berdering.
Ternyata si Edwin. Malas banget sebenarnya Dave menerima telponnya.
"Lama amat angkat telpon gue, Dave," cecar Edwin begitu telponnya sudah connect ke temannya.
"Hem..." Dave menyahutnya malas malasan.
"Rhea pulang ngajarnya jam berapa?" tanya Edwin langsung tampa basa basi.
Dave langsung alergi mendengarnya.
"Ngga tau."
Terdengar kekehan tawa Edwin.
"Ketus banget. Kamu ngga naksir juga, kan?"
"Aku mau tidur. Sudah, ya."
"Eh, eh, Dave nanti dulu," cegah Edwin panik.
"Aku tanya begini biar kita ngga saling nikung."
Dave menatap wajahnya di cermin. Tapi malah menampakkan wajah Rhea.
Dia memang sudah sinting, umpatnya dalam hati.
"Tapi beneran kamu ngga naksir Rhea?" kejar Edwin setelah tawanya mereda.
"Kamu lupa baru jadian sama Daniar," sinis Dave berucap.
Tawa Edwin terdengar lagi.
"Tau nggak. Tadi waktu aku antar pulang, Daniar merengut aja," ucapnya tanpa rasa bersalah.
"Hemmm...," dengus Dave ngga ingin menjelaskan apa pun pada temannya yang sinting itu.
"Anak mana Rhea itu? Kok, aku baru lihat?"
Tentu saja Dave ngga akan mengatakan informasi apa pun pada buaya sinting ini.
"Aku mau tidur." Tanpa menunggu jawaban Edwin, Dave langsung menutup ponselnya.
Tapi Edwin ngga mau menyerah. Dia menelpon lagi hingga Dave menoffkan ponselnya.
Ngantuknya jadi hilang gara gara telpon dari Edwin.
Serius Edwin naksir Rhea? Dia jadi merasa terganggu karenanya.
Dave menggosok rambut setengah gondrongnya dengan handuk. Ingatannya kembali pada kejadian malam itu. Jantungnya berdebar mengingat yang sudah mereka lakukan. Lebih tepatnya dia. Hampir saja mereka kebablasan.
Dave menghembuskan nafasnya.
Gadis itu mudah sekali hanyut. Dengannya saja bisa begitu. Apalagi Edwin yang sudah terkenal sebagai buaya yang sangat pintar merayu.
Perasaannya jadi ngga tenang karena analisa pikirannya sendiri. Dia jadi khawatir dengan keselamatan Rhea.
*
*
*
Dengan agak uring uringan Rhea memasuki kamar unit apartemennya. Setelah menaruh paper bagnya ke atas meja riasnya, Rhea duduk sambil memperhatikan pantulan wajahnya di cermin riasnya.
Dia mengambil kapas dan mulai mengoleskan cleansing milknya ke kapasnya dengan gerakan kesal.
"Laki laki itu kenapa, sih. Bikin be-te aja," gumamnya kini mulai membersihkan make up tipis di wajahnya.
"Kenapa.juga harus ketemu lagi." Rhea mendengus kesal. Dia mengambil kapasnya lagi dan mengulang yang dia kerjakan tadi.
Rhea melempar kasar kapas kotor itu ke tempat sampah yang berada di dekatnya.
Dia kemudian berjalan ke kamar mandi dan mengambil facial washnya.
Dia pun mulai mengucurkan aie kran wastafel.
Aneh banget. Tiap ketemu pasti bikin kesal, omelnya sambil membilas wajahnya dengan air. Kemudian Rhea mengus@pkan busa facial wash ke wajahnya untuk menghilang sisa make up yang mungkin belum bersih tuntas. Setelah membilasnya, dia kembali duduk di depan meja riasnya. Mengusapkan kapas lagi dengan tonernya, hingga kulit wajahnya terasa segar.
Dia kemudian mengoleskan krim malam ke wajahnya. Dalam hati bersyukur karena pembersih dan skincare yang dibelikan Tante Puspa sama seperti yang dia gunakan.
Padahal harusnya aku yang marah, kan. Kenapa selalu dia saja yang bisa marah duluan, omel Rhea lagi.
Karena tadi sebelum pergi ke mall sudah mandi, Rhea hanya mengganti dressnya dengan pakaian tidur saja.
Rhea meraih dress yang baru dia beli tadi. Kekesalannya mulai memudar. Dressnya sangat cantik hingga bisa mengobati kegusaran hatinya.
Rhea mematutnya di depan cermin. Besok besok kalo maen ke mall dia akan kenakan dress ini. Harusnya dipake ke pesta. Tapi sayangnya dia belum punya teman yang cocok dengan jalan pikirannya.
Teman teman barunya menurutnya nyinyir dan kepo. Ngga sejalan dengan dirinya.
Rhea menarik nafas dalam dalam.
Kalo clubbing, dia agak kapok sekarang. Pengalaman terakhir clubbingnya membuat dirinya terlempar jauh dari keluarga dan orang orang yang dia kenal baik.
Anehnya dia malah bertemu laki laki tukang masalah itu di sini. Keponakan Tante Puspa lagi. Dia bisa apa kalo Tante Puspa mendengarkan pengaduan si Dave. Apalagi kalo nanti dia diusir karena dianggap kurang beretika.
Hati Rhea benar benar merasa sebal tiap memikirkannya. Padahal tidak sepenuhnya salah dirinya, belanya dalam hati.
Tapi mengingat lagi yang sudah si jomblo itu lakukan padanya, membuatnya jadi.merinding.
Rhea menggantungkan dressnya ke lemari pakaiannya. Dia melepaskan nafas panjang.
Pakaian sebanyak ini untuk apa? Dia juga ngga akan serimg bepergian, keluhnya dengan tatapan getir pada sejumlah pakaian yang masih lengkap dengan mereknya yang tergantung rapi di sana.
Kalo diusir, nanti dia terpaksa menyewa apartemen murah dan mencari kerja. Juga membeli beberapa pakaian yang tidak akan.bisa semahal dress yang tadi dia beli. Dia juga dituntut umtuk berhemat demi bisa bertahan hidup lebih lama
Tapi semoga saja semua itu tidak terjadi, harapnya dalam hati.
Rhea melakukan inhale dan exhale berulang kali demi meredakan kecemasan di dalam rongga d@danya.
gimana yah.. rasanya tuh kaya digerogoti rayap hari ke hari yg hidupnya berkoloni utk menumbangkan kayu yg kokoh menunggu kayu itu keropos sampai tumbang..
kalau rayapnya sendirian mah gak ngeri. Yg ngeri itu kalau udah 1 koloni.
sama kayak orang toxic yg ngegennk..
Mereka tuh kuat karena rame.
Satu jd kompor, yg lain kipas-kipas. Targetnya ya "kayu kokoh" = orang yg kerja bener/jujur/gak ikut arus mereka...
Abaikan aja Rhe, anggep aja angin lalu, dia belum tau aja siapa kamu sebenernya..
faktanya kalau mereka tau kamu dr keluarga mana, mungkin mereka seperti kucing basah kena air hujan "Menggigil"
😂🤣
belum tau aja di jidat Rhea itu sudah ada marker nya "Belong to Dave" dan hanya org beriman aja yg bs liat mark itu wkwkkk