NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27| Mine!

Tarikan keras pada pergelangan tangan berotot itu membuat empunya tubuh hampir terhuyung ke samping, sigap ia menyeimbangkan bobot tubuhnya hampir menabrak dada gadis remaja yang menariknya sekuat tenaga.

"Ugh..., sakit," desisnya saat punggung belakangnya menabrak dinding belakang. "Lo kok letoy banget sih, hampir aja gue ke-eh...."

Aluna menggerjab ketika ia menyadari akibat dari tindakan tiba-tibanya, manik mata hitam legam kelam itu bertatap dengan manik mata Aluna. Tubuhnya dan Gavian nyaris menempel di celah bangunan penginapan.

"Gue nggak tau kalo lo segitu ngebetnya buat berduaan sama gue," gumam Gavian, lidahnya menjilat slow motion bibirnya.

Gavian membungkukkan tubuhnya, kepalanya menunduk sementara sebelah tangannya memenjarakan sisi kiri tubuh Aluna. Semburan napas hangat menerpa puncak kepala Aluna, bibir Aluna berkedut. Degup jantungnya bertalu-talu, maksud hati berbicara empat mata dengan Gavian. Sosok yang mengacaukan pagi Aluna, dusta jika Aluna tidak merasa terintimidasi dengan aura pria di depannya ini.

Dilepasnya genggam erat pada pergelangan tangan Gavian, manik mata Aluna menghindar. Memilih menatap lantai yang temaram diterpa pencahayaan dari bohlam lampu lorong gedung, dibandingkan harus menatap lurus ke arah gelapnya sorot mata Gavian bak langit malam tanpa bintang.

"Kenapa? Lo marah dengan apa yang gue omongin tadi pagi, hm?" Jari jemari panjangnya bergerak memainkan rambut panjang Aluna yang tergerai, memutarnya beberapa kali.

"..., ke-kenapa lo harus keluar? Bukannya lo selalu ngehindar biar nggak ditahuan sama Gavino?" Aluna tergagap, telapak tangannya mulai basah.

Kepribadian Gavian selalu bersembunyi, jika pun ia menampakkan jati dirinya. Ia sama sekali tidak pernah berbeda dengan Gavino, hanya cara mereka berdua saja berbeda. Tatapan mata hazel Gavino jauh lebih lembut dibanding dengan kelamnya manik mata hitam legam Gavian, anehnya pria ini malah seakan ingin mengatakan jika dirinya ada di dalam tubuh Gavino.

Ibu jari dan telunjuk Gavian mengapit dagu Aluna, perlahan menarik dagu Aluna-mendongak. Senyum miring yang diulas, membuat Aluna merasa sesak di dada.

"Dia lupa gue," sahut Gavian serak, "dia lupa pengorbanan yang gue lakuin buat dia, segala yang dia punya itu punya gue. Bakat, kemampuan, dan kepintaran. Itu milik gue semua Aluna, tapi dia di pengecut membuang gue dari ingatannya. Gue mau dia tau kalo gue juga ada, ada di sisi tergelap hatinya."

Aluna menahan napas, manik matanya bergerak acak menghindari tatapan mata Gavian.

"Lihat gue, Aluna," titah tegas Gavian serak dan semakin berat.

Atensi Aluna kembali tertuju ke arah wajah Gavian, Gavian mensejajarkan wajahnya dan Aluna. Ada getaran ketakutan di balik manik mata almond Aluna namun, dipaksakan untuk tetap berani menghadapi Gavian.

"Bukannya itu salah ortu kalian, nggak semata-mata salah Gavino." Aluna nyaris mencicit membalas perkataan Aluna.

Senyum pahit itu terbit begitu saja tapi beberapa detik kemudian mulai berubah menyeringai kembali, Aluna tertegun untuk beberapa saat.

"Ah, ternyata gue nggak salah. Kalo lo benar-benar lebih tau tentang gue dan keluarga gue. Bahkan lo sadar perbedaan gue dan Gavino hanya dalam satu menit saja," balas Gavian tersenyum ganjil, "Aluna! Siapa lo sebenarnya, hm?"

DEG!

Ujung jari jemari Aluna bergetar, peluh menghiasi punggung belakangnya. Tentu saja ia tahu perbedaan signifikan serta kilas balik kehidupan Gavino dan Gavian, hanya segelintir informasi di buku yang menceritakan perjalanan trauma yang memunculkan dua kepribadian berbeda. Ada cerita kelam di balik itu semua, tidak mungkin untuk Aluna mengatakan jika mereka semua berada di dalam buku novel. Dunia ini hanyalah dunia fiksi namun, rasa sakit di dunia ini terasa begitu nyata.

"Aluna! Lo di mana?" teriakan keras memanggil nama Aluna di lorong gedung penginapan terdengar jelas.

Aluna mendorong cepat dada bidangnya Gavian sekuat tenaga saat pria itu lengah, ada jarak yang terbentang di antara mereka berdua. Aluna melirik ke depan, menatap Gavian.

"Gue bukan siapa-siapa, gue cuma sedikit agak lebih peka aja dibanding sama yang lain. Gue harap lo nggak terlalu mengekspose diri lo sendiri, kalo nggak mau berakhir terluka lebih awal," nasihat Aluna, "gue cabut duluan."

Aluna melangkah begitu saja meninggalkan Gavian, Gavian memperhatikan Aluna yang terburu-buru menuju ke arah Karina yang baru saja memanggil namanya.

Seringai Gavian terbit, tatapan rumit tampak samar. Telapak tangannya bergerak menuju hidung, kedua matanya terpejam saat indera penciumannya menyesap aroma lembut shampo rambut Aluna yang tertinggal. Lagi-lagi senyum miring itu tercetak ketika kelopak mata yang tertutup terbuka.

"Mine," gumam deep voice Gavian.

...***...

Kipas angin portable menyala diarahkan ke lehernya, setelah mereka semua dibawa mengenal beberapa tempat bersejarah. Siswa-siswi di bawa ke pantai yang tau jauh dari tempat penginapanan, beberapa kelompok dibentuk. Kai bersikeras mengusulkan mencampurkan anak IPS dan IPA dalam satu kelompok, hanya agar bisa satu kelompok dengan Aluna. Beberapa kali bujuk-rayuan dari seorang Kai, guru mereka menyetujui usulan yang membentuk empat orang dalam satu kelompok yang terdiri dari dua wanita dan dua pria.

Kai merangkul bahu Aluna, cengengesan saat Aluna mendongak menatapnya.

"Gimana enakkan satu kelompok sama gue, semua pekerjaan gue yang handle. Lo sama Karina tinggal terima beresnya aja, kurang apa coba," tutur Kai, ekspresi wajahnya tampak jelas seperti anak kucing yang minta dielus dan dipuji.

Karina yang berdiri di samping Aluna memutar malas kedua bola matanya, sejak mereka berada di dalam kelompok yang sama. Kai sedari awal terus melancarkan godaan serta trik-trik menyebalkan di mata Karina, hingga tiga tempat yang mereka kunjungi membuat Karina terus berdecak sebal.

"Yeee! Semuanya ditangani sama si Sebastian. Lo dari awal kita tour itu cuman ngegodain Aluna," sanggah Karina sebal karena terpantau menjadi penonton figuran.

Aluna menyingkut perut Kai, hingga rangkulan pada bahunya terlepas. Sebastian sedari awal sampai detik ini hanya mencuri pandang ke arah Aluna, sesekali angkat bicara hanya untuk beberapa hal yang penting. Kai meringis mengusap perutnya, melotot kesal ke arah Karina.

"Gue juga kerja kok," tukas Kai membela dirinya sendiri.

Karina memutar malas kedua bola matanya untuk kesekian kalinya. "Kerja pala lo peang."

Aluna menggeleng tak berdaya, rasanya telinganya panas hanya karena mendengar ribut-ribut Kai dan Karina sepanjang kegiatan tour berlangsung. Atensi Sebastian melirik Aluna, bertepatan dengan Aluna yang menoleh ke samping.

"Mau gue fotoin? Mumpung pemandangan laut lagi bagus?" tawar Sebastian, menunjuk ke arah laut.

Aluna mengangguk, "Boleh. Kalo gitu fotoin gue sama Karina."

Aluna menarik pergerakan tangan Karina menuju bibir pantai, Karina mencibir ke arah Kai. Kai menunjukan jari tengahnya ke arah Karina, Sebastian mengikuti langkah keduanya.

"Woy! Tungguin gue!" Kai berseru, berlarian menuju ketiganya.

Gelak tawa dan aksi kejar-kejaran di kelompok Aluna menarik perhatian orang-orang, Jayden menghela napas berat. Kesal yang dipendam sedari tadi tak bisa ia suarakan dengan lantang, Jayden tidak seaktif Kai bisa membujuk para guru. Hingga ia berakhir satu kelompok dengan Gavino, Zea, dan satu orang anak IPS. Bagi Kai sendiri, Jayden adalah musuh paling harus ia hindari.

"Seru kali ya kelompok mereka."

"Apaan dari tadi aja di Kai sibuk banget ngegodain si Aluna."

"Eh, eh, kira-kira sebenarnya Aluna bakalan bertahan sama Jayden apa ketikung sama Kai?"

"Gimana kalo kita pasang taruhan aja, Wee?"

"Ayo-ayo!"

Bisik-bisik lirih orang-orang di sekitar kelompok Gavino tak hanya membakar hati Jayden yang semakin membara, ada juga Zea yang menatap tajam ke arah kelompok Aluna. Sebastian yang tampak asik mengambil foto, berganti-gantian. Senyum lebar Aluna membuat hatinya terkoyak, rasa benci mencuat di hatinya.

'Dia masih bisa ketawa setelah apa yang dia lakuin. Ngerebut Gavino dari gue, kita liat aja Aluna. Siapa yang bakalan ketawa terakhir.' Kedua telapak tangan Zea mengepal erat.

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!