NovelToon NovelToon
Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Puteri Bulan

Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.

"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.

Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Gala bisnis malam itu berakhir dengan ketegangan yang menggantung di udara. Xavier menyeret Aeryn keluar dari hotel tanpa memedulikan tatapan orang-orang, namun pagi harinya, sebuah masalah yang lebih nyata memaksa Aeryn untuk melupakan pertengkaran domestiknya.

Pukul enam pagi, ponsel Aeryn berdering tanpa henti.

"Nyonya, ada masalah besar di pabrik pusat," suara manajer operasionalnya terdengar panik. "Hasil pemurnian untuk koleksi The True Heart gagal total. Emasnya tercemar."

Aeryn segera memacu mobilnya menuju kawasan industri di pinggiran Jakarta. Sesampainya di sana, suasana sudah kacau. Ratusan buruh berkumpul di depan gerbang produksi. Suara teriakan dan makian terdengar bersahut-sahutan. Di tengah kerumunan itu, Aeryn melihat beberapa wajah yang ia kenali—mantan anak buah Kaelan yang seharusnya sudah dipecat, namun entah bagaimana masih ada di sana, memanaskan suasana.

Aeryn turun dari mobil dan langsung menuju ruang laboratorium pabrik. Di atas meja, beberapa batang emas yang baru dicetak tampak kusam, berwarna keabu-abuan, dan rapuh.

"Apa yang terjadi?" tanya Aeryn, suaranya berusaha tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang.

"Seseorang memasukkan tembaga murah dan nikel ke dalam tangki peleburan utama semalam, Nyonya," jelas kepala produksi dengan wajah pucat. "Semua stok emas murni kita terkontaminasi. Kita tidak bisa menggunakan ini untuk perhiasan kelas atas. Jika kita paksakan, reputasi Valerine Jewels akan tamat."

"Berapa kerugiannya?"

"Miliaran rupiah, Nyonya. Dan yang lebih buruk, para buruh mengira ini adalah taktik kita untuk memotong bonus mereka karena perusahaan merugi. Seseorang menyebarkan hoaks bahwa pabrik akan ditutup."

Aeryn memijat pelipisnya. Ini bukan kecelakaan. Ini sabotase yang direncanakan dengan sangat rapi. Julian? Xavier? Atau sisa-sisa dendam Baskara?

Ia keluar dari laboratorium dan berjalan menuju podium di area depan pabrik. Ia harus bicara pada para buruh sebelum kerusuhan pecah.

"Semuanya, harap tenang!" teriak Aeryn, berdiri di depan mikrofon yang mendengung.

"Bohong! Kau hanya ingin memperkaya diri sendiri!" teriak seorang pria dari kerumunan. Itu adalah sisa anak buah Kaelan yang memprovokasi. "Kalian sengaja merusak bahan baku agar punya alasan untuk memecat kami!"

"Dengar!" Aeryn menatap kerumunan itu dengan tajam. "Aku adalah pemilik tempat ini. Kerusakan emas itu adalah kerugianku, bukan kalian. Aku menjamin tidak akan ada pemecatan. Bonus kalian akan tetap dibayar tepat waktu. Tapi aku butuh kalian kembali ke pos masing-masing untuk membantu membersihkan jalur produksi!"

"Kami tidak percaya!" teriak pria itu lagi. "Lihat, dia bahkan tidak berani membawa suaminya yang kaya raya itu ke sini! Kau hanya wanita yang tidak tahu apa-apa soal pabrik!"

Suasana kembali memanas. Beberapa orang mulai melempar botol plastik ke arah podium. Aeryn tetap berdiri tegak, meski tangannya gemetar. Ia tidak boleh mundur. Jika ia mundur sekarang, ia kehilangan kendali atas perusahaannya selamanya.

"Siapa yang bilang aku tidak tahu apa-apa?" Aeryn turun dari podium dan berjalan membelah kerumunan. Orang-orang secara refleks membuka jalan. "Buka pintu ruang peleburan sekarang. Aku sendiri yang akan memeriksa sisa bahan baku di dalam tangki."

"Nyonya, itu berbahaya," bisik asistennya. "Suhu di dalam masih sangat tinggi."

"Buka pintunya," perintah Aeryn tegas.

Ia masuk ke dalam gedung produksi yang luas. Suara mesin menderu pelan. Di bagian ujung, tangki peleburan raksasa masih mengepulkan uap panas. Aeryn mengenakan kacamata pelindung dan berjalan mendekat ke area tangki nomor empat, tempat kontaminasi diduga berasal.

"Cek saringan katupnya," perintah Aeryn pada teknisi yang mengikutinya. "Pasti ada sisa logam murah yang tersangkut di sana."

Aeryn membungkuk, mencoba melihat ke dalam celah mesin pengolah. Ia tidak menyadari bahwa di balik panel kontrol, sebuah kabel telah dikelupas dan diletakkan bersentuhan dengan jalur gas.

Di luar pabrik, sebuah mobil hitam meluncur kencang melewati gerbang. Xavier keluar dari mobil dengan wajah yang dipenuhi kecemasan yang jarang ia tunjukkan. Ia telah menerima laporan tentang sabotase ini dari intelijen pribadinya.

"Di mana Aeryn?" tanya Xavier pada sekretaris Sita yang berdiri di lobi.

"Nyonya di dalam ruang peleburan, Tuan. Beliau sedang menginspeksi mesin," jawab Sita gemetar.

Xavier tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Ia berlari masuk ke dalam area produksi, mengabaikan teriakan buruh di belakangnya. Perasaannya tidak enak. Ia tahu cara kerja orang-orang seperti Julian atau musuh masa lalu ayahnya—mereka tidak hanya ingin merusak bisnis, mereka ingin menghancurkan simbolnya.

Di dalam ruangan, Aeryn masih sibuk memeriksa mesin.

"Nyonya, baunya agak aneh," ucap teknisi di sampingnya. "Seperti bau gas bocor."

Aeryn mendongak, hidungnya mengendus udara. "Matikan alirannya sekarang!"

Namun, terlambat.

Sebuah percikan api muncul dari kabel yang terkelupas di dekat tangki gas cadangan. Suara desisan gas berubah menjadi suara raungan kecil yang mengerikan.

"Aeryn! Keluar dari sana!" suara teriakan Xavier bergema dari pintu masuk.

Aeryn menoleh dan melihat Xavier berlari ke arahnya dengan kecepatan penuh. Namun, tepat saat itu, sebuah ledakan kecil namun kuat terjadi di bagian belakang tangki.

BOOM!

Guncangan itu meruntuhkan beberapa pipa di langit-langit. Api menyambar seketika. Aeryn terlempar ke lantai karena gelombang kejut. Pandangannya kabur, telinganya berdenging hebat. Ia melihat asap hitam mulai memenuhi ruangan, menutupi pandangannya.

"Aeryn!"

Suara Xavier terdengar lebih dekat.

"Xavier..." bisik Aeryn lemah. Ia mencoba bangun, namun kakinya tertindih oleh sebuah besi penyangga yang jatuh dari atas. Ia meringis kesakitan. Api mulai merayap mendekati tangki-tangki kimia di sekitarnya.

Asap semakin pekat, membuat napas Aeryn sesak. Di tengah kekacauan itu, ia melihat bayangan hitam menerobos kobaran api. Itu Xavier. Jas mahalnya sudah ia lepas, menyisakan kemeja putih yang kini kotor oleh jelaga.

"Xavier, jangan mendekat! Ada gas di sini!" teriak Aeryn parau.

Xavier tidak mendengarkan. Ia melompati tumpukan material yang terbakar. Matanya hanya tertuju pada Aeryn. Dengan tenaga yang tidak masuk akal, ia mengangkat besi penyangga yang menindih kaki Aeryn dan melemparkannya ke samping.

"Pegangan padaku," ucap Xavier, suaranya terdengar sangat tenang di tengah kepanikan.

Xavier mengangkat tubuh Aeryn dalam gendongannya tepat saat ledakan kedua yang lebih besar menghancurkan panel kaca di atas mereka. Pecahan kaca dan reruntuhan beton jatuh menghujani mereka. Tanpa ragu, Xavier membalikkan tubuhnya, menjadikan punggungnya sebagai perisai manusia untuk melindungi Aeryn.

Aeryn memejamkan mata, merasakan tubuh tegap Xavier bergetar hebat saat sebuah balok kayu yang terbakar menghantam punggung pria itu.

"Xavier!" teriak Aeryn saat merasakan cairan hangat mulai membasahi kemeja Xavier dan mengenai tangannya. Itu darah.

Xavier meringis, namun ia tetap melangkah maju menerobos asap pekat menuju pintu keluar. Ia tidak melepaskan Aeryn sedikit pun, bahkan ketika napasnya sendiri mulai tersengal-sengal.

Sesampainya di luar, di depan ratusan buruh yang terpaku diam menyaksikan keberanian sang kaisar Arkananta, Xavier ambruk berlutut sambil tetap mendekap Aeryn. Ia memastikan Aeryn tidak menyentuh tanah, namun matanya perlahan mulai menutup, dan tubuhnya lunglai ke arah Aeryn.

"Xavier! Bangun! Jangan tinggalkan aku!" jerit Aeryn sambil mendekap wajah Xavier yang tertutup abu.

Di tengah kekacauan itu, Aeryn menyadari sesuatu yang menyayat hatinya: pria yang ia tuduh hanya memanfaatkannya sebagai "proyek", baru saja mempertaruhkan nyawanya hanya untuk memastikan ia tetap bernapas.

1
Sinta Devi
bikin ketagihan bacanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!