NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:940
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1. Tamu Tak Di Undang

Sore itu, langit Jakarta tampak seperti kanvas yang sedang dicorat-coret oleh awan mendung abu-abu.

Namun, bagi Nala, dunia seolah sedang memutar lagu soundtrack drama Korea yang paling ceria. Dengan langkah yang hampir menyerupai lompatan kecil, ia menyusuri koridor lantai empat Apartemen Grand Signature.

Di tangannya, sebuah kartu akses putih polos digenggam seerat mungkin, seolah itu adalah kunci masuk menuju gerbang surga.

"Dahsyat," gumam Nala, matanya berbinar menatap nomor-nomor unit yang berlapis kuningan di sepanjang koridor.

"Setelah lima tahun hidup di kamar kos yang luasnya cuma cukup buat sujud, akhirnya gue naik kasta. Pak Bambang, Anda memang malaikat tanpa sayap."

Nala berhenti di depan pintu bernomor 402. Ia mengambil napas panjang, merapikan kaus oblongnya yang sedikit berkeringat, lalu menempelkan kartu itu ke sensor digital.

Pip. Suara mekanis yang halus itu terdengar seperti simfoni di telinga Nala. Saat pintu terbuka dengan dorongan ringan, Nala hampir saja memekik kegirangan.

Pandangan pertamanya langsung disambut oleh kemewahan yang selama ini hanya ia lihat di Pinterest. Ruang tamunya sangat luas, dengan lantai granit yang begitu mengilat sampai-sampai Nala bisa melihat pantulan wajahnya yang kucel.

Furniturnya minimalis tapi terlihat sangat mahal—sofa kulit berwarna abu-abu tua, meja kopi dari kayu jati solid, dan sebuah lampu gantung artistik yang bentuknya menyerupai jaring-jaring geometri yang rumit.

"Gila... ini sih bukan apartemen sewa, ini mah museum!" Nala melangkah masuk, menyeret koper merah muda besarnya yang rodanya berbunyi kriek-kriek sumbang, seolah memprotes lantai yang terlalu bersih itu.

Nala mulai berkeliling dengan mata yang tak berhenti berputar. Ia menyentuh permukaan meja kerja di sudut ruangan. Tidak ada setitik debu pun.

Ia melirik rak buku; semua buku di sana disusun berdasarkan warna sampul, dari merah tua hingga putih, membentuk gradasi yang sangat memanjakan mata bagi siapa pun yang punya obsesi pada kerapian.

Namun, di tengah euforia itu, hidung Nala menangkap sesuatu.

Ia mengendus udara. Bau ruangan ini sangat spesifik. Bukan bau ruangan kosong yang pengap, melainkan aroma maskulin yang segar—campuran antara kayu cendana, peppermint, dan sedikit aroma espresso yang masih tertinggal.

"Wangi banget," gumam Nala, dahinya sedikit berkerut. "Mungkin Pak Bambang baru aja manggil jasa pembersih profesional. Wah, bener-bener service luar biasa. Pantesan depositnya mahal."

Nala mencoba berpikir positif. Ia tidak mau membiarkan kecurigaan kecil merusak momen kemenangannya.

Ia melempar tas ranselnya ke atas sofa—sebuah tindakan yang jika dilihat oleh pemilik asli apartemen ini, mungkin akan dianggap sebagai pernyataan perang.

Tas itu mendarat sedikit miring, menjatuhkan beberapa lembar struk minimarket dari kantong sampingnya ke atas lantai yang suci itu.

"Haus banget, gila," Nala berjalan menuju dapur.

Dapur itu tampak seperti laboratorium kimia yang terlalu bersih. Botol-botol bumbu berjejer dengan label menghadap tepat ke arah depan.

Di samping tempat cuci piring, terdapat mesin kopi tercanggih yang pernah Nala lihat seumur hidupnya. Nala membuka kulkas dua pintu yang besar itu, berharap menemukan air mineral.

Benar saja, ada sepuluh botol air mineral merk premium di sana. Semuanya berjejer rapi, dengan jarak antar botol yang tampak seperti sudah diukur menggunakan penggaris.

"Ini yang punya sebelumnya pasti orangnya stres banget," kekeh Nala sambil mengambil satu botol dan menenggaknya sampai setengah. Ia tidak menyadari bahwa ia baru saja merusak tatanan botol yang sudah disusun secara presisi oleh pemilik aslinya tiga jam yang lalu.

Setelah merasa segar, Nala merasa tubuhnya butuh kompensasi lebih. Keringat akibat menyeret koper dari lantai dasar karena malas menunggu lift yang antre membuatnya merasa lengket. Ia ingin mandi. Dan ia tahu, kamar mandi utama di unit ini pasti memiliki shower yang luar biasa.

Nala berjalan menuju lorong belakang, melewati sebuah cermin besar yang memperlihatkan rambutnya yang sudah acak-adalan. Ia membuka pintu kamar mandi utama dengan semangat empat lima.

"Mandi mewah, aku datan—"

Kalimatnya terputus. Uap air hangat langsung menerpa wajahnya, membawa aroma sabun cair mahal yang sangat kuat. Suara gemericik air terdengar dari balik bilik kaca transparan.

Nala mematung.

Jantungnya berhenti berdetak sejenak. Hujan? Nggak mungkin suara hujan sedeket ini.

Melalui uap yang mulai menipis, ia melihat sebuah siluet. Di balik kaca itu, berdiri seorang pria. Tinggi, dengan punggung lebar yang sedang dibasahi air. Pria itu baru saja mematikan shower dan meraih handuk putih yang tergantung di dalam bilik.

Nala seharusnya lari. Nala seharusnya berteriak dan keluar. Tapi, otaknya yang sudah lelah ditipu oleh kenyataan pahit Jakarta mendadak mengalami malfungsi. Pikirannya cuma satu: MALING!

Saga, pria di balik kaca itu, melilitkan handuk di pinggangnya dengan santai. Ia membuka pintu kaca, berniat mengambil handuk kecil untuk wajahnya, namun gerakannya terhenti total.

Di depannya, seorang perempuan asing dengan rambut berantakan, mengenakan kaus bergambar kucing makan mi, sedang menatapnya dengan mulut ternganga dan mata melotot.

"SIAPA KAMU?!" teriak Saga, suaranya menggelegar di ruang kamar mandi yang bergema. Ia kaget setengah mati, tangannya reflek memegangi lilitan handuknya yang hampir merosot.

Nala tidak menjawab dengan kata-kata. Insting "bar-bar" yang ia pelajari dari bertahun-tahun menghadapi copet di angkot langsung keluar.

"AAAAAAAAAAAA MALIIIIING!" teriak Nala lebih kencang.

Bukannya kabur, Nala justru melompat maju. Ia menyambar botol sampo ukuran satu liter yang ada di rak luar dan melemparkannya seperti atlet baseball profesional.

PLOK!

Botol itu menghantam dahi Saga dengan suara yang sangat meyakinkan.

"ADUH! Sialan! Berhenti!" Saga mencoba melindungi wajahnya dengan tangan, sementara matanya masih perih terkena sisa sampo yang belum terbilas sempurna.

"BERANI-BERANINYA KAMU MANDI DI SINI! MAU NYULIK SAYA YA?!" Nala makin kalap.

Ia meraih gagang semprotan air (bidet) di samping toilet, menekan tuasnya sampai mentok, dan mengarahkannya tepat ke wajah Saga.

SYUUUUUUURRRRRRRR!

Saga tersedak air. Ia mencoba maju untuk merebut senjata darurat Nala, tapi lantai yang penuh sabun membuatnya kehilangan keseimbangan.

GUBRAKKK!

Arsitek paling jenius di angkatannya itu jatuh terjembab dengan posisi sangat memalukan—duduk di lantai basah, handuknya tersangkut di salah satu keran bawah, dan wajahnya disemprot air bidet tanpa ampun oleh perempuan yang terus-menerus memaki dengan bahasa planet.

"RASAIN! RASAIN! KELUAR NGGAK KAMU!" teriak Nala sambil terus menyemprot.

Saga akhirnya berhasil meraih kaki Nala dan menariknya. Nala ikut jatuh, tapi ia tidak menyerah. Ia menggunakan kakinya untuk menendang tulang kering Saga.

"AKHHH! Berhenti, Nona Gila! Ini rumah saya!" teriak Saga sambil menangkis serangan kaki Nala.

Nala berhenti menyemprot sebentar. Ia mengatur napasnya yang memburu, masih memegang gagang bidet seperti memegang pistol.

"Rumah kamu?! Ini rumah saya! Saya sudah bayar setahun ke Pak Bambang!"

Saga mengusap wajahnya yang basah kuyup dengan kasar.

Ia menatap Nala dengan kemarahan yang bisa membakar seluruh gedung. "Bambang? Agen properti gadungan itu lagi?!"

Saga mencoba berdiri, menahan handuknya yang nyaris lepas dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menunjuk ke arah luar.

"Keluar dari kamar mandi saya sekarang, sebelum saya benar-benar menggunakan kekerasan untuk mengusirmu!"

Nala tidak bergeming. Ia justru berdiri dan mengambil posisi menantang. "Nggak mau! Mas yang harusnya keluar! Mas yang penyusup!"

Tepat saat itu, guntur meledak di luar jendela, diikuti oleh suara hujan lebat yang seolah ingin merobohkan atap.

Di dalam kamar mandi yang uapnya perlahan menghilang, dua manusia itu saling tatap—yang satu basah kuyup dan terhina, yang satu lagi berantakan dan siap berperang.

Garis perang telah ditarik, dan Unit 402 tidak akan pernah sama lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!