NovelToon NovelToon
SILENT RESIDUE

SILENT RESIDUE

Status: tamat
Genre:Action / CEO / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:23.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia Seleb

lent Residue mengisahkan pernikahan tanpa cinta antara Nathan Ryu, seorang putra mahkota Ryu Corp yang memilih mengabdi sebagai Kapten Pasukan Khusus, dan Alveera Mayra, dokter magang idealis yang terpaksa setuju menikah demi menyelamatkan posisi keluarganya di dunia medis. Hubungan dingin mereka yang penuh jarak diuji ketika mereka bertemu di zona konflik Distrik Marvella, di mana Alveera baru menyadari bahwa suaminya yang kaku adalah "malaikat maut" yang paling ditakuti di medan perang. Namun, bara konflik yang sesungguhnya baru dimulai saat mereka kembali ke pusat kota; Nathan harus menjabat sebagai CEO untuk melindungi Alveera dari sabotase bisnis, tepat saat mantan kekasih Nathan muncul kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENTENG DI BALIK KABUT

Suasana di lorong rumah sakit terasa mencekam setelah operasi maut itu berakhir. Nathan Ryu tidak membiarkan Alveera Mayra mengganti pakaian medisnya yang ternoda darah. Ia menyampirkan jaket parit miliknya ke bahu Alveera yang gemetar, lalu menggandengnya menuju lift pribadi yang langsung terhubung ke rubanah.

"Kita tidak pulang ke mansion," ujar Nathan datar saat mereka masuk ke dalam SUV lapis baja yang sudah menunggu dengan mesin menyala.

Alveera mendongak, matanya yang lelah menatap profil samping Nathan yang keras. "Lalu ke mana? Ayahmu akan marah jika kita tidak muncul di makan malam keluarga malam ini."

"Biarkan dia marah," desis Nathan. Ia menginjak gas, membuat ban mobil berdecit di lantai beton. "Mansion itu sudah tidak aman. Ada pengkhianat di antara pelayan, dan Valerie tahu setiap sudut rumah itu. Kita pergi ke tempat yang tidak ada dalam peta Ryu Corp."

Mobil melaju kencang meninggalkan pusat kota, mendaki perbukitan pinus yang mulai tertutup kabut tebal. Setelah menempuh perjalanan dua jam, mereka sampai di sebuah bangunan minimalis modern yang tersembunyi di balik tebing batu. Bangunan itu tampak seperti benteng kaca yang menyatu dengan alam.

"Ini... tempat apa?" tanya Alveera saat pintu gerbang baja terbuka otomatis setelah memindai retina mata Nathan.

"Ini adalah Safe House pribadiku. Tempat pelarianku setiap kali aku merasa residu perang di kepalaku terlalu berisik," jawab Nathan. Ia mematikan mesin dan menoleh ke arah Alveera. "Dan mulai malam ini, ini adalah tempat tinggalmu sampai aku memastikan semua tikus di rumah sakit tertangkap."

Mereka masuk ke dalam. Interior rumah itu sangat maskulin didominasi kayu gelap, kulit, dan jendela-jendela besar yang menghadap ke jurang. Di dinding ruang tamu, tergantung sebuah bingkai kecil berisi foto tim tentara Nathan di London. Foto itu sedikit retak di bagian sudut.

Alveera melangkah mendekati foto itu. Ia melihat Nathan yang jauh lebih muda, tersenyum tipis di antara kawan-kawannya. "Apakah mereka... tim yang tidak bisa kau selamatkan?"

Nathan berdiri di belakang Alveera, napasnya terasa hangat di tengkuk wanita itu. "Satu per satu mereka tumbang karena informasi yang bocor. Dan aku harus melihat mereka mati sambil menggenggam lambang mawar di seragam mereka. Itulah kenapa aku mengukir tato ini sebagai hukuman karena aku masih hidup sementara mereka tidak."

Nathan memutar tubuh Alveera agar menghadapnya. Ia menyentuh dagu Alveera dengan lembut. "Tadi di ruang operasi, saat lampu mati, aku merasa seperti kembali ke London. Aku merasa akan kehilanganmu juga. Dan itu... itu adalah ketakutan yang lebih besar daripada menghadapi kematianku sendiri."

Alveera merasakan jantungnya berdegup kencang. "Kenapa, Nathan? Bukankah aku hanya kontrak?"

Nathan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mendekatkan wajahnya, menempelkan keningnya pada kening Alveera. "Kontrak itu sudah hangus di Marvella, Alveera. Kau adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih ingin menjadi manusia, bukan sekadar mesin perang."

Tiba-tiba, suara alarm sensor keamanan berbunyi nyaring di seluruh ruangan. Layar monitor di dinding menampilkan pergerakan di hutan sekitar rumah. Beberapa sosok pria berpakaian hitam dengan senjata laras panjang mulai mengepung area tersebut.

"Mereka menemukan kita secepat ini?" gumam Nathan, matanya kembali menjadi dingin dan tajam. "Valerie benar-benar gila. Dia menggunakan satelit pelacak milik ayahnya."

Nathan menarik sebuah laci rahasia di bawah meja, mengeluarkan dua pucuk pistol dan menyerahkan satu pada Alveera. "Kau bisa menembak?"

Alveera menggeleng cepat, wajahnya pucat. "Aku dokter, Nathan! Aku menyelamatkan nyawa, bukan mencabutnya!"

"Malam ini, kau harus melakukan keduanya untuk tetap hidup," ujar Nathan tegas. Ia menarik Alveera ke balik dinding beton yang tebal. "Tetap di belakangku. Jangan lepaskan tanganku, apa pun yang terjadi."

Suara kaca pecah terdengar dari arah dapur. Nathan mengokang senjatanya. Duri-duri mawar yang selama ini hanya melukai batin mereka kini berubah menjadi peluru nyata yang siap menerjang.

"Ingat, Alveera," bisik Nathan tepat di telinga istrinya sebelum mulai menembak. "Jika terjadi sesuatu padaku, larilah ke ruang bawah tanah. Ada kunci helikopter di sana. Pergilah dan jangan pernah menoleh ke belakang."

"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi!" teriak Alveera di tengah kebisingan baku tembak yang mulai pecah.

Pernikahan tanpa cinta itu kini sedang dibaptis oleh api dan timah panas di tengah hutan yang sunyi.

---

1
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻
Emi Sudiarni
kren critanya
Nia nurhayati
jangan menyerah dan putus asa alviera ayo semangattt
Nia nurhayati
mampir thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!